
"Aku tidak menyangka dia akan membunuh semua orang yang terlibat dalam masalah ini, dan dia juga berani membunuhku," ujar Dion pada Raffa.
"Dia benar-benar sudah tidak punya hati, dia benar-benar jauh berubah sehingga aku tak lagi bisa mengenali dirinya," ujar Daffa.
"Lalu apa rencanamu setelah ini?" tanya Daffa merasa kasihan pada temannya itu.
Walaupun Dion terlibat dalam penjebakan yang dilakukan Hansen, kehadiran Dion mengakui semua yang terjadi telah membuat Daffa melupakan kesalahan temannya itu.
"Aku tidak tahu, aku ingin pergi jauh dari sini dan hidup bahagia dengan keluargaku tanpa dihantui rasa takut bertemu dengan Hansen," ujar Dion.
Daffa terdiam sejenak.
"Lex, tolong kamu urus segala urusan pindah Dion ke Padang, rekomendasikan dia bekerja di perusahaan Axel," perintah Daffa berbaik hati pada Dion.
Daffa yakin saat ini Dion sudah bertaubat, oleh karena itu, Daffa memberi kesempatan untk DIon bisa hidup tenang di tempat lain.
"Baik, Tuan," sahut Alex.
"Usahakan tak seorang pun yang tahu tujuan pindah mereka," ujar Daffa.
Alex pun mengangguk paham.
"Terima kasih, Daffa. Aku tak menyangka kamu akan membalas kejahatanku dengan kebaikan," ujar Dion terharu dengan apa yang dilakukan Daffa untuknya.
"Tidak usah berterima kasih padaku, sebagai seorang sahabat ini adalah tugasku," ujar Daffa.
Dion menitikkan air matanya mendengar ucapan temannya, ternyata selama ini dia sudah salah menilai Daffa selama ini.
Daffa memang terlihat sombong dan angkuh, tapi dia memiliki hati yang sangat baik.
Setelah itu Dion pun dibawa Alex ke apartemennya untuk sementara waktu, agar dia tak lagi terlantar di jalanan.
Setelah Alex dan Dion keluar dari rumahnya.
Daffa langsung menuju apartemen Ainun yang ditunjukkan Dion tadi.
Sesampai di apartemen tersebut, Daffa sama sekali tidak menemukan sosok Ainun, apartemen yang didatanginya itu terlihat terkunci dengan rapat.
"Ke mana wanita itu?" gumam Daffa.
Saat ini Daffa sudah tidak sabar ingin mengetahui keberadaan Adeeva, dia sangat berharap Ainun bisa membantu dirinya untuk bertemu dengan wanita yang telah direnggutnya kehormatannya dan wanita yang sudah menguasai hatinya.
Daffa terdiam, memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Ainun.
__ADS_1
Daffa pun menghubungi seseorang, dia meminta orang kepercayaannya itu untuk mencari Ainun, lalu Daffa melangkah gontai kembali pulang.
Di rumah Daffa berbaring di atas tempat tidurnya sembari menatap langit-langit.
Dia membayangkan wajah wanita yang dicintainya itu adalah wanita yang telah ditidurinya pada malam penjebakan itu.
"Deev, aku tidak menyangka ternyata kamulah wanita yang telah aku sentuh, maafkan aku sudah merusak dirimu, aku akan mencarimu dan bertanggung jawab atas anak yang tengah kamu kandung, aku yakin bayi yang ada di dalam rahimmu adalah darah dagingku," lirih Daffa terus mengenang masa-masa bersama Adeeva.
****
Adeeva sudah diperbolehkan dokter untuk pulang ke rumah, dia sudah sehat, begitu juga bayinya.
Axel membawa Adeeva dan bayinya ke apartemen miliknya, karena dia tahu kedua orang tuanya tidak akan sudi menerima Adeeva dan bayinya di rumah itu.
Axel datang ke rumah sakit untuk membawa Adeeva pulang.
"Kamu sudah siap?" tanya Axel pada sang istri.
Adeeva menganggukkan kepalanya.
"Ayo," ajak Axel.
Axel membantu Adeeva turun dari tempat tidur, lalu dia pun mengambil bayi Adeeva, dan memberikannya kepada Adeeva agar Adeeva menggendong sang bayi.
Sesampai di parkiran Adeeva melangkah pelan menuju mobil dibantu oleh Axel, mereka pun masuk ke dalam mobil.
"Sudah, Pak," seru Axel pada sopir pribadinya setelah mereka duduk nyaman di dalam mobil.
Sang sopir pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen.
Sepanjang perjalan Adeeva tak banyak bicara, dia tengah memikirkan cara agar Axel dan Kyara bisa dekat dan suaminya itu melupakan dirinya.
Dia terus menatapi Axel yang kini menatap fokus ke arah depan.
"Kamu kenapa liatin aku seperti itu?" tanya Axel saat menyadari Adeeva tak henti menatap ke arahnya.
"Mhm, tidak apa-apa." Adeeva pun langsung mengalihkan pandangannya.
Axel pun meraih tangan Adeeva yang tidak menopang tubuh si bayi, dia menggenggam erat tangan Adeeva, menunjukkan rasa perhatiannya pada Adeeva.
Ingin rasanya dia melepaskan genggaman itu, tapi apalah dayanya. Dia juga tidak tega melakukan itu pada pria baik hati yang telah setia berada di sampingnya di saat dirinya sangat membutuhkannya.
Seandainya Axel tidak berada di sampingnya saat melahirkan bayinya, Adeeva tidak tahu harus melakukan apa.
__ADS_1
Adeeva juga tidak yakin bisa membayar semua administrasi rumah sakit karena uang tabungannya dan atmi yang berisi maharnya raib begitu saja saat pencopetan di Bali ketika Adeeva baru saja berada di Bali.
"Deev," lirih Axel teringat akan sesuatu.
Adeeva yang baru saja mengalihkan pandangannya dari Axel kembali menoleh ke arah suaminya.
"Mhm," gumam Adeeva menanggapi panggilan dari sang suami.
"Mhm, aku belum menyiapkan berbagai keperluan untuk bayimu, nanti sesampai di apartemen kamu boleh pilih apa saja yang kamu perlukan. Kita akan beli secara online," ujar Axel teringat bahwa di apartemennya sama sekali tidak ada perlengkapan bayi sama sekali.
"Apa? Kamu mengatakan bayiku? Ya, ini adalah bayiku bukan bayi kita, wajar saja kamu berkata seperti itu," gumam Adeeva di dalam hati.
Dia merasa asing mendengar ucapan Axel yang mengatakan baha bayi yang dilahirkannya adalah bayinya seorang.
Dari perkataan Axel itu, Adeeva dapat mengambil kesimpulan bahwa Axel tidak menginginkan keberadaan bayi yang baru saja dilahirkannya.
Seketika Adeeva teringat dengan Daffa yang sudah menyiapkan berbagai keperluan bayinya, padahal Daffa hanyalah orang yang baru saja dikenalnya.
Dia juga teringat saat Daffa memperlakukan dirinya bagaikan seorang istri yang tengah mengandung buah cinta mereka.
"Mhm, tidak apa-apa. Gimana bagusnya saja," lirih Adeeva sedikit kecewa mendengar ucapan Axel.
Adeeva sadar saat ini, Axel memang mencintai dirinya, tapi Axel sama sekali tidak menginginkan bayinya.
Hal ini membuat Adeeva semakin yakin untuk mempersatukan Kyara dengan Axel agar dia bisa terbebas dari pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di depan apartemen milik Axel, sang sopir menghentikan mobil tepat di depan lobi apartemen.
Perlahan Axel turun dari mobil, dia pun membantu Adeeva turun secara perlahan.
Saat itu sang sopir langsung mengeluarkan kursi roda yang telah disediakan untuk Adeeva dari bagasi mobil.
"Duduklah, aku akan mendorongmu sampai masuk apartemen," ujar Axel pada Adeeva.
Adeeva pun langsung duduk di kursi roda itu.
Axel mendorong kursi roda tersebut hingga sampai apartemen milik Axel.
Saat mereka sampai di apartemen, Kyara membukakan pintu dengan wajah tegang.
"Apa yang terjadi?" tanya Axel heran.
Bersambung...
__ADS_1