Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 44


__ADS_3

Saat ini mobil Daffa pun telah berada di pinggir jalan menabrak pembatas jalan dan terbentur pada sebuah pohon besar.


Mobil itu remuk di bagian depan. Adeeva masih sempat sadar, dia melihat wajah Daffa kini telah berlumuran darah.


Setelah itu, dia pun tak lagi sadarkan diri.


Tak berapa lama sebuah ambulance datang menghampiri mobil mereka, petugas kesehatan pun berusaha mengeluarkan mereka dari mobil itu. Lalu membawa mereka ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Adeeva langsung mendapat penanganan dari dokter, begitu juga dengan Daffa.


Beberapa jam setelah ditangani, Adeeva sadar. Dia membuka matanya perlahan, dia berusaha mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Di- di ma-na a-aku?" lirih Adeeva.


Adeeva merasa sangat pusing, dia berusaha untuk bangkit tapi sedikitpun dia tak memiliki kekuatan.


Saat ini tak seorang pun yang menungguinya, dia mencoba untuk mencerna di mana dia saat ini berada.


"Apakah aku saat ini tengah berada di rumah sakit?" lirih Adeeva mencoba menebak.


"Iya, Nona. Anda baru saja mengalami kecelakaan," ujar seorang perawat yang baru saja masuk ruangan itu.


Si perawat pun langsung memeriksa kondisi Adeeva saat ini, dia mengecek tekanan darah dan jantung Adeeva, memastikan keadaan Adeeva sudah mulai membaik.


"Kecelakaan?" Adeeva mencoba mengingat apa yang telah terjadi.


"Daffa, di mana Daffa, Suster?" tanya Adeeva saat teringat dengan pria yang bersamanya saat terjadi kecelakaan itu.


"Mhm, saya kurang tahu, tunggu sebentar, ya, Nona, saya coba panggil keluarga anda terlebih dahulu," ujar si perawat.


Perawat itu tidak bisa memberitahu keadaan Daffa saat ini, karena dokter juga belum memberi informasi mengenai keadaan Daffa.


Setelah perawat itu memeriksa Adeeva, dia pun keluar dari ruangan itu. Dia memberitahu Alex bahwa Adeeva sudah sadarkan diri.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alex yang baru saja masuk ke dalam ruangan tempat Adeeva berada.


"Aku baik, di mana Daffa?" tanya Adeeva.


Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Daffa saat ini.


"Syukurlah kalau begitu, Alhamdulillah keadaanmu baik. Alhamdulillah, janin di dalam kandunganmu juga baik-baik saja," ujar Alex.


Alex belum menjawab pertanyaan Adeeva.


Adeeva langsung meraba perutnya yang masih rata, dia baru sadar dengan kondisinya yang tengah mengandung.


"Ya Allah, maafkan ibu ya, Nak. Bukan berarti ibu tidak sayang padamu," gumam Adeeva di dalam hati.


"Bagaimana keadaan Daffa?" Adeeva kembali bertanya pada Alex setelah hening sejenak.


"Tuan Daffa saat ini masih kritis," jawab Alex singkat.


"Apa?" Tanpa disadarinya Adeeva langsung menangis.

__ADS_1


Dia tidak bisa menerima keadaan Daffa yang kini tengah kritis.


"Semoga tuan Daffa dapat melalui masa kritisnya," ujar Alex lagi.


"Aku mau bertemu dengannya," lirih Adeeva terisak.


"Anda belum bisa ke mana-mana, Nona. Saat ini Nona masih lemah," tolak Alex.


"Aku mau bertemu dengannya," rengek Adeeva lagi.


"Saya akan mengantarkan Nona bertemu tuan, jika Nona sudah mendingan," ujar Alex lagi.


Akhirnya Adeeva tidak bisa berbuat apa-apa, kini dia termenung membayangkan wajah tampan yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya, Adeeva terus memanjatkan do'a untuk Daffa agar Daffa bisa melewati masa kritisnya.


Adeeva masih saja terbaring di atas tempat tidur.


"Nona, makan dulu, ya." Alex meminta seorang pelayan dari rumah Daffa untuk menjaga Adeeva.


Alex sengaja melakukan itu supaya dia bisa fokus menjaga Alex yang masih kritis.


Sebagai seorang asisten pribadinya, Alex sudah menganggap Daffa sebagai saudara sendiri, Daffa sangat peduli terhadap dirinya, bahkan Daffa lebih mementingkan urusan Alex dari pada dirinya.


Meskipun Daffa terlihat cuek, tapi dia sangat perhatian pada karyawannya.


Adeeva menoleh ke arah seorang wanita yang kini telah duduk di sebuah kursi di samping Adeeva.


"Aku tidak selera makan," lirih Adeeva.


"Nona, anda harus makan, meskipun sedikit. Nona harus pikirkan bayi yang ada di dalam kandungan nona," ujar pelayan itu.


"Bagaimana keadaan Daffa saat ini?" tanya Adeeva.


Dia sama sekali tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh si pelayan, pikirannya terus terisi dengan keadaan Daffa.


"Mhm, saya belum dapat kabar tentang Tuan. Apakah nona ingin melihat tuan?" tanya Si pelayan.


"Iya, bisakah kamu membawaku ke sana?" tanya Adeeva bersemangat.


"Kalau nona mau bertemu tuan Daffa, nona harus makan. Jika nona mulai pulih, saya janji akan membawa nona bertemu dengan tuan," ujar si pelayan berusaha membujuk Adeeva agar dia mau makan.


"Baiklah," lirih Adeeva.


Adeeva mengangguk. Pelayan pun mulai menyuapi Adeeva sepiring nasi yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Perlahan Adeeva menghabiskan menu yang disediakan rumah sakit itu, dia mau menghabiskan makanan itu semata hanya ingin bertemu dengan Daffa.


****


Dua hari telah berlalu, Adeeva mulai membaik tapi dia masih belum mendapatkan kabar tentang Daffa saat ini.


Hari ini Adeeva sudah diperbolehkan keluar rumah sakit, tapi dia tidak langsung pulang.


"Alex, antarkan aku ke tempat Daffa," rengek Adeeva pada Alex.

__ADS_1


"Tapi, Nona,--" Alex ragu untuk mengajak Adeeva ke ruang rawat Daffa karena bos-nya itu saat ini masih kritis dan belum sadarkan diri.


"Aku mohon," lirih Adeeva mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, setelah bertemu dengan Tuan, Nona harus langsung pulang ke rumah," ujar Alex meminta Adeeva berjanji.


Saat ini Alex juga bertanggung jawab menjaga Adeeva karena setahunya Adeeva merupakan istri dari tuannya.


"Baiklah," lirih Adeeva pasrah.


Akhirnya Alex pun membawa Adeeva ke ruangan tempat Alex berada.


Adeeva melihat dengan jelas pria baik hati yang baru saja dikenalinya itu, kini terbaring di atas tempat tidur rumah sakit.


Adeeva dapat melihat dengan jelas berbagai macam alat rumah sakit yang menempel di tubuh Daffa.


Hatinya terasa sakit dan perih melihat keadaan Daffa kini yang terbaring lemah.


"Bolehkah aku masuk ke dalam dan menemaninya?" tanya Adeeva tak bisa menahan diri.


Entah mengapa hatinya ingin sekali memeluk tubuh Daffa saat ini.


Dia ingin berusaha membangunkan Daffa yang masih tak sadarkan diri.


"Nona, saat ini anda masih belum terlalu pulih," bantah Alex.


Alex takut kondisi Adeeva kembali drop jika melihat kondisi Daffa yang hingga saat ini belum ada perkembangan sama sekali.


"Alex, dia suamiku," ujar Adeeva tak sabar.


Entah dari mana keberanian itu datang, Adeeva berani menyatakan bahwa Daffa adalah suaminya.


Alex tak dapat berkutik mendengar ucapan Adeeva.


Dia hanya diam, Adeeva pun mengambil sebuah baju steril lalu memakai baju itu sebelum masuk ke dalam ruangan Daffa.


Adeeva melangkahkan kakinya perlahan sembari Mandang iba pada wajah tampan yang tak sadarkan diri itu.


Adeeva langsung memeluk tubuh Daffa, lalu dia pun menangis di atas dada bidang Daffa.


"Daffa bangun," bisik Adeeva.


Adeeva berharap Daffa bangun.


Tanpa disadari Adeeva, kini perutnya menyentuh ke tangan Daffa.


"Daffa, bangun," lirih Adeeva lagi.


Di saat Adeeva membujuk Daffa bangun, tiba-tiba Adeeva merasakan sesuatu di bagian perutnya.


"Daffa," lirih Adeeva.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2