
Ainun tak percaya melihat 3 pria yang berdiri di depan pintu masuk kamar itu.
"What? Apakah aku harus Melayani ketiga pria itu secara sekaligus?" gumam Ainun di dalam hati.
Dia mulai risau menghadapi ketiga pria yang kini mulai melangkah menghampirinya.
Ketiga pria itu pun saling melempar pandangan lalu kembali menatap Ainun dengan tatapan yang sulit di artikan.
Ainun teringat dengan apa yang dikatakan Sherin tadi, hingga akhirnya dia pun pasrah melayani ketiga pria itu dalam waktu satu malam.
Dia terpaksa memberikan kue apem miliknya kepada ketiga pria itu secara bergantian.
Semua itu terpaksa dilakukannya demi uang dan tetap dapat hidup. Dia takut Frans membunuh dirinya karena tidak bisa melayani pelanggan VVIP nya
Ketiga pria itu langsung terkapar setelah mendapatkan pelayanan dari Ainun, sedangkan Ainun masuk ke dalam kamar mandi lalu menangisi nasib yang harus dijalaninya.
Bayangan ketiga pria itu meluluh lantakkan kue apem miliknya dalam semalam membuat Ainun merasa harga dirinya tidak ada lagi, semua kehormatannya kini tak dapat dipertahankannya.
Dia merasa harga dirinya telah dicabik-cabik oleh ketiga pria itu.
Seketika Ainun teringat pada Adeeva, dia mulai menyesali apa yang telah dilakukannya pada sahabatnya.
Padahal selama ini Adeeva adalah satu-satunya sahabat yang paling mengerti akan dirinya.
Sementara itu Sherin dan Frans tengah tertawa bahagia.
"Wanita itu memang bodoh," ujar Frans sambil tertawa.
Sherin juga ikutan tertawa, wanita itu kini tengah duduk di pangkuan Frans.
"Dengan mudah dia percaya begitu saja apa yang aku katakan," ujar Sherin.
Semua yang diceritakan Sherin pada Ainun hanyalah rekayasa Sherin agar Ainu tidak kabur dan dapat menjadi budak pencari uang bagi Frans.
Jika Frans banyak menghasilkan uang, maka uang itu juga akan mengalir pada dirinya.
"Kamu memang pintar, Sayang," bisik Frans pada wanitanya.
"Hahaha."
Ruangan itu penuh dengan tawa kedua orang itu.
"Bayaran wanita itu 50 juta, 10 juta untuknya dan 40 juta untuk kita, betapa mudahnya kita mencari uang dalam satu malam, hahaha," tawa Frans semakin keras.
Keesokan paginya, saat Ainun hendak pulang dari club milik Frans.
Sherin datang menghampirinya.
"Ai," panggil Ainun.
"Bagaimana semalam?" tanya Sherin dengan wajah datar.
"Mhm," gumam Ainun.
Dia tidak bisa menjawab, karena perasaannya saat ini sangat kacau.
__ADS_1
"Aku yakin kamu pasti memuaskan mereka," ujar Sherin.
"Nih." Sherin memberi Ainun segepok uang bayaran dari pekerjaannya tadi malam.
"Jika kamu mereka memintamu lagi, maka bayaranmu akan lebih banyak dari itu," ujar Sherin lagi.
"Mhm." Ainun hanya bisa bergumam.
"Ya sudah kalau begitu, pulanglah. Hati-hati di jalan," ujar Sherin.
Setelah itu Sherin pun meninggalkan Ainun.
Hati Ainun terobati setelah memegang sejumlah uang yang diberikan Sherin.
"Mungkin inilah jalan yang harus aku jalani, aku harus menjual diri demi mendapatkan banyak uang, nanti setelah aku memiliki banyak uang, aku akan kabur dari pria gila itu," gumam Ainun.
Ainun pun keluar dari club itu. Dia melangkah gontai mencari taksi yang biasa mengantarkan dirinya.
Setiap pagi, beberapa taksi memang stand by parkir di sana untuk mengantarkan beberapa pekerja yang bekerja di club itu.
"Jalan, Pak," ujar Ainun setelah masuk ke dalam sebuah taksi.
Sopir taksi itu pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan club menuju apartemen milik Ainun.
Sang sopir sudah mengetahui tujuan Ainun, karena sejak Ainun bekerja di club itu, Ainun selalu menaiki mobil taksi milik si bapak yang kira-kira berumur 40 tahunan.
Sepanjang perjalanan Ainun akan tidur di dalam mobil untuk beristirahat.
Saat Ainun tertidur, si sopir melihat sebuah amplop coklat yang mencuat di tas Ainun.
Di saat terdesak dan memiliki kesempatan, si sopir menjulurkan tangannya ke belakang.
Dia terus memperhatikan Ainun yang masih lelap tidur melalui kaca spion.
Di saat berada di lampu merah, sopir itu pun menarik amplop tersebut, lalu dia pun mengeluarkan isi amplop itu.
Si sopir langsung menyimpan uang itu dan membuang amplop coklat pembungkus uang itu agar dia tidak dicurigai oleh Ainun nantinya.
Dia menyimpan uang itu di dashboard mobilnya.
Walau hatinya cemas dan was-was, tapi si sopir tetap bersikap santai.
Si sopir pun menghentikan mobilnya setelah mereka sampai di depan apartemen milik Ainun.
"Nona, kita sudah sampai," ujar si sopir dengan nada seperti biasa.
Dia tidak menunjukkan rasa gugup sama sekali.
Ainun terbangun, lalu dia pun merogoh tasnya dan mengambil dompetnya.
Dia mengeluarkan uang seratus ribu lalu menyodorkan uang tersebut pada si sopir.
"Ambil saja kembaliannya, Pak," ujar Ainun seperti biasa dilakukannya pada pria itu.
Dalam keadaan masih setengah sadar, Ainun turun dari mobil, lalu dia pun melangkah masuk ke dalam apartemennya.
__ADS_1
Sesampai di apartemen, Ainun langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dia pun memulai istirahatnya.
Saat pagi merupakan waktu istirahat bagi Ainun, karena nanti pada pukul 15.00 dia kembali harus bekerja di club milik Frans.
Ainun terbangun dari tidurnya pada pukul 13.00.
Dia membuka matanya lalu menatap langit-langit kamarnya, ingatannya kembali tertuju pada apa yang telah terjadi tadi malam.
Hatinya terasa sangat hancur mendapat perlakuan ketiga pria itu, tapi apa boleh buat itulah takdir yang saat ini harus dilaluinya.
Seketika Ainun teringat dengan uang diberikan Sherin.
Dia pun bangkit lalu mengambil tasnya yang diletakkannya di atas meja rias.
Dia pun mencari uang yang sudah jelas dimasukkannya ke dalam tas miliknya.
"Ke mana uang yang diberikan Sherin tadi?" gumam Ainun.
Dia pun mengeluarkan semua isi tasnya. Dia sama sekali tidak mendapati amplop coklat itu lagi.
"Ke mana uang yang diberikan Sherin tadi?" gumam Ainun.
Ainun mencoba mengingat-ingat di mana dia menjatuhkan uang itu.
"Sial, apa jangan-jangan jatuh di taksi yang aku tumpangi?" gumam Ainun.
"Atau aku menjatuhkannya di club?" lirih Ainun.
"Ya ampun, ke mana uang itu?" Dia terus bertanya-tanya di mana uang itu tercecer.
Dia mulai panik dan kesal, uang hasil kerjanya malam ini raib begitu saja.
"Aaaarrggghhh," teriak Ainun stress.
"10 juta hilang begitu saja." Rasa sesak kini menggerogoti hatinya.
Dia mulai tak bersemangat melakukan apa pun termasuk untuk tidak datang ke club malam ini.
Dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Sherin, dia meminta izin pada Sherin bahwa hari ini dia tidak bisa datang bekerja karena merasa tidak enak badan.
"Apa kamu benar-benar sakit?" tanya Sherin ragu.
"Iya, Rin. Aku tidak kuat melakukan apa-apa karena pekerjaan tadi malam benar-benar berat," ujar Ainun beralasan.
"Baiklah, malam ini aku akan berusaha membujuk Frans agar mengerti keadaanmu saat ini. Tapi, jika besok kamu tidak datang maka aku tidak bisa membantumu," ujar Sherin memperingati Ainun.
"Ya," sahut Ainun.
Ainun kembali menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Baru saja dia kembali ingin tidur, terdengar bel pertanda ada yang datang.
"Siapa yang datang? Apa jangan-jangan orang suruhan Frans, yang menyuruh mereka untuk membunuhku?" gumam Ainun ketakutan.
__ADS_1
Bersambung...