
Chapter 187
Firman mengeluarkan katana miliknya lalu mengeluarkannya dari dalam tempatnya, saat katana tersebut dikeluarkan, langsung aura hitam dan putih yang sangat pekat menyelimuti seluruh gedung, bukan hanya satu ruangan tapi satu gedung penuh dengan aura mengerikan tersebut.
"A ... apa-apaan itu, kenapa kedua katana itu sangat mengerikan sekali, juga warnanya kenapa sangat berubah?" ucap Gina bertanya-tanya.
Firman langsung memasukan kembali kedua kata tersebut di dalam tempatnya kemudian ia duduk lagi disamping Gina dengan keadaan lelah, mungkin tadi saat mengeluarkan kedua katana miliknya yang telah bersatu energi dalam diri Firman ikut tertarik kedalam dua katana tersebut.
Tujuan ditariknya energi itu kemungkinan agar kedua katana itu bisa bersatu dengan tubuh pemiliknya yaitu Firman sendiri, itu sudah wajar bagi siapapun yang ingin memiliki katana legendaris seutuhnya.
"Sayang, bukankah satu katana itu adalah yang dulu aku berikan padamu kan?" tanya Gina yang dibalas anggukan kepala oleh Firman.
"Kenapa dia sangat berubah sekali, dulu waktu ada padaku katana itu tidak ada respon apapun tapi setelah kamu yang memilikinya dan bersatu dengan katana milikmu, auranya langsung berbeda seperti senjata yang mempunyai kendali sendiri," ucap Gina agak takut melihat katana milik Firman.
"Itu karena keduanya telah berpisah cukup lama dan setelah dipertemukan kembali kekuatan yang mereka miliki telah kembali lagi setelah sebelumnya tersegel karena lama berpisah, apalagi kemarin saat urusan dengan wanita sakit jiwa itu kedua katana itu mendapatkan banyak sekali korban jiwa yang membuatnya bertambah semakin kuat," jawab Firman menjelaskan menurut pendapatnya sendiri.
"Tapi kenapa keduanya berbeda warna? yang satu putih sedangkan yang satunya lagi berwarna hitam," tanya Gina semakin penasaran dengan misteri yang ada pada katana tersebut.
"Entahlah jika tentang itu aku juga kurang tau pasti, tapi mungkin itu disebabkan energi yang dipancarkan oleh mereka berdua saling bertolak belakang antara hitam dan putih namun mereka tetap bisa bergabung meski saling bertolak belakang seperti itu," jawab Firman menurut teorinya sendiri.
Firman sendiri juga heran dengan senjata katana miliknya, padahal dulu waktu menemukan katana yang berwarna hitam, dulunya katana tersebut masih terlihat normal meskipun ada sedikit pancaran aura dalam katana itu tapi belum sebesar sekarang.
Tapi saat mengetahui katana miliknya memiliki kekuatan yang sangat hebat, hal itu membuat Firman senang karena memiliki senjata andalannya sendiri dengan kekuatan yang sangat hebat.
Namun itu bukan jaminan jika senjata yang dimiliki Firman tidak ada lawannya, semua senjata pasti ada kelemahan dan kelebihan dan ada lawan yang sebanding dengannya, mungkin Firman masih belum menemukan lawan tersebut untuk saat ini.
Mereka berdua lanjut ngobrol sampai malam pun tiba lalu mereka menyiapkan segala keperluannya sebelum pergi untuk dibawa ikut bersama, Gina meletakan beberapa senjata miliknya di dalam mobil untuk berjaga-jaga jika ada masalah nanti setelah selesai acara.
Setelah selesai menaruh barang yang akan mereka bawa ke dalam bagasi mobil, Gina mandi terlebih dahulu sebelum berganti pakaian lalu kemudian disusul Firman juga ikut mandi, mereka mandinya bergantian karena Firman tadi sedang mengerjakan sesuatu tentang urusan perusahaan.
Setelah mereka berdua selesai mandi, mereka berganti pakaian menggunakan baju yang sudah disiapkan sebelumnya yang mana baju tersebut memang diperuntukan untuk acara formal seperti acara pelelangan kali ini.
Firman berganti pakaian menggunakan jas warna biru gelap dengan bawahan celana bahan yang juga sama warnanya, lalu dipadu dengan sepatu warna hitam, rambut Firman ditata rapi yang membuat aura ketampanan yang dioancarkan olehnya semakin bertambah berkali-kali lipat, tidak lupa juga sebuah jam tangan digital berteknologi tinggi berada di pergelangan tangannya.
Sementara Gina mengenakan sebuah pakaian berupa gaun mewah berwarna biru gelap senada dengan Firman, warna itu juga yang membuat aura dingin yang dipancarkan olehnya semakin membuat orang yang melihatnya segan dan takut kepadanya.
__ADS_1
Gaun yang digunakan oleh Gina terlihat sangat cantik sekali, gaun tanpa lengan dengan bagian bawah lumayan panjang hingga menutupi seluruh kaki Gina, tidak banyak gaya yang ada pada gaun tersebut, gaya simple membuat gaun itu semakin indah nan elegan apalagi yang menggunakanya adalah Gina dengan ditambah hiasan kepala yang terbuat dari emas murni dan sarung tangan panjang berwarna hitam membuatnya menjadi semakin terlihat seperti bangsawan kerajaan yang sangat cantik.
Firman saja yang melihat penampilan Gina saat ini menjadi sangat terpesona kepadanya, kulit halus Gina yang tampak membuat darah Firman berdesir seakan ingin segara melahap Gina saat itu juga.
"Bukankah pakaian itu terlalu terbuka," ucap Firman agak risih melihat gaun Gina yang menurutnya terlalu terbuka padahal aslinya tidak, mungkin karena Firman tidak ingin ada orang yang memandang kekasihnya nanti saat acara berlangsung, sebagai laki-laki tentu saja Firman tidak rela kekasihnya dilihat pria lain.
'Hah? Ini gaun paling tertutup yang aku miliki, tapi dia mengatakan terlalu terbuka,' batin Gina memperhatikan gaunnya di pantulan cermin.
Gina sendiri merasa gaun yang dikenakan nya biasa saja, bahkan cukup tertutup daripada gaun-gaun malam pada umumnya yang biasa dipakai orang untuk mendatangi acara penting, tapi karena Firman yang mengatakan jika pakaian terlalu terbuka akhirnya Gina mengambil sebuah selendang berwarna hitam untuk digunakan di tubuhnya untuk menutupi bagian yang dikatakan terbuka oleh Firman padahal semuanya biasa saja tidak terlalu terbuka.
Padahal dulu Gina selalu menggunakan pakaian yang terbuka ataupun seksi seperti itu jika sedang melakukan kunjungan ataupun beraksi menghabisi musuhnya, tetapi setelah bertemu dengan Firman dirinya berubah total dan tidak mau lagi berpenampilan seperti dulu meski sedikit-sedikit masih ada sifat lamanya.
"Sekarang bagaimana sayang?" tanya Gina memperlihatkan penampilannya saat ini dengan selendang yang digunakan untuk menutupi tubuhnya yang terbuka kata Firman, tapi malah adanya selendang tersebut semakin membuat Gina semaiin terlihat cantik dengan aura kedewasaan memancar darinya.
"Terserah kau saja, lagipula aku tidak melarangmu mau memakai apapun kan," jawab Firman dengan sikap dinginnya.
Entahlah, Firman ini sepertinya sangat mirip sifatnya dengan Rina, kadang hangat kepada pasangannya kadang juga tiba-tiba dingin kepada siapapun, sifat Firman sangat sulit ditebak.
"Baiklah ayo kita jalan, acaranya akan dimulai satu jam lagi," ucap Gina menggandeng lengan Firman keluar dari dalam kamar hotel menuju depan.
Sebuah mobil mewah lamborghini yang memiliki harga selangit dan tampilan sangat mewah. Warna hitam mengkilat membuat mobil tersebut sangat pas digunakan oleh Firman dan Gina yang juga menggunakan pakaian berwarna gelap.
"Apakah ini juga kamu yang menyiapkannya?" tanya Firman melihat kearah Gina.
Gina tersenyum lalu menjawab, "Iya, aku tadi menghubungi anak buahku yang ada dikota ini untuk membawakan mobil yang bagus."
Firman mengangguk mendengarnya, lalu Firman membukakan pintu untuk Gina setelah itu ia menutupnya kembali, kemudian ia masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.
Mereka berjalan menuju tempat acara pelelangan berlangsung dengan menggunakan mobil mewah yang telah disiapkan oleh Gina tersebut, Firman menghidupkan mesinnya kemudian berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota dimalam hari.
"Sepertinya mereka sangat mengagumi keindahanmu," ujar Firman melihat banyak mata yang menatap ke arah mereka saat berjalan tadi.
"Hahaha kamu benar, tapi mengapa lebih banyak yang melihat kamu daripada aku!" balas Gina kesal.
"Apakah kebiasaanmu yang dulu masih ada? Kamu suka sekali menggoda para korbanmu sebelum mereka kamu habisi," ucap Firman tidak tau arah pikiran kekasihnya tersebut.
__ADS_1
"Ihh ... kamu jangan begitu sayang, itu kan aku hanya waktu bekerja saja seperti itu tapi sekarang sudah tidak seperti itu lagi, lagi pula aku sangat tidak suka jika ada yang memandangi tubuhku dengan pandangan mesum seperti itu! Makanya setiap ada yang mengatakan hal yang menjijikan aku akan langsung membunuh orang tersebut saat itu juga!" ucap Gina serius.
"Benarkah itu Queen? Emm ... tubuhmu sangat seksi sekali aku jadi ingin menyentuhnya, lalu apakah Queen yang terkenal dingin ini adalah seorang wanita yang sangat suka menggodaku hingga selalu menggunakan pakaian yang seksi, yah ... sepertinya begitu." Firman berkata seperti itu karena sengaja ingin menggoda Gina.
Namun bukanya marah seperti apa yang dikatakan olehnya tadi, Gina justru tersenyum kemudian meletakkan satu tangan Firman yang tidak sedang menyetir diatas dua gundukan besar yang sudah semakin besar karena sering dimainkan oleh Firman tersebut, benar kata Firman tadu, Gina memang sengaja untuk selalu menggoda dirinya.
Jika yang mengatakan hal itu adalah orang lain, bisa dipastikan tidak sampai satu menit nyawa orang itu akan hilang, namun ini yang mengatakan adalah Firman, orang yang telah memiliki hati dan tubuh Gina, jadi Firman bebas melakukan apapun padanya dan Gina tidak akan marah.
"Jangan memulainya, aku bisa jamin kamu kamu tidak akan keluar dari kamar selama seminggu jika terus menggodaku seperti itu," ucap Firman santai tetapi terdengar seperti sebuah ancaman bagi Gina.
Gina langsung melepaskan tangan Firman kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah luar dengan wajah yang memerah, Gina sangat takut jika diancam seperti itu apalagi jika sampai diberi hukuman beneran oleh Firman, bisa hancur badanku pikir Gina ketakutan.
Tetapi secara tiba-tiba wajah Gina terlihat sedih tanpa sebab, padahal tadi terlihat masih baik-baik saja bahkan masih sempat untuk menggoda Firman tetapi sekarang sudah berubah menjadi sedih.
"Maafkan aku sayang karena belum bisa menjadi kekasih yang baik untukmu, aku masih sulit keluar dari masa laluku yang kelam," ucap Gina tiba-tiba dengan nada yang terdengar sedih.
Firman yang melihat Gina kembali mengingat masa lalunya, Firman berusaha menghibur Gina, "Sudahlah, seharusnya aku yang meminta maaf karena telah menghabisi ayahmu waktu itu."
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin meminta maaf karena kepribadianku sering berubah-ubah, itu mungkin karena efek masa lalu ku yang hidup dalam dunia yang keras ini untuk bertahan hidup, apalagi sudah banyak sekali nyawa yang aku ambil dengan tangan kotor penuh dosa ini," ujar Gina melihat kedua tanganya yang ditutupi menggunakan sarung tangan berwarna hitam yang elegan.
"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, aku juga sama seperti kamu, bahkan mungkin aku lebih banyak dosanya ketimbang kamu karena aku telah menghabisi lebih banyak nyawa bahkan menyiksa tanpa ampun hahaha." Firman masih berusaha untuk menghibur Gina.
"Terima kasih karena kamu mau menerima diriku ini meski dengan banyak kekurangan yang ada padaku." Gina memeluk Firman dari samping karena Firman sedang mengemudikan mobil.
Setelah kesedihan selesai digantikan dengan kebahagiaan, mereka saling terbuka satu sama lain tentang masa lalu hingga berbagai hal yang telah mereka lalui.
Meski berat bagi Gina karena dirinya harus selalu teringat dengan masa laku keluarganya yang hancur tanpa sisa, tapi Gina merasa bahagia karena sekarang dirinya memiliki Firman yang akan selalu setia mendampinginya dalam keadaan apapun.
Perjalanan yang ditempuh dari hotel tempat mereka menginap menuju tempat acara pelelangan berlangsung tidak terlalu lama, hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja sudah sampai pada tujuan jika tidak ada kendala di jalan.
Disepanjang perjalanan juga Firman mengobrol dengan Gina supaya dapat mengalihkan pikiran Gina dari mengingat masa lalunya, sepertinya cara itu berhasil, Gina terlihat bisa tersenyum lagi setelah kesedihan hilang.
'Apa aku beri hadiah saja ya untuknya? Lagipula aku sepertinya belum pernah memberinya hadiah selama ini,' batin Firman.
Firman berencana memberi hadiah kepada Gina dan tentunya kepada kekasihnya yang lain juga, tapu Firman masih bingung hadiah aoa yang bagus untuk ia berikan kepada mereka.
__ADS_1