Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 52


__ADS_3

Daffa memeluk erat Adeeva, dia dapat merasakan kerisauan hati yang kini dirasakan oleh Adeeva.


Beberapa menit mereka saling berpelukan, Daffa melepaskan pelukan itu.


"Siapa wanita itu?" tanya Adeeva.


Adeeva tak dapat menahan pertanyaan itu keluar dari mulutnya, dia penasaran dengan tujuan Ainun datang menemui Daffa.


Apalagi Adeeva dapat melihat dengan jelas bahwa sahabatnya itu juga tengah mengandung.


"Mhm, dia,--" Daffa tidak tahu harus menjawab apa.


Daffa pun menggiring Adeeva untuk duduk di atas tempat tidur.


"Siapa pun wanita itu, dia tidak akan pernah bisa mengusik kehidupanmu." Daffa tak berani mengatakan bahwa wanita yang bernama Ainun itu adalah wanita yang ditidurinya.


Mendengar jawaban Daffa, Adeeva yakin ada suatu masalah yang tengah disembunyikannya.


Tapi, Adeeva tak lagi mengungkit masalah itu. Dia akan berusaha mencari tahu siapa Ainun di dalam kehidupan Daffa.


"Sudahlah, kamu jangan banyak pikiran. Barang-barang bayi yang tadi kita beli sudah datang, kamu lihat Bi Sari menyusunnya di kamar sebelah. Mana tahu Bi Sari butuh pendapatmu," ujar Daffa.


Daffa berusaha mengalihkan pikiran Adeeva agar wanita yang dicintainya itu tak lagi bersedih, Daffa ikut sedih melihat wajah murung Adeeva.


Adeeva pun menganggukkan kepalanya, dia melangkah keluar dari kamar.


Setelah itu Daffa pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


****


"Axel, lebih baik kamu menikah lagi," ujar Rasyid pada putranya setelah mereka selesai makan malam.


Axel yang masih larut dalam kesedihan ditinggal Adeeva begitu saja tidak bisa menerima ucapan sang papa.


Dia hanya menatap tajam ke arah papanya pertanda dia menolak apa yang dikatakan oleh papanya.


"Axel, kamu tidak bisa terus-terusan memikirkan wanita yang sama sekali tidak pernah memikirkan hatimu," ujar Rasyid geram.


Hampir 4 bulan Adeeva meninggalkan Axel, Rasyid sangat kecewa dengan sikap Adeeva, apalagi yang dia tahu permasalahan di antara putra dan menantunya itu hanyalah masalah sepele.


Dia belum tahu apa sebenarnya yang telah terjadi antara Axel dan Adeeva, sehingga dia menilai menantunya itu terlalu kekanak-kanakan dalam menyelesaikan masalah.


"Pa, aku tidak ingin menikah dengan siapa pun!" bantah Axel.


Axel pun berdiri, lalu meninggalkan ruang makan begitu saja.


Axel melangkah keluar, dia masuk ke dalam mobilnya lalu dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah kedua orang tuanya.


Axel merasa frustasi dengan masalah yang tak kunjung selesai, rasa cinta dan benci kini tumbuh di hatinya untuk Adeeva.

__ADS_1


Axel terus melajukan mobilnya tanpa tujuan, hingga akhirnya dia menghentikan mobilnya di pinggir pantai Padang.


Dia melangkah menuju bebatuan yang terdapat di pinggir pantai itu.


Suasana malam yang sunyi menemani hatinya yang semakin hari semakin hampa.


"Aaaarrggghhh," teriak Axel menghadap ke lautan lepas.


Dia meluapkan rasa sesak di dadanya, dia kembali mengingat kejadian 2 bulan yang lalu saat kedua orang tua Adeeva tahu bahwa putrinya tak lagi bersamanya.


Plak.


Tamparan keras lekat di pipi Axel, pipinya terasa begitu panas tapi lebih panas lagi rasa sakit hatinya.


Haikal berani menyalahkan dirinya atas kepergian Adeeva, padahal Axel sendiri telah ditipu sebelum pernikahan terjadi di antara mereka.


"Dasar suami tak becus menjaga istri!" bentak Haikal.


Haikal melampiaskan kekesalannya pada Axel, dia menyalahkan Axel atas kaburnya Adeeva dari rumah itu.


Di saat itu Axel hanya diam, dia tidak membalas amarah Haikal sedikitpun. Axel memilih meninggalkan kedua orang tua Adeeva begitu saja.


Sejak hari itu dia pun tak lagi pernah menemui kedua orang tua Adeeva.


"Aaaarrggghhh," teriak Axel lagi.


"Woi!" bentak seorang wanita tiba-tiba datang melempari Axel sebuah batu kecil.


"Ngapain teriak-teriak malam-malam begini? Berisik tahu!" teriak si gadis kesal.


Axel menautkan kedua alisnya, dia heran melihat si gadis yang tiba-tiba marah padanya.


"Ingat waktu dong, ini sudah malam teriak-teriak seperti orang kesurupan saja," omel si gadis lagi pada Axel.


Axel melangkah mendekati si gadis.


"Apa urusannya sama kamu? Ini tempat umum, bukan tempat pribadi," ujar Axel ikut kesal pada si gadis.


Kehadiran si gadis di sana membuat suasana hati Axel semakin buruk.


"Teriakan kamu mengganggu ketenanganku," bentak si gadis lagi tak terima.


Gadis yang juga tengah menghadapi masalah hidup, memilih duduk di pinggir pantai untuk menenangkan diri, tapi kehadiran Axel di sana membuatnya merasa terganggu.


"Lebay," ujar Axel.


Axel pun menjauh dari sosok wanita menjengkelkan itu.


Dia memilih duduk di sebuah pohon kelapa yang rebah di pinggir pantai itu.

__ADS_1


"Deev, kamu ke mana? Kenapa kamu tega meninggalkan aku begitu saja?" lirih Axel masih mempertanyakan alasan Adeeva pergi.


"Pak Axel." tiba-tiba seorang wanita yang mengenalinya datang ikut duduk di pohon kelapa itu.


"Ririn," lirih Axel heran melihat Ririn juga ada di pinggir pantai itu.


"Iya, Pak. Apa yang bapak lakukan di sini?" tanya Ririn heran.


"Mhm, enggak ada, cuma cari angin," jawab Axel.


"Nanti masuk angin, Pak," kekeh Ririn.


"Ah, kamu bisa saja, kamu ngapain di sini?" tanya Axel.


"Enggak ada, Pak. Lagi bosan di kos," jawab Ririn.


"Bapak pasti lagi mikirin Adeeva, ya?" tanya Ririn menebak.


Axel menoleh ke arah Ririn, gadis itu memang selalu mengerti suasana hati Axel.


"Ah, kamu sok tahu," ujar Axel.


"Pak, kalau memang Adeeva tidak kembali lagi, mungkin lebih baik bapak move on," nasehat Ririn.


Lagi-lagi Axel menoleh ke arah wanita yang kini duduk di sampingnya.


"Bagaimana caranya aku bisa move on, dia masih sah istriku," gumam Axel.


"Benar. sih, Pak. Tapi, kan laki-laki itu berhak menikah lebih satu orang," nasehat Ririn lagi.


"Benar juga, sih. Tapi, aku belum berani mencari gantinya," tutur Axel jujur pada Ririn.


Selama ini Ririn memang menjadi tempat terbaik bagi Axel dalam meluapkan uneg-uneg yang ada di dalam hatinya.


"Intinya, Pak. Bapak harus buka hati untuk yang lain," ujar Ririn lagi.


"Entahlah, Rin. Adeeva adalah cinta pertamaku. Hanya dia wanita yang ada di hatiku," tutur Axel lagi.


Ririn pun berdiri.


"Aku tahu, Adeeva adalah wanita yang baik, tapi alangkah lebih baiknya bapak melepaskannya. Biarkan dia terbang di alam yang luas ini," nasehat Ririn.


Ucapan Ririn memang ada benarnya,tapi Axel sendiri tidak tahu bagaimana cara melupakan sosok Adeeva di dalam ingatannya.


Ririn terus memberi motivasi pada bos-nya itu, mereka pun mulai asyik mengobrol di pinggir pantai itu sembari menikmati angin malam.


Saat mereka tengah asyik mengobrol, si gadis yang melempar batu ke arah Axel tadi datang menghampiri mereka.


"Tolong, tolong aku," pinta si gadis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2