Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 63


__ADS_3

Keesokan harinya, wanita penjual nasi goreng sudah bangun pagi-pagi sekali, dia mempersiapkan segala hal yang akan dijual nanti.


"Santi," panggil suaminya.


"Iya, Bang," sahut si wanita penjual nasi goreng.


Wanita yang bernama Santi itu pun menghampiri suaminya.


"Apakah kamu jadi menemani wanita itu ke kafe Andrew?" tanya si suami wanita penjual nasi goreng itu.


"Iya, Bang. Aku kasihan dengan Adeeva, apalagi dia saat ini tengah hamil, pasti dia butuh biaya untuk melahirkan," jawab Santi.


"Oh, ya udah kalau begitu. Hari ini aku tidak bisa mengantarkan Olivia. Jadi, kamu bantu Oliv dulu mengantarkan bahan-bahan jualan, ya," ujar suami Santi.


"Iya, Bang," sahut Santi.


Santi pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih terbengkalai.


Setelah memastikan sang suami menghabiskan sarapannya, Santi pun bersiap untuk mengantarkan Olivia ke warung kaki lima milik mereka.


Di rumah sederhana itu Santi tinggal bersama sang suami dan adik-adiknya.


Santi belum memiliki momongan, tapi hal ini tidak menjadi masalah bagi sang suami karena keberadaan adik-adik Santi di rumah itu sudah membuat rumah terasa ramai.


Santi merupakan seorang anak yatim piatu, kedua orang tuanya meninggalkan dua orang adik perempuan yang harus dibesarkannya.


Adik keduanya bernama Olivia yang kini sudah beranjak dewasa, dialah yang sering membantu Santi berjualan di warung kaki lima milik mereka.


Sedangkan adik bungsunya masih duduk di bangku kelas 5 SD. Santi dan Olivia kini berjuang berjualan untuk membiayai hidup mereka serta biaya pendidikan si bungsu.


Sementara itu suami Santi bekerja sebagai kuli bangunan, mereka tetap hidup rukun meskipun hidup dengan sangat sederhana.


Pada pukul 06.00, Santi dan Oliv sudah berangkat menuju warung mereka. Mereka sudah terbiasa melakukan hal ini setiap harinya, tak ada kata libur bagi mereka demi sesuap nasi.


"Oliv," ujar Santi


"Mhm," gumam Olivia sembari menyusun barang-barang di gerobak nasi gorengnya.


"Kamu yakin enggak apa-apa aku tinggal?" tanya Santi Pada adiknya.


"Iya, Kak. Aku enggak apa-apa kok jualan sendiri dulu," jawab Olivia.


Sejak kecil Olivia sudah terbiasa hidup bahu membahu bersama kakaknya.


"Ya sudah, Kakak pergi dulu, ya," ujar Santi berpamitan kepada sang adik


"Iya, kak," sahut Olivia.


Santi pun meninggalkan Olivia, gadis itu pun mulai memasak nasi goreng satu kuali besar, agar nanti dia tidak merasa repot di saat ada pelanggan datang.


Santi pun menaiki sepeda motornya lalu dia melajukan sepeda motornya kembali ke rumah.

__ADS_1


Sesampai di rumah, Santi melihat Adeeva, baru saja selesai menyapu paviliun tempat dia tinggal saat ini.


"Deeva," panggil Santi.


"Kamu jadi ikut denganku?" tanya Santi.


"Iya, Kak. Aku sangat berharap dengan pekerjaan itu, Kak," jawab Adeeva penuh harap.


"Ya sudah, kalau begit bersiaplah. Kita berangkat pagi ini, takutnya kalau siang temanku tak berada di kafe miliknya," ujar Santi.


"Baik, Kak. Aku ganti baju dulu, ya," sahut Adeeva.


"Iya," ujar Santi.


Saat dia sudah di rumah, suami dan adiknya si bungsu sudah tidak ada lagi di rumah.


Santi menunggu Adeeva di kursi yang ada di depan rumah mereka.


Tak berapa lama setelah itu, Santi dan Adeeva berangkat menuju cafe yang dimaksud oleh Santi kemarin.


Santi melajukan sepeda motor mereka meninggalkan rumah. Dia membawa Adeeva menuju kafe temannya, Andrew.


Dulu Andrew sempat mengajaknya bekerja di kafe miliknya, tapi Santi menolaknya karena uang yang didapatnya lebih banyak menjual nasi goreng dari pada bekerja sebagai karyawan di kafe itu.


Saat ini dia ingin mencoba peruntungan untuk Adeeva, agar wanita malang itu dapat bertahan hidup.


Tak beberapa menit perjalanan, mereka pun sampai di kafe yang dimaksud, Santi menghentikan sepeda motornya tepat di kafe itu, kafe tersebut memang belum buka.


Dia turun dari sepeda motor, lalu dia melangkah menghampiri seorang pria yang kini tengah asyik menyirami tanaman yang ada di depan kafe tersebut.


Pria itu langsung menghentikan pekerjaannya saat melihat sahabat lamanya datang.


Dia meletakkan tabung penyiram tanaman itu.


"Santi, apa kabar?" tanya Andrew ramah.


Santi dan Andrew sudah bertahun-tahun bersahabat, mereka merupakan teman satu sekolahan di masa lalu.


"Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?"" tanya Santi basa basi.


"Alah, beginilah," jawab Andrew.


"Tumben kamu datang menemuiku," ujar Andrew sembari mengajak Santi duduk di kursi yang ada di depan kafe.


"Hahaha, aku butuh bantuanmu," ujar Santi.


"Bantuan?" Andrew menautkan kedua alisnya.


"Iya," sahut Santi terus terang.


Santi pun memanggil Adeeva yang masih berdiri di samping sepeda motor.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Andrew penasaran sembari menatap ke arah wanita yang melangkah mendekati mereka.


"Duduklah," ujar Santi meminta Adeeva duduk tepat di sampingnya.


"Kenalkan, ini temanku," ujar Santi.


Adeeva melemparkan buah senyuman pada pria yang ada di hadapannya.


Andrew membalas senyuman tersebut.


"Temanku ini sedang butuh bantuanmu, makanya aku datang ke sini," ujar Santi


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Andrew lagi.


"Mhm, dia sedang membutuhkan pekerjaan, bisakah kamu memberinya pekerjaan," ujar Santi langsung menyampaikan tujuan kedatangannya pada Andrew.


"Oh," lirih Andrew.


Andrew mulai memperhatikan penampilan Adeeva dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Dia memang sedang hamil, tapi dia tinggal seorang diri, makanya dia butuh pekerjaan," ujar Santi.


Santi tahu saat ini Andrew tengah meragukan kinerja Adeeva yang tengah mengandung.


Santi berharap Andrew mau menerima Adeeva bekerja di kafe miliknya.


"Ya sudah kalau begitu, dia bisa mulai bekerja hari ini," ujar Andrew.


Andrew tidak bisa menolak permintaan Santi, karena Selama ini Santi selalu menjadi orang pertama yang ada di saat dia membutuhkan bantuan apa pun.


"Alhamdulillah, terima kasih, Ndrew. Kamu memang teman yang baik," ucap Santi senang.


"Bagaimana, kamu mau ikut aku kembali pulang?" tanya Santi pada Adeeva.


"Tidak usah, Kak. Biar aku di sini saja menunggu kafe ini buka," ujar Adeeva.


Adeeva sudah membayangkan betapa sulitnya dia nanti jika kembali bersama Santi.


"Ya udah, kalau begitu aku tinggal kamu di sini. Aku ke warung duluan, ya. Kasihan Olivia sendirian jualannya," ujar Santi.


Santi pun berpamitan pada Andrew dan Adeeva.


"Ayo, masuk," ajak Andrew pada Adeeva.setelah Santi meninggalkan mereka.


Di dalam kafe, Andrew menunjukkan beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Adeeva.


Andrew meminta Adeeva membersihkan ruangan kafe, dan meja-meja yang ada di sana.


Dengan senang hati Adeeva melakukan apa yang disuruh oleh Andrew.


Dari kejauhan Andrew memperhatikan gerak gerik Adeeva yang bekerja. Dia merasa kasihan melihat wanita itu masih tetap bersemangat melakukan pekerjaannya walaupun saat ini dia sudah merasa kewalahan dengan kandungannya yang semakin membesar.

__ADS_1


Tanpa disadarinya, mata Andrew mulai berkaca-kaca melihat Adeeva.


Bersambung...


__ADS_2