
"Bagaimana aku bisa menjadi sekretaris? Sedangkan aku hanyalah tamatan SMA, aku tidak memiliki ilmu mengenai dunia sekretaris," gumam Ririn panik.
"Apakah tidak ada pekerjaan lain yang lain untukku?" tanya Ririn pada Damar.
Seolah-olah dia menolak pekerjaan yang telah diberikan oleh Axel.
"Sebenarnya aku juga tidak mau menjadikanmu sebagai sekretarisku, karena itu akan merepotkanku, " gumam Damar di dalam hati.
"Entahlah, yang penting saat ini kamu harus ikuti apa yang aku katakan," ujar Damar kesal.
Ririn hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Sekarang buatkan aku kopi!" perintah Damar pada Ririn.
Ririn mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.
"Apa yang kau cari!" bentak Damar kesal.
"Maaf, Pak. A-aku buat kopi-nya di mana?" tanya Ririn polos.
Dia tak mendapati dispenser atau apa-apa yang bisa digunakan untuk membuat kopi di ruangan itu.
"Di pantry," jawab Damar semakin kesal.
Dia merasa kedatangan Ririn di kantornya menghambat segala pekerjaannya.
"Pan-pantry-nya di-di ma-mana, Pak?" tanya Ririn.
Kali ini dia mulai takut menatap Damar yang terlihat semakin kesal terhadap dirinya.
"Keluar kamu dari ruangan ini, dan cari ruangan paling ujung di lantai ini," jawab Damar geram.
Meskipun dia kesal, tapi dia tetap berusaha menahan emosinya.
Akhirnya Ririn pun melangkah keluar ruangan lalu mencari ruang pantry. Dia mulai melakukan apa yang telah diperintahkan Damar padanya.
Ririn masuk ke dalam ruang pantry, dia mengambil cangkir, lalu membuat kopi untuk Damar.
"Menyebalkan sekali sikap pak Damar, jauh berbeda dengan tuan Axel, kira-kira Pak Axel di mana, ya?" gumam Ririn.
Ririn ingin sekali bertemu dengan Axel di perusahaan itu, saat ini Ririn tidak tahu bahwa Axel merupakan direktur utama di perusahaan itu.
Setelah selesai membuat kopi, Ririn pun membawa kopi yang di buatnya itu ke ruang Damar.
"Ini, Tuan," lirih Ririn setelah dia berada di ruangan Damar.
"Letakkan di meja," ujar Damar tanpa menoleh ke Ririn.
Pria itu sibuk mengecek berbagai laporan keuangan dari semua swalayan, laporan keuangan bulan ini memang tidak ada kendala apa pun.
Dia tersenyum puas membaca laporan bulan ini.
__ADS_1
Ririn meletakkan secangkir kopi yang dibuatnya itu di atas meja.
Setelah itu dia pun berdiri di hadapan Damar, dia menunggu perintah selanjutnya.
Hampir satu jam Ririn berdiri, Damar masih sibuk dengan berkas-berkas yang ada di mejanya itu, dia mengabaikan keberadaan Ririn di sana.
Ririn mulai capek berdiri, lalu dia menarik kursi yang ada di depan meja Damar, lalu dia pun duduk di sana.
Saat itu Damar sadar telah mengabaikan Ririn sejak tadi.
"Siapa yang nyuruh kamu duduk?" tanya Damar.
Seketika Ririn langsung berdiri.
"Maaf, Pak," lirih Ririn merasa bersalah.
Sekarang, susunlah berkas-berkas yang ada di rak itu, susun dengan rapi," perintah Damar tanpa melihat pada Ririn.
Dengan pasrah Ririn pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Damar.
Dia mulai menyusun berkas-berkas yang memang terlihat berantakan di rak itu. Entah kapan terakhir Damar menyusun rak itu dia sendiri sudah lupa, mumpung ada Ririn dia pun menggunakan kesempatan itu.
Di lain tempat Daffa dan Alex berada di sebuah kafe.
"Aku menemukan titik terang
tengah dalam perjalanan menuju rumah sahabat Daffa yang diduga orang yang ikut dalam rencana penjebakan Daffa pada malam itu.
Malam itu, Alex memang tidak ikut bersama Daffa merayakan pesta ulang tahun rekan kerjanya, sehingga Alex tidak bisa membantu Daffa terhindar dari tragedi malam itu.
Belum lima menit Daffa dan Alex duduk di kafe itu, 2 orang anak buah Alex datang dengan membawa seorang pria.
"Duduk!" perintah anak buah Alex setelah mereka berada di meja tempat Daffa dan Alex berada.
"Maaf, Tuan. Ini karyawan yang kami maksud, dia ikut membantu mengangkat tuan Daffa pindah ke kamar lain," ujar salah satu anak buah Alex.
Daffa mengangguk.
Setelah itu kedua anak buah Alex pun ikut duduk bersama mereka.
"Ceritakan apa yang terjadi," ujar Alex masih dengan nada santai.
Dia tidak ingin melakukan kekerasan dalam menangani masalah ini.
"Malam itu,--" Dengan takut pria itu pun mulai menceritakan apa yang telah terjadi.
"Saya yang bertugas malam itu ditarik oleh seorang pria untuk membantu mereka memindahkan tubuh tuan ke kamar lain," cerita si pria itu sembari menunjuk sopan ke arah Daffa.
"Awalnya saya tidak tahu, yang saya pindahkan itu adalah tuan Daffa, karena saya memang tidak terlalu memperhatikan wajah pria yang saya angkat waktu itu," ujar si pria lagi.
"Setelah saya membantu mereka, mereka memberi saya uang dalam jumlah besar, mereka juga mengingatkan saya untuk tidak buka mulut, saya hanya mengangguk lalu pergi. Di saat saya hendak pulang di pagi harinya, saya melihat pria yang menyuruh saya berada di ruang kontrol cctv, kebetulan waktu itu, ruang kontrol sedang tidak ada orang. Saya melihat pria itu menghapus rekaman kejadian malam itu, setelah itu saya tidak tahu apa-apa," jelas si pria panjang lebar.
__ADS_1
"Apakah kamu mengenali pria itu?" tanya Daffa.
"Saya tidak kenal, tapi jika saya melihatnya kemungkinan besar saya dapat mengenalinya," jawab si pria.
Alex pun mengeluarkan beberapa foto rekan-rekan Daffa yang ikut dalam acara pesta ulang tahun tersebut.
Si pria memperhatikan dengan seksama beberapa foto yang kini ada di hadapannya.
Si pria berhenti saat melihat sebuah foto yang sangat dikenalinya, lalu dia pun menunjukkan foto tersebut pada Daffa dan Alex.
Daffa dan Alex membulatkan matanya tak percaya saat melihat foto yang dipegang oleh si pria.
"Dion," lirih Daffa.
Daffa memang mengira Dion-lah yang memberinya obat perangsang di dalam minumannya malam itu, tapi dia tidak menyangka teman sekaligus orang yang termasuk dipercayanya ikut ingin menghancurkan dirinya.
"Tuan," lirih si pria saat Dafa dan Alex tengah diam.
Daffa dan Alex menoleh ke arah si pria.
"Maafkan saya, saya sama sekali tidak tahu apa-apa, saya mohon selamatkan saya," pinta si pria memohon.
Daffa dan Alex saling pandang, mereka menautkan kedua alis mereka heran.
"Apa maksudmu?" tanya Alex.
"Beberapa orang yang terlibat dalam masalah ini sudah banyak yang meninggal tanpa sebab, saya takut hal itu juga terjadi pada saya." Si pria pun menceritakan beberapa temannya yang mengetahui peristiwa ini sudah meninggal dengan berbagai alasan yang tak terduga.
Si pria takut hal yang sama terjadi pada dirinya.
Daffa dan Alex pun mulai berpikir.
"Lex, berikan pria ini keamanan khusus, dan usahakan dia pindah ke suatu tempat yang tidak akan ada seorang pun yang tahu," perintah Daffa kasihan.
Daffa bersyukur dia sudah dapat mengetahui orang yang ikut menjebaknya, sehingga dia tetap berbaik hati pada si pria itu.
Alex mengangguk.
"Ayo, kita cari Dion secepatnya," ujar Daffa pada Alex.
"Baik," sahut Alex.
"Kalian urus pria ini, pastikan dia dan keluarganya selamat dari incaran pelaku," ujar Alex pada anak buahnya.
"Baik, Tuan." Kedua pria itu mengangguk.
Daffa dan Alex pun bergegas menuju kediaman Dion, mereka yakin saat ini Dion sedang berada di rumahnya, karena setelah dihubungi perusahaan tempat Dion bekerja, hari ini Dion tidak masuk bekerja.
Sesampai di rumah Dion, Daffa dan Alex tak percaya melihat apa yang tengah terjadi di sana.
"Ya ampun," lirih Daffa dan Alex.
__ADS_1
Bersambung...