
Di saat genting seperti ini, Daffa pun terpaksa melupakan pencariannya. Dia akan menyuruh orang orangnya untuk mencari Adeeva nanti.
Daffa melajukan mobilnya menuju kantor, dia dan Alex telah berjanji akan bertemu di kantor. Dia pun meninggalkan tempat itu.
Di saat Daffa baru melajukan mobilnya, Adeeva tak sengaja melihat mobil yang sangat dikenalnya.
“Itu mobil Daffa? Apakah dia sedang mencariku?” gumam Adeeva.
“Maafkan aku, Daffa. Aku tidak bisa tersiksa melihat kamu bersama wanita lain, untuk itu aku lebih memilih pergi dari kehidupanmu, semoga kamu bahagia bersamanya,” gumam Adeeva lagi.
Adeeva kembali melanjutkan langkahnya, dia tidak tahu harus ke mana. Dia merasa lapar setelah berjalan beberapa langkah keluar dari komplek perumahan Daffa.
Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya mencari penjual makanan yang dapat mengisi perutnya yang kosong.
Adeeva membuka dompet yang tadi sempat dibawanya, di dalam dompet itu masih ada beberapa helai lembaran merah.
Dia berencana akan mencari sebuah rumah kontrakan bulanan sembari mencari pekerjaan, apa pun itu pekerjaannya akan dilakukan Adeeva untuk bertahan hidup serta dia juga harus menabung untuk biaya persalinannya nanti.
Setelah melihat beberapa gerobak makanan, akhirnya Adeeva menjatuhkan pilihan untuk mengisi perutnya dengan nasi goreng. Adeeva berhenti di gerobak penjual nasi goreng itu. Lalu dia memesan sepiring nasi goreng berharap akan dapat mengganjal perutnya hingga siang nanti.
“Kak, saya beli nasi gorengnya satu, ya,” ujar Adeeva.
“Iya, Kak. Tunggu sebentar, ya,” ujar si penjual nasi goreng.
Adeeva pun duduk di sebuah kursi yang ada di sana, tak berapa lama nasi goreng yang dipesan Adeeva pun datang. Dia langsung menyantap nasi goreng itu.
“Dari mana, Kak?” tanya si penjual nasi goreng saat Adeeva.
"Mhm, aku baru tinggal di sini," jawab Adeeva.
Adeeva tidak tahu harus menjawab apa.
"Oh, mau ke mana, Kak?" tanya si penjual lagi.
Si penjual terlihat penasaran dengan keberadaan Adeeva di lingkungannya.
“Kebetulan nih, apa sekalian saja aku tanya kontrakan sama penjual ini? Mana tahu dia punya kenalan yang ngontrakin rumah,” gumam Adeeva di dalam hati.
__ADS_1
“Mhm, saya mau cari kontrakan, Kak. Apa kakak ada informasi tentang rumah kontrakan?” tanya Adeeva.
“Kakaknya cari kontrakan, kebetulan rumah kami ada paviliun yang kosong, gimana kakak ngontrak di sana saja?” tawar si penjual.
“Wah, kebetulan sekali, kontrakannya jauh enggak kak dari sini?” tanya Adeeva.
“Lumayan sih, Kak,” jawab si penjual nasi goreng itu.
“Mhm, lalu bagaimana caranya saya bisa ke sana, Kak?” tanya Adeeva.
Dia bersyukur sekali bisa mendapatkan kontrakan sementara, paling tidak hari ini dia tidak perlu mencari tempat tidur yang aman dari panas dan hujan.
“Kalau kakak mau, kakak bisa tunggu adik saya datang. Nanti kalau dia sudah datang, biar saya yang antarkan kakak,” ujar si penjual.
“Oh, begitu. Terima kasih ya, Kak,” ucap Adeeva.
Sembari menghabiskan makanannya, Adeeva dan penjual nasi goreng asyik bercerita hingga akhirnya si adik penjual nasi goreng pun datang.
“Dik, kamu jaga warung dulu, ya. Kakak mau pulang sebentar,” ujar si penjual pada adiknya.
“Ayo, Kak,” ajak si penjual nasi goreng itu.
Dia berdiri lalu melangkah menuju sepeda motor yang terparkir di samping warung kaki lima miliknya. Wanita itu berumur sekitar 35 tahunan, sudah berumur tapi belum terlalu tua.
Si penjual nasi goreng itu menyalakan sepeda motornya, lalu meminta Adeeva naik ke atas sepeda motor itu. Adeeva pun menaiki sepeda motor tersebut. Si penjual nasi goreng mulai melajukan sepeda motornya meninggalkan warung kaki lima miliknya.
Tak berapa lama setelah itu mereka pun sampai di sebuah rumah setengah permanen. Rumah itu tebangun dari setengah batu, dan setengahnya lagi papan. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi pekarangannya yang luas membuat suasana menjadi terasa nyaman.
Seketika Adeeva langsung suka dengan suasana rumah sederhana itu. Di samping bangunan rumah itu ada sebuah paviliun yang terlihat tidak digunakan.
“Ayo masuk, Kak,” ajak si penjual nasi goreng itu.
Wanita itu pun melangkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya lalu menunjukkan paviliun yang dimaksudkannya tadi.
“Dulu, kami tinggal sama kakek, dia tidak mau bergabung dnegan kami di rumah ini, jadi dia memilih tinggal di sini. Sejak kakek meninggal dunia, paviliun ini sama sekali tidak digunakan,” cerita si penjual nasi goreng itu sambil membuka pintu pavuliun itu.
Adeeva menganggukkan kepalanya pertanda dia suka dengan paviliun yang baru saja ditunjukkan oleh wanita itu.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam paviliun tersebut, Adeeva memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Dia merasa nyaman berada di sana.
Mereka pun duduk di sebuah ranjang kecil yang ada di sana.
“Kalau begitu, berapa harga sewanya, Kak?” tanya Adeeva pada si wanita.
“Tidak mahal, Kak. Cukup 200 ribu saja per bulan,” jawab si wanita.
“200 ribu satu bulan, lumayan murah juga untuk daerah sini, untunglah kalau begitu,” gumam Adeeva di dalam hati.
“Baiklah, Kak. Aku bayar langsung untuk bulan ini,” ujar Adeeva.
Adeeva mengambil 2 lembar uang merah yang ada di dompetnya.
“Paling tidak dalam satu bulan ini aku bisa bertahan tinggal di sini,” lirih Adeeva memberikan uang 200 ribu itu pada si wanita.
Wanita itu langsung menerima uangnya, dia sangat membutuhkan uang itu saat ini untuk membayar uang sekolah adiknya paling kecil. Dia bersyukur Allah mengirimkan Adeeva untuk membantu kesulitan hidupnya.
“Ya sudah, kalau begitu saya mau ke sekolah adik saya terlebih dahulu. Habis itu langsung ke warung nasi goreng, kakak bisa istirahat dulu di sini, kamar mandi juga sudah ada di belakang, Kak. Kalau butuh apa apa, kami biasanya pulang jualan setelah shalat dzuhur,” ujar wanita penjual nasi goreng itu.
“Baik, Kak. Mungkin saya mau istirahat dulu, di sini,” ujar Adeeva.
“Ya sudah, saya pergi dulu,” ujar wanita itu.
Setelah berpamitan, wanita si penjual nasi goreng itu langsung meninggalkan rumahnya, dia haruspergi ke sekolah adiknya untuk membayar uang sekolah adik bungsunya yang sebentar lagi akan mengikuti ujian semester.
****
Sementara itu di tempat, Daffa dan Alex telah berada di ruangan Daffa. Mereka duduk di sofa yang tersedia di sana.
Alex memberikan sebuah map coklat pada Daffa. Pria tampan itu meraih map yang disodorkan Alex padanya, perlahan dia membuka map itu, lalu membaca beberapa laporan yang di dapat oleh Alex mengenai wanita yang bernama Ainun.
Daffa menggelengkan kepalanya tak percaya dengan isi yang ada di dalam map itu.
“Dari mana kamu mendapatkan semua ini?” tanya Daffa pada Alex.
Bersambung…
__ADS_1