
Adeeva terdiam sejenak mendapat perlakuan kasar dari sang ayah.
Aisyah juga terdiam melihat apa yang baru saja dilakukan oleh suaminya terhadap putrinya.
"Dasar anak bodoh!" bentak Haikal memarahi Adeeva.
Aisyah hanya menatap kecewa pada sang suami, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan rasa sakit yang semakin menjadi, Adeeva berusaha berdiri, masih menggendong bayinya.yang kini mulai menangis.
Buliran bening jatuh di pipi Adeeva. Dia tidak menyangka ayah tirinya akan berbuat kasar padanya.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Kamu telah mencoreng nama baik keluarga!" bentak Haikal penuh amarah.
Oek oek oek.
Bayi Adeeva menangis semakin kencang.
"Pergi kamu dari sini! Dan jangan pernah datang lagi menginjakkan kakimu di rumah kami! Bagi kami kamu sudah mati!" bentak Haikal tak berperasaan.
Haikal sama sekali tidak memperdulikan perasaan Aisyah yang kini hanya diam tak bisa berbuat apa-apa.
"Pergi!!!" Teriakan Haikal membuat beberapa tetangga yang lewat berhenti di depan rumah mereka.
Akhirnya Adeeva pun meninggalkan rumah kedua orang tuanya dengan hati berkeping-keping.
Hatinya hancur dengan perlakuan sang ayah tiri.
Dia juga kecewa dengan ibunya yang hanya diam melihat dirinya diperlakukan kasar oleh sang suami.
Adeeva masih berusaha melangkah dengan tertatih menggendong putranya keluar dari pekarangan rumahnya.
Dia melangkah dengan kucuran air mata yang membasahi pipinya.
Para tetangga yang melihat Adeeva hanya memandangi wanita malang itu tanpa ada niat untuk menolong Adeeva sama sekali.
Adeeva terus melangkah menyusuri jalan tanpa tahu arah tujuannya.
Saat ini dia sama sekali tidak tahu harus ke mana untuk berlindung dari sengatan matahari.
Dia hanya terus melangkah sambil menangis, beberapa orang melihatnya dan mengira saat ini dia adalah orang gila.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini?" lirih Adeeva.
Saat lelah dan rasa sakit tak dapat lagi ditahannya, Adeeva pun berhenti dan duduk di sebuah kursi panjang yang terdapat di pinggir jalan di bawah pohon.
Adeeva membuka dompetnya, di sana masih ada 2 lembar uang seratus ribu.
"Aku masih bisa bertahan dengan uang ini," gumam Adeeva.
"Ke mana aku harus pergi?" Adeeva sama sekali tidak berpikir untuk pergi ke rumah keluarga sepupunya karena dia yakin tidak ada seorangpun yang akan menerima dirinya.
__ADS_1
Satu-satunya tempat yang diingat Adeeva hanyalah kakaknya, tapi apa boleh buat sang kakak tidak tinggal di kota Padang.
Sejak menikah, sang kakak telah menetap di Batam, dia akan pulang jika lebaran atau ada hal mendadak saja.
Bayi Adeeva mulai merasa lapar dan haus, akhirnya dia pun mencoba untuk menyusui bayinya.
"Maafkan bunda ya, Nak. Di saat kamu lahir, bunda telah membuatmu tersiksa," lirih Adeeva pada bayinya yang kini menyusu dengan lahap.
Beberapa menit si bayi menyusu, dia pun mulai terlelap tidur.
Adeeva mengalasi bangku panjang yang didudukinya dengan kain panjang menggendong bayi, lalu dia pun membiarkan sang bayi tertidur lelap di atas bangku itu.
Angin sepoi-sepoi di bawah pohon itu membuat sang bayi tertidur dengan nyenyak.
Adeeva menemani putranya yang tertidur sambil memikirkan tempat untuknya menginap malam ini.
"Deev." Tiba-tiba Axel datang menghampiri Adeeva.
Setelah kedua orang tuanya meninggalkan apartemen miliknya, Axel langsung keluar untuk mencari Adeeva.
Dia merasa bersyukur bisa menemukan Adeeva.
Adeeva kaget saat melihat suaminya sudah berada di hadapannya.
"Deev, apa sebenarnya yang kamu pikirkan?" tanya Axel merasa kecewa dengan tindakan yang telah diambil oleh Adeeva.
Adeeva hanya diam saja. Dia hanya tidak ingin Axel durhaka pada kedua orang tuanya.
Rasa cinta Adeeva yang telah teruntuk untuk Daffa, membuat Adeeva semakin kuat untuk melepaskan diri dari pernikahannya itu.
"Deev, aku sangat mencintaimu. Apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah menceraikanmu," ujar Axel menatap dalam wajah Adeeva.
"Axel," lirih Adeeva.
"Kamu akan menyesal mempertahankan aku, lebih baik kamu melepaskan cintamu itu dan meraih kebahagiaan bersama Kyara," ujar Adeeva.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Axel pada Adeeva.
"Karena aku tidak bisa mencintaimu, aku ingin mencari ayah dari bayiku," tutur Adeeva jujur mengungkapkan keinginannya.
Axel terdiam sejenak mendengar ucapan Adeeva.
Dia tak menyangka Adeeva memiliki tekad untuk mencari pria yang telah menghamilinya itu.
Selama ini dia berpikir untuk meraih cinta Adeeva dan mencoba menerima bayi dari istrinya itu sebagai anak baginya.
"Kenapa, Deev?" tanya Axel.
"Aku ingin anakku mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya," lirih Adeeva mencari alasan.
Walaupun dulu dia memang berangan-angan mencari ayah dari bayinya, tapi kini dia menjadikan hal itu sebagai alasan karena di hatinya saat ini hanya ada satu nama yaitu, Daffa.
__ADS_1
Axel terdiam mendengar perkataan Adeeva.
"Axel, kamu adalah pria baik, dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Aku akan tetap menjadi temanmu, sebagai seorang teman aku ingin kamu bahagia dengan Kyara," lirih Adeeva menatap dalam pada Axel.
Adeeva berusaha membujuk Axel agar mau menceraikan dirinya, dia tidak ingin menjadi beban bagi Axel.
Beberapa menit mereka berdua terdiam, tak seorang pun memulai pembicaraan, sekilas mereka terlihat seperti suami istri yang tengah bertengkar.
"Mhm, Axel. Sudah mulai sor, aku akan melanjutkan perjalananku," ujar Adeeva ingin meninggalkan Axel yang masih saja diam.
Adeeva pun berdiri, dia bersiap untuk menggendong putranya yang masih terlelap.
"Deev." Axel menahan tangan Adeeva.
Wanita itu menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
"Mhm," gumam Adeeva.
"Kamu mau ke mana?" tanya Axel.
"Aku akan mencari penginapan," jawab Adeeva tanpa menoleh ke arah sang suami.
"Deev, aku akan menceraikanmu dengan satu syarat," ujar Axel pada Adeeva.
Adeeva terdiam lalu menatap dalam ke arah Axel.
"Apa?" lirih Adeeva.
"Izinkan aku tetap menjadi suamimu hingga kamu menemukan ayah dari bayi ini," ujar Axel.
"Maksudmu?" tanya Adeeva.
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup terlantar hingga kamu menemukan pria yang kamu cari," ujar Axel.
"Tapi, Axel. Itu tidak mungkin, sampai kapan kamu bisa menunggu itu, kasihan Kyara," lirih Adeeva menolak tawaran Axel.
"Kyara tidak akan keberatan," balas Axel.
"Lalu bagaimana dengan mama dan papamu?" tanya Adeeva.
"Sekarang ikutlah denganku," ajak Axel.
Axel pun mengajak Adeeva masuk ke dalam mobilnya
Awalnya Adeeva ingin menolak, tapi apa boleh buat Axel terus memaksa dirinya.
Akhirnya Adeeva pun menggendong bayinya dan masuk ke dalam mobil.
Di sepanjang perjalanan Adeeva bertanya-tanya di dalam hati, entah ke mana suaminya akan membawa dirinya, yang pasti Axel membawa Adeeva ke suatu tempat yang bukan rumah kedua orang tuanya maupun apartemen miliknya.
Bersambung...
__ADS_1