Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 56


__ADS_3

“Kalian tidak boleh tinggal satu kamar lagi!” ujar Rossa.


Adeeva menoleh ke arah Daffa.


“Mi.” Daffa tak melanjutkan ucapannya saat melihat Rossa mengangkat tangannya.


“Kalian bukanlah suami istri, maka kalian tidak bisa tingga satu kamar,” ujar Rossa lagi.


Rossa sangat sayang pada Adeeva, tapi mendengar penjelasan Daffa hatinya hancur dan sangat kecewa. Saat ini sangat ingin menjadikan Adeeva sebagai menantu sebenarnya, tapi status Adeeva membuatnya tidak bisa memaksakan keinginannya. Dia juga tidak ingin putranya dicap sebagai perusak rumah tangga orang lain.


Lagi lagi Adeeva menoleh ke arah Daffa. Dia berharap Daffa dapat menjelaskan apa yang telah terjadi, tapi Daffa masih saja diam seribu bahasa.


“Mami sudah tahu apa yang telah terjadi sebenarnya, jadi kalian tak perlu lagi berpura pura,” ujar Rossa.


“Iya, Mi. Tapi, aku harus tetap bersandiwara di hadapan Ainun,” bantah Daffa.


“Kalian tidak perlu bersandiwara lagi, sekarang yang berhak tidur di kamarmu adalah Ainun,” ujar Rossa.


“Mami, aku tidak bisa,” bantah Daffa.


“Jika kamu tidak bisa tidur bersama Ainun, maka kamu juga tidak bisa satu kamar dengan Adeeva,” ujar Rossa.


“Baiklah,” lirih Daffa.


Akhirnya Daffa tidak bisa berkata apa apa lagi.


“Deev, kamu bisa tidur di kamar yang ada di sebelah kamarku dulu,” ujar Daffa.


Adeeva menganggukkan kepalanya. Mau tak mau Adeeva harus menerima keputusan Rossa karena dia juga harus tahu diri dengan statusnya saat ini. Bersyukur Daffa masih mau membantu dirinya dan menjamin keselamatannya hingga dia melahirkan nanti.


Setelah itu Daffa pun mengantarkan Adeeva ke kamar tersebut, kamar yang sudah dipenuhi dengan berbagai perlengkapan bayi, yang mana kamar itu sudah direncanakan tempat bayi Adeeva nantinya.


Di dalam kamar, Adeeva duduk di pinggir tempat tidur yang juga tersedia di sana.


“Deev, kamu baik baik saja, kan?” tanya Daffa mengkhawatirkan perasaan Adeeva.


Adeeva menoleh ke arah pria tampan yang kini telah mengisi seluruh jiwa dan hatinya.


“Daffa, aku harus sadar diri dengan statusku saat ini, aku bukanlah istrimu, benar apa yang dikatakan mami.” Adeeva berusaha mengangkat sedikit bibirnya tersenyum.


“Deev, andaikan kamu bukan istri orang, aku akan menikahimu sekarang juga,” gumam Daffa di dalam hati.

__ADS_1


“Sudahlah, sekarang lebih baik kamu istirahat,” ujar Daffa.


Daffa pun meminta Adeeva membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Daffa juga ikut berbaring bersama Adeeva.


Daffa kembali memeluk tubuh Adeeva yang semakin berisi karena kandungannya yang semakin besar.


Adeeva menerima pelukan itu. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Daffa. Selang beberapa menit berlalu, mereka pun tertidur lelap.


“Aku mencintaimu,” bisik Daffa.


“Aku juga mencintaimu,” balas Adeeva.


Daffa pun mengecup lembut bib*r Adeeva, dia menyalurkan rasa cinta yang ada di hatinya. Adeeva menerima apa yang telah dilakukan oleh Daffa.


Perlahan tangan Daffa mulai bermain, dia menyentuh setiap sudut tubuh Adeeva. Daffa dapat mendengar dnegan jelas ******* demi ******* yang keluar dari dalam bib*r ***** milik Adeeva.


Des*h*n des*h*n itu membuat hasr*t Daffa mulai memuncak, dia semakin bersemangat untuk menikmati tubuh wanita yang kini telah mencuri hatinya.


Daffa kini mulai bermain di antara dua b*k*t k*mb*r yang masih terbungkus kaca mata, dia mengecup di setiap sisi bagian indah itu. Dia meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.


Setelah puas bermain di sana, bibir Daffa mulai turun ke bawah, perlahan Daffa membuka satu per satu pakaian yang dikenakan oleh Adeeva.


Begitu juga dengannya, dia mulai membuka pakaiannya, hingga kini tak sehelai benang pun menutupi tubuh mereka.


“Aku mencintaimu, Deev,” lirih Daffa dengan napas yang tersengal-sengal.


“Aku juga mencintaimu, Daffa,” balas Adeeva.


“Apakah kamu siap?” tanya Daffa pada Adeeva.


Kini Daffa telah berda di atas tubuh Adeeva.


Adeeva hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia siap menerima hasr*t cinta yang terpendam di dalam tubuh Daffa.


“Aaaahh,” des*h Adeeva.


Daffa pun semakin bersemangat melakukannya, kini benda pus*k* miliknya telah berada di dalam lembah basah milik Adeeva.


Kini mereka dapat merasakan kenikmatan yang memuncak di dalam tubuh mereka.


“Daffa! Bangun!” bentak Rossa kesal melihat putranya kini tengah tertidur sambil memeluk Adeeva.

__ADS_1


Rossa yang tadi ingin berbicara dengan Daffa, dia masuk ke dalam kamar Daffa dan tidak menemukan Daffa di sana sehingga dia pun melihat Daffa di dalam kamar Adeeva.


Betapa kagetnya Rossa melihat putranya memeluk tubuh Adeeva dengan erat embari mengucapkan kata cinta.


Rossa dapat mendengar dengan jelas Adeeva dan Daffa saling menyatakan cinta.


Daffa dan Adeeva terbangun dari tidur mereka.


Mereka pun melihat tubuh mereka masing masing, Adeeva memperhatikan pakaiannya yang masih dikenakannya. Begitu juga dengan Daffa, dia masih mengenakan pakaian yang tadi dipakainya.


“Apa yang telah terjadi, apakah yang baru saja aku lihat dan aku rasakan hanyalah mimpi?” gumam Daffa di dalam hati.


Dia merasa apa yang baru saja dilakukannya dengan Adeeva seperti nyata dan pernah terjadi.


“Astaghfirullah, apakah aku baru saja bermimpi? Tapi, sentuhan demi sentuhan itu seperti pernah aku rasakan,” gumam Adeeva juga di dalam hati.


“Hei, kalian berdua bangun!” bentak Rossa lagi.


Rossa semakin kesal melihat Daffa dan Adeeva yang terbangun dalam keadaan orang yang linglung.


Adeeva melepaskan diri dari dekapan lengan kekar Daffa.


“Kamu ini, ngapain ikut tidur di sini?” bentak Rossa sembari menarik telinga Daffa.


Rossa pun membawa Daffa keluar dari kamar itu. Sedangkan Adeeva duduk termenung masih mengingat dnegan jelas apa yang baru saja terjadi di dalam dirinya.


“Aduh, Mi. Sakit, sakit, Mi,” rintih Daffa yang diperlakukan seperti anak kecil oleh maminya.


“Kamu tuh harus dikasih pelajaran,” ujar Rossa sambil melepaskan tangannya dari telinga sang putra.


“Aduh, mami tega sama anak sendiri,” sungut Daffa sambil mengelus telinganya yang kini sudah merah akibat jeweran dari sang mami.


“Kamu harus sadar, kalau Adeeva itu bukan milik kamu, dan dia tidak pantas mendapatkan cinta darimu,” nasehat Rossa setelah mereka berada di dalam kamar.


Daffa terdiam mendengar ucapan sang mami.


“Mi, selama ini aku tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun, tapi di saat hatiku ingin berlabuh kenapa ini harus tejadi?” ujar Daffa.


Ibu dan anak itu duduk di sofa yang ada di kamar Daffa. Rossa menghela napas panjang, dia sangat mengerti apa yang dirasakan Daffa saat ini. Mengingat kata cinta yang mereka ucapkan dalam tidur mereka, Rossa yakin kini hati putranya dan Adeeva kini telah terpaut jauh.


“Bersabarlah, Nak. Mungkin ini adalah ujian dalam hidupmu, mana tahu kamu bisa hidup bahagia dengan Ainun atau wanita yang lebih baik dari Adeeva,” ujar Rossa.

__ADS_1


“Maksud mami? Apakah Mami tidak menyetujui hubunganku dengan Adeeva?” tanya Daffa.


Bersambung…


__ADS_2