Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 119


__ADS_3

Alex langsung mencarikan penerbangan untuk Daffa menuju Australia, Daffa mendapat kabar bahwa saat ini maminya sedang sakit keras, mau tak mau dia harus berangkat ke Australia tanpa sempat memberitahukan keberangkatannya pada Adeeva.


Daffa hanya berpesan pada Alex untuk menyediakan bodyguard untuk menjaga Adeeva dari kejauhan, dia tidak ingin terjadi hal-hal buruk pada Adeeva saat dia berada di Australia.


Di sepanjang perjalanan pikiran Adeeva terus tertuju pada sosok wanita yang melahirkannya itu.


Meskipun hatinya berat untuk meninggalkan Adeeva, tapi saat ini pikirannya sangat mencemaskan keadaan maminya.


Daffa juga belum sempat memberitahukan berita yang dikatakan oleh Axel padanya.


17 jam perjalanan, akhirnya Daffa sampai di Sidney, dia langsung menaiki taksi menuju kediaman kakaknya.


"Apa yang terjadi dengan mami?" tanya Daffa saat dia telah berada di rumah sang kakak.


"Tiba-tiba darah tinggi mami naik, makanya drop."


Natasya menceritakan kondisi mami Rossa pada adiknya.


Natasya terpaksa langsung menghubungi Daffa karena saat ini maminya masih terlihat kritis, tapi wanita paruh baya itu tidak mau dirawat di rumah sakit.


Natasya ingin Daffa membujuk maminya agar mau dirawat di rumah sakit, agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.


Di rumah sakit terdapat alat-alat kesehatan yang memadai, sedangkan di rumah hanya menggunakan infus saja.


"Baiklah, Kak. Sekarang mami di mana?" tanya Daffa pada sang kakak.

__ADS_1


"Mami ada di kamarnya," jawab Natasya.


Setelah itu mereka pun melangkah menuju kamar tempat sang mami berada.


Terlihat dengan jelas saat ini wanita yang paling disayanginya itu tengah terbaring lemah di atas tempat tidur dengan menggunakan selang oksigen dan infus untuk menambah nutrisi sang mami yang saat ini benar-benar lemah.


Daffa melangkah menghampiri wanita yang sudah melahirkannya itu.


Dia duduk di pinggir tempat tidur tepat di samping sang mami.


Dia pun menggenggam erat tangan sang mami yang terpasang infus.


"Mi," lirih Daffa.


Perlahan wanita paruh baya itu membuka matanya, samar-samar dia melihat sosok putra yang sangat dirindukannya.


Saking sibuknya sang putra, dia lupa berbagi kabar pada sang mami.


Sehingga hal ini membuat maminya menahan rasa rindu yang mendalam.


"Da-da-ffa," lirih mami Rossa.


"Iya, Mi. Ini Daffa," jawab Daffa.


"Ka-kamu a-apa ka-kabar?" tanya mami Rossa.

__ADS_1


"Daffa baik, Mi. Mami kenapa begini?" tanya Daffa.


"Bi-biasa-lah, Nak. Na-namanya ju-juga su-sudah tua," jawab mami Rossa terbata-bata.


Saat ini dia merasa sulit untuk banyak bicara.


Dia hanya terus menatap dalam ke arah putra yang paling disayanginya.


"Mami cepat sembuh, ya." Daffa mulai membujuk maminya untuk mau dibawa ke rumah sakit agar bisa diberi perawatan yang intensif di rumah sakit.


"Bagaimana, Fa?" tanya Natasya setelah Daffa baru saja berbicara dengan maminya.


Kini wanita paruh baya itu mulai kembali beristirahat.


"Iya, Kak. Mami sudah mau dipindah ke rumah sakit, aku baru saja menghubungi ambulans agar bisa membawa mami ke rumah sakit," jawab Daffa.


"Makasih, Fa. Syukurlah ada kamu," lirih Natasya senang.


Kakak Daffa itu hampir saja putus asa, karena sang mami tidak mau ke rumah sakit, sedangkan keadaannya semakin drop.


"Untuk apa kakak berterima kasih, aku adalah putra mami, dan ini akan menjadi tanggung jawab bagiku. Justru aku yang seharusnya minta maaf sama kakak, karena kesibukanku, aku jadi melupakan keadaan mami," ujar Daffa penuh penyesalan.


Bersambung...


(Maaf readers, saat ini author sedang kurang enak badan. Jadi cuma bisa up segini dulu🙏🙏🙏)

__ADS_1


__ADS_2