
Chapter 180
Firman masih duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan balkon luar kamar Gina, jadi ia bisa menikmati pemandangan indah yang ada di luar melalui pintu kaca balkon yang terlihat jelas.
Saat sedang menikmati indahnya pemandangan pada malam hari, Firman dikejutkan dengan adanya seseorang yang secara tiba-tiba memeluk dirinya dari belakang.
Tangan orang itu melingkar manis di leher Firman bergelayut manja dari belakang Firman, karena merasakan jika orang itu bukanlah orang yang berbahaya, Firman berbalik untuk melihat siapa orang yang secara tiba-tiba memeluknya tersebut ditengah malam seperti ini.
"Sayang ~ " kata Gina yang memeluk Firman dari belakang.
Ya benar sekali, orang yang memeluk Firman adalah Gina yang baru saja terbangun dari tidurnya, Firman yang melihat Gina masih berada di belakangnya lalu mengangkat tubuh Gina supaya duduk dipangkuannya.
Gina dengan patuh mengikuti apa yang dimaksud oleh Firman kemudian ia duduk dipangkuan Firman lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Firman yang terasa hangat saat Gina memeluknya.
"Kamu kenapa bangun tengah malam seperti ini?" tanya Gina.
"Tidak papa, aku hanya ingin bersantai sebentar menikmati indahnya malam," jawab Firman seraya mengelus rambut Gina yang halus.
Mereka berdua duduk di kursi dengan Gina yang berada di pangkuan Firman, coklat panas yang dibuat Firman tadi juga tak luput dari sasaran Gina, Coklat panas yang hanya tersisa setengah saja itu habis diminum oleh Gina hingga tak tersisa.
"Kenapa kamu memakai pakaian seperti itu? Saat ini musim dingin yang mana suhu pada saat malam hari berkali-kali lipat daripada di siang hari, kamu tidak kedinginan apa?" tanya Firman yang melihat Gina masih menggunakan pakaian yang sangat seksi tersebut.
Bukanya Firman tidak suka, malah ia sangat suka dengan apa yang dilakukan oleh Gina karena ia bisa mendapatkan pemandangan indah seorang wanita cantik yang memiliki tubuh sangat seksi nan indah yang hanya menggunakan pakaian tipis saja.
"Hehehe tidak papa, aku setiap tidur memang biasanya hanya menggunakan pakaian seperti ini karena rasanya sangat nyaman, apalagi sekarang aku tidur ditemani orang yang paling aku sayangi selama ini," jawab Gina semakin erat memeluk tubuh Firman dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Firman.
"Oh iya, aku penasaran bagaimana caramu bisa mendapatkan banyak sekali barang yang berhubungan denganku, bahkan foto dan lukisan semuanya penuh di kamarku ini," ujar Firman penasaran.
Terlihat Gina sangat malu karena rahasianya selama ini terbongkar, sebuah rahasia yang sangat dijaga dengan baik olehnya, Gina sangat malu bila ada orang yang mengetahui bahwa selama ini ia selalu menyimpan barang yang berhubungan dengan Firman di dalam kamarnya.
Apalagi sekarang Firman sendiri yang mengetahui rahasia besar Gina tersebut, semakin malu rasanya Gina sampai-sampai tidak bisa menatap wajah Firman sangking malunya.
Selama ini hanya ada Lina saja yang mengetahui rahasia isi kamar Gina tersebut, hal itu juga karena sebuah kesalahan Gina sendiri lantaran lupa mengunci pintu yang membuat Lina masuk untuk memanggilnya lalu Lina melihat banyak sekali foto pria yang terpajang, foto Firman.
"Ahh ...! Tolong jangan bahas itu, aku sangat malu," ujar Gina menenggelamkan wajahnya di dalam selimut yang digunakan Firman untuk menutup tubuh mereka berdua agar tidak kedinginan.
Karena Gina masih berada di pangkuan Firman, jadi dengan mudahnya Firman menyingkirkan selimut tersebut lalu memperlihatkan Gina yang wajahnya sudah sangat memerah karena malu rahasia sudah terbongkar.
Tapi bukan itu yang menjadi fokus Firman saat ini, yang menjadi fokus Firman adalah tubuh Gina yang terlihat sangat seksi dengan baju bagian atas yang sudah terbuka seluruhnya tanpa pakaian sama sekali.
__ADS_1
Mungkin saat Firman menarik selimutnya tadi baju Gina yang memang sudah terlihat akan lepas ikut terbawa dengan selimut yang dilempar Firman, alhasil sekarang Gina hanya menggunakan pakaian bawah saja yang terlihat sangat kecil sekali.
Glek ...
Firman menelan ludah menahan gejolak didalam dirinya yang ingin segera menerkam Gina yang sangat menggoda sekali dengan tubuh seksi dan wajah cantiknya.
"A ... ada apa sayang?" tanya Gina yang masih belum sadar bahwa bajunya telah terlepas.
"Itu baju kamu terlepas," jawab Firman dengan berusaha tetap terlihat tenang meskipun didalam dirinya sudah ingin memberontak ingin menerkam Gina.
Gina melihat tubuhnya sendiri lalu ia kaget lantaran bajunya sudah terlepas padahal dirinya masih berada di pangkuan Firman, tapi sekejap kemudian Gina menampilkan senyum misterius yang hanya dia dan Tuhan saja yang tau apa maksud senyuman tersebut.
Bukanya malu atau langsung menutup tubuhnya kembali, Gina justru memeluk tubuh Firman lagi dengan keadaan tanpa busana, apalagi Firman juga tidak menggunakan baju dan hanya menggunakan celana panjang saja saat tidur tadi.
Gejolak di tubuh Firman semakin memberontak ingin segera dikeluarkan, ditambah dengan Gina yang sepertinya sedang menggoda dirinya karena menempelkan dua buah bulatan yang ukuranya ternyata sangat besar.
Ternyata selama ini Gina menutupi benda tersebut di balik pakaiannya dengan cara menekan supaya tidak terlihat terlalu besar, namun aslinya ukuran buah milik Gina sangat besar mungkin lebih besar daripada yang dimiliki oleh Sophia.
"Tidak apa-apa sayang, lagipula kita sudah pernah melihat satu sama lain, kamu juga sudah pernah merasakannya kan waktu itu," ujar Gina menatap wajah Firman.
"Ya kamu memang benar, tapi kenapa aku merasa ukuranmu itu bertambah berkali-kali lipat dari waktu pertama kali kita berhubungan waktu itu," kata Firman heran melihat ukuran dua buah semangka milik Gina yang semakin besar saja.
Firman menganguk mendengar jawaban dari Gina, 'Tapi aku merasa memang benar, bahwa miliknya itu semakin besar saja, aku waktu pertama kali berhubungan denganya waktu itu melihat dengan jelas sekali ukuranya belum sebesar ini, sudahlah mungkin memang benar kata Gina tadi aku kurang jelas melihatnya,' batin Firman.
Mereka masih tetap dalam keadaan yang sama yaitu Gina yang duduk di pangkuan Firman seraya memeluk tubuhnya menyandarkan kepalanya di dada bidang Firman yang hangat.
"Sayang, apa kamu tidak ingin melakukanya denganku? Apa kamu tidak bern4fsu saat melihatku dengan keadaan seperti ini?" tanya Gina agak kesal karena Firman yang masih terlihat tenang meski sudah digoda seperti itu.
"Aku sangat menginginkanmu, tapi nanti saja karena saat ini aku masih ingin santai dulu, nanti saja kita berhubungan sampai pagi," jawab Firman seraya mencium bibir Gina sekilas.
Gina tersenyum lalu merubah duduknya menghadap ke arah depan melihat pemandangan yang indah dengan salju menutupi pohon-pohon serta gedung yang terlihat semakin indah dipandang mata.
Sekarang giliran Firman yang memeluk Gina dari belakang, sesekali tangan Firman juga menyentuh dua buah benda besar milik Gina yang masih kencang tanpa kendor sedikitpun.
"Ugh ... sayang ~ kamu berniat menggodaku atau menyiksaku sih! Aku jadi semakin memanas jika kamu menggodaku seperti ini terus," ujar Gina menahan suara kenikmatan nya karena permainan tangan Firman yang terlihat sangat lihai sekali.
"Aku hanya ingin menikmati sedikit saja, lagipula kamu juga menyukainya kan," balas Firman terus menggunakan tangannya untuk memainkan tubuh Gina.
Tangan Firman yang satunya turun kebawah untuk menyentuh lembah kenikmatan yang sudah tidak tertutupi lagi karena baju bagian bawah Gina telah dilepas oleh Firman dengan cepat tanpa disadari oleh Gina.
__ADS_1
Uhh ...
Suara kenikmatan Gina semakin keras terdengar seiring berjalannya permainan tangan Firman yang telah berpengalaman sekali, Gina memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang dilakukan Firman.
Saat Gina akan mengeluarkan cairan pukcaknya, Firman langsung menghentikan aksinya yang mana hal itu membuat Gina kesal karena dirinya ingin keluar tadi justru Firman malah menghentikan aksinya.
"Sayang ihh ...! aku ingin keluar sayang, kenapa kamu malah berhenti sih, aku sudah mau mencapai puncak!" kesal Gina menatap Firman tajam.
"Sabar sayangku, kita santai terlebih dahulu menikmati malam ini, tenang saja nanti aku akan membuatmu pingsan sampai pagi," balas Firman menampilkan seringai di wajahnya.
Melihat seringai diwajah Firman tersebut membuat Gina seperti agak ragu untuk menerima ajakan Firman untuk melanjutkan permainan mereka, karena pertama kali berhubungan saja waktu itu Gina belum bisa menandingi kekuatan yang dimiliki oleh Firman meski hanya setengahnya saja.
"Sayang ~ jangan terlalu berlebihan ya nanti, aku tidak kuat melayani kamu sendirian, atau aku panggilkan anak buahku saja untuk membantu aku untuk memuaskanmu?" ujar Gina yang memiliki ide diluar pemikiran tersebut.
"Apa kamu tidak waras? Bagaimana mungkin ada wanita yang mau menyerahkan kekasihnya untuk dipuaskan bersama dengan wanita lain," ucap Firman tak habis pikir dengan ide Gina yang diluar batas.
"Aku kan hanya memberikan saran saja, lagipula sepertinya aku dan saudari yang lain mungkin akan kesulitan untuk memuaskanmu meskipun kamu bekerja sama," ucap Gina cemberut.
"Aku tidak tahu tentang hal itu," balas Firman lebih memilih menghindar.
Firman tiba-tiba teringat kembali dengan rencananya untuk pergi ketempat organisasi pelelangan berada, namun sayangnya Firman tidak mengetahui bagaimana caranya bisa masuk ke tempat tersebut.
"Gina, apa kamu mengetahui tentang tempat pelelangan?" tanya Firman berharap Gina mengetahui sesuatu yang bisa membuatnya masuk ke tempat pelelangan tersebut.
"Aku tahu tempat itu, tapi aku tidak akan memberitahukan kamu apapun karena kamu tidak memanggilku dengan benar!" jawab Gina kesal karena dipanggil menggunakan nama nya padahal sudah disuruh untuk memanggil dengan sebutan sayang.
"Baiklah, sayang apa kamu sekarang bisa menjelaskan tentang organisasi itu untukku?" ujar Firman.
Gina tersenyum lalu menjelaskan cara untuk masuk ke tempat itu, orang yang ingin masuk kesana harus memiliki undangan khusus ataupun menjadi pelanggan tetap dengan cara memberi membership untuk berlangganan disana.
Kebetulan besok malam akan diadakan acara lelang bulanan yang biasanya dilakukan oleh pihak pelelangan setiap 1 bulan sekali, Gina juga memiliki undangan untuk hadir pada acara tersebut yang membuat Firman tersenyum karena ia bisa masuk ke tempat itu dengan mudah bersama dengan Gina.
"Aku tidak akan memberikan undangan itu secara gratis, kamu harus membayar untuk itu!" ujar Gina.
"Baiklah nanti aku akan mengirim uangnya ke kamu," jawab Firman.
"Aku tidak mau uang ataupun harta lainnya!" ucap Gina tegas.
"Lalu apa mau kamu? Aku akan berusaha menurutinya jika aku mampu," ucap Firman.
__ADS_1