Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 120


__ADS_3

Tak berapa lama Daffa dan Natasya mengobrol sekadar melepas rindu dan saling bercerita tentang kehidupan mereka selama ini.


"Lalu, kapan kamu akan menikah?" tanya Natasya yang sudah tidak sabar melihat adiknya ada yang mengurusnya.


"Astaghfirullah, aku lupa." Daffa menepuk jidatnya.


Lalu dia pun langsung menghubungi Adeeva.


Dia sudah mengabaikan wanita itu selama 2 hari.


Saat ini Adeeva pasti tengah bertanya-tanya tentang dirinya.


"Daffa!" panggil Natasya yang heran melihat sikap Daffa yang tiba-tiba meninggalkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


Berkali-kali Adeeva mencoba menghubungi Adeeva, tapi tak satu pun panggilannya yang tersambung.


"Kenapa nomor ponsel Adeeva tidak aktif?" Daffa bertanya-tanya di dalam hati.


"Hei, Dek." Natasya mengagetkan adiknya yang sibuk dengan ponselnya.


Daffa menoleh ke arah sang kakak.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Natasya semakin penasaran.


"Aku sedang menghubungi wanita yang akan menjadi istriku, Kak," jawab Daffa jujur.


"Apa? Kamu sudah memiliki calon pendamping? Kenapa tidak kasih tahu kakak?" tanya Natasya kesal.


"Belum, Kak. Sekarang aku sedang berusaha untuk mendapatkannya," ujar Daffa.


"Maksud kamu? Gadis itu tidak suka padamu?" tanya Natasya penasaran.


Dia ingin sekali mendengarkan cerita tentang kisah asmara sang adik, setahunya Daffa selama ini sangat dingin pada wanita.


"Kak, nanti aku akan ceritakan sama kakak, tapi biarkan aku menghubunginya dulu," pinta Daffa pada sang kakak.


Akhirnya Natasya pun meninggalkan Daffa yang kini masih sibuk dengan ponselnya.


Sementara itu, Adeeva kini tengah sibuk mengurus putranya. 2 hari ini baby Ghaffar selalu rewel dan banyak tingkah sehingga Adeeva tidak tahu ponselnya yang sudah low battery sejak kemarin malam.


Adeeva tidak tahu bahwa Daffa sudah menghubungi dirinya berkali-kali hari ini.


"Bang Daffa ke mana, sih? Sudah 2 hari tidak ada kabar, dia juga tidak ke sini." Selain risau memikirkan baby Ghaffar, Adeeva juga risau memikirkan Daffa yang tidak pernah menghubunginya.


"Oek oek." Baby Ghaffar terus menangis sepanjang hari.


"Kamu kenapa, Sayang? Apa yang sakit? Kasih tahu bunda," lirih Adeeva pada sang putra sembari menggendong baby Ghaffar.


Suhu tubuh Ghaffar baik-baik saja, bahkan tidak ada yang salah sama sekali pada dirinya. Adeeva sendiri bingung dengan tingkah Ghaffar yang terus menerus rewel.


Dia akan diam jika digendong, dan akan menangis jika ditaruh di atas tempat tidur.

__ADS_1


Hal ini membuat Adeeva tidak tahu harus bagaimana, dia benar-benar kewalahan mengurus baby Ghaffar seorang diri.


"Ya Allah, apa yang harus lakukan sekarang? Seandainya Bang Daffa ada di sini, dia pasti bisa mengatasi permasalahan ini," gumam Adeeva di dalam hati.


Adeeva pun mencari ponselnya, dan masih sambil menggendong baby Ghaffar.


"Ya ampun, aku sampai lupa nge-charge ponselku," lirih Adeeva.


Setelah itu, Adeeva pun mengambil charger hp lalu memasangnya ke ponsel miliknya.


Saat malam semakin larut, Adeeva pun mencoba membaringkan baby Ghaffar di atas tempat tidur secara perlahan.


Dia berharap kali ini Baby Ghaffar mau diletakkan, syukurlah setelah Adeeva merasa tidak kuat lagi, Ghaffar mulai nyenyak dalam tidurnya.


Adeeva membuka ponselnya, dia pun meng-aktifkan ponselnya.


Adeeva melihat banyak panggilan dari Daffa, dia pun mencoba langsung menghubunginya meskipun sudah larut malam.


Sementara itu, Daffa kini sudah tertidur dengan lelapnya.


Daffa sama sekali tak mendengar ponselnya yang berdering.


"Di mana bang Daffa?" lirih Adeeva.


Adeeva yang benar-benar sudah lelah ikut tertidur dengan nyenyak.


Dia tak sempat mengirim pesan.


Adeeva mengangkat panggilan itu sembari menoleh ke arah sang putra yang kini masih terlelap.


2 hari rewel membuat baby Ghaffar merasa lelah hingga pagi ini dia masih nyenyak tidur.


"Halo," lirih Adeeva setelah menekan tombol hijau.


"Sayang, kamu baru bangun, ya?" tanya Daffa.


"Kamu di mana, Bang?" Adeeva belum menjawab pertanyaan Daffa.


"Aku sekarang sedang di Australia, mami sakit," jawab Daffa.


"Apa? Sakit apa?" tanya Adeeva kaget, dia ikut sedih mendengar kabar mengenai mami Daffa.


"Mami hanya lelah, dan darah tingginya tiba-tiba naik," jawab Daffa.


"Kamu bagaimana kabarnya? Baby Ghaffar bagaimana?" tanya Daffa mengkhawatirkan keadaan 2 orang yang kini sangat berarti di dalam hidupnya.


"Mhm, aku baik-baik saja. Hanya saja baby Ghaffar selama 2 hari ini rewel dan susah tidur," cerita Adeeva.


"Kenapa? Apakah dia sakit?" tanya Daffa semakin mencemaskan keadaan putranya.


"Tidak, Bang. Dia sehat dan tidak ada yang salah dengannya, aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia bisa rewel tak seperti biasanya." Adeeva bercerita tentang 2 hari saat Daffa pergi.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan meminta Alex untuk menemanimu di rumah selama aku tidak ada di sana," ujar Daffa.


"Iya, Bang." Adeeva mengangguk.


Lagi-lagi Daffa lupa memberitahu apa yang telah dikatakan Axel padanya.


Apalagi dalam 2 hari ini Axel sama sekali tidak datang ke rumah.Adeeva, karena dia ingin menata hatinya.


Terlebih saat ini keadaan Axel setiap pagi harus merasakan masuk angin yang sangat menyiksanya.


Setiap pagi dia akan merasa mual dan muntah-muntah sehingga tak memiliki tenaga untuk beraktivitas.


Dia akan merasa baik-baik saja setelah pukul 10.00 pagi.


Adeeva beraktivitas seperti biasanya, hari ini Ghaffar mulai membaik, dia tak lagi rewel seperti biasanya.


Sementara itu di tempat lain, Ainun dan Alex tengah makan malam di hotel tempat mereka menginap.


Ainun berencana akan membawa Aini ikut dengannya ke Bali, dan akan menyekolahkan adiknya itu di kota tersebut.


Ainun berencana akan berangkat ke Bali esok hari, dia akan pergi hanya berdua saja dengan Aini karena Alex masih harus tetap berada di Padang karena harus menjaga Adeeva dan putranya.


Sedangkan segala urusan perusahaan yang ada di Bali diserahkan Alex pada sekretaris Daffa.


Saat mereka tengah asyik menikmati makan malam, ponsel Ainun pun berdering pertanda panggilan masuk dari Sherin.


Seketika wajah Ainun berubah pucat melihat panggilan masuk dari wanita yang selalu berada di samping Frans.


Alex menautkan kedua alisnya melihat reaksi Ainun, dia melirik ke layar ponsel yang kini di tangan Ainun. Dia melihat nama Sherin tertera jelas di layar ponsel Ainun.


"Siapa Sherin?" lirih Alex bertanya-tanya di dalam hati.


Ainun menekan tombol silent dan membiarkan panggilan itu, dia meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Alex heran.


"Panggilan tidak penting," jawab Ainun dengan nada suara bergetar.


Hal ini membuat Alex semakin penasaran.


Tak berapa lama setelah itu, nomor tersebut kembali menghubungi Ainun.


Kali ini Alex merebut ponsel itu, lalu menekan tombol hijau.


"Hei, Ainun. Kamu mau kabur dari Frans? Kamu cuma dapat izin bekerja selama 3 hari. Ini sudah hari keempat, kenapa kamu tidak datang ke kafe?" bentak Sherin dengan nada kesal.


"Siapa kau?" tanya Alex.


Sherin terdiam mendengar suara seseorang pria yang mengangkat panggilannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2