
Adeeva menatap tajam ke arah Daffa, dia merasa kesal pada pria itu.
"Ba-baik, Mi." Adeeva pun mengangguk.
"Daffa, bawa istrimu ke kamar," ujar Rossa.
"Iya, Mi," lirih Daffa.
Setelah itu Daffa pun mengajak istrinya melangkah menuju kamarnya yang ada di lantai 2.
Adeeva mengerti alasan Daffa mengajak dirinya ke kamarnya yang ada di lantai 2, sehingga Adeeva mau mengikuti langkah Daffa.
Sesampai di kamar Daffa, Adeeva terdiam melihat luasnya kamar Daffa yang dua kali lipat kamarnya dan Axel.
Di kamar itu terdapat sebuah tempat berukuran besar, serta tidak lupa dengan sofa yang menghadap ke sebuah televisi besar.
Di kamar itu juga terdapat sebuah ruang ganti pakaian yang mana di sana berjejer lemari pakaian.
Sebuah kamar mandi berukuran luas, juga ada di kamar itu, Adeeva menatap kagum setiap sudut ruangan itu.
"Ayo masuk! Sampai kapan kau akan berdiri mematung di sana?" ujar Daffa membuyarkan rasa kagum yang terselip di hati Adeeva.
"Mhm," gumam Adeeva.
Dia melangkah masuk ke dalam kamar itu, lalu dia pun duduk di pinggir tempat tidur.
"Mulai hari ini kamu akan tinggal di kamar ini," ujar Daffa pada Adeeva.
"Tidak mungkin, kita tidak ada hubungan apa-apa, nanti jika,--"
"Sudahlah, kau tak usah khawatir, aku takkan menyentuhmu." Daffa langsung memotong ucapan Adeeva.
Daffa memang sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan menyentuh wanita mana pun hingga dia dapat menemukan wanita yang pertama kali disentuhnya.
Adeeva hanya bisa diam dengan apa yang dikatakan oleh Daffa. Dia berusaha percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daffa.
"Sekarang istirahatlah, aku masih ada urusan. Kalau kamu butuh apa-apa kamu bisa tekan tombol hijau itu, nanti bi Sari akan datang ke sini," ujar Daffa.
Daffa harus menemui Alex secepatnya, asistennya itu baru saja menghubunginya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Adeeva.
Adeeva merasa bosan berada di rumah itu, dia juga takut nanti mami Daffa mencari dirinya.
"Aku harus menemui Alex," jawab Daffa.
"Apakah aku tidak boleh ikut?" tanya Adeeva memberanikan diri.
"Kali ini kamu tidak bisa ikut, apalagi kamu harus menjaga anak yang ada di dalam rahimmu," ujar Daffa sambil melirik ke arah perut Adeeva yang masih datar.
Seketika hari Daffa bergetar saat melihat perut datar Adeeva, dia merasa ada sesuatu yang berbeda dirasakannya saat melihat perut Adeeva yang masih datar.
__ADS_1
"Ya sudahlah," ujar Adeeva cemberut.
Adeeva pun langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Daffa tersenyum melihat wajah Adeeva yang cemberut. Dia menggelengkan kepalanya, ada rasa gemas menyelinap di hatinya, ingin rasanya Daffa mencubit pipi Adeeva yang terlihat lebih tembem.
"Kalau kamu bosan, kamu bisa menonton televisi," ujar Daffa pada Adeeva sebelum pergi.
Adeeva tak menggubris ucapan Daffa, justru dia menarik selimut sebagai aksi protes darinya.
Daffa hanya tersenyum, lalu dia pergi. Sebenarnya Daffa merasa berat meninggalkan Adeeva, tapi dia juga harus menyelesaikan masalah yang kini tengah dihadapinya.
****
Hari ini Ririn datang ke perusahaan milik Axel, dia datang dengan penampilan yang menurutnya sudah sangat rapi.
Dia melangkah masuk ke dalam perusahaan itu, dia langsung menemui resepsionis dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan Axel.
"Apakah nona sudah memiliki janji dengan tuan Axel?" tanya resepsionis.
"Udah, tuan Axel sendiri yang memintaku datang ke sini," jawab Ririn.
"Oh, baiklah kalau begitu, saya coba konfirmasi dengan asisten tuan Axel," ujar resepsionis.
Ririn mengangguk, lalu dia pun menunggu sang resepsionis yang kini tengah berbicara lewat telepon.
"Oh, baiklah." Si resepsionis pun meletakkan telponnya.
Ririn menganggukkan kepalanya, lalu melangkah menuju kursi panjang tersebut.
Tak berapa lama Damar datang menghampiri resepsionis.
"Mana wanita yang mencari tuan Axel?" tanya Damar pada resepsionis.
"Itu, Tuan," jawab resepsionis sambil menunjuk ke arah Ririn yang duduk di kursi panjang.
Damar memperhatikan wajah wanita itu, dia merasa tidak asing dengan wanita tersebut.
Dia melangkah menuju si wanita yang ditunjuk oleh si resepsionis.
"Kamu?" Damar tak percaya setelah benar-benar memastikan bahwa wanita itu memang Ririn, karyawan swalayan yang dipecatnya beriring dijebloskannya Jack ke dalam penjara.
Ririn juga kaget melihat sosok Damar yang ada di perusahaan itu.
"Pak Damar," lirih Ririn.
"Yang benar saja Axel mau mempekerjakan wanita ini di perusahaannya? Apakah dia tidak salah orang?" gumam Damar di dalam hati.
"Kamu yang mau ketemu dengan tuan Axel?" tanya Damar.
"Eh, iya," jawab Ririn.
__ADS_1
Ririn tak percaya bahwa Damar juga mengenal Axel.
"Ayo, ikut aku!" ujar Damar.
Ririn masih diam mematung. Dia tak percaya bahwa Damar adalah asisten pribadi Axel karena seingatnya resepsionis telah mengatakan asisten pribadi Axel yang akan menjemputnya.
"Ayo, mau tunggu apa lagi?" bentak Damar kesal.
Selain dia kesal dengan sikap Ririn sewaktu bekerja di swalayan, dia juga kesal melihat gadis itu karena Axel menyuruhnya menjadikan Ririn sebagai sekertarisnya.
Ririn kaget mendengar bentakan Damar, dia langsung berdiri.
Damar melangkah menuju lift, Ririn pun ikut melangkah di belakangnya.
Tak berapa lama mereka pun sampai di ruang Damar, pria itu menyuruh Ririn menunggu di ruangannya.
Sementara itu Damar langsung melangkah menuju ruangan Axel.
"Axel, apakah kamu sudah mengenali wanita itu?" tanya Damar langsung setelah berada di ruangan bos-nya.
"Ya jelas, sudah,"" jawab Axel.
Axel mengabaikan wajah Damar yang tidak suka dengan keputusannya.
"Axel, kamu tahu, enggak, wanita itu adalah karyawan swalayan yang baru saja kita pecat," ujar Damar memberi tahu Axel kebenarannya.
"Apa?" Axel tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Damar.
"Iya, dia karyawan sombong dan angkuh yang selalu mengintimidasi teman-temannya sewaktu bekerja di swalayan,'" jelas Damar.
"Tapi, kelihatannya dia sangat baik," bantah Axel.
"Terserah kamu, tapi aku tidak mau tahu jika nanti dia berulah," ujar Damar memberi peringatan pada Axel.
"Ya, nanti jika dia berulah, aku yang akan bertanggung jawab," ujar Axel.
Axel yakin Ririn telah berubah, meskipun Axel tidak tahu alasan gadis itu.
"Ya sudah." Damar keluar dari ruangan itu dengan wajah kesal.
"Tega sekali dia memberikanku sekretaris yang hanya tamatan SMA," gerutu Damar.
"Hei, kamu." Damar memanggil Ririn.
Ririn yang tadinya duduk di sofa, lalu menghampiri Damar.
"Mulai hari ini kamu akan bekerja di sini sebagai sekertarisku," ujar Damar.
"Apa?" Ririn tak percaya.
Bersambung...
__ADS_1