Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 93


__ADS_3

"Maaf, Tuan. Apa yang anda lakukan?" tanya dokter pada Daffa.


Daffa pun meletakkan telunjuknya di bibir, memberi isyarat pada petugas medis untuk diam.


Daffa mengelus lembut punggung bayi yang kini ada di dalam pelukannya.


Tak berapa lama, si bayi pun muli menangis. Jantungnya yang tadi sempat berhenti kini kembali berdetak dengan normal.


Daffa menatap dalam bayi yang kini menangis di dalam pelukannya.


Selama ini dia tidak pernah berani menggendong bayi, entah mengapa kali ini dia merasakan sangat dekat dengan bayi itu.


Bayi itu menangis sebentar, setelah si bayi merasa tenang. Daffa pun memberikan bayi itu kepada perawat.


Dokter pun langsung memeriksa kondisi si bayi, Dokter tercengang dengan apa yang telah terjadi.


Kondisi si bayi yang tadi sempat kritis dan hampir saja meninggal dunia, mendadak normal dan menunjukkan tanda-tanda pulih.


"Subhanallah," lirih dokter.


Sang dokter pun menatap punggung Daffa yang melangkah keluar ruang ICCU dengan kagum.


Sang dokter takjub dengan keajaiban yang baru saja dilihatnya.


Dokter mengira Daffa memiliki ilmu magic yang bisa menyembuhkan si bayi.


"Siapa pria itu?" tanya sang dokter pada perawat.


Perawat hanya bisa mengangkat bahunya, dia tidak tahu siapa Daffa sebenarnya.


Axel juga takjub dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Daffa, karena Axel melihat reaksi bayi Adeeva setelah digendong oleh Daffa.


"Daffa, kamu memiliki ilmu magic, ya?" tanya Axel heran.


Daffa menggelengkan kepalanya.


"Tidak," sahut Daffa.


"Lalu kenapa kamu bisa menyembuhkan bayi istriku?" tanya Axel pada Daffa.


"Bayi istriku?" gumam Daffa di dalam hati heran mendengar ucapan Axel.


Daffa merasa asing dengan ucapan Axel, tapi dia tidak mau memikirkan hal itu.


"Aku sendiri tidak tahu, tiba-tiba ada sesuatu yang menyuruhku untuk memeluk bayi mungil itu," jawab Daffa jujur.


Dia sendiri tidak tahu apa yang membuat dirinya ingin memeluk si bayi.


Tak berapa lama, dokter pun keluar dari ICCU.


Sang dokter memberi kabar pada Axel bahwa bayi Adeeva sudah sembuh dan nanti sore bayi itu akan dipindahkan ke ruang rawat ibunya.


"Syukurlah kalau begitu," ujar Alex lega.


Hati Daffa merasa senang mendengar berita yang disampaikan oleh dokter.

__ADS_1


"Oh, iya. Terima kasih, Tuan," ucap sang dokter mengulurkan tangannya pada Daffa.


Daffa menjabat tangan sang dokter.


"Sama-sama," sahut Daffa.


Setelah itu dokter pun berpamitan pada Daffa dan Axel.


Kini Axel dan Daffa begitu juga Alex duduk di kursi tunggu.


"Apa gerangan yang membuatmu datang ke sini?" tanya Axel heran.


Menurutnya Daffa datang ke Padang sangat mendadak dan tidak memberitahu Axel terlebih dahulu.


"Tidak ada, tiba-tiba saja aku ingin berkunjung ke sini. Sekalian mau melihat lokasi proyek kerja sama kita," ujar Daffa.


"Ya sudah, kalau begitu kita bisa ke lokasi proyek itu sekarang juga, berhubung saat ini istriku tengah beristirahat," ujar Axel.


Axel tidak ingin rencana kedatangan Daffa ke Padang untuk melihat lokasi proyek itu gagal karena dirinya.


"Kamu yakin akan meninggalkan istrimu di sini?" tanya Daffa memastikan.


Daffa merasa tidak enak pada sang sahabat, karena kedatangannya tidak pada waktu yang tepat.


"Iya, tadi saat dokter memberi keadaan bayinya yang kritis, dia sempat histeris sehingga dokter memberi obat penenang untuknya," jelas Axel.


Awalnya Daffa ingin bertemu dengan istri Axel, tapi mendengar istri sahabatnya itu sedang istirahat dia enggan mengganggu istirahat istri sahabatnya itu.


"Kalau memang begitu, boleh kita ke lokasi proyek," ajak Daffa.


Axel meninggalkan Adeeva bersama Kyara di rumah sakit.


Kyara yang mendapat perlakuan baik dari Adeeva merasa Adeeva merupakan wanita baik, sehingga dia tidak pantas mencelakai Adeeva lagi.


Kyara akan berusaha berdamai dengan Adeeva, meskipun dia harus menerima sakit hati dari perlakuan Axel yang terlihat jes tidak menginginkan dirinya.


Dengan setia Kyara menemani Adeeva yang kini masih terlelap.


Dia duduk di sofa sembari membuka ponselnya.


"Bayiku, bayiku." Adeeva terbangun, dia kembali histeris saat sadar.


Pikirannya kini tertuju pada bayinya yang sempat diberitahukan dokter dalam keadaan kritis.


Kyara langsung menghampiri Adeeva.


"Bayimu baik-baik saja, Kak," ujar Kyara.


Axel memang sudah memberitahu istri keduanya bahwa bayi adiva baik-baik saja, dan Axel meminta istri keduanya itu untuk menjaga istri pertamanya selama dia pergi bersama Daffa.


Meskipun kebencian Axel selalu ada pada Kyara, tapi dia tidak bisa menunjukkan kebenciannya itu secara terang-terangan.


"Di mana bayiku?" teriak Adeeva histeris.


"Tenang, Kak. Bayi kakak sudah membaik, saat ini dia masih berada di ruang ICU ujar Kyara terus berusaha menenangkan Adeeva.

__ADS_1


Perlahan Adeeva pun mulai tenang, dia mempercayai apa yang dikatakan oleh Kyara.


"Kamu tidak bohong kan, Kuat?" tanya Adeeva memastikan.


"Ya." Kyara mengangguk.


Adeeva pun merasa lega mendengar jawaban dari Kyara


Adeeva menatap Kyara dalam.


"Terima kasih," lirih Adeeva.


"Sama-sama," lirih Kyara.


"Kya?" panggil Adeeva sembari meraih tangan Kyara dan menggenggam tangan madunya itu dengan erat.


"Mhm," gumam Kyara.


"Apakah kamu mencintai Axel?" tanya Adeeva pada Kyara.


Kyara terdiam sejenak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Adeeva.


"Katakan lelah sejujurnya padaku," ujar Adeeva penuh harap.


"Entahlah, Kak."Kyara terlihat bingung menjawab pertanyaan itu.


"Jika kamu mencintai Axel, maka aku tidak akan mengganggumu, aku akan bantu kamu untuk mendapatkan Axel," lirih Adeeva berbaik hati.


Melihat Kyara yang setia menemaninya di rumah sakit membuat Adeeva yakin bahwa Kyara adalah wanita yang baik. Dan dia berniat akan menyatukan Kyara dan Axel agar mereka bisa hidup bahagia.


Kyara menautkan kedua alisnya, dia heran dengan apa yang dikatakan oleh Adeeva.


Dia tidak menyangka Adeeva akan berkata seperti itu.


"A-apa maksudmu, Kak?" tanya Kyara pada Adeeva.


Adeeva tersenyum. Lalu dia menatap ke langit-langit ruangan itu.


"Pernikahanku dan Axel hanyalah pernikahan yang tidak didasari atas cinta, pernikahan ini terjadi karena dipaksa oleh ayahku," cerita Adeeva.


"Jika kalian tidak saling mencintai kenapa kakak bisa hamil?" tanya Kyara tidak dapat menahan diri untuk mempertanyakan hal itu.


Baginya rasa cinta antara kedua pasang suami istrilah yang bisa membuat seorang istri hamil.


Jika hubungan itu dilakukan tanpa cinta maka tidak akan ada benih yang tumbuh di dalam rahim Adeeva.


Adeeva terdiam sejenak, lalu dia pun menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya.


Kyara hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istri pertama suaminya.


"Aku hanya ingin Axel bahagia, karena aku tidak bisa membalas cintanya untukku," lirih Adeeva jujur pada Kyara.


Adeeva berharap Kyara mengerti dengan keinginannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2