Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 92


__ADS_3

"Ada apa, Deev?" tanya Axael penasaran dengan sikap Adeeva yang menatap Kyara dengan tatapan aneh.


"Di di-mana anakku?" tanya Adeeva pada Axel.


Adeeva sama sekali tidak menjawab pertanyaan Axel.


"Bayimu saat ini sedang dirawat di ruang ICCU," jawab Axel.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Adeeva sangat mencemaskan keadaan bayinya.


"Bayimu masih butuh perawatan intensif karena dia lahir prematur," jelas Axel.


"Dia baik-baik saja, kan?" tanya Adeeva memastikan keadaan bayinya.


"Ya, insya Allah bayimu baik-baik saja," jawab Axel.


Adeeva masih saja menatap ke arah Kyara yang tak berani mendekati Adeeva.


"Deev, apa yang telah dilakukan Kyara padamu?" tanya Axel ingin mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi.


"Kyara tidak melakukan apa pun, justru dia yang sudah menolongku," jawab Adeeva.


Adeeva sengaja berbohong agar Axel tidak membenci Kyara, dia yakin jika Adeeva jujur maka Adeeva akan sulit membuat Axel jatuh cinta pada Kyara.


Kyara terdiam mendengar ucapan Adeeva, dia tak menyangka Adeeva akan menutupi kesalahannya.


"Kya," lirih Adeeva memanggil Kyara.


Dia meminta Kyara untuk mendekati dirinya.


Kyara pun perlahan melangkah mendekati Adeeva.


Adeeva meraih tangan Kyara.


"Terima kasih, ya. Seandainya kamu tak berada di apartemen tadi, maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku dan bayiku," lirih Adeeva.


Kyara hanya diam. Dia tidak tahu harus berkata apa.


Axel menatap Kyara.


"Aku tidak percaya Kyara mau membantu Adeeva, pasti dia sudah melakukan hal yang jahat," gumam Axel masih mencurigai Kyara.


Di tempat lain, Daffa merasa dirinya tak tenang.


Pikirannya selalu tertuju pada sosok Adeeva, entah mengapa perasaannya sama sekali tidak enak.


Dia merasa saat ini Adeeva tengah berada dalam bahaya.


"Deev, apa sebenarnya yang terjadi padamu?" gumam Daffa yang kini tengah berada di ruangannya.


Sejak tadi dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan dengan fokus karena hati dan pikirannya terus mengkhawatirkan Adeeva dan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Dia merasa ada ikatan bathin antara dirinya dan Adeeva begitu juga dengan bayi yang dikandung oleh Adeeva.


Saat Daffa merasa risau dan gundah, Alex pun masuk ke dalam ruangan Daffa.


Alex heran melihat tuannya kini berdiri di jendela ruangannya menatap ke luar jendela.


"Tuan," lirih Alex.


Alex melangkah menghampiri tuannya yang terlihat tidak mengerjakan apa-apa sejak tadi.

__ADS_1


Alex masih melihat banyak berkas di atas meja Daffa.


Daffa mengabaikan panggilan Alex, dia kini tengah berusaha menenangkan dirinya.


"Apa yang telah terjadi, Tuan?" tanya Alex penasaran apa yang telah terjadi pada bos-nya itu.


"Aku tidak tahu, pikiranku kini tertuju pada Adeeva," jawab Daffa.


"Di mana dia sekarang?" tanya Daffa pada Alex.


"Saya tidak tahu di mana dia sekarang, Tuan." Alex tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Dengan susah payah Alex terus berusaha mencari keberadaan Adeeva, tapi dia masih tidak bisa menemukan wanita yang dicintai oleh bos-nya itu.


Daffa pun terdiam, dia tampak berpikir sambil memejamkan matanya.


"Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya saat ini, aku merasa kini terjadi sesuatu padanya," lirih Daffa.


Daffa melangkah menuju sofa, dia menghempaskan tubuhnya tepat di atas sofa itu, lalu dia memejamkan matanya perlahan.


Alex hanya bisa melihat apa yang dilakukan oleh sang bos.


15 menit berlalu, Daffa membuka matanya.


"Alex," panggil Daffa.


"Ya, Tuan," sahut Alex


"Persiapkan keberangkatan kita menuju kota Padang hari ini, mungkin dengan berlibur ke Padang aku bisa tenang," ujar Daffa memberi perintah pada asisten pribadinya.


"What? Dia merasa risau memikirkan Adeeva, tapi kenapa harus berlibur ke kota Padang?" gumam Alex bertanya-tanya di dalam hati.


"Tapi, Tuan. Kenapa harus ke kota Padang?" Alex memberanikan diri untuk bertanya.


"Jawaban yang masuk akal," lirih Alex.


"Apa maksudmu?" tanya Daffa pada Alex saat mendengar ucapan Alex.


"Eh, tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya,--"


"Sudahlah, persiapkan keberangkatan kita ke Padang sekarang juga," ujar Daffa kembali memberi perintah.


"Baik, Tuan," sahut Alex.


Alex pun keluar dari ruangan Daffa, dia langsung melakukan apa yang sudah diperintahkan oleh bos-nya.


Daffa berdiri, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi yang tersedia di ruangannya itu, dia membasuh mukanya lalu bersiap untuk keluar dari ruangannya itu.


Daffa dan Alex kini sudah berada di bandara, mereka tengah menunggu pesawat yang mereka tumpangi lepas landas.


Hanya beberapa menit menunggu, bagian informasi pun mengumumkan untuk para penumpang agar masuk ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas.


Daffa dan Alex berdiri lalu dia pun mengikuti penumpang lainnya yang kini mulai masuk pesawat menuju kota Padang.


4 jam perjalanan mereka sampai di Bandara Internasional Minangkabau.


Sama halnya dengan Damar, Alex juga menghubungi Damar memberitahukan keberadaan dirinya dan sang bos telah menginjak ranah Minangkabau, Damar juga sudah menyediakan sebuah mobil dan sopir agar Daffa dan Alex tidak kesulitan mencari alat transportasi selama berada di kota Padang.


Mereka turun dari pesawat dan keluar dari bandara, mereka dapat melihat banyak gadis Minang yang terlihat sangat cantik dan penuh pesona tapi dia sama sekali tak tertarik dengan pesona gadis Minang itu.


Di pikiran dan hati Daffa hanya ada satu nama yaitu Adeeva.

__ADS_1


Di luar Bandara seorang sopir yang diperintahkan Damar mendekati mereka.


"Permisi, Tuan." Pria yang berumur sekitar 40 tahunan itu menyapa 2 pria yang dimaksud oleh Damar.


Damar sempat mengirimkan foto Alex dan Daffa pada si sopir, sehingga sopir itu bisa mengenali orang yang akan dijemputnya di Bandara.


"Ya," sahut Alex.


"Tuan Daffa dan tuan Alex?" tanya si sopir.


"Ya," jawab Alex.


"Mari silakan, Tuan. Tuan Damar menyuruh saya untuk menjemput Tuan," ajak si sopir dengan ramah.


Alex dan Daffa pun tersenyum dengan ramah, lalu mengikuti langkah si sopir.


Sopir itu membukakan pintu mobil untuk Alex dan Daffa, setelah itu membawa Alex dan Daffa ke sebuah hotel yang telah dipesan Damar untuk mereka.


Pada malam hari, Damar membawa Alex dan Daffa untuk makan malam di sebuah restoran mewah yang ada di kota Padang.


"Sayang sekali, Tuan. Tuan Axel tidak bisa menemani kita makan malam di sini," ujar Damar.


"Kenapa?" tanya Daffa.


"Istri tuan Damar baru saja melahirkan prematur karena mengalami kecelakaan," jawab Damar.


Deg.


Seketika jantung Daffa berdetak dengan kencang mendengar jawaban Damar.


Di mana istri dan bayi Axel dirawat tanya Daffa penasaran.


"Di rumah sakit restu ibu, Tuan," jawab Damar.


"Bisakah kau mengantarkan aku ke sana?" tanya Daffa.


Entah mengapa hatinya ingin sekali menjenguk istri sahabatnya itu.


"Malam ini mungkin kita tidak bisa ke sana, Tuan. Besok saya akan temani tuan ke sana," ujar Damar.


Setelah itu mereka pun menikmati makan malam yang ada di hadapan mereka.


Keesokan harinya, Daffa dan Alex sudah berada di rumah sakit hendak menjenguk istri dan bayi sahabatnya.


Saat mereka berada di rumah sakit, Axel tengah berada di ruang ICCU, dia mendapat berita bahwa bayi Adeeva tengah kritis.


"Apa yang terjadi pada bayi kalian?" ujar Daffa saat telah berada di hadapan Axel.


"Aku tidak tahu, dokter bilang jantung berhenti berdetak," jawab Axel.


"Apa?" Jantung Daffa tiba-tiba berdetak dengan kencang.


Dia dapat merasakan sakit mendengar berita yang dilontarkan Axel.


"Di mana bayi itu sekarang?" tanya Daffa pada Axel.


"Itu," ujar Axel sambil menunjuk pada bayi yang kini sedang ditindak oleh para medis.


Hati Daffa meras getaran yang sulit diartikannya, tanpa basa-basi dia masuk ke dalam ruang ICCU itu lalu meraih sang bayi yang dipegang oleh dokter.


Daffa mengambil bayi itu lalu memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2