
Axel mematung di depan meja makan, dia tak menyangka pagi ini akan mendapatkan surprise yang sangat konyol baginya.
"Apa yang kau lakukan? Ayo kita makan," ajak Kyara menarik tangan Axel.
Kyara menggiring Axel untuk duduk di di kursi meja makan.
"Makanlah," ujar Kyara meminta Axel untuk menyantap sarapan yang sudah dihidangkan oleh Kyara.
Axel masih terdiam, selama ini dia belum pernah menyantap makanan seperti yang ada di hadapannya saat ini.
"Kamu tidak suka masakanku, ya?" tanya Kyara cemberut.
"Apakah kamu tidak bisa memasak masakan yang lebih enak dari ini?" tanya Axel.
Akhirnya Axel pun mengungkapkan isi hati yang tidak tertarik sama sekali dengan menu yang telah disediakan oleh Kyara.
"Gimana aku mau masak masakan yang lain, toh persediaan makanan di dalam kulkas hanya ada ini saja," jawab Kyara.
"Tapi paling tidak kamu bisa masak omelet atau apa gitu," bantah Axel menunjukkan ketidaktertarikannya dengan menu yang terhidang di atas meja.
Kyara terdiam, dia tidak menyangka Axel akan berkata begitu jujur padanya, dia merasa kecewa dengan sikap Axel yang tidak menyukai masakannya.
Padahal sedari tadi dirinya sudah sangat bersemangat untuk menunjukkan hasil kerja kerasnya pada sang suami.
"Ya sudah, kalau kamu tidak suka, buang saja sana ke tong sampah!" bentak Kyara kesal dengan sikap Axel yang sama sekali tidak menghargai dirinya.
Kyara pun melangkah menuju kamar, dia pun mulai merajuk masuk ke dalam kamar.
Axel pun tercengang mendengar ucapan Kyara.
"Apa salahku, toh aku berkata jujur kok," ujar Axel cuek.
Akhirnya Axel pun memaksakan dirinya untuk menyantap makanan yang telah terhidang di hadapannya.
Axel menyantap menu sederhana yang dimasak oleh istri keduanya itu.
"Mhm, bisa jugalah. Paling tidak buat mengganjal perutku yang kosong hingga nanti siang," lirih Axel.
Axel pun menghabiskan menu sarapan yang telah disediakan oleh sang istri.
Setelah sarapan dia pun langsung berangkat bekerja.
Sebelum keluar apartemen, Axel melangkah menuju kamar Kyara.
Tok tok tok.
Axel mengetuk pintu kamar Kyara.
"Aku berangkat kerja dulu," seru Axel dari luar kamar.
Setelah itu Axel pun meninggalkan sang istri di apartemennya.
Kyara keluar dari kamar setelah memastikan Axel tak lai berada di dalam apartemen.
Kyara melangkah menuju ruang makan, dia ingin memastikan apakah Axel membuang menu sarapan yang telah disiapkannya tadi.
__ADS_1
"Alah, bisanya mengumpat hasil usaha orang, tapi habis juga," ujar Kyara sembari tersenyum senang melihat piring Axel sudah bersih, dan dia juga tidak menemukan makanan yang dibuang di dalam tong sampah.
Hari ini seperti biasa Axel melakukan kontroling pada beberapa swalayan miliknya.
Hari ini dia memiliki jadwal kontroling ke daerah bagian selatan kota Padang, yang dekat dari tempat Adeeva dan bayinya tinggal saat ini.
Axel pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah tempat Adeeva berada.
"Assalamu'alaikum," ucap Axel saat dia telah berada di depan rumah Adeeva.
Adeeva baru saja selesai mencuci pakaian, dia pun melangkah keluar untuk membukakan pintu saat mendengar suara Axel di luar rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Adeeva.
"Axel," lirih Adeeva.
Adeeva mengajak suaminya masuk ke dalam rumah.
Axel pun duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu.
"Tumben kamu ke sini?" tanya Adeeva heran.
"Emangnya aku tidak boleh mengunjungi istriku?" tanya Axel menggoda Adeeva.
Adeeva terdiam mendengar ucapan Axel.
"Deev," lirih Axel.
"Aku hanya bercanda," ujar Axel.
"BUkannya tidak boleh, tapi aku merasa seperti seorang wanita jahat yang hanya memanfaatkan dirimu," lirih Adeeva.
"Tidak,Deev. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Aku memang masih mencintaimu, jika memang hatimu tak tertuju untukku, paling tidak izinkan aku melihatmu bahagia," lirih Axel.
Adeeva hanya diam saja, dia tak membalas ucapan Axel.
"Oh, iya si kecil mana?" tanya Axel pada Adeeva sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
"Ghaffar sedang tidur," jawab Adeeva.
"Jadi namanya Ghaffar?" tanya Axel.
"Ya, aku sengaja memberikan nama itu, semoga Allah mengampuni dosa yang telah aku lakukan dan ayahnya." Adeeva menjelaskan makna nama sang putra.
"Baguslah, semoga kita bisa menemukan ayah Ghaffar secepatnya," ujar Axel.
"Aamiin," lirih Adeeva.
Entah mengapa bayangan Daffa terlintas di benaknya saat mengucapkan kata Amin.
"Oh, bagaimana dengan persediaan dapur dan kebutuhan lain, apakah masih ada?" tanya Axel penuh perhatian pada Adeeva.
Axel teringat dengan berbagai kebetulan sehari-hari karena tadi pagi Kyara mengatakan bahwa bahan-bahan makanan mereka di apartemen sudah habis.
"Mhm, masih ada," jawab Adeeva.
__ADS_1
"Oh, iya. Aku lupa memberikan ini padamu," ujar Axel sembari merogoh saku celananya.
Dia mengeluarkan dua kartu yang ada di dalam dompetnya.
Setelah itu mengulurkan kedua kartu itu pada Adeeva.
"Kartu apa ini?" tanya Adeeva.
"Satu hari setelah kamu pergi dari rumah, aku sengaja memblokir kartu atm yang berisi mahar dan uang bulanan untukmu agar kamu tidak bisa pergi jauh dariku. Dan kartu itu sudah aku pulihkan lagi, dan ini kartunya," jelas Axel.
"Alhamdulillah, berarti uang yang ada di dalam atm ini tidak hilang begitu saja, soalnya saat aku baru saja sampai di Bali beberapa orang mencopet dompetku," cerita Adeeva mengingat kisahnya beberapa bulan yang lalu.
"Syukurlah kalau begitu," ujar Axel.
Adeeva mengambil kartu yang diberikan Axel itu lalu menyimpan kartu tersebut.
Mereka pun berbincang-bincang sejenak, tak terasa Axel sudah 2 jam berada di rumah Adeeva.
Axel memang sengaja tidak menceraikan Adeeva, agar tidak ada orang yang menghalangi dirinya berkunjung ke rumah itu karena status mereka masih sah sebagai suami dan istri.
"Deev, aku harus pergi. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ujar Axel berpamitan pada istrinya
"Mhm, baiklah. Kamu hati-hati, ya," ujar Adeeva.
"Ya," sahut Axel.
"Axel," panggil Adeeva.
Axel menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuhnya ke belakang.
"Mhm," gumam Axel.
"Terima kasih," ucap Adeeva sambil tersenyum.
"Sama-sama, kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena saat ini kamu masih tanggung jawabku," ujar Axel.
"Andai saja kamu mau membuka hati untukku, mungkin kita akan hidup bahagia, Deev," gumam Axel di dalam hati.
Setelah itu Axel pun melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Adeeva.
Dia masuk ke dalam mobil itu lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah yang ditempati oleh Adeeva dan putranya.
Saat siang datang, Kyara menghubungi Axel berkali-kali. Hampir 20 panggilan tak terjawab masuk ke dalam ponsel pria itu.
Axel menautkan kedua alisnya saat mengetahui panggilan itu, karena sejak tadi dia ibuk bekerja sehingga melupakan ponselnya di dalam mobil.
Axel pun menghubungi istri keduanya itu.
"Bang!" teriak Kyara dari seberang sana.
Suara Kyara membuat Axel kaget hingga menjatuhkan ponselnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Axel.
Bersambung...
__ADS_1