System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 128 Menjemput Rina Di Sekolah


__ADS_3

Chapter 128


Firman saat ini tengah mengendarai mobilnya entah ingin menuju kemana dirinya sendiri saja tidak tau, dari tadi Firman hanya berputar-putar tidak jelas berkeliling jalan.


Saat sedang menepi untuk membeli es krim, tiba-tiba handphone Firman berdering menandakan ada yang menelepon dirinya, Firman mengecek siapa yang meneleponnya dan ternyata Rina yang menelpon dirinya.


Firman langsung mengangkat panggilan telepon tersebut dengan cepat, "Halo, kenapa?" tanya Firman sambil memakan es krim yang baru ia beli.


"Jemput aku di sekolahan, ini sudah waktunya pulang," jawab Rina.


"Oh iya aku langsung jalan ke sekolah kamu sekarang juga, kamu tunggu aja di sana," ucap Firman mengakhiri sambungan telepon.


"Kebiasaan langsung dimatiin aja, hump!" ucap kesal Rina yang telepon nya diputus sepihak oleh Firman.


Firman membeli beberapa es krim terlebih dahulu untuk diberikan kepada Rina nanti pada saat menjemputnya di sekolah, setelah membeli es krim Firman langsung menaiki mobilnya melaju menuju sekolah Rina untuk menjemputnya pulang.


Mobil mewah lamborghini milik Firman berjalan membelah jalanan kota yang lumayan ramai lantaran saat ini waktunya anak sekolah pulang sekolah yaitu jam 14.00 alhasil jalanan pun ramai dibuatnya.


..............


Sementara di sekolahan Rina saat ini sedang duduk di depan sekolah, tepatnya di sebuah tempat yang memang diperuntukan untuk para siswa menunggu jemputan mereka.


Di sana juga ada beberapa siswa lainya tidak hanya Rina saja, Rina sendiri ditemani dengan kedua temannya yang sedari tadi selalu mengikutinya karena penasaran ingin mengetahui siapa orang yang mengantar Rina tadi pagi saat berangkat sekolah.


"Rin, dia pacar kamu kan?" tanya Bunga untuk yang kesekian kalinya.


Rina merasa lelah karena harus menjawab berkali-kali pertanyaan tersebut, "Bukan pacar," jawab Rina seadanya.


"Hah!? Terus apa?" tanya Bunga lagi dengan ekspresi kaget.


"Ck! Kamu sudah tanya itu berkali-kali, gak bosen apa tanya itu-itu terus!" balas Rina kesal.


"Hehehe maaf, aku cuma penasaran aja, Rin." Bunga menggaruk kepala belakangnya.


"Emang dia siapa kamu, Rin?" tanya Jeni penasaran.

__ADS_1


"Dia calon suami aku! Puas kalian!" jawab Rina merasa jengah dengan pertanyaan yang selalu dilontarkan kedua temannya tersebut.


Kedua teman Rina itu menampilkan ekspresi terkejut sekaligus bingung setelah mendengar jawaban dari Rina barusan.


Entah apa yang ada di otak mereka tetapi yang pasti itu bukan hal yang positif dalam artian jelek.


"Kamu habis 'kecelakaan' ya sama dia?" tanya Bunga dengan gaya tangan memegang perut memperagakan gaya orang yang sedang mengelus perut ibu hamil.


"Aku gak nyangka kamu sampe segitunya, Rin!" sambung Jeni dengan wajah terlihat sedih.


Rina yang mendengar ucapan mereka berdua menjadi tambah kesal, bagaimana mungkin dirinya bisa dikatakan hamil padahal hanya menjawab bahwa orang yang mengantarnya sekolah merupakan calon suaminya.


Tidak habis pikir ia dengan otak kedua temannya tersebut yang kadang-kadang absurd, namun justru itulah yang membuat Rina betah berteman dengan mereka berdua.


Kelucuan serta ketulusan mereka berteman dengan Rina itulah yang membuat pertemanan mereka terjalin dengan baik dari dulu hingga sekarang, tidak ada yang namanya saling pamer harta ataupun pamer jabatan orang tua.


Mereka bertiga bahkan tidak pernah membawa nama orang tua mereka padahal orang tua mereka merupakan orang dengan kekayaan yang sangat berlimpah bahkan ada yang memiliki jabatan tinggi.


Memang betul kata orang, jika berteman hanya berpatok pada jabatan atau harta maka pertemanan tersebut tidak akan pernah bertahan lama, jika salah satu diantaranya jatuh miskin yang lain tidak membantu tapi malah menjatuhkan hingga menghina.


'Walaupun aku udah pernah gituan sih sama Firman hehehe,' ucap Rina dalam hatinya.


"Hehehe...Maaf kalo kita salah, kita kan cuma khawatir aja sama kamu," ucap Jeni.


"Iya benar kata Jeni, takutnya kamu terjerumus ke hal negatif yang bisa ngebuat kamu hancur Rin, kita pikir pas kamu bilang calon suami tadi orangnya kayak om-om genit gitu, apalagi mobilnya bagus gitu, biasanya om-om genit kan mobilnya bagus tapi wajahnya jelek," ucap Bunga dengan polosnya.


Rina dan Jeni tertawa mendengar ucapan dari Bunga yang terlampau polos, bagaimana mungkin Rina yang seorang wanita cantik idaman semua siswa bisa bersama dengan om-om.


"Jangan macem-macem kamu pikiranya itu, mana mungkin aku pacaran sama om-om!" ujar Rina membalasnya.


"Tau tuh, Bunga terlalu polos hahaha...Gak cuma om-om aja yang punya mobil bagus kali," sambung Jeni.


"Ya aku pikir kan gitu, soalnya aku sering lihat di film sama di novel begitu rata-rata, orang kaya, mobil bagus, banyak uang, biasanya om-om gendut yang wajahnya jelek," ucap Bunga masih dengan kepolosannya yang membuat Rina dan Jeni kembali tertawa.


"Hahaha...Kurangin baca gitu-gituan, nanti otak kamu ke cuci sama hal yang begitu," ucap Jeni menasehati temannya tersebut.

__ADS_1


"Otak dicuci gimana caranya, Jen?" tanya Bunga semakin membuat Rina dan Jeni tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan dari Bunga.


"Eh...Malah ketawa, aku kan tanya!" ujar Bunga ngambek lantaran ditertawakan oleh teman-temannya.


"Habisnya kamu lucu banget sih hahaha..." ucap Rina.


Saat sedang asyik tertawa sambil menggoda Bunga, mobil milik Firman telah sampai di depan mereka bertiga yang membuat perhatian semua siswa yang masih ada di sana terpaku kepada mobil Firman tak terkecuali kedua teman Rina.


Firman keluar dari mobilnya menggunakan masker dan juga kacamata hitam untuk menutupi wajahnya agar tidak dilihat oleh para siswa yang ada di sana.


Meskipun menggunakan masker dan kacamata hitam, aura ketampanan tetap terlihat pada diri Firman bahkan para siswi yang ada di sana terpana melihat aura ketampanan milik Firman yang sangat terasa sekali.


Firman berjalan menghampiri Rina seraya membawa satu kantong yang berisikan es krim untuk diberikan padanya, "Nih es krim, tadi aku beliin di jalan," ucapnya menyerahkan kantung yang berisikan es krim tersebut.


"Terima kasih, sayang," ucap Rina dengan tersenyum manis.


Orang-orang yang melihat Rina tersenyum kepada laki-laki menjadi heboh dibuatnya, pasalnya Rina sangat anti kepada pria apalagi tersenyum kepadanya itu sangat tidak mungkin sekali terjadi, tetapi untuk Firman berbeda.


"Oh iya, kenalin ini mereka temen-temen aku," ujar Rina.


"Firman," ucap Firman memperkenalkan diri kepada kedua teman Rina yang saat ini masih terbengong sambil menatap Firman.


"Hey!! Jaga itu mata kalian, jangan liatin punya orang sampe segitunya juga!" ucap Rina yang membuyarkan lamunan kedua temannya tersebut.


"Eh...A...Aku Bunga, salam kenal."


"K...Kalo aku J...Jeni, salam kenal juga."


Keduanya memperkenalkan diri masing-masing, setelah itu Rina langsung mengajak Firman masuk kedalam mobilnya karena disana sudah banyak orang berkumpul hanya untuk melihat Firman ataupun mobilnya.


"Aku pulang dulu, bye bye..." ucap Rina berpamitan kepada kedua temannya.


Firman melajukan mobilnya dengan Rina yang ada di sampingnya, para siswa yang melihat kepergian Firman terus menatap mobilnya hingga tidak lagi terlihat, sementara kedua teman Rina masih bengong karena memikirkan betapa beruntungnya Rina memiliki kekasih seperti Firman.


"Pakai masker aja masih tampan, apalagi dilepas!" ujar mereka berdua bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2