
"Bolehkah aku masuk?" tanya Daffa pada Ainun.
Kali ini Ainun berbicara dengan ramah pada wanita kejam itu.
"Mhm, masuklah," lirih Ainun.
Ainun mempersilakan Daffa masuk ke dalam apartemennya itu.
Kini Daffa sudah duduk berhadapan dengan Ainun di ruang tamu.
"Kedatangan aku ke sini ingin meminta bantuanmu," ujar Daffa terus terang menyampaikan tujuan kedatangannya.
"Apa?" tanya Ainun.
Dia bersedia saja melakukan apa saja agar Daffa dan Adeeva bisa bersatu, paling tidak dengan itu dia bisa menebus rasa bersalahnya pada Adeeva dan Daffa.
"Maukah kamu ikut denganku?" tanya Daffa.
"Ke mana?" lirih Ainun.
"Ke Padang." Daffa teringat dengan apa yang dikatakan oleh Axel tadi malam.
"Aku tidak akan menceraikan Adeeva begitu saja kecuali kau membawa bukti yang memang membuktikan bahwa kaulah yang ayah dari bayi Adeeva," ujar Axel.
Axel masih butuh waktu agar dia bisa ikhlas sepenuhnya membiarkan Adeeva hidup bersama orang lain meskipun pria itu adalah sahabatnya.
Justru dia sengaja melakukan itu karena dia ingin melihat keseriusan Daffa terhadap wanita yang sangat dicintainya itu.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan membawa bukti untukmu," ujar Daffa penuh keyakinan.
Daffa pun langsung terbang ke Bali malam itu juga, dan dia meminta Alex tetap di Padang.
Dia meminta Alex untuk menemui Dion yang kini sudah tinggal di kota itu, dia juga akan menjadikan Dion dan Ainun sebagai bukti agar Axel percaya dengan dirinya.
"Ke Padang? Untuk apa?" tanya Ainun.
Ainun merasa takut untuk pergi dengan Daffa, karena dia ingat sekali ucapan Sherin, dia takut Frans mengira bahwa dirinya kabur dan melarikan diri dari cengkeramannya, lalu pria itu menyuruh or
ang untuk membunuh dirinya.
"Kau akan tahu nanti setelah sampai di Padang," jawab Daffa.
Daffa sengaja tidak memberitahukan alasannya meminta Ainun berangkat ke Padang.
"Maaf, aku tidak bisa ikut ke Padang," lirih Ainun tidak bisa membantu Daffa.
"Kenapa?" tanya Daffa heran.
Ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya.
"Aku harus bekerja, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku," jawab Ainun.
"Hah? Hanya masalah pekerjaan? Aku kan bayar berkali lipat dari gajimu agar kamu bisa ikut denganku ke Padang," ujar Daffa.
Ainun terdiam, saat ini dia tak memikirkan uang sama sekali, hanya saja dia memikirkan keselamatan dirinya.
"Kali ini aku tidak memintamu dengan kekerasan, untu aku minta kamu menggunakan hati nuranimu untuk menembus kesalahanmu pada Adeeva," ujar Daffa kesal.'
__ADS_1
Ainun merasa tersindir dnegan ucapan Daffa, tapi dia bingung harus berkata apa pada Daffa.
"Maaf, andai saja aku tidak harus bekerja, aku akan ikut denganmu," ujar Ainun.
Dia berharap Daffa bisa memaklumi situasi yang kini dihadapinya.
"Aku sudah katakan padamu, jika pekerjaan yang menjadi alasanmu, aku akan mengganti rugi gajimu," ujar Daffa lagi.
Daffa terus memaksa Ainun, hingga akhirnya Ainun memberitahukan alasan sebenarnya.
Dia juga menyampaikan ketakutan dirinya akan bos-nya yang bernama Frans.
"Oh, jika itu masalahnya aku akan menghubunginya," ujar Daffa.
"Berikan aku nomor ponselnya," ujar Daffa pada Ainun.
Akhirnya Ainun memberikan nomor ponsel Frans pada Daffa.
Daffa menekan nomor itu di ponselnya.
Daffa mengernyitkan dahinya saat melihat nama yang tertera di ponselnya.
Dia sangat mengenali Frans.
"Kenapa kamu bisa bekerja dengan Frans?" tanya Daffa yang seolah sudah sangat mengenal pria yang membawa Ainun pada lembah penuh dosa itu.
Setelah mengetahui bahwa Ainun bekerja dengan Frans, maka Daffa sudah tahu pa pekerjaan yang dilakukan Ainun selama ini.
"Apakah kamu mengenali pria itu?" tanya Ainun penasaran.
Daffa tak banyak bicara, setelah itu dia pun menghubungi Frans dan berdiri menjauh dari Ainun.
Daffa berbicara secara pribadi dengan Frans dan meminta Frans agar memberi izin pada Ainun untuk tidak masuk bekerja beberapa hari.
"Baiklah, teria kasih," ucap Daffa.
Daffa pun memutuskan panggilan dengan temannya itu.
"Aku sudah menyelesaikan permasalahanmu, bersiaplah, kita akan berangkat ke Padang soe ini juga," ujar Daffa pada Ainun.
"Benarkah?" tanya Ainun tidak percaya dnegan apa yang telah dilakukan oleh Daffa.
Dengan mudah pria itu menyelesaikan ketakutan Ainun terhadap Frans.
"Ya, aku akan menunggumu," ujar Daffa.
"Baiklah," sahut Ainun.
Ainun pun langsung melangkah menuju kamarnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke Padang.
Sebenarnya dia juga sudah sangat merindukan kampung halamannya, saat ini di Padang adiknya tinggal bersama sang ayah yang sedang sakit-sakitan.
Ainun juga berniat ingin menjumpai ayah dan Adiknya di Padang.
Tak menunggu lama, Ainun pun sudah siap, setelah itu mereka pun keluar dari apartemen Ainun lalu langsung menuju bandara.
Daffa sudah tidak sabar untuk membawa Ainun ke hadapan Axel.
__ADS_1
Dia ingin secepatnya Axel menceraikan Adeeva lalu dia akan menikahi wanita yang dicintainya itu.
****
Di tempat lain, Alex sudah berada di rumah Dion.
Dia senang melihat DIon hidup seperti biasanya di kota Padang tanpa adanya rasa takut bertemu dengan Hansel.
Dion hidup di kota Padang sebagaimana orang-orang lain yang tinggal di sana.
Pekerjaan Dion di perusahaan Axel membuat kehidupan Dion lebih baik.
"Tuan," lirih Dion saat melihat Alex bertamu di rumahnya.
Dia kaget dengan kedatangan asisten pribadi Daffa itu.
Dion mempersilakan Alex untuk duduk di kursi ruang tamu.
"Ada apa Tuan datang ke sini?" tanya Dion penasaran pada Alex.
Sejak mendapat bantuan dari Daffa dan Alex, Dion pun memanggil kedua orang itu dengan sebutan Tuan sebagai tanda penghormatannya.
"Saya datang ke sini ingin meminta bantuan darimu," ujar Alex langsung menyampaikan tujuannya pada Dion.
"Bantuan apa, Tuan? Selagi saya bisa membantu saya akan melakukannya," ujar Dion.
Alex pun menceritakan permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Daffa, Alex meminta Dion untuk menjadi saksi atas kebenaran yang terjadi antara Daffa dan Adeeva.
"Baiklah, Tuan. Besok pagi sekali saya akan menemui tuan Axel, dan memberitahukan apa yang sebenarnya telah terjadi," ujar Dion setuju membantu Daffa.
Pada pagi hari yang cerah, Axel berdiam diri di ruang keluarga.
Dia terlihat melamun, banyak hal yang kini menjadi beban pikirannya.
"Mungkin inilah saatnya aku melepaskan dirinya, mencintai seseorang tidak harus memilikinya, mencintai yang sesungguhnya adalah membiarkan orang yang kita cintai hidup bahagia bersama sapa pun yang mampu membuatnya bahagia," gumam Axel di dalam hati.
"Bang," panggil Kyara membuyarkan lamunan sang suami yang sedari tadi diperhatikannya terlihat murung.
Kyara meletakkan secangkir kopi di atas meja ruang keluarga itu beserta snack sekadar pengisi perut Axel yang kosong.
Sejak tadi pagi Axel belum mau makan sama sekali.
Axel menoleh ke arah Kyara.
"Ada apa?" tanya Axel pada Kyara.
Kyara menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Kyara.
Tak berapa lama setelah itu, bel apartemen pun berbunyi.
Kyara langsung berdiri lalu membukakan pintu untuk tau mereka.
Axel terdiam melihat Daffa dan Alex kini datang membawa Ainun dan Dion.
Bersambung...
__ADS_1