
"Jangan banyak protes, kamu ikuti saja apa yang aku perintahkan," ujar Daffa kesal.
Adeeva pun terdiam mendengar ucapan Daffa. Akhirnya dia memilih untuk diam.
Tak berapa lama mereka pun sampai di sebuah salon yang sangat besar di kota itu.
Di sana Daffa meminta pelayan memberikan perawatan spesial untuk Adeeva, tak lupa Daffa juga memberitahu pelayan salon bahwa Adeeva sedang hamil agar mereka memberikan perawatan khusus ibu hamil.
Sementara Adeeva melakukan perawatan di salon, Daffa dan Alex sibuk membahas pekerjaan.
Tiba-tiba Alex mendapatkan notifikasi dari media sosial miliknya. Dia langsung membuka media sosialnya, di sana dia melihat video panas milik Daffa tersebar di salah satu media sosial.
Video itu seketika viral, mang video tersebut wajah Daffa dan si wanita di-blur-kan.
"Gawat!" pekik Alex.
Alex memperlihatkan video viral di media sosialnya itu pada Daffa.
"****." Emosi Daffa pun mulai memuncak.
"Lex, ini sudah tidak bisa dibiarkan, kamu harus bergerak cepat! Kita harus tangkap biang dari video ini," ujar Daffa geram.
"Suruh hacker terhebat, buat menghapus semua video ini yang tersimpan di setiap perangkat siapa pun," perintah Daffa.
"Aku tidak mau video ini tersebar lagi," ujar Daffa dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Baik, Tuan." Alex mengangguk.
"Pergilah sekarang, suruh Hendrik ke sini," perintah Daffa.
Tak menunggu lama, Alex langsung meninggalkan Daffa. Alex memang sangat cekatan dalam berbagai hal urusan perusahaan yang dikelola oleh Daffa.
Dia merupakan satu-satunya orang yang dipercaya Daffa dalam mengurusi berbagai hal yang berhubungan dengan Daffa.
"Si*l, siapa yang berani-berani menggangguku?" gumam Daffa terlihat berpikir.
Daffa pun kembali mengingat-ingat peristiwa malam itu.
Dia membuka file foto-foto dalam acara pesta di hotel beberapa bulan yang lalu.
"Saat itu yang memberikan minuman padaku adalah Dion, mungkinkah dia yang ingin menghancurkanku? Apa alasannya melakukan ini?" gumam Daffa terus berpikir.
"Perbuatannya ini tidak mungkin dilakukannya seorang diri, dia pasti meminta beberapa orang membantunya," gumam Daffa terus mengingat malam itu.
"Bagaimana aku bisa kecolongan cctv tanggal kejadian itu? Ini pasti ada orang dalam yang ikut membantu si pelaku," gumam Daffa.
Daffa terus mencoba menganalisa kejadian malam itu. Dia terus menerka-nerka siapa pelaku di balik semua ini.
Pada pukul 11.00 Adeeva sudah selesai perawatannya. Dia keluar dari ruang perawatan lalu menghampiri Daffa yang kini duduk di ruang tunggu.
__ADS_1
Adeeva kini telah mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Rambutnya pun dihias sehingga Adeeva terlihat sangat anggun.
Daffa terpesona melihat kecantikan yang terpancar dari paras cantik Adeeva.
Ingatan malam panasnya kembali melintas di benak Daffa, di dalam ingatan itu dia melihat jelas wanita yang telah ditidurinya itu sosok Adeeva.
"Apakah wanita ini yang telah kutiduri?" gumam Daffa di dalam hati.
Jantungnya berdetak semakin kencang, seketika dia merasa getaran aneh di hatinya.
"Hei," panggil Adeeva membuyarkan segala khayalan Daffa.
"Eh," lirih Daffa.
"Kamu kenapa liatin aku seperti itu? Seperti melihat setan saja," keluh Adeeva yang kesal ditatap Daffa sejak tadi.
"Bukan ngeliatin setan, tapi aku ngeliatin bidadari," gumam Daffa di dalam hati.
"Eh, kenapa aku berpendapat seperti itu, apa jangan-jangan aku mulai tertarik padanya? Oh, tidak-tidak." Daffa terus bermonolog di dalam hati.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Adeeva sembari menoel bahu Daffa.
Lagi-lagi Daffa tersentak.
"Eng-enggak kenapa kenapa," balas Daffa.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Daffa.
"Iya, lalu mau ke mana lagi, atau kamu mau aku bawa ke KUA?" ujar Daffa.
"Ish," ketus Adeeva.
"Jadi perawatan ini cuma buat dibawa pulang saja gitu?" tanya Adeeva.
"Iya, biar mami percaya kalau kita sudah nikah," jawab Daffa.
Akhirnya Adeeva mengerti dengan rencana Daffa, dia pun mengalah dan mengikuti apa yang telah direncanakan oleh Daffa.
Mereka pun keluar dari salon, di parkiran salon Daffa mendapati Hendrik telah berdiri di samping mobil.
Adeeva menautkan kedua alisnya saat melihat pria yang berbeda. Seingatnya pria yang tengah membukakan pintu mobil itu bukan pria yang tadi mengantarkan mereka ke salon.
"Sopir kamu berubah wujud, ya?" tanya Adeeva heran saat mereka telah duduk di dalam mobil.
"Maksud kamu?" tanya Daffa heran.
"Sepertinya tadi bukan dia yang mengantarkan kita," ujar Adeeva.
"Oh, Alex sedang ada urusan," ujar Daffa.
__ADS_1
"Wanita ini polos sekali, dia benar-benar bersikap apa adanya," gumam Daffa menilai Adeeva.
Entah mengapa sejak bertemu Daffa, Adeeva selalu bersikap seperti dirinya yang biasa, jauh berbeda di saat dia bersama Axel, di samping Axel dia selalu bersikap sempurna agar Axel senang. Tapi, dengan Daffa dia bisa menjadi dirinya sendiri. Tampil apa adanya dan bersikap seperti tabiatnya yang biasa.
Hendrik langsung mengantarkan Daffa dan Adeeva kembali ke rumah Daffa.
Perjalanan 30 menit mereka pun sampai di rumah megah milik Daffa, mereka turun dari mobil.
Saat Daffa dan Adeeva baru saja masuk ke dalam rumah, di ruang tamu telah duduk Rossa dengan wajah penuh amarah.
Rossa pun berdiri lalu memasang wajahnya yang penuh amarah sembari berkacak pinggang.
"Kalian dari mana saja?" tanya Rossa.
Tatapan tajam matanya tak membuat Daffa merasa takut, karena Daffa tahu betul bagaimana sifat maminya.
Sedangkan Adeeva hanya menundukkan kepalanya karena takut.
"Mami, kami baru saja menikah. Kami sengaja pergi pagi-pagi sekali supaya tidak antri, soalnya hari ini banyak yang nikah juga," jawab Daffa sembari memeluk tubuh wanita yang sangat dihormatinya.
"Kenapa kamu tidak ngajakin mami?" tanya Rossa ketus.
"Di KUA rame, Mi. Aku enggak mau mami kecapean," jawab Daffa dengan santai.
Daffa pun membawa mamanya duduk di sofa ruang tamu.
"Mi sekarang Adeeva adalah istri Daffa," ujar Daffa memberitahukan wanita yang telah melahirkannya itu bahwa mereka saat ini sudah sah menjadi pasangan suami istri.
"Benarkah?" wajah cemberut Rossa berubah kembali ceria.
Amarahnya yang tadi memuncak kini menguap begitu saja.
Hati wanita paruh baya yang tadinya kesal pada putranya, kini kesal dan amarahnya hilang saat mengetahui bahwa putranya saat ini telah memiliki seorang istri.
Dia pun menghampiri Adeeva.
"Mami senang sekali kamu dan Daffa sudah menikah, semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan," ujar Rossa penuh harap.
Adeeva hanya bisa memasang wajah tersenyum dengan terpaksa, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sejenak mereka pun berbincang-bincang di ruang tamu, banyak hal yang ditanyakan Rossa pada Adeeva, dan pertanyaan itu lebih sering dijawab oleh Daffa.
"Kamu ini, yang ditanya Adeeva justru kamu yang jawab," keluh Rossa pada putranya.
Daffa hanya memasang wajah nyengir kuda.
"Ya sudah kalau begitu istirahatlah, kasihan bayi yang kamu kandung," ujar Rossa.
"Hah? Apa saja yang telah dikatakan pria itu pada maminya? Kenapa maminya bisa tahu kalau aku lagi hamil?" gumam Adeeva di dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...