Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 23


__ADS_3

Axel membiarkan Adeeva menangis di dalam pelukannya, dia memberi waktu pada istrinya untuk meluapkan rasa sesak di dadanya.


Adeeva melepaskan pelukannya, lalu dia mengusap air matanya.


"Axel, maafin aku," lirih Adeeva.


"Sayang, kamu tidak salah," lirih Axel sembari membantu Adeeva mengusap pipi sang istri yang basah karena air mata.


"Kesalahanku sangat banyak padamu, aku mau menikah denganmu dalam keadaan tengah mengandung benih dari pria lain, aku yakin jika kamu mengetahui kebenarannya, kamu takkan pernah Sudi menjadi suami wanita hancur sepertiku," gumam Adeeva di dalam hati sembari menatap sang suami dalam.


"Seandainya suatu saat nanti, aku melakukan kesalahan apakah kamu akan memaafkan aku?" tanya Adeeva lirih.


"Tentu, sebagai seorang suami istri, kita harus selalu saling memaafkan, jika tidak ada maaf dari sepasang suami istri maka rumah tangga tidak akan pernah bahagia," ujar Axel sambil tersenyum.


"Mhm," gumam Adeeva. Dia tidak bisa memberi tanggapan yang lain.


"Ya udah, kita lanjutkan perjalanan kita." Axel pun kembali mulai mengemudikan mobilnya.


"Sayang," lirih Adeeva.


Tiba-tiba Adeeva mulai memanggil Axel dengan sebutan sayang, entah dia sudah mulai mencinta suaminya atau kini dia belum bisa mencintai sang suami, tapi rasa sayang itu tumbuh begitu saja di dalam hatinya, hingga sebutan 'sayang' itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Axel langsung menoleh ke arah sang istri.


"Apa? Kamu manggil aku apa tadi?" tanya Axe pada sang istri.


Dia ingin mendengar sang istri sekali lagi memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'.


"Apa? Sayang?" tanya Adeeva.


"Sekali lagi, Sayang. Aku senang sekali kamu memanggilku dengan sebutan itu.


"Iya, Sayang. Aku akan mencoba memulai memanggilmu dengan sebutan itu," ujar Adeeva.


Adeeva kembali merebahkan kepalanya di lengan kekar Axel yang masih fokus menyetir.


Entah mengapa Adeeva ingin selalu berada di dekat sang suami. Rasa nyaman bersama Axel kini telah tumbuh di hatinya sehingga dia ingin menikmati masa-masa bersama dengan sang suami sebelum semua kebenaran terbongkar.


Axel pun tersenyum, dia merasa sangat bahagia. Dia sangat bersyukur dengan sikap Adeeva yang kini mulai menunjukkan kasih sayang terhadap dirinya.

__ADS_1


Pria tampan itu juga berharap semoga dia dapat memiliki sang istri secara utuh, bayangan kebahagiaan dalam penyatuan cinta mereka pun kini menari-nari di otaknya.


Selang beberapa waktu, mereka pun sampai di rumah. Mereka keluar dari dalam mobil.


Seperti biasa mereka langsung melangkah menuju kamar.


Sesampai di kamar mereka pun langsung masuk ke dalam kamar mandi secara bergantian untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk menunaikan shalat ashar.


Setelah itu mereka duduk santai di balkon kamar, sembari menghabiskan waktu sore menanti waktu maghrib tiba.


"Sayang, aku udah transfer uang belanja bulanan kamu ke rekening kamu," ujar Axel.


Adeeva memang memiliki rekening baru yang dibuatkan oleh Axel sebelum menikah, yang mana uang mahar pernikahan mereka masih tersimpan rapi di rekening itu.


"Lho, uang belanja bulan kemarin aja belum habis," ujar Adeeva.


Adeeva memang tidak banyak menggunakan uang yang diberikan Axel, karena tabungannya sebelum menikah masih ada dan sejak mereka menikah, banyak kebutuhan Adeeva yang selalu dibelikan oleh Axel, apalagi saat ini mereka tinggal bersama kedua orang tua Axel sehingga Adeeva tidak perlu mengeluarkan uang untuk membiayai kebutuhan dapur.


"Itu kan sudah menjadi kewajibanku sebagai suamimu, mana tahu kamu butuh sesuatu dan di saat itu aku sedang tidak berada di samping kamu," ujar Axel.


Adeeva tersenyum, dia bersyukur memiliki suami sebaik Axel yang penuh tanggung jawab terhadap dirinya.


Saat makan malam, mereka semua berkumpul di ruang makan.


Adeeva dan Axel menyapa kedua orang tua Axel saat masuk ke dalam ruang makan.


Di atas meja telah terhidang berbagai menu yang menggugah selera.


"Ayo, kita makan," aja Gita pada putra dan menantunya.


"Iya, Ma," sahut Adeeva dan Axel serentak.


Tak menunggu lama mereka mulai menyantap hidangan yang telah tersedia di atas meja.


Saat makan tak satu pun yang bersuara, sebagai seorang istri dia tetap telaten dalam melayani sang suami saat makan.


"Axel." Terdengar suara Rasyid mulai membuka pembicaraan setelah merekam menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing.


"Iya, Pa." Axel menoleh ke arah sang papa dan menunggu ucapan pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Tadi, papa bertemu dengan ayah Adeeva, katanya mereka kangen dengan Adeeva. Sekali-sekali kamu bisa bawa Adeeva pulang ke rumahnya, walau bagaimanapun mereka tetap orang tua Adeeva," ujar Rasyid.


Axel hampir saja lupa membawa sang istri pulang ke rumahnya karena sejak mereka menikah Adeeva tidak pernah meminta Axel untuk berkunjung ke rumah kedua orang tuanya karena wanita itu masih merasa kesal dan marah pada kedua orang tuanya yang menikahkan dirinya dengan Axel tanpa adanya kejujuran atas kenyataan akan dirinya.


"Oh, iya, Pa. Kami keasyikan kerja, sih. Jadi lupa, weekend ini aku dan Adeeva akan pergi ke rumah orang tua Adeeva." Axel menanggapi ucapan sang papa.


Sedangkan Adeeva hanya memaksakan untuk tersenyum.


"Oh, iya. Bagaimana dengan Jack?" tanya Rasyid mengalihkan pembicaraan.


Dia juga penasaran d Ngan kelanjutan kasus Jack.


Axel pun menceritakan apa yang telah diceritakan Adeeva padanya tadi siang, tak satupun yang ditutupi Axel pada papanya.


"Astaghfirullah, papa tidak menyangka Jack bisa berbuat seperti itu, padahal dia sudah menikah," ujar Rasyid menanggapi.


"Iya, Pa. Aku juga tidak menyangka dia berani memperlakukan setiap karyawan baru wanita seperti itu, makanya aku sudah meminta Adeeva untuk membujuk korbannya untuk memberi saksi di pengadilan agar dia mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya," ujar Axel.


"Papa akan beritahu hal ini pada Om-mu, papa harap dia bisa mengerti dengan apa yang telah dilakukan putranya," ujar Rasyid lagi.


Axel mengangguk setuju, mereka berharap keluarga Jack dapat menerima tindakan yang Axel ambil saat ini.


Adeeva dan Gita hanya bisa menjadi pendengar setia, mereka tidak tahu harus berpendapat apa tentang masalah ini.


****


Malam pun tiba, Adeeva dan Axel baru saja selesai menunaikan ibadah shalat isya, kini mereka telah berbaring di atas tempat tidur bersiap untuk beristirahat setelah melaksanakan kegiatan harian mereka.


Axel mendekati sang istri, dia pun mulai merangkul tubuh sang istri, Adeeva tak menolak sama sekali perlakuan dari sang suami.


Seolah saat ini Adeeva pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh sang suami terhadap dirinya.


Axel menatap dalam ke arah sang istri, seolah meminta izin untuk mengambil haknya sebagai seorang suami.


Tatapan cinta Axel dibalas dengan tatapan pasrah dari sang istri, perlahan Axel pun mengecup lembut bibir sang istri.


Tangannya pun mulai bermain, Adeeva pasrah. Dia membiarkan sang suami menyentuh setiap lekuk tubuhnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2