Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 121


__ADS_3

"Mana pemilik ponsel ini?" tanya Sherin akhirnya bicara.


"Dia sedang ke toilet," jawab Alex berbohong.


Ainun menatap Alex dengan jantung berdetak kencang, dia benar-benar ketakutan saat ini.


"Sampaikan padanya bahwa aku menelponnya," ujar Sherin hendak menutup panggilan tersebut.


"Sepenting apa sih pekerjaan Ainun di kafe, hingga kau harus menyuruhnya masuk kerja hari ini?" tanya Alex penasaran melihat wajah Ainun yang kini semakin pucat pasi.


"Itu bukan urusanmu," ujar Sherin.


"Mulai sekarang apa pun yang bersangkutan dengannya akan menjadi urusanku," ujar Alex dengan tegas.


Ainun membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alex.


"Siapa kau?" tanya Sherin.


"Siapa pun aku itu bukan urusanmu, mulai hari ini Ainun berhenti bekerja," ujar Alex dengan berani.


Ainun semakin takut, dia langsung meraih ponsel yang ada di tangan Alex.


"Ha-ha-lo," lirih Ainun gugup.


"Dari mana saja kamu?" bentak Sherin kesal.


"Maaf, Rin. Tadi aku ke toilet," jawab Ainun.


Alex dapat melihat raut wajah Ainun yang sangat ketakutan.


Dia mulai curiga dengan apa yang sebenarnya menjadi pekerjaan Ainun saat ini.


Selesai makan malam, Ainun meminta izin pamit pada Alex untuk berangkat ke Bali esok hari.


"Tidak bisakah, kau menunggu beberapa hari lagi?" tanya Alex.


"Tidak, aku harus masuk kerja besok jam 3 sore," jawab Ainun.


"Aku masih belum bisa berangkat ke Bali esok hari, karena aku masih memantau keadaan Adeeva di sini," ujar Alex terus membujuk Ainun agar dia mau mengundurkan keberangkatannya.


"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa, aku harus bekerja besok sore kalau tidak,--" Ainun menggantung ucapannya.


"Kalau tidak kenapa?" tanya Alex penasaran.


Ainun menoleh ke arah. adiknya.


Dia tidak mau sang adik kepikiran dengan hidup yang dijalaninya setelah terbongkarnya kebusukannya.


"Baiklah, aku akan coba menghubungi Tuan Daffa dan meminta pendapat darinya," ujar Alex.


Setelah itu mereka pun kembali ke kamar masing-masing.


Sedangkan Alex memberitahukan perihal ini pada Daffa.


Daffa juga menceritakan apa sebenarnya pekerjaan Ainun setelah dipecat oleh Hansel.

__ADS_1


"Tuan, bagaimana caranya aku bisa melepaskan Ainun dari cengkraman Frans?" tanya Alex pada bos-nya.


"Kenapa kamu mau membebaskan wanita itu dari Frans?" tanya Daffa.


Daffa ingin tahu apa alasan Alex ingin membantu Ainun, padahal Ainun sudah berbuat jahat pada Daffa dan Adeeva.


"Aku kasihan padanya, aku perhatikan dia telah menyesali perbuatannya," jawab Alex.


"Baiklah, biar aku yang bicara dengan Frans. Kamu tetap jaga Adeeva di sana, kemungkinan besok aku akan kembali ke Padang," ujar Daffa.


Daffa pun memutuskan panggilan tersebut.


Semalaman ini, Daffa tidur bersama maminya, wanita paruh baya itu ingin selalu berada di samping dirinya.


Keesokan harinya, mami Rossa terlihat lebih segar dan sehat.


Daffa menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi antara Daffa dan Adeeva, dia juga menceritakan Adeeva sudah melahirkan putranya.


Mendengar cerita dari putranya, Mami Rossa ingin ikut dengan Daffa ke Padang.


Dia ingin bertemu dengan Adeeva serta cucunya.


****


Sesampai di Padang Daffa langsung menemui Adeeva.


Dia juga langsung meminta Axel untuk datang ke rumah Adeeva.


Siang itu rumah sederhana yang ditempati Adeeva, ramai kedatangan tamu.


Adeeva menjamu mereka seadanya.


"Tidak perlu repot-repot, Kak," ujar Kyara di dapur membantu Adeeva menyiapkan minuman dan cemilan untuk semua orang yang ada di rumah itu.


"Enggak repot kok," sahut Adeeva.


Setelah itu mereka pun melangkah menuju ruang tamu di mana semua orang telah berkumpul di sana.


Mami Rossa kini tengah mengendong Baby Ghaffar yang sedang anteng, wanita paruh baya itu sangat bahagia bisa menimang cucunya dari sang putra.


Meskipun hasil tes DNA menyatakan bahwa baby Ghaffar bukan darah daging Daffa, tapi pria itu sangat yakin bahwa baby Ghaffar adalah putranya.


"Deev," panggil Axel.


Axel hendak mulai menyampaikan tujuan kedatangannya ke rumah itu pada Adeeva di depan semua orang.


Semua mata kini tertuju pada Axel.


"Silakan dibaca," ujar Axel memberikan sebuah map coklat pada istri pertamanya itu.


Adeeva meraih map itu sambil menautkan kedua alisnya heran.


"Apa ini?" lirih Adeeva.


Adeeva pun membuka map tersebut, lalu dia pun membaca isi surat itu.

__ADS_1


Di sana tertulis bahwa Axel kini menggugat cerai istri pertamanya itu.


"Apa maksudnya ini?" tanya Adeeva yang masih belum paham.


"Mulai hari ini aku ceraikan dirimu, dan setelah ini kita tidak ada hubungan apa-apa kecuali hubungan pertemanan," ujar Axel menceraikan istri pertamanya di hadapan Kyara dan semua orang yang ada di sana.


"Apa?" lirih Adeeva tak percaya.


Semua orang yang ada di sana sangat bahagia dengan perceraian yang terjadi antara Axel dan Adeeva, karena itu artinya Adeeva dan Daffa bisa hidup bahagia.


Begitu juga dengan Kyara, dia akan memiliki sang suami dengan utuh tanpa harus berbagi dengan Adeeva.


"Alhamdulillah," lirih Daffa dan Kyara bersamaan.


"Aku akan mencoba menjalani kehidupan baruku dengan Kyara, semoga saja kami bisa hidup bahagia," ujar Axel sembari meraih tangan istri keduanya.


"Xel, aku berterima kasih banyak padamu," lirih Daffa.


Dia tidak tahu harus berkata apa lagi pada sang sahabat.


****


Axel menyuruh Damar untuk menyelesaikan surat menyurat tentang perceraian dirinya dengan Adeeva agar Adeeva bisa menikah dengan Daffa tanpa adanya masa Iddah karena Axel sama sekali belum pernah menyentuh Adeeva selama mereka berstatus sebagai suami istri.


Usai semua urusan perceraian Axel dan Adeeva selesai, Daffa langsung mengajak Adeeva terbang ke Bali.


Dan dengan senang hat Axel dan Kyara pergi mengantar mereka ke Bandara.


Sebelum Adeeva dan Daffa masuk ke dalam bandara, Adeeva memeluk erat tubuh mantan suaminya itu.


"Terima kasih, Xel. Kamu adalah sahabat terbaik dalam hidupku," lirih Adeeva.


Axel membalas pelukan tersebut, dia berusaha menguatkan hatinya untuk mengikhlaskan Adeeva bahagia bersama sahabatnya.


"Maafkan atas semua kesalahanku," lirih Adeeva lagi.


Axel memeluk erat tubuh sang mantan istri, sebagai tanda perpisahan.


Setelah itu, mereka pun melangkah masuk ke dalam bandara, sedangkan Axel dan Kyara langsung pulang.


Di perjalanan pulang, entah mengapa Kyara merasa sangat pusing, kepalanya terasa berat, penglihatan bagai berputar semuanya.


Kyara memegang lengan Axel yang sedang memegang stir mobil.


"Bang," lirih Kyara berusaha memberitahukan apa yang kini dirasakannya.


Axel menoleh ke arah Kyara sejenak, lalu kembali fokus melajukan mobilnya.


Tiba-tiba tangan Kyara jatuh terkulai, Kyara kini mulai tak sadarkan diri.


"Kya?" lirih Axel cemas.


Dia pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu mengecek keadaan sang istri.


"Kya, apa yang terjadi?" tanya Axel cemas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2