Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 33


__ADS_3

Dia melihat aksinya malam itu di dalam rekaman video tersebut. Hanya saja di dalam rekaman itu wajah si wanita di blur-kan sehingga Daffa tak dapat mengenali wajah wanita yang sudah disakitinya.


"Siapa yang mengirim video ini?" tanya Daffa pada sang asisten pribadi.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu," selidiki sekarang juga! Pastikan siapa dalang di balik ini semua," perintah Daffa pada sang asisten.


"Ba-baik, Tuan." Sang asisten pun mengambil tablet yang ada di tangan bos-nya.


Dia mulai mengotak-atik pesan yang baru saja dikirim oleh seseorang.


Dia mulai melacak identitas pengirim video tersebut, dengan kelihaiannya sang asisten pribadi dapat menemukan identitas pengirim video tersebut.


Dia menyodorkan identitas pengirim video tersebut pada Daffa.


"Ini pengirim video tersebut, Tuan." Tak butuh waktu lama dia sudah mendapatkan informasinya.


Daffa mengambil tablet itu, lalu memperhatikan sosok yang ada di tablet tersebut.


"Siapa pria ini? Aku tak mengenalinya," ujar Daffa kembali memberikan tablet itu pada sang asisten pribadi.


"Pasti ada dalang di belakang pria ini, Tuan," ujar asisten pribadi Daffa.


"Cari tahu secepatnya, sekaligus cari tahu wanita yang telah menjadi korban pada malam itu," ujar Daffa.


Daffa pun berdiri lalu meninggalkan asistennya begitu saja.


Sang asisten pribadi hanya bisa menghela napas panjang, setelah itu dia pun meninggalkan kantin rumah sakit itu untuk melaksanakan tugas yang baru saja diberi oleh bos-nya.


Saat Daffa masuk ke dalam ruang rawat Adeeva, dia melihat wanita yang ditolongnya itu tengah terlelap.


Daffa memperhatikan wajah cantik dan anggun itu, dia dapat merasakan kelelahan si wanita.


Paras cantik dan anggun itu terlihat menyimpan masalah.


Lama Daffa memperhatikan paras Adeeva, hingga akhirnya kini matanya tertuju pada perut Adeeva yang masih datar.


"Wanita ini tengah mengandung, lalu di mana suaminya? Apa jangan-jangan suaminya pria tidak baik, lalu dia kabur menyelamatkan diri dari suaminya," gumam Daffa menerka-nerka.


Setelah puas memandangi Adeeva, Daffa pun memilih untuk menunggu Adeeva di sofa yang tersedia di ruangan itu.


Hampir setengah hari Daffa menunggui Adeeva, hingga tanpa disadarinya, kini tubuhnya terasa lelah.


Dia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa tempat dia duduk sekadar untuk meluruskan pinggangnya.


Niat hati hanya sekadar meluruskan pinggang, tapi ujung-ujungnya Daffa pun terlelap karena lelah.


Saat sore, Adeeva terbangun dari tidurnya, dia merasa ingin buang air kecil. Dia pun mencoba turun dari tempat tidur.


Perlahan dia menurunkan kakinya sambil bertumpu ke tiang infus.

__ADS_1


Bruukk.


Kaki Adeeva yang masih lemah membuat dia terjatuh ke lantai. Daffa kaget mendengar Adeeva yang terjatuh, dia langsung bangun dan melangkah menghampiri Adeeva.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Daffa khawatir.


Tanpa pikir panjang Daffa mengangkat tubuh Adeeva, dan kembali membaringkan tubuh Adeeva di atas kasur.


Adeeva memandangi paras tampan yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, entah mengapa jantungnya kini berdebar begitu kencang.


Ada rasa yang dirinya tak mengerti perasaan itu.


"Kenapa kamu bisa jatuh?" tanya Daffa membuyarkan lamunan Adeeva.


"Mhm, a-aku i-ingin ke kamar mandi," jawab Adeeva.


"Kenapa kamu tak memanggilku," ujar Daffa kesal.


Dia merasa keberadaannya di sana sama sekali tak dianggap oleh Adeeva.


"Mhm, a-aku ti-tidak mau mengganggu tidurmu," lirih Adeeva.


"Dan sekarang tidurku sudah kamu ganggu," ujar Daffa lagi ketus.


"Ma-maaf," lirih Adeeva.


"Jika sudah panggil aku," ujar Daffa dengan nada datar.


Pria itu keluar lalu menutup pintu kamar mandi, dia membiarkan Adeeva menyelesaikan hajatnya.


Setelah selesai, Adeeva berusaha berjalan dengan seluruh kekuatannya sembari bertumpu pada dinding kamar mandi, dia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Daffa dengan setia menunggunya.


Seketika Adeeva teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu, apa yang dilakukan pria yang baru dikenalnya ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Axel, suaminya.


Adeeva termangu mengingat kenangannya bersama sang suami, tiba-tiba dia menangis.


Daffa menautkan kedua alisnya heran melihat Adeeva yang menangis.


“Kamu kenapa nangis?” tanya Daffa penasaran.


“Mhm, tidak apa-apa. Aku hanya,--“ Adeeva tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Dia menyeka air matanya yang kini telah membasahi pipinya.


“Ini semua gara-gara pria bej*t yang tidak tahu diri itu, andai saja dia tak menanamkan benihnya di rahimku, aku pasti bisa hidup bahagia dengan Axel, pria yang kini telah menjadi suamiku, aku baru saja merasa bahagia bersamanya tapi kenyataan ini membuat aku harus berpisah dengannya,” gumam Adeeva di dalam hati.


“Sudahlah, jika masalahmu terlalu berat lupakan saja, mulailah jalani hidup yang baru,” ujar Daffa sok bijak.


2 hari telah berlalu, Adeeva pun mulai pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

__ADS_1


Hari ini, Adeeva sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.


“Ke mana aku akan mengantarmu?” tanya Daffa yang masih setia menemani Adeeva di rumah sakit itu.


“Mhm, aku tidak tahu harus ke mana, saat ini aku tak memiliki tempat tinggal,” jawab Adeeva jujur.


Daffa mulai bingung, dia sendiri juga tidak tahu mau dibawa ke mana wanita yang ditolongnya itu.


Dia tidak mungkin membawa Adeeva pulang ke rumahnya.


“Tuan,” lirih Adeeva.


Adeeva memegangi lengan Daffa.


“Aku mohon bawa aku ke tempat yang menurut Tuan aman, aku mau jadi pembantu di rumah tuan,” ujar Adeeva memohon pada Daffa.


“Izinkan aku bekerja di rumah, Tuan,” rengek Adeeva.


Daffa terdiam mendengar permohonan wanita itu, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali mengabulkan permintaan si wanita.


“Baiklah, tapi kamu harus bekerja di rumahku,” ujar Daffa tegas.


“Terima kasih, Tuan.” Adeeva bersyukur masih ada yang berbaik hati padanya.


Adeeva mengembangkan senyumannya sebagai rasa syukur atas kebaikan Daffa.


Adeeva siap melakukan apa pun agar dia dan anak di dalam janinnya bisa hidup cukup.


Apalagi Adeeva juga harus mempersiapkan biaya melahirkan karena saat melahirkan nanti.


Akhirnya Adeeva dan Daffa pun keluar dari rumah sakit, Daffa membawa Adeeva ke rumahnya.


Rencananya Adeeva ingin dijadikan pembantu di rumah besar miliknya.


30 menit telah berlalu, Adeeva dan Daffa pun sampai di kediaman Daffa.


Rumah Daffa dua kali lipat lebih besar dari rumah Axel, Adeeva menatap kagum rumah megah itu. Rumah megah bercat putih bersih mencerminkan kerapian dan kebersihan yang ada di dalamnya.


“Ayo, masuk,” ajak Daffa.


Pria tampan itu pun membawa Adeeva masuk ke dalam rumah.


Saat Adeeva dan Daffa baru saja masuk ke dalam rumah itu, terdengar suara seorang wanita paruh baya.


“Daffa,” pekiknya ruang berjumpa dengan putranya.


“Apa? Mami di sini?” lirih Daffa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2