Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 106


__ADS_3

"Alhamdulillah, kenyang," seru Kyara bahagia.


Dia tidak peduli dengan raut wajah sang usami yang terlihat kacau.


Setelah selesai makan, Kyara mengajak Axel pulang. Entah mengapa dia merasa bosan berada di sana.


Axel pun berdiri, lalu dia membayar tagihan makanan yang mereka pesan, lalu mereka pun langsung masuk mobil dan pulang.


Saat di perjalanan, Kyara meminta Axel berhenti di sebuah swalayan.


Axel pun menghentikan mobilnya di salah satu swalayan cabang miliknya.


Mereka turun dari mobil, Kyara langsung mengambil berbagai kebutuhan rumah yang mereka butuhkan, Kyara tidak lupa mengambil beberapa makanan ringan untuk mengisi perutnya di saat dia lapar.


Selama Kyara mengambil barang-barang yang diinginkannya, Axel menunggu di kasir.


Hampir satu jam Kyara berbelanja, dia pun datang membawa dua troli berisi penuh.


Axel menatap heran pada satu troli yang isinya hanya makanan ringan.


Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, setelah itu dia meminta kasir menghitung semua belanjaan mereka.


"Apakah ini dihitung semua atau bagaimana, Tuan?" tanya si tukang kasir pada bos-nya.


"Hitung saja, biar saya bayar," jawab Axel.


Axel belum memberitahu Kyara apa pekerjaannya, dan apa saja bisnisnya selama ini, sehingga Kyara tidak tahu bahwa swalayan itu milik sang suami.


"Baik, Tuan," sahut si pelayan kasir.


Axel membayar semua belanjaan mereka lalu meninggalkan swalayan, mereka pun kembali pulang.


Di perjalanan pulang, Kyara merasa sangat mengantuk, saat perutnya kenyang rasa kantuk mulai menyerang dirinya.


Akhirnya Kyara pun memejamkan matanya lalu dia pun tertidur di dalam mobil.


Saat mereka sampai di apartemen, Axel melihat sang istri yang kini tertidur dengan lelap.


Axel hendak membangunkan istrinya, tapi tiba-tiba rasa kasihan membuatnya memutuskan untuk mengangkat tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam apartemennya.


Axel menggendong istri keduanya itu masuk ke dalam apartemennya, sesampai di dalam kamar, dia membaringkan Kyara di atas tempat tidur.


Axel tidak lupa menyelimuti tubuh wanita anehnya itu dengan selimut.


"Dilihat sekilas, kamu anggun dan cantik.".Axel menatap dalam wajah polos istrinya yang kini sedang tidur nyenyak.


Setelah itu, Axel pun kembali ke bawah, ke parkiran mobilnya untuk mengambil barang belanjaan mereka tadi.


Axel meletakkan barang belanjaannya itu di atas sofa ruang tamu, dia membiarkan barang-barang itu di sana dulu, karena dia sudah merasa sangat lelah.


Axel melangkah menuju kamarnya lalu dia pun beristirahat setelah membersihkan diri terlebih dahulu.


Keesokan harinya, Kyara bangun dari tidurnya.


Perlahan dia membuka matanya, dia menatap langit-langit kamarnya. Dia mengingat bahwa dirinya kemarin tertidur di dalam mobil, dan kini dia sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Siapa yang membawaku ke sini?" gumam Kyara bertanya-tanya.


"Apakah Bang Axel yang menggendongku dan membawaku ke sini?" gumam Kyara lagi dengan hati berbunga-bunga.


"Jika memang kamu yang menggendong diriku, maka sebentar lagi aku akan mendapatkan hatimu," gumam Kyara bahagia.


Kyara pun bangkit dari tidurnya, lalu dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Kyara mengenakan sebuah gaun yang menurutnya dapat membuat dirinya terlihat anggun, lalu dia melangkah keluar kamar, dia ingin mempersiapkan sarapan pagi untuk sang suami.


Saat berada di ruang tamu, Kyara melihat barang-barang belanjaan sama sekali belum disimpan di dalam lemari dan kulkas.


Akhirnya dia pun mulai mengangkat barang-narang belanjaan tersebut, kemudian menyusunnya sebagian di dalam lemari yang ada di dapur, sebagiannya lagi dia menyimpannya di dalam kulkas.


Setelah itu dia menyiapkan roti bakar untuk sang suami, Kyara tidak bisa memasak masakan lainnya kecuali roti dan telur.


Dia menghidangkan roti bakar itu di atas meja makan untuk sarapan sang suami.


Kyara melangkah menuju kamar suaminya.


Tok tok tok.


Kyara mengetuk pintu kamar Axel.


"Bang, ayo sarapan," seru Kyara.


Tak berapa lama Kyara menunggu, Axel pun keluar dari kamarnya.


"Kamu masak apa untuk sarapan pagi ini?" tanya Axel dengan nadda meledek.


Mereka melangkah menuju ruang makan.


Axel tersenyum melihat roti bakar yang telah terhidang di atas meja.


"Baiklah, paling tidak aku berangkat kerja tidak merasakan lapar," lirih Axel berusaha menghargai hasil usaha sang istri.


Mereka pun mulai menyantap roti bakar yang telah terhidang itu sebagai pengisi perut mereka di pagi hari ini.


"Bang," panggil Kyara setelah dia menghabiskan roti bakar yang ada di dalam piringnya.


"Mhm," gumam Axel menanggapi ucapan sang istri.


"Hari ini aku ikut kamu kerja, ya. Aku mau ketemu dengan Kak Adeeva, kangen," pinta Kyara.


Axel menatap Kyra sejenak.


"Baiklah," jawab Axel.


Setelah selesai sarapan, mereka pun berangkat ke kantor Axel.


****


Pagi ini Daffa dapat informasi dari salah satu anak buahnya, bahwa mereka telah menemukan tempat tinggal kedua orang tua Adeeva yang berada di kota Padang.


Hanya saja mereka tidak pernah melihat keberadaan Adeeva di rumah itu.

__ADS_1


"Sebar anak buah kalian di sana hingga Adeeva dapat ditemukan!" perintah Daffa pada anak buahnya.


Baru saja dia mendapatkan telpon dari anak buahnya, dia merasa tidak sabar untuk berangkat ke kota Padang.


Daffa menghubungi Alex dan meminta Alex untuk mempersiapkan keberangkatannya menuju kota Padang pagi ini juga.


Daffa ingin sekali bertemu dengan kedua orang tua Adeeva agar dia dapat mengetahui keberadaan Adeeva dari kedua orang tuanya.


Pada pukul 11.00 menjelang siang, Daffa dan Alex telah sampai di kota Padang.


Seperti biasa, Alex meminta Damar menyediakan sebuah mobil untuk transportasi mereka selama berada di Padang.


"Kita langsung ke rumah kedua orang tua Adeeva," perintah Daffa saat mereka telah keluar dari bandara internasional Minangkabau.


"Baik, Tuan," sahut Alex.


Mereka pun langsung menuju kediaman keluarga Haikal, yang mana alamatnya sudah diberitahu oleh anak buah Daffa.


Sang sopir menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sederhana milik Haikal.


Jantung Daffa berdetak dengan kencang, saat ini dia sangat berharap akan dapat bertemu dengan wanita yang sangat dicintainya.


Dia turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah Haikal.


Alex mengetuk pintu rumah Haikal saat mereka telah berada di depan rumah Haikal.


Beberapa kali ketukan, Aisyah pun membukakan pintu rumahnya.


"Permisi, Buk. Apa benar ini rumah kedua orang tua Adeeva?" tanya Alex dengan sopan.


Aisyah menautkan kedua alisnya, sambil menganggukkan kepalanya.


"Mhm, iya benar," jawab Aisyah yang masih heran dengan kedatangan Alex dan Daffa ke rumahnya.


"Apakah kamu boleh masuk?" tanya Alex.


"Oh ya, silakan," ujar Aisyah.


Aisyah pun mengajak mereka masuk ke dalam rumah.


Kini mereka telah berada di ruang tamu.


"Maaf, kalau boleh tahu kalian ini siapa?" tanya Aisyah.


"Perkenalkan, Bu. Saya Daffa, kami datang dari Bali ingin mencari Adeeva," jawab Daffa.


"Kenapa kalian mencari Adeeva?" tanya Aisyah lagi semakin penasaran.


Aisyah tak menyangka ada orang yang jauh-jauh datang dari Bali hanya untuk mencari putrinya.


"Saya ingin bertanggung jawab atas anak yang dikandung oleh Adeeva," jawab Daffa dengan tegas.


"Apa?" Aisyah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daffa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2