Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 37


__ADS_3

Setahu Adeeva mereka hanya berpura-pura, lalu untuk apa dia tidur di kamar pria yang baru saja dikenalnya itu.


"Iya, kita besok akan pergi seolah-olah kita pergi menikah, untuk meyakinkan mami," jelas Daffa.


"Oh," lirih Adeeva dia menghela napas lega.


"Besok pagi-pagi sekali kamu harus siap-siap untuk ikut aku," ujar Daffa.


"Baiklah." Adeeva mengangguk.


"Ya sudah, sekarang tidurlah. Kamu harus istirahat," ujar Daffa penuh perhatian.


Entah mengapa hati Daffa merasa ada ikatan dengan janin yang ada di dalam kandungan Adeeva sehingga dia merasa harus menjaga Adeeva dengan baik.


Adeeva berusaha memejamkan matanya. Meskipun Daffa masih berdiri menatap dirinya.


Dengan keberadaan Daffa di sana, Adeeva merasa tenang, rasa khawatir dan bersalahnya terhadap Axel kini menguap hilang begitu saja untuk sementara waktu.


Tak berapa lama setelah itu Adeeva pun benar-benar terlelap.


Daffa memandangi paras cantik dan anggun yang kini terlihat kepolosannya, dia dapat melihat dengan jelas sang wanita tengah lelah menjalani hidupnya.


Daffa memang tidak tahu apa pun mengenai kehidupan Adeeva selama ini.


"Entah mengapa aku merasa ada yang berbeda di diri wanita ini," gumam Daffa di dalam hati.


"Semoga kau kuat menjalani beratnya kehidupan yang harus kamu lalui," gumam Daffa lagi.


Setelah itu Daffa pun melangkah menuju kamarnya, dia juga bersiap untuk tidur.


Keesokan harinya, saat waktu subuh masuk, Adeeva bangun dari tidurnya, dia turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Seperti biasa Adeeva menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, meskipun dia tidak terlalu mendalami ilmu agama, tapi Adeeva tidak biasa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Adeeva yakin dengan melaksanakan kewajibannya terhadap sang khalik, maka sang Khalik pun tidak akan tidur di setiap masalah yang dihadapinya.


"Kau sudah bangun?" tanya Daffa yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar tamu itu.


Adeeva yang baru saja membuka mukenanya langsung menoleh ke arah asal suara.


"Kau mengagetkanku," lirih Adeeva kesal.


Adeeva memasang wajah cemberut.


Daffa tersenyum melihat raut wajah Adeeva yang cemberut itu.


Daffa melangkah menuju tempat tidur lalu duduk di sana.


"Aku ingin membangunkanmu, menyuruhmu untuk bersiap-siap, kita akan pergi sebelum mami keluar dari kamarnya," ujar Daffa.


"Sepagi ini?" tanya Adeeva.


"Ya, kita harus berangkat pagi-pagi sekali, kalau mami ikut kita bisa nikah beneran," ujar Daffa lagi.


"Baiklah, aku akan siap-siap terlebih dahulu," ujar Adeeva.


"Bersiaplah, aku akan menunggumu," ujar Daffa.


Adeeva menautkan kedua alisnya.


"Apakah dia akan menungguku di kamar ini?" gumam Adeeva di dalam hati sembari melirik ke arah Daffa yang kini asyik dengan ponselnya.


Adeeva masih diam, dia tak bergerak untuk bersiap-siap karena Daffa masih berada di kamar itu.


"Hei, kenapa kamu melamun?" tanya Daffa saat menyadari Adeeva masih berdiri diam menatapinya.

__ADS_1


"Gimana aku mau bersiap, kalau kamu masih di sini," protes Adeeva pada Daffa.


"Kau bisa ganti baju di kamar mandi," ujar Daffa santai.


Daffa seakan tak ingin pergi dari kamar itu.


"Huhhft, dasar cowok aneh," gerutu Adeeva.


Daffa menyeringai tersenyum mendengar gerutuan Adeeva.


Adeeva pun melangkah menuju kamar mandi, sebelumnya dia mengambil pakaiannya di dalam tas ranselnya.


Tak berapa lama Adeeva pun selesai mengganti pakaiannya, dia keluar dari kamar mandi.


Setelah itu, dia duduk di meja rias sekadar mengoles wajahnya dengan bedak.


"Ayo," ajak Daffa berdiri di samping Adeeva.


Adeeva memang sudah siap tapi dia tak menyangka akan langsung diajak pergi oleh Daffa.


Dengan berat hati Adeeva melangkah mengikuti langkah Daffa keluar dari rumah.


Saat mereka berada di teras rumah sebuah mobil BMW hitam telah terparkir di sana.


Seorang pria berdiri di samping mobil mewah itu.


"Selamat pagi, Tuan," sapa pria itu.


Daffa tersenyum pada si pria yang menyapanya, lalu pria itu membukakan pintu mobil untuk bos-nya.


Daffa dan Adeeva masuk ke dalam mobil, setelah itu si pria pun mulai mengendarai mobil meninggalkan kediaman bos-nya.


"Ada berita terbaru, Lex?" tanya Daffa ada asisten pribadinya itu.


"Apa?" Daffa tak menyangka ada orang yang ingin berbuat jahat terhadapnya melalui orang-orang yang tak dikenalnya.


"Iya, Tuan. Tapi, saya menemukan beberapa kontak yang mencurigakan dari ponsel dan laptop miliknya, saat ini saya sedang melanjutkan penyelidikan," ujar Alex.


"Bagus, jangan lupa kabari aku berita terbaru," perintah Daffa pada Alex.


Adeeva hanya dia mendengar pembicaraan 2 pria yang sama sekali tidak dipahaminya.


"Sekarang kita mau ke mana dulu, Tuan?" tanya Alex.


"Cari sarapan, aku sudah lapar," jawab Daffa.


"Baik, Tuan." Alex pun langsung melajukan mobilnya ke salah satu resto mewah milik tuannya yang berada tak jauh dari posisi mereka saat ini.


Sesampai di resto, mereka turun dari mobil mewah milik Daffa.


"Wah, resto nya mewah sekali," gumam Adeeva di dalam hati.


Dia kagum dengan desain mewah resto yang kini ada di hadapannya.


Adeeva yakin bisa masuk ke resto itu bersama Axel, tapi dia juga tidak mengharapkan hal itu.


"Selamat pagi, Tuan," sapa pelayan yang menyambut kedatangan mereka.


Daffa terus melangkah dengan wibawanya menuju ruang VVIP.


Tanpa diperintahkan, Alex langsung menyuruh pelayan untuk menghilangkan berbagai menu sarapan yang handal di resto tersebut.


Hanya hitungan menit, pelayan yang sudah terlatih kini menghidang berbagai menu sarapan di atas meja.


"Siapa sebenarnya pria ini?" Adeeva mulai bertanya-tanya tentang sosok seorang Daffa.

__ADS_1


Dia penasaran melihat sikap semua pelayan yang begitu menghormati dirinya.


Setelah semua makan terhidang di atas meja, Alex pun berdiri lalu melangkah keluar. Dia berdiri di depan pintu ruang VVIP tempat Daffa Adeeva berada agar tak seorang pun bisa mengganggu mereka.


"Makanlah makanan yang kamu suka," ujar Daffa pada Adeeva.


Adeeva menatap semua menu yang terhidang, menurutnya hampir semua menu yang ada di sana sangat menggugah selera.


Daffa pun mengambil satu menu lalu menyantapnya dengan gaya yang sangat elegan.


Sedangkan Adeeva juga menyantap salah satu menu, hanya saja caranya berbeda dengan Daffa, dia makan dengan lahap, bahkan dia juga menggunakan tangannya untuk menyantap hidangan di dalam piringnya karena merasa sudah jika menggunakan sendok dan garpu.


Saat Adeeva menyantap beberapa piring menu yang terhidang, Daffa menatap wanita itu dengan rasa kagum.


Selama ini Daffa selalu berjumpa dengan wanita yang selalu bersikap elegan dan berpenampilan sempurna di hadapannya meskipun Daffa tahu bagaimana asli mereka.


"Wanita ini berbeda dari wanita yang selama ini kutemui," gumam Daffa di dalam hati.


Adeeva belum kenyang dengan 3 piring menu yang diambilnya, dia berpindah pada piring selanjutnya.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Adeeva.


Adeeva baru menyadari tatapan Daffa setelah dia menghabiskan 5 piring menu yang ada di sana.


"Tidak apa-apa," jawab Daffa sembari tersenyum di dalam hati.


"Kamu mau ketawain aku yang makannya banyak? Wajar dong aku menghabiskan beberapa menit ini, toh menunya dikit banget," ujar Adeeva membela diri.


Dia sengaja berkata seperti itu karena dia merasa malu dengan tatapan Daffa padanya.


"Menu dikit begini harganya selangit, mending makan di pinggiran jalan, satu porsi bisa kenyang sekampung," ujar Adeeva berlebihan.


"Hehehe." Daffa hanya terkekeh mendengar ocehan Adeeva.


Adeeva merasa kesal dengan lelehan Daffa tapi dia hanya bisa ngedumel di dalam hati.


Adeeva yang tadi hendak mengambil menu selanjutnya kini mengurungkan niatnya.


"Kamu sudah kenyang," tanya Daffa sambil tersenyum.


"Dih, pake nanya," gerutu Adeeva di dalam hati.


"Udah," jawab Adeeva ketus.


"Ya sudah, ayo kita pergi," ajak Daffa.


"Lalu makanan sebanyak ini mau dibuang gitu aja?" tanya Adeeva.


"Biar Alex yang mengurusnya," ujar Daffa.


Mau tak mau Adeeva pun mengikuti Daffa.


Dia mengikuti Daffa yang kini telah berdiri dan melangkah keluar dari ruang VVIP itu.


Saat mereka keluar dari ruangan itu, Alex sudah berada di luar ruangan, saat Daffa dan Adeeva sudah berada di parkiran, Alex juga sudah berada di samping mobil.


Pria itu pun membukakan pintu mobil untuk tuannya.


"Langsung ke salon," perintah Daffa pada Alex.


"Ngapain ke salon?" tanya Adeeva protes.


Adeeva takut Daffa tetap menikahi dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2