Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 76


__ADS_3

Axel kini berdiri di balkon kamar, lagi-lagi dia menatap pemandangan indah kota Padang dari balkon kamarnya, di hadapannya terhampar lautan lepas.


Pikirannya benar-benar semakin kacau.


Sedangkan Kyara di dalam kamar mandi masih menangisi nasib yang harus dijalaninya.


"Ini semua karena kebodohanku, kini aku terjebak dalam pernikahan ini, bagaimana aku bisa meraih cintanya sedangkan hatinya telah dimiliki oleh wanita lain," isak Kyara.


Kyara membiarkan air shower mengguyur tubuhnya, setelah satu jam Kyara pun menyelesaikan aktivitas mandinya.


Dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe, saat keluar dari kamar mandi Kyara melihat sebuah paper bag yang tergeletak di atas tempat tidur.


Dia mencoba membuka paper bag tersebut, dia mendapati pakaiannya di sana, bergegas dia mengenakan pakaian itu.


Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Kyara duduk di meja rias, dia memoles wajahnya dengan sedikit make up.


Kali ini dia menghias wajahnya seperti biasa, dia memoles wajahnya dengan make up natural.


Dia menggerai rambut panjangnya dengan memberi sebuah jepitan di sisi kanan kepalanya.


Tok tok tok.


Seseorang mengetuk pintu kamar.


Kyara dan Axel menoleh ke arah pintu, setelah itu mereka pun saling berpandangan.


Tok tok tok.


Pintu kembali diketuk karena tak jua kunjung dibuka oleh Kyara maupun Axel.


Akhirnya Axel pun melangkah menuju pintu kamar, dia membukakan pintu.


Lagi-lagi Damar sudah berdiri di depan kamar mereka.


"Ada apa?" tanya Axel.


"Sarapan sudah tersedia di restoran hotel, Tuan," jawab Damar.


"Bawa saja ke sini," perintah Axel.


"Tapi, Tuan kedua orang tua Tuan dan Nona sudah menunggu di sana," ujar Damar memberitahukan.


"Baiklah, kami akan turun," ujar Axel.


Damar mengangguk, tapi dia tetap berdiri di depan pintu kamar mereka.


Axel menghampiri Kyara yang kini masih duduk di meja rias.


"Kedua orang tua kita sedang menunggu kita di bawah," ujar Axel dingin pada sang istri.


Kyara melirik sejenak pada sang suami, lalu dia pun berdiri dan melangkah keluar dari kamar.

__ADS_1


Axel pun mengikuti langkah Kyara dari belakang.


Saat mereka telah berada di luar hotel, Axel dan Damar melangkah beriringan mengikuti langkah Kyara.


Kyara terus melangkah, berusaha dengan sekuat hatinya untuk tersenyum agar dapat menutupi luka hatinya.


"Pagi, Ma, Pa." Kyara berusaha bersikap riang seperti biasanya.


Kedua orang tua Kyara senang melihat putrinya terlihat sangat bahagia, sedangkan Axel dan Damar hanya melempar sebuah senyuman pada kedua orang tua Axel dan Kyara yang sudah duduk di kursi meja makan restoran itu.


"Sepertinya kalian melewati malam yang panjang, sehingga untuk sarapan saja harus dijemput," goda Moona pada kedua pengantin baru.


Kyara dan Axel salin melempar pandangan, sekilas ingatan malam panas itu kembali menari-nari di benak keduanya.


Seketika wajah mereka berubah merah, menahan rasa malu.


Tak ada jawaban sedikitpun dari mereka, selain menundukkan kepala mereka malu.


"Ya sudah, ayo kita makan dulu," ujar Rasyid mengalihkan pembicaraan.


Di atas meja telah terhidang menu sarapan untuk mereka semua.


Tadi malam semua keluarga memang menginap di hotel karena lelah dan tak sanggup pulang ke rumah masing-masing.


Sekaligus mereka ingin mengetahui perkembangan hubungan putra putri mereka.


"Kya, ambilkan makanan suamimu," ujar Moona pada sang putri.


Akhirnya Kyara mengambil piring yang ada di hadapan sang suami, lalu dia pun mengisi piring itu dengan makanan yang telah tersedia.


Kyara mengisi piring itu sesuai seleranya tanpa bertanya pada Axel, menu apa yang diinginkannya.


Dia pun meletakkan piring yang sudah berisi makanan itu di hadapan sang suami, lalu dia pun mengambil menu makanan untuk dirinya.


Kedua orang tua Kyara dan Axel tersenyum melihat tingkah pengantin baru tersebut.


Mereka mulai menyantap makanan itu dengan lahap kecuali Kyara dan Axel, mereka terlihat tak berselera dengan menu sarapan yang ada di piring mereka karena saat ini pikiran mereka tengah berkecamuk memikirkan lanjutan hubungan mereka berdua.


"Axel," lirih Rasyid setelah mereka selesai makan.


Axel mengangkat wajahnya lalu menatap sang ayah.


"Kami sudah menyediakan tiket honeymoon untuk kalian berdua, kalian akan berangkat nanti sore," ujar Rasyid memberitahukan perjalanan yang harus mereka jalani.


"Tapi, Pa." Axel ingin membantah.


Rasyid hanya menggelengkan kepalanya pertanda Axel tidak bisa menolak perjalanan yang sudah direncanakan oleh kedua orang tuanya.


"Perjalanan kali ini kalian akan ditemani Damar, sementara itu urusan kantor akan ditanggung jawabi oleh Ririn," ujar Rasyid lagi.


Mau tak mau Axel harus menerima rencana bulan madu yang telah dirancang oleh orang tuanya.

__ADS_1


"Semua barang-barang yang kalian butuhkan sudah disiapkan oleh Damar, jadi kalian tinggal berangkat saja," ujar Rasyid lagi.


Axel hanya bisa mengangguk.


"Kalian bisa tunggu Damar di kamar, nanti jika sudah tiba pada jam keberangkatan, Damar akan menjemput kalian," ujar Gita.


Axel hanya mengangguk.


"Ma, Pa. Apa masih ada yang mau disampaikan?" tanya Axel pada kedua orang tuanya.


"Tidak,. Sayang," sahut Gita.


"Kalau begitu aku dan Kyara kembali ke kamar lagi.


"Ya, begitulah pengantin baru ya, Jeng, maunya di kamar terus goda Moona.


"Jeng Moona seperti tidak pernah merasakannya saja," sahut Gita.


Mereka pun tertawa mendengar ocehan dia wanita paruh baya itu.


Axel dan Kyara hanya tersenyum dengan terpaksa.


"Ayo, kembali ke kamar," ajak Axel pada sang istri.


Mau tak mau Kyara pun berdiri lalu melangkah menuju kamar setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.


Axel berdiri di samping Kyara, lalu dia pun menggenggam tangan Kyara.


Kyara menatap tangannya yang digenggam oleh sang suami, seketika hatinya merasa menghangat dengan perlakuan ramah sang suami.


Lalu mereka pun melangkah menuju lift.


Sesampai di lift, Axel melepaskan genggaman tangannya. Dia menekan tombol lift.


Ting.


Pintu lift terbuka, Axel pun melangkah meninggalkan Kyara. Dia masih ingat dengan jelas tadi pagi Kyara menolak bantuan darinya.


Kyara merasa kecewa dengan perlakuan sang suami, baru saja dia dilambungkan ke awan lalu dihempaskan ke bumi dengan sekuat tenaga.


Hati Kyara semakin sakit dibuatnya.


Dia hanya bisa menghapus buliran bening yang membasahi pipinya, lalu melangkah keluar dari lift mengikuti langkah Axel yang terlebih dahulu masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar mereka tak banyak bicara, mereka masih saling diam, tak ada seorang pun yang mau mengajak berbicara terlebih dahulu.


Untuk mengisi waktunya Kyara mengambil ponselnya lalu dia pun kembali asyik dengan media sosial miliknya agar dia bisa lupa dengan rasa luka yang baru saja dirasakannya.


Dia asyik membalasi ucapan selamat dari para teman-teman media sosialnya.


Dia mengabaikan Axel yang sedari tadi menatap ke arah dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2