
"Axel!" seru Daffa dengan sangat bahagia.
Daffa dan Axel saling berpelukan, mereka melepas rindu beberapa tahun tidak pernah bertemu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Axel setelah melepaskan pelukan mereka.
"Alhamdulillah, aku baik seperti yang kamu lihat sekarang," jawab Daffa.
"Kamu terlihat semakin tampan dan mapan," ujar Axel memuji sahabatnya.
"Alhamdulillah, beginilah sekarang nasib seorang calon dokter yang berpindah profesi menjadi pengusaha," ujar Daffa tersenyum.
"Ayo, duduk," ajak Daffa.
Daffa mengajak Axel untuk duduk di sofa yang telah tersedia di ruangan itu, diikuti oleh Damar dan Alex yang mendampingi bos mereka.
Saat mereka bertemu, mereka tidak langsung membahas masalah kerja sama, tapi mereka kini asyik bernostalgia tentang cerita masa lalu mereka.
Alex dan Damar dengan setia mendengarkan cerita bos mereka.
"Lex, mungkin sudah waktunya kita makan siang," ujar Daffa pada asisten pribadinya.
Alex pun memberi kode pada pegawai hotel untuk menyediakan menu istimewa yang ada di sana.
Tak berapa lama pegawai hotel pun datang membawakan menu makan siang untuk mereka semua.
"Di sini kami juga menyediakan makanan khas minang, karena tidak sedikit pengunjung hotel ini berasal dari tanah minang," ujar Daffa sembari menunjukkan beberapa menu khas minang yang dihidangkan oleh pegawai hotel.
"Sepertinya makanan khas minang di sini lebih berkelas dari masakan minang yang ada di rumah makan Padang," timpal Axel.
Axel sengaja berkata seperti itu karena masa-masa kuliah dulu, mereka sering menyantap nasi bungkus dari rumah makan Padang.
Tawa dua sahabat lama yang baru berjumpa itu pun pecah mengingat kenangan manis di masa lalu.
"Ayo, kita makan siang terlebih dahulu," ajak Daffa setelah semua makanan sudah terhidang di atas meja.
AKhirnya mereka pun mulai menyantap menu makan siang yang telah terhidang di hadapan mereka.
Mereka semua menikmati makanan itu dengan lahap, tak hanya perut mereka saja yang terasa lapar, nostalgia mereka pun menjadi peningkat selera makan keduanya.
Daffa dan Axel terlihat makan leih banyak dari biasanya, Alex dan Damar hanya geleng-geleng kepala melihat mereka yang sangat menikmati makanan mereka.
__ADS_1
Setelah mereka selesai makan, dengan cekatan pegawai hotel kembali membersihkan tempat itu sehingga mereka bisa membahas rancangan kerja sama mereka dengan nyaman.
Daffa dan Axel berencana akan mendirikan sebuah hotel yang berlokasi strategis di kota Bali dan Padang secara bersamaan, yang mana hotel itu akan dilengkapi dengan fasilitas swalayan yang tersedia di sana.
Tak butuh waktu lama mereka berdua pun sepakat dengan kerja sama tersebut yang man Axel akan bertanggung jawab dengan proyek di Padang dan Daffa bertanggung jawab dengan proyek yang ada di Bali.
Mereka menanam modal fifty-fifty dalam proyek tersebut.
Kerja sama ini juga disebut dengan kerja sama persahabatan. Mereka saling percaya antara satu sama lain.
"Kamu akan menginap di sini hari ini, kan?" tanya Daffa pada Axel.
"Rencananya kami akan langsung kembali ke Padang hari ini juga," jawab Axel.
"Sungguh sayang sekali, jarang-jarang ke Bali kamu tak menginap," tawar Daffa.
"Setelah kerjasama ini berjalan dnegan lancar maka, aku akan sering datang ke sini," jawab Axel.
Hari ini Axel belum bisa berlibur karena pikirannya yang masih kacau memikirkan masalah yang disebabkan oleh wanita aneh yang kini ingin menikah dengannya.
"Baiklah, kalau begitu. Kapan pun kamu datang ke sini, jangan sungkan beritahu aku, kamu bisa bebas menginap di sini," ujar Daffa menawarkan.
"Tenang saja, aku akan datang dan menyusahkanmu," ujar Axel sambil tertawa.
Mereka pun tersenyum.
Hampir 3 jam mereka mengobrol dan membahas pekerjaan, hingga akhirnya Axel pun pamit untuk kembali ke Padang.
****
Hari ini pengunjung di kafe milik Andrew terlihat lebih ramai dari pada biasanya, sehingga Adeeva harus bekerja lebih ekstra dari pada biasanya.
Dia melakukan apa saja yang bisa dilakukannya, mulai mencuci piring hingga mengantarkan pesanan para pelanggan.
Pada pukul 15.30 pelanggan mulai berkurang, Adeeva pun memilih duduk sejenak di sebuah kursi yang tersedia di dapur.
"Apa kau lelah?" tanya Andrew tiba-tiba.
Pria itu merasa kasihan pada Adeeva yang memang terlihat sangat letih, apalagi terlihat dengan jelas keringatnya bercucuran dengan deras di wajah wanita itu.
Adeeva menoleh ke arah asal suara yang mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Eh, Pak Andrew. Lumayan, Pak," jawab Adeeva.
"Hari ini pelanggan datang lebih banyak dari pada hari biasanya, wajar kamu lelah," ujar Andrew.
"Setelah ini kamu boleh pulang, biar tugas membersihkan kafe karyawan shift malam saja," ujar Andrew memberi keringanan pada Adeeva.
Dia sudah tidak tega membiarkan Adeeva bekerja dalam kondisinya yang sedang hamil.
Ingin rasanya Andrew membantu Adeeva, tapi dia sama sekali tidak mengetahui latar belakang wanita itu sehingga dia hanya bisa memberi pekerjaan padanya.
"Baik, Pak. Terima kasih, tapi sebelum pulang saya boleh istirahat sebentar di sini kan, Pak?" tanya Adeeva.
"Tentu saja boleh," sahut Andrew sambil tersenyum.
Setelah itu Andrew pun meninggalkan Adeeva yang kini hampir terlelap sambil bersandar di kursi itu, karyawan yang lain membiarkan Adeeva beristirahat di sana, mereka juga kasihan dengan nasib Adeeva.
Yang mereka tahu saat ini, Adeeva berjuang seorang diri tanpa suami, mereka sama sekali tidak tahu permasalahan yang sebenarnya dijalani oleh Adeeva karena Adeeva sengaja menutup diri dari karyawan yang lain.
Pada pukul 16.05 Adeeva tersentak, dia terbangun dari tidurnya.
"Astaghfirullah, aku ketiduran," lirihnya.
"Iya, Mbak, saya mau bangunin tapi kasihan," ujar salah satu karyawan yang melintas di hadapan Adeeva.
"Hehe, mungkin terlalu lelah, jadinya ketiduran," ujar Adeeva malu.
"Biasa itu, Mbak. Namanya juga kita manusia, pasi ada masa lelahnya setelah bekerja," ujar si karyawan itu maklum.
Setelah itu Adeeva bersiap untuk pulang ke kost-nya. Adeeva memilih berjalan kaki karena dia harus berhemat sebelum gaji bekerja di kafe diterimanya.
Dengan susah payah dia terus melangkahkan kakinya, dia melawan rasa lelahnya agar bisa sampai lebih cepat.
Saat dia melangkah dia tidak sengaja melihat mobil yang tak asing baginya. Adeeva melihat dengan jelas di dalam mobil itu ada Alex, tapi dia tidak tahu apakah di dalam mobil itu ada Daffa atau tidak.
"Berhenti!" teriak Daffa pada sopir yang melajukan mobilnya.
Saat Daffa menoleh ke pinggir jalan dia tak sengaja melihat wanita yang sangat dikenalinya, dia melihat wanita yang sangat dicintainya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Alex heran.
"Sepertinya aku melihat Adeeva tengah berjalan di sana," jawab Daffa.
__ADS_1
Daffa pun bergegas turun dari mobil, dia melangkah menyusuri jalan yang dilewati Adeeva tadi.
Bersambung...