Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 22


__ADS_3

"Eh, maksud aku, Pak Damar," ujar Adeeva mengoreksi ucapannya.


"Ternyata perbuatan itu dilakukan Pak Jack pada setiap karyawan wanita yang bekerja di swalayan ini," lirih Andin.


Andin juga tidak tahan mengungkap apa yang dulu pernah menimpanya.


"Maksud kamu?" tanya Adeeva menautkan kedua alisnya penasaran.


"Tak hanya kamu dan Mira yang mengalami hal buruk itu, aku juga sempat dilecehkan oleh Pak Jack, hanya saja beruntung waktu itu Pak Damar datang sehingga dia tidak jadi merenggut kesucianku," ujar Andin.


Andin juga menceritakan apa yang dialaminya beberapa bulan yang lalu.


"Astaghfirullah, aku akan laporkan ini pada Pak Damar agar semua kejahatan yang telah dilakukan Jack dipertanggungjawabkannya. Dia harus diberi hukuman yang seberat-beratnya," ujar Adeeva geram.


Adeeva sudah tak sabar lagi untuk memberitahu Axel, dia pun menghubungi Axel setelah menyusun barang-barang di rak.


"Deev," ujar Axel di seberang sana.


"Mhm," gumam Adeeva.


"Bisakah kamu memastikan Andin dan Mira menjadi saksi di persidangan Jack nantinya?" tanya Axel pada istrinya Sete Adeeva menceritakan kisah yang dialami Andin dan Mira.


"Mhm, aku akan tanyakan pada mereka," balas Adeeva.


"Ya sudah, kalau begitu kita akan tambahkan laporan ini dalam kasus Jack," ujar Axel.


Axel benar-benar kecewa dengan tingkah sepupunya yang selama ini sangat dipercayainya.


Dia tak menyangka, kakak sepepupunya itu memiliki sifat yang merusak nama baik swalayan yang selama ini dirintisnya.


"Iya," lirih Adeeva mengangguk.


"Ya sudah, nanti jam 3 aku jemput kamu," ujar Axel lagi.


"Oke." Adeeva pun memutus panggilan itu.


Dia kembali bergabung dengan rekan-rekannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Di tempat lain, Anton telah sampai di kost-an Ririn.


Ternyata Ririn hidup sebatang kara di kota Padang, dia bekerja di swalayan untuk bertahan hidup.


"Anton," panggil Ririn saat pria yang baru saja mengantarnya itu hendak pergi meninggalkannya.


Anton menoleh ke arah Ririn.


"Mhm," gumam Anton.


"Terima kasih," ucap Ririn.


"Sama-sama," jawab Anton.


"Gue minta maaf sama lu, karena selama ini gue udah jahat sama lu," ujar Ririn tulus.

__ADS_1


Kali ini dia merasa menyesal dengan apa yang telah dilakukannya selama ini terhadap rekan kerjanya.


Sikapnya tak pantas dimaafkan, tapi dia memberanikan diri untuk meminta maaf pada Anton.


Anton tersenyum.


"Sudahlah, lupakan apa yang telah terjadi, sekarang mulai kehidupan yang baru," ujar Anton dengan lapang dada.


Entah mengapa pria itu, tiba-tiba kasihan pada wanita yang selalu mengintimidasi dirinya.


"Ya sudah, kalau begitu aku balik dulu, ya. Takut dimarahi pak Damar," ujar Anton berpamitan.


Ririn menganggukkan kepalanya, lalu dia pun melangkah masuk ke dalam kost-annya.


Wanita itu langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur saat masuk ke dalam kamarnya.


Dia mulai merenungi nasibnya setelah Jack tak lagi ada di swalayan. Dia juga tidak tahu bagaimana kelanjutan hidupnya di kota itu tanpa kehadiran Jack.


Selama ini Jack selalu memberikan uang yang lebih untuk dirinya, jika pria itu dipenjara itu artinya Jack tidak akan bisa memberinya uang yang berlebih seperti biasanya.


Tak terasa satu hari telah berlalu, Adeeva tak menyadari Axel telah berada di belakangnya.


Adeeva masih asyik merapikan rak-rak barang yang berantakan karena di pagi hari dia bertugas mengeluarkan stok barang yang tinggal sedikit, lalu di siang hari merapikan rak-rak yang berantakan ulah costumer.


"Asyik sekali kerjanya, sampai enggak sadar kalau ini sudah lewat jam 3," ujar Axel.


"Kamu udah di sini?" tanya Adeeva kaget.


Dia tak percaya saat melihat sosok sang suami sudah berada di hadapannya saat dia membalikkan tubuhnya.


"Hehe, kamu bisa saja." Adeeva memukul pelan lengan kekar Axel.


"Ya udah kalau gitu, ayo pulang," ajak Axel.


"Iya, aku ambil tasku dulu, ya," ujar Adeeva.


"Aku tunggu di depan," ujar Axel.


"Siip." Adeeva mengacungkan jempolnya.


Di swalayan itu, ada 2 shif karyawan. Shif pagi pada pukul 8 pagi hingga pukul 3 sore, sedangkan shift sore pada pukul 3 sore hingga pukul 9 malam.


Pada pukul 9 malam semua karyawan mulai menyiapkan swalayan untuk tutup, dan semua karyawan pulang pada pukul 9.30 malam.


Semua itu berlaku di semua swalayan milik Axel yang menyebar di kota Padang.


Saat Adeeva mengambil tasnya, Andin dan Mira juga bersiap untuk pulang.


"Udah ada yang jemput, Deev?" tanya Andin.


"Udah," jawab Adeeva sambil tersenyum riang.


Mereka pun melangkah keluar dari swalayan.

__ADS_1


Adeeva melambaikan tangannya pada rekan kerjanya saat berada di luar swalayan.


Dia melangkah mendekati Axel, pria tampan itu langsung mengajak Adeeva masuk ke dalam mobil


Tanpa disadari Adeeva, Andin dan Mira melihat Adeeva masuk ke dalam mobil mewah milik Axel.


"Mira, lihat deh," ujar Andin sembari menunjuk ke arah Adeeva yang masuk ke dalam mobil itu.


"Hah, sebenarnya siapa sih Adeeva itu? Sepertinya dia bukanlah orang biasa," ujar Mira tak percaya.8


"Iya, kamu benar, Mira. Mungkin dia ada hubungan dengan pak Damar, atau bisa jadi dia orang kaya yang menyamar miskin," ujar Andin menduga-duga.


Dia mengingat beberapa film drama yang pernah ditontonnya.


Seorang direktur perusahaan menyamar menjadi karyawan untuk mengetahui apa saja yang terjadi di swalayan itu.


"Besok kita harus tanyakan langsung padanya," ujar Mira mulai penasaran.


"Hooh." Andin menganggukkan kepalanya setuju.


"Bagaimana hari ini?" tanya Axel pada sang istri saat mobil mulai melaju.


"Mhm, menyenangkan," sahut Adeeva senang.


"Kenapa?" tanya Axel.


"Mhm, aku merasa hari-hariku bermanfaat. Selama ini aku hanya berdiam diri di rumah tanpa ada pekerjaan," ujar Adeeva.


"Baguslah kalau begitu," ujar Axel ikut senang.


Axel menatap sang istri sejenak, lalu dia mengusap lembut kepala Adeeva.


Entah mengapa, tiba-tiba Adeeva merebahkan kepalanya di lengan kekar sang suami yang kini masih fokus melajukan mobilnya.


"Terima kasih," ucap Adeeva lirih.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Axel.


"Untuk semua yang sudah kamu berikan kepadaku," jawab Adeeva.


"Sebagai seorang suami aku harus melakukan apa saja yang bisa membuat istriku bahagia," ujar Axel.


"Mhm, aku juga minta maaf padamu," lirih Adeeva lagi.


Axel menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dia menatap dalam ke arah sang istri yang kini masih bersandar di lengannya.


"Maaf untuk apa?" tanya Axel pada sang istri.


Adeeva tak bisa menjawab pertanyaan Axel, dia pun memeluk erat tubuh pria yang sudah mulai mengisi hariku harinya.


"Maafkan aku tak bisa menjadi istri yang baik untukmu," lirih Adeeva.


Adeeva pun tak lagi dapat menahan rasa bersalahnya pada Axel.

__ADS_1


Dia menangis di dalam pelukan sang suami, hal ini membuat Axel merasa bingung.


Bersambung...


__ADS_2