
Adeeva baru saja turun dari pesawat, dia kini menghirup udara daerah baru, jauh dari tanah kelahirannya dan jauh dari keluarga yang sangat disayanginya.
Meskipun saat ini hati Adeeva masih kesal dan kecewa terhadap kedua orang tuanya, Adeeva masih sayang pada ibunya, wanita yang telah melahirkannya.
Adeeva melangkah keluar dari Bandara, dia menatap pemandangan yang sudah beberapa kali dikunjunginya.
"Ya Allah, bismillah aku akan memulai hidupku yang baru di sini," lirih Adeeva terus menguatkan hatinya yang masih rapuh.
Beberapa kali ke tempat ini, dia merasa tidak canggung untuk beradaptasi, di luar bandara Adeeva langsung memesan sebuah taksi.
Kini sebuah taksi telah berada tepat di hadapannya.
"Mau ke mana, Nona?" tanya sang sopir taksi sebelum Adeeva masuknke dalam taksinya.
"Pak, saya mau ke Oyo homestay," jawab Adeeva.
Adeeva sudah browsing hotel termurah di daerah itu. Dia sengaja memilih hotel termurah agar dia masih bisa berhemat.
Untuk sementara waktu, Adeeva harus tinggal di hotel sembari mencari rumah kontrakan atau kost tempat tinggalnya selama berada di sana.
"Baiklah," sahut si sopir.
Adeeva masuk ke dalam taksi tersebut lalu di sopir pun mulai melajukan mobilnya.
Hampir 1 jam, si sopir terus melajukan mobilnya tanpa Adeeva tahu tujuan si sopir, Adeeva mulai curiga dengan gerak gerik si sopir.
"Pak, hotelnya masih jauh, ya?" tanya Adeeva pada pria yang kini duduk di belakang kemudi.
"Eh, iya, Nona. Hotelnya lumayan jauh," sahut si sopir.
Tak berapa lama, taksi itu berhenti di daerah yang sangat sepi. Tak satu pun orang yang lewat di sana.
Si sopir pun mengeluarkan pis*u lalu menodongkan pis*u tersebut ke arah Adeeva.
"Serahkan barang-barang berharga milikmu!" bentak si sopir pada Adeeva.
Adeeva pun mencoba membuka pintu mobil, tapi sayang pintu itu dikunci si sopir.
"Ja-jangan sakiti saya, Pak," rintih Adeeva ketakutan.
Cepat serahkan barang-barang berharga milikmu atau nyawamu melayang," ujar si sopir lagi.
Akhirnya Adeeva pun mengambil dompetnya, dia mengeluarkan semua uang yang ada di dompet itu. Uang itu berjumlah sekitar 3 jutaan.
Uang yang baru saja ditarik Adeeva dari ATM saat keluar dari bandara.
Lalu memberikan uang tersebut kepada si sopir.
"I-ini, Pak. Saya cuma punya i-ini," ujar Adeeva.
Si sopir mengambil uang itu, dia menatap puas pada uang yang ada di tangannya.
"Serahkan anting dan cincinmu!" bentak si sopir lagi.
__ADS_1
Sopir itu juga tergiur melihat cincin dan anting yang dipakai oleh Adeeva.
Mau tak mau Adeeva pun membuka Anting dan cincin yang melekat di tubuhnya.
Wanita itu terpaksa memberikan cincin pernikahannya dengan Axel pada si sopir, meskipun hatinya sedih melepaskan benda berharga itu tapi dia tidak memiliki pilihan lain.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, si sopir membuka pintu mobil lalu menurunkan Adeeva dari mobilnya.
"Turun!" bentak si sopir.
Adeeva turun dari mobil, dia takut si sopir.akan berbuat lebih nekat lagi terhadap dirinya.
"Ini barang-barangmu!" Si sopir melemparkan tas ransel milik Adeeva pada Adeeva sehingga wanita itu terjatuh ke aspal.
Adeeva terdiam, dia masih terduduk di aspal. Tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit, sehingga dia tidak bisa berdiri.
Tak berapa lama sebuah mobil sport mewah berwarna silver melintas di jalanan itu.
Saat itu pandangan Adeeva mulai kabur, lalu dia pun tak sadarkan diri.
Ciiiiit.
Terdengar jelas suara rem mobil sport itu, si pengemudi mobil terpaksa menghentikan mobilnya saat melihat seorang wanita yang tergeletak di jalanan.
Seorang pria tampan dan gagah turun dari mobilnya, dia mengenakan kaca mata hitamnya untuk melindungi matanya dari panasnya terik matahari.
Dia menghampiri si wanita lalu mencoba memeriksa keadaan si wanita, pria tampan itu melihat ada darah di bagian paha si wanita, seketika dia panik.
Tanpa pikir panjang si pemuda tampan itu mengangkat tubuh Adeeva, dia membawa masuk Adeeva ke dalam mobilnya lalu membawa Adeeva ke rumah sakit.
Si pria tampan itu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, seketika dia lupa dengan acara yang akan dihadirinya.
Saat ini yang ada di benaknya hanya keselamatan wanita yang sedang tak sadarkan diri di sampingnya.
Hanya butuh waktu 10 menit si pria menghentikan mobilnya tepat di teras sebuah rumah sakit.
Dia bergegas turun dari mobil, lalu kembali menggendong Adeeva, dia membawa Adeeva masuk ke dalam rumah sakit itu.
"Dokter!" teriak Si pria tampan itu saat telah berada di ruang IGD.
Seorang petugas kesehatan datang menghampirinya dengan membawa sebuah brangkar rumah sakit.
Si pria membaringkan Adeeva di atas brangkar tersebut.
"Tuan, boleh tunggu di sini, kami akan memeriksa keadaan pasien," ujar seorang dokter jaga di IGD tersebut.
Si pria menganggukkan kepalanya, lalu dia memilih untuk duduk di bangku panjang yang tersedia di sana.
Drrrrrt drrrrrt drrrrrt.
Ponsel si pria tampan itu berdering, dia mengambil ponselnya.
"Ya ampun, gue lupa ada meeting hari ini," gumam si pria tampan ingat dengan janjinya saat asisten pribadinya menelpon.
__ADS_1
"Halo," ujar si pria.
"Tuan,--"
"Batalkan meeting hari ini." Si asisten pribadi belum selesai berbicara dia sudah memotong ucapan sang asisten.
"Tapi,--"
"Tidak ada tapi-tapi, ikuti perintahku!" Lagi-lagi si pria motong ucapan si asisten pribadi.
"Baiklah, Tuan." Asisten pribadinya pun pasrah.
Dia terpaksa membatalkan janji yang telah dibuat bosnya itu.
Pikiran si pria terus tertuju pada si wanita. Rasa kasihan menyelimuti dirinya berbeda terhadap orang lain.
Entah mengapa ada rasa khawatir yang aneh di hatinya.
Setengah jam sudah si pria menunggu dokter memeriksa keadaan Adeeva, tak berapa lama dokter itu keluar dari ruang pemeriksaan.
Si pria langsung menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan wanita itu, Dok?" tanya si pria tak sabar ingin mengetahui kondisinya.
"Alhamdulillah, istri anda dan janin di dalam kandungannya bisa diselamatkan. Beruntung Tuan membawa istri tuan tepat waktu, sehingga kami bisa melakukan yang terbaik," ujar Dokter menjelaskan keadaan Adeeva saat ini.
"Apa? Wanita itu sedang hamil?" gumam si pria kaget.
Dia tak menyangka wanita yang ditolongnya itu tengah mengandung.
Sekelebat kenangan samar-samar melintas di ingatan si pria tampan.
"Apakah wanita itu bukan istri anda, Tuan?" tanya dokter heran mendengar pertanyaan si pria.
"Mhm, i-iya, Dok." Si pria terlihat bingung.
"Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat, kondisinya masih lemah, jadi dia butuh dirawat," ujar dokter.
Dokter itu tak menghiraukan kebingungan si pria.
"Oh, iya, Dok." Si pria hanya bisa mengangguk.
Tak berapa lama 2 orang perawat mendorong brangkar rumah sakit yang ditempati Adeeva menuju ruang rawat.
Setelah berada di ruang rawat, si pria duduk tepat di samping Adeeva yang terbaring di atas tempat tidur.
Dia menatap dalam ke arah Adeeva, entah mengapa setiap kali menatap wajah Adeeva jantungnya berdetak begitu kencang. Ada getaran aneh yang menyelinap di hatinya.
Beberapa jam si pria menunggu Adeeva, wanita itu mulai membuka matanya perlahan.
Dia memperhatikan keadaan di sekelilingnya, dia mengernyitkan dahinya saat melihat pria yang kini duduk di sampingnya.
"Ka-kamu," lirih Adeeva.
__ADS_1
Dia masih mengingat jelas wajah tampan yang pernah bertemu dengannya.
Bersambung...