
Alex terdiam mendengar pembicaraan Ainun dengan ibu paruh baya itu.
"Kamu kan bisa menghubungi nomor ponselnya," ujar Alex memberi saran.
"Dia tidak punya ponsel, setiap kali aku mengirimi uang, selama ini aku menghubunginya hanya lewat ponsel tetangga." Ainun tampak mulai putus asa.
"Bagaimana kalau kita susul mereka ke rumah sakit, semoga saja kita bisa bertemu dengan mereka di jalan," ujar Alex memberi usul.
Alex merasa kasihan dengan takdir yang harus dijalani Ainun.
Ainun tak menjawab, dia masih diam memikirkan keadaan ayah dan adiknya.
Buliran bening jatuh membasahi pipinya.
"Ayo," ajak Alex.
Alex pun menarik tangan Ainun, lalu mengajak wanita itu masuk ke dalam mobil.
"Di mana rumah sakit terserah dari sini?" tanya Alex pada Ainun.
Ainun masih diam, dia tak menjawab apa-apa.
Akhirnya Alex mengambil ponselnya, lalu membuka go*gle m*ps, dia mencari lokasi rumah sakit terdekat dari lokasi rumah Ainun.
Dia mengikuti arah go*gle m*ps yang ditunjukkan ponselnya.
Alex terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sedangkan Ainun hanya memandang kosong ke arah luar jendela mobil.
Alex berinisiatif untuk terus melajukan mobilnya tanpa memperdulikan Ainun yang kini tengah kacau memikirkan keadaan ayah dan adiknya.
Alex memarkirkan mobilnya saat mereka telah sampai di salah satu rumah sakit yang terdekat dari rumah Ainun.
Dia urun dari mobil diikuti oleh Ainun, sesampai di rumah sakit Alex bertanya pada bagian administrasi mengenai pasien yang masuk kemarin.
"Siapa nama ayahmu?" tanya Alex pada Ainun.
"Rahman Hidayat," jawab Ainun.
Alex menyebutkan nama ayah Ainun pada bagian administrasi agar petugas administrasi bisa mengecek nama pasien yang ada di data mereka.
"Maaf, Tuan. Pasien di rumah sakit ini tidak ada yang bernama Rahman Hidayat," ujar sang petugas administrasi pada Alex.
"Oh, baiklah, Kak. Terima kasih," ucap Alex.
"Kalau di rumah sakit ini tidak ada, kita harus cari di rumah sakit lain," ujar Alex pada Ainun.
Ainun hanya dima, lalu dia kembali mengikuti langkah Alex yang terlihat bersemangat untuk mencari ayah Ainun.
Alex hanya merasa kasihan pada AInun, dia dapat merasakan betapa sakitnya kehilangan orang yang disayang.
5 tahun yang lalu, Alex kehilangan ibu kandungnya, satu-satunya keluarga yang dimilikinya di dunia ini.
Sejak kecil Alex tinggal bersama ibunya, dan dia tidak tahu ayahnya berada di mana.
Dia menjadi pria muda yang sukses saat ini merupakan hasil perjuangan sang ibu yang rela membanting tulang agar Alex dapat mengecam pendidikan yang tinggi.
__ADS_1
Kali ini Alex pun membawa AInun ke rumah sakit lainnya yang ada di kota Padang.
Beberapa rumah sakit telah mereka kunjungi, tapi hasilnya sia-sia, mereka tidak dapat menemukan ayah dan adik Ainun.
Ainun kini tak berhenti menangis, dia mulai putus asa, dia tidak tahu harus mencari ke mana lagi ayah dan adiknya.
Alex menghentikan mobilnya di pinggir jalan, di bawah sebuah pohon yang rimbun.
Dia menoleh ke arah Ainun.
"Ke mana lagi kita harus mencari ayahmu?" tanya Alex bingung.
Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Ainun menatap Alex, lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Apakah kamu ada keluarga lain yang ada di kota ini?" tanya Alex lagi.
Ainun masih menggelengkan kepalanya.
Alex semakin bingung.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Alex pada Ainun.
Ainun masih menggelengkan kepalanya.
"Ya udah, kalau begitu kita kembali ke hote saja, agar kamu bisa beristirahat," ujar Alex.
Pria itu memilih untuk beristirahat di hotel, dia pun kembali melajukan mobilnya.
DI perjalanan menuju hotel, mobil mereka terjebak macet.
Dia pun menghentikan mobilnya lalu menunggu mobil yang ada di hadapannya berjalan.
Hampir satu jam, jalur itu tak menunjukkan pergerakkan apa pun sehingga Alex memutuskan untuk turun dari mobil.
Dia berjalan melangkah menuju ujung jalan.
Di sana dia mendapatkan sebuah kerumunan orang-orang yang tengah melihat sesuatu.
Alex pun melihat apa yang terjadi, terlihat di pinggir jalan itu seorang gadis remaja tengah menangis di depan seorang pria tua yang terbaring di atas sebuah tikar yang terbentang di sana.
"Jangan-jangan ini,--" Alex pun langsung berlari menuju mobilnya.
"Ainun, ayo ikut aku," ujar Alex setelah dia sampai di mobilnya.
"Ada apa?" tanya Ainun bingung.
Ainun pun turun dari mobil lalu melangkah mengikuti langkah besar pria yang bersamanya.
Ainun melihat kerumunan orang-orang yang banyak.
Dia tidak tahu entah apa yang kini diperhatikan banyak orang di sana.
"Permisi," lirih Alex membukakan jalan untuk Ainun.
"Aini!" teriak Ainun saat melihat adiknya yang menangis di hadapan sang ayah yang kini telah terbujur kaku
__ADS_1
Gadis remaja itu menangis, Ainun menghampiri Aini, dia memeluk erat tubuh sang adik.
"Kak, ayah," isak Aini.
Gadis remaja itu menangis di dalam pelukan sang kakak.
Aini menunjuk ke arah sang ayah yang kini sudah tak bernyawa.
"Ayah!" pekik Ainun.
Ainun pun menjatuhkan tubuhnya di atas tanah, dia memeluk tubuh ayahnya yang sudah kaku.
Aini tak berani membawa sang ayah ke rumah sakit karena dia tidak memiliki uang sama sekali, karena uang yang dikirim Ainun habis untuk beli obat di apotik untuk sang ayah.
2 orang kakak beradik itu pun menangisi nasib mereka yang sudah ditinggal oleh ayah mereka.
"Ainun, kita bawa ayahmu pulang, ya," ajak Alex.
Alex tidak mau mereka menjadi tontonan orang-orang di sekeliling mereka yang hanya berdiam diri tanpa membantu sama sekali.
Alex pun mengangkat tubuh ayah Ainun yang sudah tak bernyawa, dia membawa jenazah itu ke atas mobil, lalu membawa mereka kembali ke rumah mereka.
Setelah mereka pergi, keramaian di tempat itu mulai berkurang, sehingga mereka pun melewati jalur itu dengan lancar.
Alex langsung membawa mereka menuju gubuk kecil milik Ainun dan keluarganya.
Sesampai di rumah Ainun, Alex kembali menggendong Ayah Ainun turun dari mobil, dia lalu meminta Ainun untuk menyiapkan tempat berbaring sang ayah di dalam rumah itu.
Beberapa orang tetangga Ainun melihat Alex yang menggendong ayah Ainun dan membawanya masuk ke dalam rumah itu.
Mereka yang penasaran melihat apa yang dilakukan Alex langsung menghampiri Alex.
"Apa yang terjadi, Nak?" tanya seorang wanita paruh baya.
"Pak Rahman sudah meninggal," jawab Alex.
"Inna lillahi wa inna ilahi raji'un," sahut mereka serentak.
Mereka menatap wajah Pak Rahman yang kini sudah pucat pasi.
"Bu, bisa minta tolong memanggilkan dokter atau bidan yang ada di komplek ini?" pinta Alex.
Alex ingin meminta bantuan ahli medis untuk memastikan keadaan pak Rahman, dan memastikan kapan pria tua itu menghembuskan napas terakhirnya.
"Baik," sahut salah satu warga itu.
"Sekalian, Bu.t Tolong beritahu pak RT biar diumumkan di mesjid," ujar teman wanita itu.
Setelah itu Alex membawa masuk jenazah Pak Rahman masuk ke dalam rumah, dia membaringkan jenazah pria tua itu di sebuah kasur lusuh yang telah dibentangkan oleh Ainun.
Setelah itu, Ainun menyelimuti tubuh ayahnya dengan 2 kain panjang lusuh milik mereka.
Kini Aini dan Ainun duduk di samping jenazah ayah mereka, meratapi kepergian satu-satunya tumpuan mereka selama ini, walaupun ayahnya sering sakit-sakitan tapi sang ayah selalu memberi semangat bagi mereka untuk tetap semangat dalam menjalani sulitnya hidup ini.
Satu per satu warga datang ke rumah Ainun untuk menunjukkan rasa belasungkawa atas kepergian ayah Ainun.
Mau tak mau Alex pun masih berada di rumah itu, dia tidak bisa meninggalkan Ainun begitu saja, karena saat ini Ainun tengah berduka.
__ADS_1
Bersambung...