Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 95


__ADS_3

"Daffa, ada yang harus kamu tahu," ujar si pria pada Daffa.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Daffa tanpa menyuruh si pria masuk ke dalam rumah.


Alex bergegas keluar dari mobil saat tahu bahwa pria yang bersama bos-nya itu adalah Dion.


"Tuan, lebih baik kita bicara di dalam rumah," ujar Alex.


Alex yakin kedatangan Dion menemui Daffa dengan keadaan lusuh dan dekil itu pasti karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya.


Daffa menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengajak Dion masuk ke dalam rumah.


Saat berada di dalam rumah, Daffa mengajak Dion untuk duduk di ruang tamu.


"Apakah kamu sudah makan?" tanya Daffa tiba-tiba merasa kasihan melihat penampilan Dion yang sangat memprihatinkan.


Dion menggelengkan kepalanya, saat ini dia benar-benar merasa lapar karena sejak semalaman dia belum mengisi perutnya.


"Kalau begitu ayo kita ke dapur dulu, kamu harus makan terlebih dahulu," ujar Daffa.


Rasa marah dan kesal Daffa pada Dion yang ikut menjebak dirinya hilang begitu saja saat melihat penampilan Dion saat ini.


Meskipun dia tak percaya akan kehadiran Dion saat ini, tapi ini adalah kenyataannya.


Seorang sahabatnya yang sempat dinyatakan meninggal dunia akibat kecelakaan, kini berada di hadapannya, pasti ada sesuatu yang penting akan disampaikan oleh temannya itu.


Dion pun mengangguk, lalu mereka melangkah menuju ruang makan, Daffa meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Dion.


Dion menyantap makanan yang dihidangkan dengan lahapnya.


Dari sini Daffa dapat menebak bahwa saat ini Dion tengah hidup susah di luar sana.


"Lex, aku ke kamar dulu. Setelah Dion selesai makan, kamu bisa bawa dia ke kamar tamu, dan suruhlah dia membersihkan dirinya," ujar Daffa.


Saat ini Daffa merasa tubuhnya terasa lengket dan dia sudah tidak tahan lagi untuk membersih diri.


"Baik, Tuan," sahut Alex.


Alex menunggui Dion yang kini masih lahap menyantap makanan yang ada di hadapannya.


Daffa pun melangkah menuju kamarnya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat Daffa sudah selesai mandi, keluar kamar dan mengajak Alex dan Dion menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Dia tidak mau ada yang mendengar obrolan mereka.


Kini mereka telah berada di ruang kerja Daffa.


"Katakan," ujar Daffa pada Dion.


"Daffa, sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya padamu," ujar Dion memulai pembicaraannya.


Daffa dan Alex hanya diam menunggu cerita Dion selanjutnya.


Dion mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya lalu memberikan benda itu pada Alex.


Alex dan Daffa saling melempar pandangan setelah melihat sebuah hardisk yang kini sudah berpindah ke tangan Alex.


"Apa ini?" tanya Daffa.


"Kalian akan tahu setelah melihatnya," jawab Dion.


Alex pun berdiri lalu mengambil laptop yang ada di atas meja kerja Daffa.


Dia pun membuka file yang ada di dalam hardisk tersebut.


Di dalam laptop itu, Daffa dan Alex melihat rekaman video panas Daffa dan seorang wanita tanpa di-blur-kan wajah Daffa dan si wanita.


"Adeeva," lirih Daffa tak percaya saat melihat wanita yang bersamanya adalah Adeeva.


"Jangan-jangan anak yang dikandung oleh Adeeva adalah anakku, makanya dia kabur dari suaminya," lirih Daffa menerka-nerka.


"Benar, Tuan." Alex setuju dengan apa yang dikatakan oleh Daffa.


Daffa pun menarik laptop yang ada di tanga Alex, dia tidak mau Alex melihat lebih banyak lagi video panas yang dilakukannya dengan Adeeva.


Daffa mengeluarkan hardisk itu dari laptop, lalu dia langsung membakarnya saat itu juga.


"Bisa kau jelaskan semua ini?" tanya Daffa pada Dion setelah hardisk itu lenyap tak bersisa.


Dion pun terdiam sejenak, lalu dia mulai menceritakan apa yang terjadi.


Dion menyuruh Ainun untuk mencari wanita yang bisa ditiduri oleh Daffa malam itu.


Ainun yang tergiur dnegan pekerjaan yang memiliki gaji besar rela mengorbankan sahabatnya yang polos.


Ainun memberi Adeeva obat tidur dengan dosis tinggi, sehingga Adeeva tidak dapat merasakan sentuhan apa pun yang dilakukan Daffa pada dirinya.

__ADS_1


"Siapa dalang dibalik semua ini?" tanya Daffa memastikan siapa orang yang telah berani melakukan perbuatan keji itu terhadap dirinya.


"Hansen, dia ingin merebut kembali harta yang kau miliki, menurutnya harta yang kau miliki adalah harta ayahnya yang telah diambil oleh papimu," jelas Dion.


"Apa? Ini tidak mungkin," lirih Daffa tak percaya.


"Hansen ingin membalaskan dendamnya pada papimu yang telah membuat ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung saat tahu semua hartanya telah berpindah tangan pada papimu," ujar Dion lagi.


Daffa menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dion.


Seingatnya ayah Hansen dan papi Daffa merupakan sahabat yang tidak bisa dipisahkan.


"Itulah alasan Hansen ingin menghancurkanmu," ujar Dion lagi.


Daffa tampak mengepalkan tangannya, dia tak percaya Hansen tega melakukan itu tanpa mencari tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.


Setahu Daffa, papi Daffa satu-satunya orang yang paling terpukul saat ayah Hansen meninggal. Tapi apa boleh buat dia tidak bisa menjelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi di masa lalu.


Jika memang harta yang kini dimilikinya adalah harta ayah Hansen, Daffa rela mengembalikan harta tersebut pada Hansen asalkan Hansen mau bicara baik-baik dengannya, bukan menikam dirinya dari belakang.


"Lalu bagaimana caraku bertemu dengan Adeeva?" tanya Daffa pada Dion.


"Adeeva adalah sahabat Ainun, kamu bisa cari Adeeva melalui Ainun," ujar Dion lagi.


"Di mana aku bisa menemukan wanita jal*ng itu?" tanya Daffa lagi.


Dion pun memberitahu Daffa alamat apartemen Ainun.


"Terakhir aku tahu, dia tinggal di apartemen itu," ujar Dion lagi memberi informasi.


"Baiklah, kalau begitu. Lalu apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Daffa penasaran apa sebenarnya yang telah terjadi pada Dion.


"Hansen mencoba membunuhku, dan melemparkan mobilku ke jurang hingga meledak. Saat itu di dalam mobil aku bersama karyawan lain yang mengendarai mobil. Hansen tidak tahu di dalam mobil itu aku bersama temanku. Saat mobil jatuh ke jurang, aku melompat dari mobil, sehingga aku bisa menyelamatkan diri," cerita Dion.


"Sejak hari itu aku terus bersembunyi dari dunia luar, dan berpenampilan seperti pengemis agar Hansen tidak mengetahui bahwa diriku masih hidup," ujar Dion lagi.


Daffa dan Alex masih mendengarkan cerita Dion.


"Berhari-hari aku berjuang untuk tetap bertahan hidup. Di saat itulah aku berniat untuk menemuimu agar aku bisa hidup tenang, jika suatu hari nanti Hansen tahu bahwa aku masih hidup, dan dia berniat membunuhku, makanya aku terus mencari cara agar bisa bertemu denganmu," ujar Dion lagi mengungkapkan apa yang sudah terjadi pada dirinya.


"Hansen benar-benar keterlaluan," ujar Daffa geram.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2