
Si wanita menoleh ke arah asal suara yang baru saja terdengar berbicara padanya.
Adeeva kaget melihat sosok yang ada di hadapannya, dia sangat mengenal wanita itu. Tapi, Adeeva berusaha untuk diam tak berkata apa-apa. Dia menunggu apa yang akan dilakukan sahabatnya itu dengan pria yang kini bersamanya.
Wanita itu juga kaget melihat keberadaan sahabatnya bersama Daffa.
Dia memperhatikan Adeeva dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Apa yang dilakukan Adeeva di sini? Apa jangan-jangan dia sudah tahu bahwa tuan Daffa adalah pria yang,--"
"Ah, tidak mungkin. Tapi, apa hubungannya dengan tuan Daffa? Kenapa dia bisa bersama tuan Daffa," gumam wanita yang kini menata sinis ke arah sahabatnya itu.
"Daffa," lirih si wanita memanggil Daffa.
Wanita itu melangkah mendekati pria tampan yang sama sekali tak mengenalinya itu.
"Siapa kau?" tanya Daffa sinis pada si wanita yang berpenampilan mengenakan pakaian ketat dan kurang bahan.
"Duduklah terlebih dahulu, nanti kau akan kenal siapa aku," ujarnya dengan nada menggoda.
Daffa merasa risih mendengar suara manja yang dibuat-buat oleh si wanita.
Daffa mengabaikan ucapan si wanita, dia langsung mengambil ganggang telepon yang ada di atas mejanya.
Dia menghubungi Alex lalu meminta asisten pribadinya itu untuk datang.
"Ya, Tuan," ujar Alex saat dia telah berada di dalam ruangan Daffa.
Daffa melirik ke arah si wanita, Alex pun mengerti maksud bos-nya itu.
Alex menarik Daffa keluar dari ruangan itu.
"Siapa wanita itu?" tanya Daffa pada Alex.
"Dia adalah wanita yang ada di dalam rekaman itu," jawab Alex.
Alex pun menceritakan awal kedatangan si wanita itu, wanita itu menunjukkan rekaman video panas yang dulu sempat mengganggu dan meresahkan bagi Daffa.
"Apa?" Daffa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alex.
"Iya, Tuan." Alex mengangguk meyakinkan.
Daffa pun diam sejenak, setelah itu dia pun kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Deev," panggil Daffa pada Adeeva yang kini masih berdiri di pojok ruangan itu.
Daffa menghampirinya.
"Kamu pulanglah terlebih dahulu bersama Alex, dan tunggulah aku di rumah," ujar Daffa pada Adeeva.
Adeeva hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia pun keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Alex pun mengantarkan Adeeva ke rumah bos-nya.
Sepeninggalnya Adeeva, Daffa pun duduk di sofa yang mana kini si wanita telah duduk menunggunya di sana.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Daffa lagi.
Daffa masih tak percaya bahwa sosok wanita yang bersamanya kini adalah wanita yang pernah ditidurinya.
"Aku Ainun, aku adalah wanita yang telah kau nodai 7 bulan yang lalu," jawab Ainun.
Ainun pun mengelus perutnya yang terlihat membesar, hampir sama dengan Adeeva.
Daffa menatap ke arah perut si wanita.
"Apakah dia tengah mengandung anakku?" gumam Daffa di dalam hati.
"Lihatlah perutku saat ini, aku telah menanggung derita selama 7 bulan berjuang membesarkan benih yang telah kau tanamkan di rahimku," ujar Ainun.
Kedatangan Ainun menemui Daffa adalah ingin meminta pertanggungjawaban dari Daffa, dia mengaku-ngaku bahwa Daffa telah menidurinya malam itu.
Daffa masih diam, dia sendiri tidak bisa berpikir dengan jernih, dia syok mendapatkan kabar yang begitu tiba-tiba.
Daffa sedikitpun tidak merasakan apa-apa saat melihat perut buncit Ainun berbeda dengan saat dia melihat perut buncit Adeeva.
"Aku datang ke sini untuk meminta tanggung jawabmu, jika kamu tidak mau bertanggung jawab, maka aku akan mengesahkan video panas kita pada semua orang, dan memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa kamu tidak mau bertanggung jawab atas perbuatan kejimu," ancam Ainun dengan nada tegas.
Daffa mengangkat wajahnya yang tadi sempat tertunduk, dia tidak menyangka Ainun akan berani mengancam dirinya.
"Baiklah, aku akan bertanggung jawab atas kandunganmu," ujar Daffa.
"Bagus," sahut Ainun.
"Berapa yang kamu inginkan dariku?" tanya Daffa pada Ainun.
Melihat penampilan Ainun, Daffa yakin Ainun hanya ingin uang darinya.
"Apa? Kamu menanyakan berapa uang yang aku inginkan?" tanya Ainun dengan kesal.
Daffa menatap si wanita.
"Aku tidak menginginkan uang, tapi aku ingin kamu menikahiku, dan menjadi ayah atas anak yang aku kandung saat ini," ujar Ainun tegas.
"Apa?" Daffa semakin tidak percaya dengan apa yang diinginkan oleh wanita itu.
"Ya, kamu harus menjadikanku sebagai istrimu," ujar Ainun lagi dengan tegas.
"Baiklah, tapi aku harus mempersiapkan berbagai hal terlebih dahulu, kamu bisa datang satu Minggu lagi," ujar Daffa pada Ainun.
"Baiklah, tapi beri aku uang untuk kebutuhanku dalam satu Minggu ini," ujar Ainun.
Akhirnya Daffa pun mengambil sebuah cek dengan bertuliskan uang sejumlah 10 juta.
__ADS_1
"Itu cukup untukmu satu Minggu," ujar Daffa.
Ainun mengambil cek itu lalu dia berdiri meninggalkan Daffa yang masih tak percaya dengan apa yang kini terjadi.
Daffa terduduk lemas di sofa itu, dia mulai bermenung.
"Kenapa dia baru mencariku di saat aku sudah jatuh cinta pada Adeeva?" lirih Daffa kecewa.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini? Sesuai janjiku, aku memang akan bertanggung jawab terhadap wanita yang telah kunodai, dan saat ini adalah waktunya aku mempertanggungjawabkan dosa yang telah diperbuat meskipun dosa itu aku lakukan di saat aku dijebak oleh seseorang yang tidak aku kenal," lirih Daffa terpaksa menerima kenyataan.
Satu jam lebih, Daffa termenung di ruangannya. Dia pun tak menyadari kedatangan Alex.
"Tuan," lirih Alex pelan.
Daffa masih belum menggubris panggilannya.
"Tuan Daffa " Alex meninggikan sedikit volume suaranya.
Daffa tersentak, dia menoleh ke arah Alex.
Alex pun duduk di sofa yang ada di hadapan Daffa.
"Lex, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa wanita itulah yang kutiduri malam itu?" tanya Daffa masih tak percaya.
"Tuan, wanita itu tahu apa yang telah terjadi malam itu, dia juga memiliki video yang berbeda dengan video yang menyebar selama ini," ujar Alex sangat yakin bahwa Ainun adalah wanita yang bersama Daffa malam itu.
"Jadi, kau yakin dia adalah wanita yang selama ini kita cari?" tanya Daffa lagi memastikan.
"Iya, Tuan. Saya yakin," sahut Alex.
"Baiklah, kalau begitu siapkan rencana pernikahan kami," ujar Daffa pasrah.
Mau tak mau Daffa harus menikahi Ainun, dia tidak mungkin membiarkan anak yang ada di dalam perut Ainun lahir tanpa ayah.
Sedangkan anak yang ada di dalam kandungan Adeeva sudah jelas ada ayahnya karena setahu Daffa, Adeeva masih memiliki suami sah.
Saat sore tiba, Daffa pun pulang ke rumah, barang-barang yang tadi sudah dibelinya telah tiba di rumah, tapi barang-barang itu masih berantakan di ruang tamu.
Para pelayan di rumah itu tidak tahu harus meletakkan di mana semua peralatan tersebut.
"Bi Sari," teriak Daffa memanggil kepala pelayan di rumah itu.
"Iya, Tuan." Bi Saru datang menghampiri Daffa.
"Tolong simpan barang-barang ini di kamar sebelah kamarku di lantai 2," perintah Daffa pada pelayannya.
"Baik, Tuan," sahut Bi Sari.
Setelah itu, Daffa pun langsung melangkah menuju kamarnya.
Sesampai di kamar, Adeeva langsung menghampirinya lalu memeluk erat tubuh kekar itu.
__ADS_1
"Deev," lirih Daffa.
Bersambung...