Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 70


__ADS_3

Daffa mempercepat langkahnya, dia melihat seorang wanita yang kini tengah tertatih melangkah menyusuri trotoar itu.


"Deev," panggil Daffa pada sang wanita yang dilihatnya.


Si wanita masih saja berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari Daffa.


Daffa pun mempercepat langkahnya.


"Deev," panggil Daffa lagi.


Melihat si wanita tak menghiraukannya, Daffa pun menarik tangan si wanita lalu dia pun langsung memeluk tubuh wanita itu.


"Aku merindukanmu," lirih Daffa.


"Apa yang kau lakukan?" bentak si wanita sembari mendorong tubuh kekar Daffa.


Daffa terhuyung ke belakang, dia kaget melihat sosok wanita hamil yang baru saja dipeluknya bukanlah Adeeva.


"Kau jangan kurang ajar, ya," bentak wanita itu lagi.


"Eh, maaf, Kak. Saya kira tadi,--" Daffa tidak tahu harus berbicara apa.


"Dasar pria br*ngs*k!" umpat si wanita lagi, lalu wanita itu pun berlalu meninggalkan Daffa yang terlihat frustasi.


Dia merasa sangat jelas melihat Adeeva yang sedang berjalan di trotoar itu, tapi dia tak menyangka wanita yang dilihatnya itu bukanlah Adeeva.


Dari kejauhan Adeeva bersembunyi di sebuah gang, saat dia melihat mobil Daffa berhenti, dia bergegas bersembunyi agar Daffa tidak dapat menemukannya.


"Arrrgghhh," teriak Daffa.


Dia menarik rambutnya frustasi, dia tak lagi peduli dengan beberapa pasang mata yang melihatnya.


"Maafkan aku, Daffa. Aku tidak bisa hidup menahan rasa cemburu melihatmu berbagi kasih dengan wanita lain, apalagi wanita itu adalah sahabatku sendiri," gumam Adeeva menatap iba pada pria yang sangat dicintainya.


Daffa pun melangkah kembali ke mobil yang masih terparkir di pinggir jalan.


Alex sudah berdiri di samping mobil, dia dapat melihat bos-nya itu tengah frustasi karena wanita yang dikiranya Adeeva merupakan wanita lain.


Alex membukakan pintu mobil untuk Daffa, pria tampan itu pun masuk ke dalam mobil.


Dia hanya diam, begitu juga dengan Alex. Dia hanya memberi kode pada sang sopir untuk melajukan mobil meninggalkan tempat itu.


Adeeva keluar dari persembunyiannya setelah memastikan mobil Daffa telah meninggalkan tempat itu.


Adeeva pun melangkah lebih cepat lagi, dia takut Daffa kembali dan menemukan dirinya.


Adeeva merasa bersyukur saat itu dia cepat mengetahui mobil yang melintas adalah mobil milik Daffa.


Sesampai di rumah kost-nya, Adeeva langsung membersihkan diri. Setelah itu dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, tak butuh waktu lama Adeeva pun terlelap.

__ADS_1


Adeeva terbangun saat mendengar suara azan maghrib berkumandang.


Dia membuka matanya perlahan, lalu mengusap wajahnya.


"Astaghfirullah, aku ketiduran," lirih Adeeva.


Wanita itu pun bangkit dan turun dari tempat tidur, dia melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu, dia pun bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat maghrib.


Setelah selesai shalat maghrib Adeeva merasa perutnya sangat lapar, dia baru sadar bahwa dia lupa memasak nasi sore ini, akhirnya dia terpaksa menahan rasa laparnya hingga nasi masak.


Adeeva duduk termenung menunggu nasi masak, dia teringat akan masa lalunya.


7 bulan telah berlalu, 2 bulan lagi dia akan melahirkan bayi yang dia sendiri tidak tahu anak siapa.


Dia mengingat orang tuanya yang sudah tega memaksa dirinya menikah dengan Axel.


Adeeva meneteskan air matanya, dia merasa kasihan pada Axel yang menurutnya saat ini Axel pasti sangat membenci dirinya.


Axel merupakan pria baik yang hadir dalam hidup Adeeva, tapi sayang Adeeva tidak bisa jatuh cinta padanya.


Ingatan Adeeva pun kini tertuju pada pria baik lainnya yang hadir dalam hidupnya, entah mengapa dengan mudah hati Adeeva tertarik pada pria itu.


Adeeva merasa bahwa dirinya dan Daffa memiliki suatu ikatan yang mereka sendiri tak mengerti dengan perasaan yang mereka rasakan.


Tanpa disadarinya, kini Adeeva mulai terisak. Dia menangisi nasib yang harus dijalaninya saat ini.


Dia merasa kasihan pada dirinya sendiri, di usianya yang masih terbilang muda, Adeeva harus berjuang seorang diri tanpa ada yang peduli padanya.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Adeeva bergegas menghapus air mata yang membasahi pipinya.


Dia bergegas membuka pintu. Santi sudah berdiri di depan pintu itu.


"Eh, kak Santi," lirih Adeeva dengan suaranya yang masih serak karena baru menangis.


"Deeva, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Santi langsung.


Santi dan keluarga sempat mendengar isakan Adeeva, makanya dia langsung menghampiri Adeeva, mereka takut terjadi hal buruk pada Adeeva.


"Mhm, tidak apa-apa, Kak. Aku hanya,--" belum sempat Adeeva bercerita kini hatinya kembali bersedih sehingga dia tak dapat menahan tangisnya.


Santi langsung merangkul tubuh Adeeva, lalu dia membawa Adeeva duduk di sebuah kursi yang ada di rumah kost itu.


Dia membiarkan Adeeva meluapkan rasa sedih yang ada di hatinya.


Santi membelai lembut punggung Adeeva.


"Setiap insan yang hidup di dunia ini pasti memiliki masalah, itu pertanda Tuhan masih sayang pada kita," nasehat Santi pada Adeeva.

__ADS_1


Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Santi, karena Santi sendiri tidak tahu masalah yang dihadapi oleh Adeeva.


Adeeva mulai mengusap air matanya yang telah membasahi pipinya.


"Maafkan aku, Kak. Suara tangisku sudah mengganggu kakak dan keluarga," lirih Adeeva merasa bersalah.


"Tidak, Deeva. Kamu tidak menggangu kami, kami hanya khawatir dengan keadaanmu," ujar Santi bijak.


"Sebelumnya kakak minta maaf, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Santi tidak bisa menahan diri untuk mempertanyakan masalah Adeeva sebenarnya.


Dia penasaran dengan kehidupan sulit yang dihadapi oleh Adeeva.


Adeeva menundukkan kepalanya, saat ini dia tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.


"Maaf, Kak. Aku belum bisa menceritakan masalahmu," lirih Adeeva.


Santi tersenyum.


"Tidak apa-apa, Deeva. Jika kamu memang belum bisa bercerita, kakak bisa maklum, tapi jika kamu memang tidak sanggup memikul beban itu, kamu bisa berbagi dengan kakak," ujar Santi dengan lapang dada.


Walaupun Santi kecewa, tapi dia tidak bisa memaksa Santi untuk bercerita tentang masalah pribadinya.


****


Axel kini telah berada di rumahnya, kini dia berada di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.


Axel kini hanya diam membisu, karena dia sudah tahu apa yang akan dibahas oleh kedua orang tuanya.


"Axel," lirih Rasyid memulai pembicaraan.


Axel mengangkat wajahnya dan menatap papanya.


"Papa dan mama sudah mengambil keputusan," ujar Rasyid.


Rasyid menjeda ucapannya sambil memperhatikan reaksi Axel.


Axel hanya menghela napasnya panjang. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh papanya.


"Mama dan papa ingin kamu menikah dengan putri teman papa yang bernama Anton itu, papa perhatikan dia terlihat gadis yang baik," ujar Rasyid menyampaikan keinginannya pada sang putra.


"Pa, jika memang dia gadis yang baik. Kenapa dia memfitnah aku telah berbuat hina terhadapnya?" bantah Axel.


"Mungkin dia memiliki alasan tersendiri," jawab Gita mendukung perjodohan itu.


Axel menatap dalam ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu, kali ini dia tidak tahu harus berkata apa.


"Walau bagaimanapun kamu harus menikah dengan gadis itu," ujar Rasyid tegas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2