
Adeeva mulai merasakan sensasi dari setiap sentuhan sang suami.
Sebagai wanita normal dia mulai hanyut dalam rasa yang baru saja dirasakannya.
Tanpa mereka sadari kini tak sehelai benang pun yang melekat di tubuh sepasang suami istri itu, mereka mulai tenggelam dalam nikmatnya surga dunia yang baru saja mereka rasakan setelah hampir satu bulan menikah.
Saat Axel akan mulai beraksi, tiba-tiba ingatan Adeeva tertuju pada malam yang pernah dilewatinya bersama pria asing yang sama sekali tak dikenalinya.
Samar-samar Adeeva mengingat kejadian malam itu. Malam di mana seorang pria merampas benda berharga miliknya yang membuat dirinya kini mengandung benih pria itu.
Adeeva mendorong tubuh Axel.
"Tidak, jangan lakukan itu," ujar Adeeva.
Adeeva langsung bangun lalu mengambil pakaiannya yang telah berserakan di lantai.
Adeeva berlari menuju kamar mandi, sedangkan Axel yang kini terhempas di atas tempat tidur terdiam sejenak.
Hasratnya yang baru saja hendak disalurkannya pada sang istri seketika sirna begitu saja.
Dia mengambil selimut, lalu menutupi tubuhnya.
Pria tampan itu memandangi punggung polos sang istri dengan perasaan kecewa.
Adeeva terduduk di balik pintu kamar mandi masih tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.
Dia membenamkan wajahnya di lututnya.
Adeeva mulai menangis, dia menyesal telah membiarkan Axel menyentuh tubuhnya, dia menyesal telah memberikan harapan palsu pada pria baik hati di dalam hidupnya itu.
Adeeva tidak dapat memaafkan dirinya yang telah menyakiti hati suaminya.
"Hiks hiks."
Tangisan Adeeva mulai terdengar ke dalam kamar. Axel menautkan alisnya heran dan bingung saat mendengar tangisan sang istri.
Suara tangisan wanita yang dicintainya itu mulai terdengar menyayat hati.
Axel mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Jiwanya yang tadi bergejolak kini mulai tenang.
Hampir satu jam Adeeva di dalam kamar mandi, akhirnya Axel mulai mengkhawatirkan keadaan sang istri.
Dia berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Tok tok tok.
"Deev," panggil Axel.
"Deev," panggil Axel lagi.
Dua kali Axel memanggil, Adeeva masih belum juga menggubris.
"Deev," panggil Axel lagi.
__ADS_1
Jantung Axel mulai berdetak dengan kencang, dia takut terjadi hal-hal buruk pada sang istri.
"Deev," panggil Axel lagi dengan nada yang mulai meninggi.
Adeeva masih saja tak menggubris panggilan dari sang suami.
Axel tak bisa lagi menahan diri, dia pun memegang handle pintu, beruntung Adeeva tidak mengunci pintu kamar mandi.
Perlahan Axel mendorong pintu, betapa kagetnya Axel melihat sang istri kini tergeletak di lantai kamar mandi dalam keadaan shower yang menyala.
Air terus membasahi tubuhnya yang tak terbalut apa pun.
"Deev." Axel langsung berlari menghampiri tubuh sang istri.
Dia mematikan shower lalu mengangkat tubuh Adeeva, dia membalut tubuh istrinya sebelum membawa sang istri keluar dari kamar mandi.
Bergegas Axel membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur, setelah itu dia langsung mencari pakaian Adeeva yang tebal agar sang istri tak lagi merasa kedinginan.
Setelah itu Axel pun mencoba untuk membangunkan Adeeva, berkali-kali Axel membangun sang istri, tapi tubuh Adeeva tak menggubris sama sekali.
"Mama! Papa!" teriak Axel dari dalam kamar.
Dia pun berlari keluar kamar, lalu kembali berteriak.
"Ma! Pa!"
Tak berapa lama, Rasyid dan Gita keluar dari kamarnya dalam keadaan yang masih mengantuk.
Mereka menoleh ke lantai 2, melihat Axel yang sejak tadi berteriak memanggil mereka.
"Papa, tolong Adeeva," jawab Axel.
Rasyid dan Gita pun berlari melangkah menuju lantai 2, mereka ikut khawatir mendengar ucapan putra mereka.
"Ada apa dengan Adeeva?" tanya Rasyid setelah berada di lantai 2.
"Aku enggak tahu, Pa. Tiba-tiba, Adeeva pingsan dan tak sadarkan diri," jawab Axel.
Axel pun mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar untuk memeriksa yang menantu.
Gita yang dulu pernah sekolah di bidang kesehatan, dia langsung mengecek nasi Adeeva.
"Denyut nadinya sangat lemah, kita harus membawanya cepat ke rumah sakit," ujar Gita.
"Ayo, kamu angkat Deev ke dalam mobil, biar papa yang nyetir," ujar Rasyid pada sang putra.
"Iya, Pa." Axel langsung mengambil celana panjang dan jaketnya.
Setelah itu Axel mengangkat tubuh Adeeva, dia membawa istrinya keluar mengikuti langkah papanya yang sudah berada di luar rumah.
Gita membukakan pintu mobil agar Axel tidak kesulitan masuk, dia kembali menutup pintu mobil setelah memastikan Axel dan Adeeva berada di dalam mobil.
Dia pun masuk ke dalam mobil, tak berapa lama Rasyid langsung melajukan mobil meninggalkan rumah menuju rumah sakit.
__ADS_1
Mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaan Adeeva yang hingga saat ini masih belum sadarkan diri.
Malam yang s makin larut membuat jalanan sepi, sehingga Rasyid dapat melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata.
Dia berusaha secepat mungkin sampai di rumah sakit, hanya butuh waktu 20 menit, mereka telah sampai di depan IGD salah satu rumah sakit ternama di kota Padang.
Axel bergegas turun dari mobil, lalu mengangkat tubuh sang istri masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter!" teriak Axel memanggil petugas kesehatan yang ada di sana.
2 orang petugas kesehatan yang ada di IGD langsung datang menghampiri Axel dengan membawa brangkar rumah sakit.
Axel langsung membaringkan tubuh istrinya di atas brangkar tersebut.
"Apa yang terjadi?" tanya salah satu dokter jaga malam itu.
"Saya tidak tahu, tiba-tiba dia pingsan dan hingga saat ini tak sadarkan diri," jawab Axel.
"Baiklah, kami coba periksa pasien terlebih dahulu," ujar sang dokter.
Setelah itu dokter menyuruh perawat untuk membawa Adeeva masuk ke dalam ruang pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan.
"Keluarga harap tunggu di luar," ujar perawat sebelum menutup pintu ruang pemeriksaan.
Axel dan keluarganya menunggu Adeeva yang tengah diperiksa di ruang tunggu.
Axel berdiri tak sabar menanti kabar istrinya dari sang dokter, dia sama sekali tidak tahu penyakit yang diidap oleh sang istri.
Memang sejak awal mereka menikah, sudah 2 kali Adeeva pingsan tanpa sebab.
Tapi, kali ini Axel mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi pada sang istri.
Dia masih mengingat apa yang baru saja mereka lakukan, sebelum sang istri pingsan.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Adeeva? Mengapa dia sama sekali tidak mau aku sentuh? Apakah ada trauma yang mengganggu dirinya sehingga dia tidak mau berhubungan int*m denganku?"
Banyak pertanyaan yang mengisi benak Axel saat ini.
Tak berapa lama mereka menunggu dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Axel pada sang dokter.
Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui penyakit apa yang kini diidap oleh sang istri.
"Tidak ada masalah apa-apa pada istri anda, dia hanya kelelahan. Seharusnya dalam keadaannya seperti ini harus dikurangi dalam beraktivitas," ujar Dokter memberitahukan apa yang terjadi pada Adeeva.
"Memangnya kenapa dengan menantu saya, Dok?" tanya Gita ikut penasaran.
"Menantu nyonya saat ini tengah mengandung, sehingga dia butuh istirahat yang cukup," ujar Dokter dengan senyuman.
"Alhamdulillah," sahut Gita bahagia.
"Apa?" lirih Axel terdiam mendengar ucapan sang dokter.
__ADS_1
Bersambung...