Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 35


__ADS_3

"Apa maksudmu dengan surat ini?" tanya Adeeva.


Daffa tersenyum sinis.


"Di dunia ini tidak ada yang gratis, untuk membahagiakan wanita yang aku sayangi, aku terpaksa harus melakukan ini," ujar Daffa.


"Tapi, kamu tahu kondisiku saat ini," bantah Adeeva.


"Maka dari itu, jika kamu mengikuti keinginanku, maka kamu akan melahirkan anakmu dengan selamat. Aku juga akan membiayai kebutuhan kalian selama kontrak pernikahan ini berlangsung," ujar Daffa.


"Ini tidak mungkin, aku masih sah istri dari seorang pria. Tidak mungkin aku menikah denganmu," bantah Adeeva lagi.


"Apa?" Daffa terdiam.


Dia tampak berpikir. Dia sudah berjanji pada maminya, dan tidak mungkin dia membatalkan rencananya.


"Baiklah, kalau begitu kamu harus pura-pura menjadi istriku demi mami, aku tidak bisa membuat wanita yang kusayangi kecewa berulang kali," ujar Daffa mengambil keputusan.


Adeeva masih diam, saat ini dia tidak memiliki jalan lain selain menerima tawaran dari Daffa. Jika dia menolak, dia akan hidup Luntang Lantung di tempat yang masih sangat asing baginya.


"Baiklah," lirih Adeeva setuju.


****


Di kediaman Rasyid.


Keluarga Axel kini tengah berkumpul di ruang keluarga.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Axel?" bentak Rasyid pada putranya.


Rasyid sangat marah pada putranya karena sudah 3 hari menantunya tidak pulang ke rumah.


Gita menatap putranya dengan sendu, dia tahu saat ini hati putranya sangat terluka dan kecewa.


"Mhm, aku bertengkar dengannya, Pa." Axel terpaksa berbohong.


"Lalu? Kamu mengusirnya?" tanya Rasyid memarahi putranya.


"I-iya," lirih Axel menundukkan kepalanya.


"Ke mana kita harus mencarinya, keluarga Adeeva terus bertanya pada papa bagaimana keadaan Adeeva di sini, apa yang harus papa jawab?" tanya Rasyid.


Rasyid terus menyalahkan putranya karena dia sama sekali tidak mengetahui kebenarannya.


"Axel akan berusaha mencari Adeeva, Pa," ujar Axel.


Hanya itu yang dapat dikatakannya untuk menahan emosi papanya.


Rasyid yang tadi berdiri, kini menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


Gita langsung mendekati sang suami, dia mengelus pundak sang suami berusaha menenangkan sang suami yang kini tersulut emosi.


"Deev, ke mana lagi aku harus mencarimu?" gumam Axel di dalam hati.


Axel telah berusaha mencari Adeeva di seluruh sudut kota Padang, bahkan dia juga sudah meminta orang untuk mencari istrinya di seluruh Sumatra Barat.


Berita ini memang belum diketahui oleh ayah dan ibu Adeeva, karena mereka mengira Adeeva baik-baik saja berada di rumah mertuanya.


Axel berdiri, dia keluar dari rumah. Dia langsung melangkah masuk ke dalam mobil, kali ini dia tidak tahu harus ke mana, yang ada di dalam benaknya saat ini keluar rumah untuk kembali mencari Adeeva.


Axel terus melajukan mobilnya tanpa arah, dia tak lagi fokus melajukan mobilnya hingga tanpa disadarinya dia pun menabrak pembatas jalan yang tepat masuk ke dalam sungai yang dalam.


Pria tampan yang tengah gundah itu baru tersadar dirinya mengalami kecelakaan, dia berusaha membuka pintu mobilnya yang kini mulai tenggelam, dengan susah. payah akhirnya dia bisa keluar dari mobilnya.


Baru saja dia terlepas dari mobil, Axel merasa kepalanya berat, matanya berkunang-kunang hingga akhirnya dia pun tak sadarkan diri.

__ADS_1


Ririn tengah duduk di pinggir sungai sembari memikirkan jalan yang harus dijalaninya setelah tak ada lagi pertahanan hidupnya.


Di saat melamun dia melihat mobil yang masuk ke dalam sungai tempat dirinya melamun.


Banyak orang yang melihat kejadian itu, tapi tak seorang pun yang berusaha menolong pengemudi atau penumpang di mobil itu.


Mereka hanya memperhatikan mobil itu terus tenggelam, sesaat Ririn melihat tubuh seseorang mengambang di sungai itu, sungai itu sangat dalam tapi arusnya tak terlalu deras.


Melihat tubuh seseorang yang mengambang itu, dia tak pikir panjang. Ririn langsung menceburkan dirinya ke dalam sungai itu.


Sebagai seorang anak yang tinggal di pinggir sungai sewaktu di desa, Ririn sangat lihai dalam hal berenang, jadi dia sama sekali tidak takut tenggelam.


Kelihaiannya di dalam air memang tak diragukan lagi. Gadis itu pun langsung menghampiri tubuh pemuda yang mengambang, lalu dia pun membawa tubuh Axel naik ke daratan.


Sesampai di darat beberapa orang membantu Ririn mengangkat tubuh Axel ke rumah kost Ririn.


Di rumah kost tersebut seorang pria membantu mengganti pakaian Axel. Mereka tidak berani membawa Axel tinggal di rumah mereka karena takut menjadi saksi dalam kecelakaan itu.


Sementara itu Ririn mau membantu pria yang tak dikenalinya itu karena teringat dengan kebaikan Adeeva padanya.


Dalam menolong kita tidak perlu memilih siapa yang kita tolong karena setiap kali menolong yakinlah bahwa Allah akan menolong kita juga.


Prinsip inilah yang kini dipegang oleh Ririn, kebaikan Adeeva telah menyadarkan dirinya dari sifat sombong dan angkuh.


Axel masih tertidur, hingga malam semakin larut.


Pria tampan itu terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul 2 malam.


Dia membuka matanya perlahan, dia mencoba mengenali keadaan di sekelilingnya sembari mengingat apa yang telah terjadi


Saat memperhatikan ke sekelilingnya, Axel melihat seorang wanita yang terbaring di atas tikar rumput dengan diselimuti sebuah kain panjang untuk menghilangkan rasa dinginnya malam.


"Siapa wanita itu?" gumam Axel.


"Di mana aku saat ini?" gumam Axel dia terus menebak-nebak jawaban dari pertanyaannya sehingga akhirnya dia teringat pada kecelakaan tunggal yang dialaminya.


"Astaghfirullah," lirih Axel.


Axel hendak bangun, dan berusaha duduk. Di saat itulah Ririn terbangun.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Ririn langsung menghampiri Axel.


Dia pun membantu Axel yang hendak duduk.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Axel memastikan ingatannya.


"Mhm, aku menemukanmu di sungai, beberapa orang membantuku membawamu ke sini, maaf aku tidak membawamu ke rumah sakit karena,--" Ririn menggantung ucapannya.


Dia tidak bisa memberitahu pria yang ditolongnya itu bahwa dia tidak memiliki uang.


"Oh, terima kasih," ucap Axel.


"Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Ririn pada Axel.


"Mhm, iya." Axel mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ririn pun membantu Axel untuk melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamar kostnya itu.


Saat di kamar mandi, Axel tak sengaja melihat sebuah kalung yang tergantung di kamar mandi itu.


Dia merasa sangat mengenali kalung yang tergantung di sana, tapi dia tak mungkin langsung mempertanyakan perihal kalung itu pada wanita yang membantunya.


Setelah melepas hajatnya, Axel keluar dari kamar mandi.


"Istirahatlah kembali, mudah-mudahan besok pagi kamu sudah pulih," ujar Ririn.

__ADS_1


Dia mempersilakan Axel untuk berbaring lagi di kasur santai miliknya.


"Maaf, aku hanya bisa memberi pelayanan ini padamu," lirih Ririn.


Axel memang tidak mengenali Ririn, begitu juga Ririn dia tidak mengenali Axel yang merupakan pemilik swalayan tempat dulu dia bekerja.


Axel mengangguk, lalu dia kembali berbaring di kasur itu.


Sedangkan Ririn pun kembali berbaring di tikar rumput tempat dirinya tadi tidur.


Semalaman itu, Axel tidak bisa tertidur. Di hatinya masih bertanya-tanya akan kalung yang ada di kamar mandi.


"Haruskah aku bertanya padanya tentang kalung itu?" gumam Axel di dalam hati.


Keesokan harinya.


Axel sudah merasa sehat, dia berencana untuk pergi dari kost wanita yang telah membantunya itu.


Axel melihat dengan jelas kesulitan yang dialami oleh si wanita, dia menyadari gadis yang telah menolongnya itu saat ini tengah kesulitan ekonomi karena saat pagi datang, dia hanya bisa menawari Axel secangkir teh.


Dia tidak ingin si wanita merasa terbebani dengan keberadaan dirinya di rumah kost itu.


"Kamu yakin akan pulang?" tanya Ririn pada Axel.


"Iya, aku akan datang lagi ke sini. Maaf, aku sudah merepotkanmu," lirih Axel.


Axel pun keluar dari rumah kost Ririn. Tak berapa lama dirinya berdiri di luar rumah kost sebuah taksi pun melintas di depannya.


Tak ingin melewati kesempatan itu, Axel langsung menghambat taksi itu dan mintanya mengantarkan dirinya pulang.


Saat sore harinya, Axel menyuruh Damar untuk mengurus mobilnya yang tenggelam di sungai.


Sembari Damar mengurus mobilnya, Axel pun mendatangi rumah kost wanita yang telah membantunya.


Dia melihat Ririn tengah duduk melamun di sebuah kursi plastik yang ada di depan rumah kost-nya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Axel dan ikut duduk di samping Ririn.


"Kau?" lirih Ririn kaget.


Ririn tak percaya saat melihat si pria tampan yang ditolongnya itu datang dengan penampilan yang sangat sempurna.


"Apa yang tengah kau pikirkan?" tanya Axel lagi.


"Mhm, tidak memikirkan apa-apa," jawab Ririn merasa malu.


"Maaf tadi pagi aku harus segera pulang karena aku takut keluargaku mengkhawatirkan keadaanku," ujar Axel memulai pembicaraan.


"Ah, tidak apa-apa," ujar Ririn.


"Kenalkan, aku Axel," ujar Axel sembari mengulurkan tangannya pada Ririn.


"Ririn," lirih Ririn menyambut tangan Axel yang menggantung di udara.


Mereka pun bercerita sejenak saling mengenal satu sama lain.


"Oh ya. Ada satu hal yang ingi aku tanyakan padamu," lirih Axel yang tak dapat menahan diri untuk menanyakan perihal kalung yang dilihatnya saat berada di kamar mandi.


"Apa?" tanya Ririn menautkan kedua alisnya.


"Saat di kamar mandi, aku melihat sebuah kalung. Di mana kau membelinya?" tanya Axel.


Ririn terdiam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2