
Setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit perjalanan, Axel menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis sederhana yang terletak di kawasan Bungus, di pinggir pantai.
"Ini rumah siapa?" tanya Adeeva heran.
"Ayo, turunlah terlebih dahulu," ajak Axel.
Adeeva pun turun dari mobil dalam keadaan kebingungan.
Adeeva melangkah mengikuti Axel yang kini telah berada di pintu rumah itu.
Axel mengambil sebuah kunci yang ada di dalam saku celananya.
Dia pun membuka pintu rumah itu, Adeeva menautkan kedua alisnya heran.
Adeeva dan Axel pun masuk ke dalam rumah, di rumah itu terdapat dua kamar tidur, ruang tamu dan dapur.
Di dalam rumah itu telah terdapat berbagai perabotan, sehingga tinggal di tempati saja.
"Ini rumah siapa, Xel?" tanya Adeeva penasaran.
"Ini rumahku, biasanya rumah ini dipakai oleh salah satu karyawanku, tapi sejak dia menikah, karyawan itu memilih untuk tinggal di rumah barunya," jawab Axel.
"Kamu bisa tinggal di sini, sembari kita mencari ayah bayimu," ujar Axel.
Awalnya Axel merasa berat untuk melepaskan Adeeva, tapi dia tidak ingin Adeeva merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi pada dirinya, akhirnya Axel pun mencoba untuk membiarkan Adeeva hidup sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Meskipun begitu Axel tidak bisa membiarkan Adeeva hidup terlantar.
Dia sudah berjanji akan menceraikan Adeeva setelah Adeeva menemukan ayah dari bayinya.
Untuk sementara waktu, Axel pun menyembunyikan Adeeva di rumah miliknya. yang terbilang jauh dari hiruk pikuk kota Padang agar kedua orang tuanya tidak mengetahui hal ini.
Axel juga berjanji akan membantu Adeeva untuk mencari ayah bayinya.
****
Satu minggu sudah Ainun bekerja bersama Frans, selama satu minggu ini, Ainun bekerja seperti pelayan biasanya.
Pekerjaannya hanya menemani tamu minum, malam ini dia pun sudah siap melaksanakan pekerjaannya seperti biasa.
Sebelum keluar dari ruang ganti, dia sengaja menambah polesan wajahnya dengan make up, agar pelanggannya merasa senang dan memberi tips lebih banyak dari pada biasanya.
Dia mulai menikmati hidupnya yang baru ini.
Meskipun dia harus membiarkan bagian tubuhnya yang sensitif untuk dipegang oleh pria hidung belang yang merupakan pelanggannya.
Bagi Ainun dia masih bersyukur diperlakukan seperti itu dari pada memberikan kue apem miliknya pada para pelanggan.
Malam ini saat Ainun sedang asyik bersama pelanggannya, Sherin datang menghampirinya.
__ADS_1
"Ai, kamu dipanggil Tuan Frans," ujar Sherin berbisik.
"Ada apa?" tanya Ainun.
"Aku juga tidak tahu," jawab Sherin.
Dengan terpaksa Ainun meninggalkan pelanggannya yang sama sekali belum memberikan tips padanya.
Dia melangkah menuju ruangan milik Frans.
"Permisi, Tuan." Ainun menyapa pria yang sudah memberinya pekerjaan itu.
Saat ini Ainun sudah terbiasa memanggil Frans dengan sebutan 'Tuan'.
"Ainun, aku ada pekerjaan baru untukmu," ujar Frans pada Ainun.
"Pe-pekerjaan baru? Pekerjaan apa, Tuan?" tanya Ainun cemas.
Jantung Ainun mulai berdetak dengan kencang.
"Kau akan tahu nanti, lakukan pekerjaanmu dengan baik, kalau tidak kamu akan tahu sendiri akibatnya," ujar Frans memberi perintah pada Ainun.
Wajah Ainun mulai tegang, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Ainun menoleh ke arah Sherin untuk bertanya, tapi Sherin hanya bisa mengangkat bahunya.
"Sherin," panggil Frans.
"Beri tahu dia apa yang harus dilakukannya," ujar Frans pada wanita yang selalu mendampingi dirinya setiap waktu dan setiap saat.
Sherin memang wanita khusus yang selalu berada di samping Frans, bagi Frans Sherin hanya milik dirinya seorang, dia tidak akan pernah mengizinkan Sherin menemani pelanggan lain karena Frans sudah jatuh hati pada wanita itu sejak awal bertemu.
"Ayo, Ai. Ikut aku," ajak Sherin.
Sherin pun melangkah keluar ruangan itu diikuti oleh Ainun dari belakang.
"Rin," panggil Ainun saat mereka menaiki anak tangga.
"Ya," lirih Sherin.
Dia tetap melangkah menaiki anak tangga.
"Memangnya pekerjaan apa yang harus aku lakukan?" tanya Ainun pada Sherin.
Dia sangat penasaran dengan pekerjaan yang harus dilakukannya.
"Tenang saja, kali ini kamu akan dibayar 10 juta untuk satu malam," ujar Sherin.
"Hah? 10 juta satu malam, banyak banget," sahut Ainun tak percaya.
__ADS_1
Biasanya Ainun hanya membawa pulang uang sekitar 2 juta atau 3 juta dalam bekerja semalaman, sehingga dia merasa senang saat mendengar gaji yang akan diterimanya.
"Tapi dengan syarat kamu bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik, jika kamu gagal maka kamu tidak akan dapat apa-apa," ujar Sherin memperingatkan Ainun agar tidak melakukan kesalahan dalam pekerjaannya malam ini.
"Aku semakin penasaran dengan pekerjaan itu," lirih Ainun.
Tanpa mereka sadari kini mereka telah berada di lantai 5. Di mana di lantai itu terdapat beberapa kamar VVIP khusus untuk tamu VVIP juga.
Ainun menautkan kedua alisnya mulai berpikir.
"Apa jangan-jangan kali ini aku harus menyerahkan kehormatanku pada pelanggan?" gumam Ainun di dalam hati,
Dia mulai menebak pekerjaan yang harus dilakukannya.
Bulu kuduknya mulai merinding membayangkan pekerjaan yang harus dilakukannya.
Sherin mengajak Ainun untuk masuk ke dalam kamar yang sudah ada di hadapan mereka.
Ainun tak percaya saat ini dia tengah berada di sebuah kamar yang sangat luas.
Di kamar itu terdapat sebuah tempat tidur yang berukuran besar terletak di tengah-tengah kamar itu.
"Apa yang harus aku lakukan di sini?" tanya Ainun semakin penasaran.
Saat ini dia mendapati kamar itu tengah kosong tak ada seorang pun yang berada di sana.
Sherin tersenyum, lalu dia melangkah menuju sebuah lemari yang terdapat di pinggir ruangan itu.
Sherin mengeluarkan sebuah lingerie s*ksi berwarna merah, lalu dia pun memberikan lingerie itu pada Ainun.
"Pakailah pakaian ini," ujar Sherin menyuruh Ainun.
Ainun meraih pakaian yang disodorkan oleh Sherin, lalu menatap pakaian itu dengan penuh tanda tanya.
"Kau harus melakukan apa saja yang diminta oleh pelanggan agar kau dapat bayaranmu," ujar Sherin.
"A-a-pa-kah aku harus memberikan kehormatanku?" tanya Ainun cemas.
"Ai, kalau kita bekerja di sini, kita harus siap kehilangan kehormatan kita," ujar Sherin menasehati.
Ainun terdiam, meskipun dia sudah memberikan kep*r*w*nannya pada Hansel, tapi dia masih tidak rela memberikan kue apemnya pada pria lain.
Ainun terdiam mendengar ucapan Sherin.
"Apakah ini yang harus aku lakukan untuk tetap bertahan hidup?" gumam Ainun di dalam hati menyesali pertemuannya dengan Frans waktu itu.
"Baiklah, Ai. Aku pergi dulu, semoga sukses, ya," ujar Sherin.
Wanita itu pun keluar dari kamar itu, Ainun pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang diberikan oleh Sherin tadi, lalu dia duduk di atas tempat tidur menunggu pelanggan yang akan menggunakan jasanya.
__ADS_1
Tak berapa lama, pintu kamar itu dibuka, mata Ainun terbelalak saat melihat tamu yang datang.
Bersambung...