System Menjadi Pria Sukses

System Menjadi Pria Sukses
System Sukses 197 Menghadapi Kelompok Misterius


__ADS_3

Chapter 197


Mobil Firman melaju membelah jalanan yang ditutupi oleh salju es membuat jalan terasa sangat licin sekali hingga membuat mobil yang dikemudikan oleh Firman tidak bisa melaju dengan kecepatan yang tinggi karena jika terlalu tinggi kecepatanya bisa mengakibatkan mobil tergelincir di licinnya jalan bersalju.


Untung saja tadi saat mengisi ulang daya baterai mobilnya, Gina sempat membeli beberapa makanan ringan dan minuman hangat untuk bekal selama perjalanan yang menempuh jarak yang lumayan jauh.


Jarak yang ditempuh Firman agak berbeda dari yang pada saat perjalanan menuju tempat lelang kemarin, jika pada saat lelang kemarin Firman menggunakan jalan yang berada di perkotaan maupun pedesaan yang lumayan ramai dengan masyarakat, serta banyak bangunan di sisi kanan dan kiri jalan.


Justru saat kembali pulang kali ini, Firman lebih memilih menggunakan jalan yang berada di sekitar hutan, bahkan jalan raya yang membelah hutan tersebut mengharuskan pengendara untuk selalu waspada lantaran berbagai jenis bahaya bisa saja terjadi saat tengah berkendara.


Apalagi jalan tersebut terasa sangat sepi sekali karena tidak ada yang berani melewati jalan itu sangking takutnya jika ada bahaya yang mengintai yang membuat pengendara dihantui bahaya kapanpun.


"Apakah kamu masih melihat mereka yang mengikuti kita sejak keluar dari hotel tadi?" tanya Firman kepada Gina yang sedang melihat layar laptop di depannya.


"Mereka masih terus mengikuti kita padahal diluar sedang terjadi hujan salju meski tidak terlalu deras, sepertinya orang yang mengikuti kita itu memang berniat membuat masalah dengan kita sayang," jawab Gina melihat gambaran video yang berada pada laptop didepannya.


Tadi Firman sempat menerbangkan sebuah alat berupa drone yang bisa tahan disegala medan untuk mempermudah mereka dalam melihat pergerakan kelompok orang yang sedang mengawasi mereka.


Drone tersebut langsung terhubung dengan laptop Firman yang saat ini berada didepan Gina karena Firman tidak dapat memantau lantaran sedang fokus menyetir mobilnya, untung saja drone yang digunakan oleh Firman tahan disegala medan, jadi tidak masalah bila cuaca diluar sedang buruk.


'Sepertinya ada yang sedang bermain-main denganku, baiklah aku akan mengikuti bagaimana permainanmu,' batin Firman tersenyum yang terlihat menakutkan.


Bagi orang biasa mungkin akan ketakutan bila terus diikuti dengan sekelompok orang misterius menggunakan mobil van besar, bisa saja mereka akan dicelakai pada saat sedang di tempat yang sepi atau bahkan bisa membuat nyawa mereka melayang kapanpun.


Namun untuk seorang Firman justru sebaliknya, ia merasa semakin tertantang untuk membuat situasi berbalik yang mana kelompok yang sedang mengikuti mereka yang akan menjadi korban kebengisan pasangan Firman dan Gina.

__ADS_1


"Sayang, aku sarankan kita berhenti di hutan yang berada di depan itu, mungkin jaraknya tidak sampai 5 kilometer lagi. Kita bisa menghadapi mereka disana tanpa ada yang mengetahuinya sama sekali dan bisa melanjutkan perjalanan tanpa ada semut yang mengikuti kita dari belakang seperti ini," ucap Gina yang merasa mulai geram dengan kelompok yang terus saja mengikuti kemanapun mereka pergi.


"Kamu benar, tapi di tengah cuaca yang terlihat semakin buruk ini sangat beresiko untuk bertarung di tengah badai, kamu persiapkan semua peralatan dan jangan lupa untuk mengenakan baju yang tebal guna menghangatkan tubuh," ucap Firman.


"Baik sayang," jawab Gina.


Mendengar perintah sang kekasih, dengan cepat Gina mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan mereka, Gina juga tidak lupa mengganti pakaian di dalam mobil dengan menggunakan pakaian yang biasa digunakan olehnya saat sedang bertugas di tengah cuaca yang ekstrim seperti sekarang ini.


Saat Gina sedang mempersiapkan semuanya, Firman terus mengawasi keberadaan mobil yang mengikuti mereka berdua sejak tadi, mobil tersebut terlihat agak buram karena jarak antara mobil Firman dengan mobil kelompok misterius yang mengikutinya lumayan jauh,


Apalagi ditambah dengan badai salju yang semakin deras membuat jarak pandang menjadi semakin menipis bahkan mungkin jarak pandang hanya terlihat sekitar 5 meter saja.


Tapi berkat adanya drone yang diterbangkan oleh Firman membuat mereka bisa dengan mudah melihat mobil kelompok misterius yang terus mengikuti mereka berdua.


Setelah berjalan selama beberapa menit lamanya, akhirnya mobil yang digunakan oleh Firman telah sampai pada suatu hutan tepatnya mereka saat ini sudah berada ditengah-tengah hutan yang sangat lebat tapi seluruhnya telah ditutupi oleh salju yang sangat tebal hingga membuat hamparan pohon yang biasanya berwarna kehijauan sekarang hanya terlihat tumpukan salju yang menutupi tingginya pohon.


"Sudah, tapi sepertinya aku kekurangan amunisi sayang, peluru yang aku bawa hanya sedikit, mungkin sekitar 30 butir saja yang masih aktif," jawab Gina yang terlihat agak khawatir karena persediaan senjata mereka yang menipis.


"Bagaimana bisa hal itu terjadi, bukanya kamu sebelum berangkat kemarin membawa banyak sekali amunisi? Kemana larinya amunisi tersebut hingga hanya tersisa sedikit seperti itu," tanya Firman bingung dengan situasinya saat ini.


Gina merasa ketakutan lantaran melihat Firman yang sepertinya sedang menahan kekesalan karena kesalahan yang telah dibuat olehnya, "Maafkan aku sayang, ternyata kebanyakan peluru yang aku bawa telah tidak aktif lagi, atau kosong tidak berisi sama sekali," jawab Gina dengan wajah tertunduk sedih takut dimarahi Firman.


Firman yang mendengar jawaban dari Gina tersebut menjadi sangat pusing, padahal niatnya ingin menghabisi kelompok yang mengikutinya tanpa harus keluar dari dalam mobil dengan cara menembak mobil yang digunakan kelompok tersebut.


Tapi sekarang sepertinya rencana yang Firman persiapkan tersebut tidak akan berguna lantaran sedikitnya peluru yang dimiliki oleh mereka, jadi dengan terpaksa Firman harus menghadapi kelompok misterius tersebut dengan cara yang agak kasar yaitu bertarung di luar mobil di tengah cuaca yang sangat buruk badai salju menerjang.

__ADS_1


"Huft ... tidak apa-apa, lain kali lihat dulu sebelum membawa sesuatu. Baiklah sekarang kita akan menghadapi mereka dengan cara yang lain, yaitu bertarung di luar dengan ditemani cuaca yang sangat indah ini," ujar Firman menghentikan mobilnya di tengah-tengah hutan yang sangat lebat ini.


"Baiklah aku mengerti, tapi aku memakai senjata apa? Sedangkan peluru saja hanya tersisa 30 butir saja," ucap Gina kebingungan.


"Kamu gunakan peluru itu dengan baik, jika terpaksa harus menggunakan senjata lain, di dalam tas yang aku bawa ada sebuah pisau besar yang selalu aku bawa untuk cadangan dan jangan lupa untuk selalu berhati-hati karena aku merasakan firasat bahwa kelompok itu memiliki kemampuan yang diatas manusia rata-rata," jawab Firman menjelaskan kepada Gina dengan singkat.


Mereka akhirnya bersiap membawa senjata masing-masing, Firman yang sudah siap dengan kedua katana kesayangan miliknya yaitu katana Sang Pembantai yang sudah lengkap ditangan kanan satu dan di tangan kiri satu.


Sementara untuk Gina menggunakan senjata laras pendek berukuran sedang dengan peluru 30 butir, hanya sedikit memang tapi itu sudah cukup untuk Gina menghabisi beberapa orang dengan ilmu beladiri yang berada diatas manusia biasa.


Firman menurunkan drone miliknya dan memasukannya kedalam mobil kemudian mereka berdua keluar dari dalam mobil lalu menunggu kedatangan mobil van yang ditumpangi oleh kelompok misterius yang selalu mengikuti mereka dari keluar hotel tadi, Firman menunggu dengan berdiri di samping mobilnya sedangkan Gina menunggu sembari duduk diatas kap mobil bagian depan sambil memegang senjata di tangannya terlihat sangat menakutkan.


"Sayang, aku minta jangan habisi mereka dengan cepat ya, aku ingin sedikit bermain-main dengan mereka karena aku merasa sangat kesal dengan tindakan kelompok itu yang selalu terus mengikuti kita sejak tadi," ucap Gina dengan memperlihatkan senyum devil di wajahnya.


"Terserah kau saja, apapun bebas kau lakukan," jawab Firman tidak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh kekasihnya tersebut.


"Hehehe terima kasih sayangku muach ..." ucap Gina sambil mencium pipi sebelah kanan Firman.


Mereka menunggu kedatangan kelompok yang terus mengikuti mereka berdua, tidak lama kemudian terlihat ada mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat Firman dengan Gina berada, mobil van tersebut berhenti sekitar beberapa belas meter di belakang mobil mereka berdua.


"Permainan akan segera dimulai sayang," ujar Firman dengan senyum menakutkan terlukis di wajah tampannya, sebuah senyuman yang membuat musuhnya ketakutan karena senyum tersebut menandakan jika Firman siap untuk melakukan pembantaian pada saat itu juga.


Dari dalam mobil van tersebut terlihat ada beberapa orang yang menggunakan pakaian serba hitam turun dari dalam mobil itu, mereka turun lalu berdiri didepan mobil sambil menatap kearah Firman dan Gina berada, ditangan mereka semua bisa dilihat ada beberapa senjata tajam seperti pedang, pisau besar, sampai gergaji berukuran besar yang mereka gunakan sebagai senjata untuk menghabisi korban-korbannya.


Karena badai salju yang lumayan tinggi, membuat penglihatan agak sedikit terganggu jadi, Gina dan kelompok yang sedang mereka hadapi kali ini menjadi agak samar-samar, sedangkan untuk Firman karena tubuhnya telah beradaptasi dengan segala medan yang ada, hal itu membuat Firman bisa melihat dengan jelas meskipun masih sedikit samar.

__ADS_1


'Kelompok apa mereka itu? Mengapa senjata yang mereka gunakan sudah seperti para psikopet berbahaya yang ada di film-film,' batin Firman agak ngeri melihat senjata ditangan kelompok itu.


Tapi bukan Firman namanya jika takut dengan senjata atau orang-orang seperti itu, bagi Firman mereka sama saja seperti orang pada umumnya yang sering dihadapi oleh Firman selama ini, mungkin penampilan dan senjata yang digunakan saja yang berbeda, percaya diri kadang sangat dibutuhkan saat pertarungan seperti ini.


__ADS_2