
"Kalung itu milik temanku." Ririn terdiam sejenak.
"Waktu itu dia menginap di sini, lalu dia meninggalkan kalung itu di kamar mandi," cerita Ririn.
"Apa temanmu? Siapa?" tanya Axel penasaran.
"Dia teman yang aku jahati, dan kejahatanku dibalas dengan kebaikannya," ujar Ririn lagi mengingat teman yang baru saja dikenalnya dan kini dia telah menganggap teman itu sebagai saudara.
"Siapa nama temanmu itu?" tanya Axel lagi tidak sabar.
"Namanya, Adeeva," jawab Ririn.
"Adeeva?" tanya Axel tak percaya.
Akhirnya Axel pun meminta Ririn menyebutkan ciri-ciri sosok Adeeva yang diceritakan oleh Ririn.
Dengan senang hati Ririn mengenang paras cantik dan anggun Deeva, dia juga tidak lupa menceritakan kebaikan yang telah dilakukan Adeeva terhadap dirinya.
Dia juga menceritakan bahwa karena Adeeva lah, dia kini mulai berubah menjadi seseorang yang lebih baik.
"Di mana dia sekarang?" tanya Axel tak sabar.
Dia yakin bahwa Adeeva yang diceritakan oleh Ririn itu adalah istrinya.
"Aku tidak tahu di mana dia sekarang, hanya saja, pagi itu dia pamit padaku. Dia berkata ingin memulai kehidupan yang baru," jawab Ririn.
"Ya Allah, Adeeva kamu pergi ke mana?" lirih Axel yang sempat didengar oleh Ririn.
"Apakah kamu mengenali Adeeva?" tanya Ririn mulai penasaran.
"Dia adalah istriku," jawab Axel.
"Apa?" Ririn tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pria tampan yang kini duduk di sampingnya.
"Adeeva sudah menikah?" tanya Ririn tak percaya.
"Iya, kami baru menikah satu bulan lebih," jawab Axel curhat.
Entah mengapa Axel merasa nyaman bercerita dengan wanita yang baru saja dikenalnya.
"Lalu apa yang terjadi?" Ririn semakin penasaran.
Menurutnya pria yang kini duduk di sampingnya sangat baik, apalagi penampilannya yang rapi mencerminkan dia seorang pria yang berada.
"Mhm, entahlah." Axel tak tahu harus memulai cerita dari mana.
Dia sendiri tak tahu jalan hidupnya akan sepahit ini, merasakan kebahagiaan hanya sejenak.
Ririn hanya diam, dia juga tidak memaksa Axel untuk bercerita, karena dia tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan Adeeva dan Axel.
__ADS_1
Sejenak situasi di antara mereka hening, tak seorang pun mulai berbicara.
"Oh, ya. Apa pekerjaanmu saat ini?" tanya Axel pada Ririn.
"Mhm, aku saat ini seorang pengangguran. Beberapa hari yang lalu aku baru saja dipecat," jawab Ririn jujur.
"Kalau begitu kamu bisa coba pekerjaan di perusahaan lku," ujar Axel.
Axel pun mengeluarkan dompetnya, lalu mengambil sebuah kartu nama dari dompet tersebut.
Axel menyodorkan kartu nama tersebut pada Ririn.
"Besok kamu bisa datang ke kantorku, katakan aku yang menyuruhmu datang," ujar Axel.
Axel merasa kasihan pada wanita yang telah menolongnya itu, dia dapat melihat sosok Ririn kini tengah mengalami kesulitan ekonomi, apalagi Axel merasa semakin kasihan padanya karena gadis itu merupakan teman dari istrinya.
Dia berharap akan dapat informasi mengenai Adeeva dari Ririn, mana tahu suatu hari istrinya menghubungi Ririn.
"Ya sudah, kalau begitu sampai jumpa besok," ujar Axel setelah melihat pesan dari Damar bahwa 9pekerjaan yang ditugaskannya pada Damar telah selesai.
"Baik," lirih Ririn.
Axel pun berpamitan, dia menunggu Ririn dengan hati yang senang, gadis itu bersyukur dengan tawaran pekerjaan yang diberikan oleh Axel, saat ini dia belum tahu bahwa Axel merupakan pemilik perusahaan tersebut.
****
Dengan terpaksa Adeeva menandatangani sebuah surat kontrak yang diajukan pria yang bernama Daffa itu.
Di sana juga tertulis, Adeeva tidak boleh meninggalkan Daffa hingga satu tahun ke depan, dengan balasan bagi Adeeva, dia akan mendapatkan penghidupan yang layak serta biaya bersalin dari Daffa.
Jika Adeeva melanggar perjanjian kontrak selama kontrak berjalan, maka Adeeva harus ganti rugi sebesar 1 Milyar.
Demi janin di dalam kandungannya, Adeeva pun rela bekerja dengan pria yang baru saja dikenalnya itu.
"Mi, aku akan menikah dengan Adeeva, tapi pernikahan ini akan kita lakukan secara rahasia," ujar Daffa pada wanita yang sangat disayanginya.
"Tapi, Daffa. Mami ingin kamu mengadakan pernikahan yang mewah, agar semua orang tahu bahwa putra tercinta mami ini sudah memiliki pendamping," bantah Rossa.
"Mami tenang saja, saat ini Adeeva tengah mengandung anakku, kami akan menikah secara mewah setelah dia melahirkan," ujar Daffa berbohong.
Dia sengaja memberitahu maminya keadaan Adeeva saat ini, dia juga mengaku sebagai ayah dari janin yang dikandung oleh Adeeva.
Daffa sengaja melakukan itu agar sang mami tak memaksanya menikah dengan Adeeva secara mewah.
"Apa? Kamu sudah menghamilinya?" tanya Rossa syok.
Seingatnya kemarin Daffa kemarin membantah bahwa Adeeva merupakan kekasihnya, tapi hari ini dia mengatakan bahwa sudah berhubungan dengan gadis itu.
"Iya, Mi. Kemarin aku belum siap mengatakan hal ini pada mami, makanya hari ini aku mengatakan kebenarannya," ujar Daffa lagi.
__ADS_1
"Entahlah," lirih Rossa.
"Yang penting aku bertanggung jawab atas janin yang ada di dalam kandungannya, Mi," ujar Daffa lagi berusaha membujuk maminya yang terlihat kesal.
"Baiklah, terserah kamu saja," ujar Rossa.
Rossa tidak bisa marah pada putranya, karena marah pun tidak akan ada gunanya sama sekali.
Rossa memang seorang ibu yang sangat pengertian, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya secara berlebihan kepada anak-anaknya.
Sebagai seorang ibu dia selalu mendukung apa yang menjadi pilihan anak-anaknya.
"Terima kasih, Mi. Mami sudah mengerti keadaanku saat ini," ujar Daffa sambil memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Sekarang di mana Adeeva?" tanya Rossa.
"Adeeva sedang istirahat di kamar, Mi," jawab Daffa.
"Kamu harus menjaganya dengan baik, jangan lupa beri perhatian dan kasih sayangmu padanya," pesan Rossa.
"Iya, Mi. Aku akan menjaganya," ujar Daffa.
"Ya sudah, Mami sekarang istirahat, ya. Sudah larut, takutnya mami sakit," ujar Daffa.
"Baiklah." Rossa berdiri diikuti oleh Daffa.
Daffa mengantarkan maminya menuju kamar, dia pun menyelimuti sang mami setelah wanita paruh baya itu berbaring di tempat tidur.
Daffa mengecup lembut puncak kepala sang mami.
"Good night, Mam," lirih Daffa.
"Good night, Sayang," lirih Rossa.
Daffa pun berdiri, lalu melangkah menuju kamar tamu tempat Adeeva berada.
"Kamu belum tidur?" tanya Daffa pada Adeeva yang saat ini telah berada di kamar tamu.
Dia mendapati Adeeva yang berbaring di atas tempat tidur dengan mata yang masih terbuka.
Adeeva kaget mendengar suara Daffa yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Dia pun langsung bangkit, lalu dia duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"A-aku,--" Adeeva memang belum tidur karena dia memikirkan kontrak yang telah ditandatanganinya.
Lalu dia juga tengah memikirkan keadaan Axel setelah dia pergi, rasa iba dan penuh bersalah pada pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu terus menyelimuti dirinya.
"Aku sengaja datang ke sini untuk memberitahumu, besok kita akan pergi menikah," ujar Daffa menyampaikan rencananya.
"A-apa?" lirih Adeeva kaget.
__ADS_1
Bersambung...