
Mereka berdua berada di satu kamar, tapi di dunia yang berbeda.
Untuk menghindari percekcokan di antara mereka berdua, sepasang pengantin baru itu sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Pada pukul 15.00.
Tok tok tok.
Pintu kamar mereka kembali diketuk oleh Damar.
Dengan malas, Axel melangkah menuju pintu.
"Apakah Tuan sudah siap?' tanya Damar.
Kali ini kedatangan Damar hendak menjemput mereka dan melakukan perjalanan menuju Bali, tempat Axel dan Adeeva melakukan bulan madu.
"Kya," panggil Axel.
"Mhm," gumam Kyara.
"Damar sudah datang untuk menjemput kita," ujar Axel memberitahu Kyara.
Kyara pun langsung berdiri, mereka akan berangkat dengan mengenakan pakaian yang mereka pakai saat ini.
Mereka pun melakukan check out dari kamar tersebut lalu melanjutkan perjalanan menuju Bali.
Axel sedikit kesal dengan tempat yang dipilih kedua orang tuanya, karena hal itu akan terus mengingatkan dirinya tentang sosok Adeeva, istri pertamanya yang menghilang bagaikan ditelan bumi.
"Kenapa harus Bali sih, Mar? Seperti tidak ada saja tempat lain," ujar Axel kesal pada asisten pribadinya saat dalam perjalanan menuju bandara.
"Mana aku tahu." Damar hanya bisa mengangkat bahunya.
Dia sendiri juga tidak tahu kenapa kedua orang tua Axel menyuruh mereka honeymoon ke Bali lagi.
Axel dan Damar mulai asyik mengobrol membahas berbagai hal sementara itu Kyara sibuk dengan ponselnya.
Saat berada di Bandara, Kyara masih saja sibuk dengan ponselnya sehingga tanpa disadarinya seorang menarik ponsel itu lalu membawa ponselnya kabur.
"Hei, ponselku!" teriak Kyara kaget.
Hanya hitungan detik orang itu sudah menghilang begitu saja.
"Kenapa?" tanya Axel heran mendengar sang istri berteriak.
Axel memang berjalan di depan Kyara, dia malas melihat Kyara yang terlalu fokus dengan ponselnya sehingga tak memperhatikan jalannya.
"Ponselku raib," keluh Kyara.
"Makanya di tempat umum seperti ini jangan sibuk dengan ponsel juga, tahu rasa kan sekarang," omel Axel.
__ADS_1
"Ish, bukannya berempati malah mengomeli," gerutu Kyara.
Axel terlihat cuek dengan musibah yang dialami oleh Kyara.
Kyara menghentikan langkahnya, menunjukkan bahwa saat ini dia tengah merajuk.
Axel menoleh ke belakang saat hendak masuk ke dalam bandara.
"Lihat, istrimu merajuk," ujar Damar meledek bos-nya
Axel menghela napas panjang, dia menggelengkan kepalanya, lalu kembali melangkah ke belakang menghampiri Kyara.
"Tidak usah banyak tingkah," ujar Axel.
Dia menarik tangan sang istri untuk masuk ke dalam bandara, agar mereka tidak ketinggalan pesawat.
Dengan langkah berat Kyara pun mengikuti langkah sang suami.
Di ruang tunggu, Kyara masih saja menggerutu, banyak hal yang akan hilang bersamaan dengan hilangnya ponselnya.
"Sudahlah, aku akan mengganti ponselmu lebih bagus dari itu," ujar Axel menenangkan Kyara yang masih saja menggerutu.
Kyara menatap kesal pada sang suami.
"Meskipun kau membelikan aku ponsel baru, kamu tidak bisa mengembalikan banyaknya kenangan yang ada di ponselku itu," ujar Kyara.
"Toh, itu semua salahmu bukan salahku," ujar Axel mengingatkan Kyara bahwa musibah yang baru saja terjadi adalah kesalahan dirinya sendiri.
Tak berapa lama mereka menunggu, pengumuman untuk keberangkatan pesawat ke Bali pun terdengar, mereka pun melangkah masuk ke dalam pesawat sesuai arahan petugas bandara.
Di pesawat Kyara duduk tepat di samping pesawat dan Axel di sampingnya.
Di sepanjang jalan mereka tak banyak bicara, Kyara menoleh ke arah jendela melihat awan yang mereka lintasi.
Mereka sampai di Bali pada malam hari pukul 19.30.
Sebelum mereka berangkat tadi, Damar telah menghubungi Alex asisten pribadi Daffa untuk menyediakan sebuah mobil untuk mereka.
Damar dan Alex kini mulai berteman baik secara mereka adalah asisten pribadi dari dua sahabat lama.
Di luar bandara Alex telah menyediakan sebuah mobil dan seorang sopir yang akan mengantarkan mereka ke hotel Cakrawala.
Damar sengaja memilih hotel tersebut agar mereka tak hanya berlibur honeymoon, dia juga bisa menghabiskan waktunya bersama Alex di Bali.
"Selamat malam, Tuan," sapa sopir yang datang menghampiri Damar.
Sang sopir sudah kenal dengan Damar karena sopir itulah yang menjemput Damar dan Axel saat pertemuan dengan Daffa.
"Malam, Pak," sapa Damar ramah.
__ADS_1
"Mari, Pak," ujar sang sopir mempersilakan Damar dan rombongannya masuk ke dalam mobil.
Damar membukakan pintu belakang untuk Axel dan Kyara.
Sementara itu dia masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku di samping sang sopir.
Sang sopir pun mulai melajukan mobil setelah memastikan para tamu majikannya duduk dengan baik di dalam mobil.
Dia mengantarkan Axel dan rombongan menuju hotel Cakrawala.
Sesampai di hotel, sang sopir langsung meminta tamu bos-nya unyuk masuk ke dalam restoran yang ada di hotel tersebut untuk menikmati menu makan makan malam.
Kyara tidak terlalu menikmati menu makan malamnya karena dia masih kesal dengan musibah yang telah menimpanya.
Setelah makan malam, Kyara melangkah menuju resepsionis, dia berencana untuk memesan satu kamar lagi untuk dirinya, dia enggan tidur satu kamar dengan Axel.
"Maaf, Nona. Kamar nona dan tuan Axel sudah saya pesan, dan semua perlengkapan kalian sudah berada di dalam kamar tersebut," ujar Damar menolak keinginan Kyara.
"Dipesan saja satu lagi, dan kita bisa suruh pelayan hotel untuk memindahkan barang-barang milikku di kamar satu lagi," bantah Kyara ngotot.
"Tidak bisa, Nona. Ini sudah terlalu malam," ujar Damar.
Terjadilah perdebatan antara Kyara dan Damar.
Damar hanya menjalankan tugasnya dari kedua orang tua Axel untuk memastikan Kyara dan Axel berada di dalam kamar yang sama.
Kedua orang tua Axel tidak mau ditipu untuk kedua kalinya, dulu saat Axel dan Adeeva berbulan madu di Bali mereka memperlihatkan kemesraan di hadapan mereka tapi kebenarannya Axel belum pernah menyentuh Adeeva. Dan tiba-tiba mereka mengetahui Adeeva hamil tapi bukan keturunan dari mereka.
"Enggak, aku enggak mau satu kamar dengan dia!" bentak Kyara masih saja mengajak Damar untuk ribut.
"Sudah, cukup!" bentak Axel.
Kyara terdiam mendengar ucapan Axel.
Axel pun langsung menarik tangan sang istri dan membawanya menuju kamar yang telah dipesan Damar untuk mereka.
"Lepaskan aku!" bentak Kyara pada sang suami.
"Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini." Kyara berusaha melawan apa yang dikatakan oleh Axel.
"Cih, kenapa sekarang berani berkata seperti itu?" tanya Axel tersenyum sinis.
"Bukankah kamu sendiri yang menginginkan diriku, kenapa kamu sekarang sok jual mahal?" tanya Axel meremehkan Kyara.
Dia sadar dirinya sudah berbuat salah terhadap Kyara, tapi Axel tidak akan membiarkan Kyara menginjak-injak harga dirinya.
"Awalnya memang aku ingin menjadi istrimu, tapi aku tidak sudi dinikahi tapi hatimu untuk orang lain!" bentak Kyara jujur.
"Apa maksudmu?" tanya Axel heran.
__ADS_1
"Ya, kamu telah merenggut semua milik berharga bagiku, tapi kau melakukan itu atas dasar cintamu pada wanita lain," bentak Kyara meluapkan rasa sesak di hatinya.
Bersambung...