
Kyara terdiam mendengar ucapan Axel, hatinya hancur mendengar ucapan Axel.
"Ternyata kamu mencintai wanita lain, kamu melakukan ini karena kamu mengira aku wanita itu," gumam Kyara di dalam hati.
Tanpa disadarinya kini buliran bening membasahi pipinya, dia mulai menangis.
Saat ini dia merasa telah dibodohi oleh keadaan, dia yang selalu merasa menang kini telah kalah.
Perlahan Kyara melepaskan pelukan Axel yang kini telah tertidur dengan lelap.
Di menjauhkan tubuhnya dari sang suami lalu membalikkan tubuhnya membelakangi sang suami.
Dia masih meratapi kebodohannya yang telah berani menggoda pria dingin itu.
Awalnya keberanian itu hadir di dirinya karena dia ingin mengalahkan sikap dingin Axel terhadap dirinya.
Di saat dia menggoda Axel, dia merasa yakin setiap pria tidak akan bisa menghindar dari godaan wanita sepertinya walaupun pria itu sok bersikap dingin di hadapannya.
Tapi, semua yang ada di dalam benaknya salah. Axel mau melakukan hal itu dengannya karena Axel mengira bahwa dirinya adalah wanita yang dicintainya.
Semalaman suntuk Kyara tak dapat tiur hingga menjelang subuh dia baru dapat tertidur.
Sementara itu, Axel baru saja terbangun karena mendengar alarm di ponselnya berbunyi.
Axel meraih ponselnya yang terletak di nakas di samping tempat tidur, dia mematikan alarm ponselnya itu.
Setelah itu dia hendak bangkit dari tidurnya, tapi dia sadar saat ini tubuhnya tak mengenakan sehelai benang pun.
Dia pun menoleh ke arah sampingnya, dia melihat saat ini Kyara juga tengah tak mengenakan busana satu pun, tubuh wanita itu hanya ditutupi oleh selimut.
"Astahfirullah, apa yang telah aku lakukan?" gumam Axel di dalam hati.
Axel pun bangkit lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
Kini dengan jelas Axel dpat mengingat malam panas yang telah dilaluinya bersama Kyara, tadinya dia mengira kejadian itu adalah mimpi.
Axel sadar bahwa malam tadi dia melakukan hubungan int*m dengan istri keduanya tapi pikirannya tertuju pada sosok istri pertamanya.
"Aarrgghh," pekik Axel di dalam hati.
Dia menarik kasar rambutnya, setela itu dia pun turun dari tempat tidur, dia mengambil celana box*r miliknya yang tergeletak begitu saja di lantai, lalu dia pun mengenakannya.
Setelah itu, dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Saat ini pikiran Axel sangat kacau, dia stress dan frustasi telah membuat kesalahan besar dengan menyentuh istri keduanya itu.
Di dalam kamar mandi, Axe membuka keran air hangat mengisi bath up, lalu dia pun mask ke dalam bath up.
Dia memilih untu berendam di dalam bath up untuk menghilangkan rasa stress dan frustasinya.
Axel menyandarkan kepalanya di bath up lalu memejamkan matanya.
Dengan jelas ingatan malam panas itu pun kembali melintas di benaknya.
Axel mulai memikirkan langkah apa yang harus dilakukannya setelah ini, saat ini dia masih belum bisa melupakan sosok Adeeva di dalam hidupnya.
Rasanya dia belum bisa membagi cintanya pada wanita aneh yang menurutnya hanya menjebak dirinya saja dalam pernikahan yang tidak diinginkannya sama sekali.
Satu jam lebih Axel berada di dalam kamar mandi, dia pun menyelesaikan aktivitas mandinya setelah merasa sedikit tenang.
Dia mencoba menyerahkan semua ini pada takdir yang harus dijalaninya.
Axel keluar dari kamar mandi mengenakan bath robe, dia terlihat sudah segar.
Baru saja dia keluar dari kamar mandi Axel mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, dia langsung melangkah menuju pintu, dan membukanya.
Axel mendapati Damar sudah berdiri di depan kamar bos-nya.
"Aku hanya mau mengantar ini," jawab Damar sambil mengulurkan sebuah paper bag yang ada di tangannya.
"Apa ini?" tanya Axel.
"Nyonya Gita menyuruhku mengantarkan ini padamu," jawab Damar sambil mengangkat bahu karena dia sendiri tidak tahu apa isi paper bag tersebut.
"Ya sudah, terima kasih," ucap Axel.
Axel pun kembali menutup pintu kamar sedangkan Damar langsung meninggalkan tempat itu.
Axel membuka paper bag itu,, dia melihat di sana ada 2 helai pakaian yang bisa dikenakan Axel nanti jika ingin keluar dari kamar.
Tak ketinggalan di dalam paper bag itu juga terdapat 2 helai baju untuk Kyara.
Axel pun memandangi wajah polos Kyara yang kini masih tertidur dengan lelapnya karena semalaman dia tidak bisa tidur meratapi nasibnya.
"Apa yang harus aku lakukan padanya? Haruskah aku tetap menjadi suaminya hingga tua nanti?" Axel terlihat pusing memikirkan hal yang akan terjadi setelah ini.
Axel berusaha kembali menenangkan pikirannya, dia pun memilih untuk menunaikan ibadah shalat subuh setelah dia mendengar azan subuh berkumandang.
__ADS_1
Dia membiarkan Kyara yang masih terlelap di atas tempat tidur.
Saat ini Axel hanya bisa memohon petunjuk pada Allah tentang langkah apa yang harus dijalaninya.
Axel masih khusyuk dengan do'a dan harapannya pada Allah.
"Aaaauww," pekik Kyara saat merasakan sesuatu yang menyakitkan di bagian int*mnya.
Dia merasa sakit yang bersangatan sehingga membuatnya berteriak karena tak dapat menahan rasa sakit itu.
Seketika Axel berhenti berdo'a lalu dia melangkah menghampiri Kyara.
"Ada apa?" tanya Axel cemas.
Dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada wanita aneh itu.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" betak Kyara saat Axel hendak membantunya.
Axel menautkan kedua alisnya, dia heran dengan perubahan sikap Kyara yang signifikan.
"Apa yang terjadi pada dirinya? Kemarin dia sangat manja dan ingin sekali aku memberi perhatian padanku?"Axel mulai bertanya-tanya di dalam hati.
Kyara pun berusaha bangkit dan turun dari tempat tidur.
Dia menggigit bibirnya menhan rasa sakit di bagian int*mnya itu.
Dengan susah payah dia turun dari tempat tidur, lalu melangkah menuju kamar mandi dengan membawa selimut yang masih membalut tubuhnya.
Dia tidak mungkin melepaskan selimut itu begitu saja karena saat ini dia sama sekali tidak mengenakan apa pun.
Dia terus melangkah sambil menahan rasa sakitnya.
Sementara itu Axel memandangi Kyara yang terus melangkah tertatih menahan rassa sakit yang dirasakannya.
Saat Kyara telah berada di dalam kamar mandi, Axel kaget saat melihat sprei tempat tidur kini telah terkena noda merah.
"Apakah aku sudah merenggut keper*w*n*nnya? Apakah itu tanda bahwa tadi malam aku sudah mengambil kesucian seorang gadis?" gumam Axel di dalam hati.
Pria tampan itu mulai termenung memikirkan apa yang telah terjadi, kini rasa bersalah pun mulai menyelinap di hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini?" gumam Axel.
Dia terus bertanya-tanya akan apa yang harus diperbuatnya setelah apa yang telah dilakukannya, meskipun perbuatannya malam tadi tak sepenuhnya dalam kesadarannya, tapi dia tetap harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukannya.
__ADS_1
Bersambung...