
Di dalam rumah sakit, Daffa meminta Adeeva duduk di ruang tunggu, setelah itu dia pun mendaftarkan Adeeva di bagian registrasi.
Setelah itu dia pun duduk tepat di samping Adeeva.
Kali ini Daffa benar-benar bersikap layaknya seorang suami yang tengah menemani istrinya kontrol buah cinta mereka.
Sepertinya Daffa sangat menikmati hal ini, dia merasa begitu dekat dengan janin yang dikandung oleh Adeeva.
Hati nuraninya ingin memberikan kasih sayang untuk janin yang ada di dalam kandungan Adeeva itu.
Adeeva menatap Daffa lekat, dia membayangkan pria yang di sampingnya saat ini adalah pria yang telah menanamkan benihnya di rahimnya.
Hati Adeeva merasa bahagia, dan melambung tinggi ke awan dengan angan yang dia sendiri tak mengerti makna angannya itu.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Daffa pada Adeeva saat menyadari Adeeva yang menatapnya dengan tatapan bahagia.
"Tidak," lirih Adeeva.
Adeeva pun menggelengkan kepalanya.
"Jangan lihat aku seperti itu, nanti kamu bisa jatuh cinta padaku," goda Daffa.
Daffa pun tersenyum, dia memalingkan wajahnya dari tatapan Daffa.
"Dih, kamu ge-er banget, sih," gerutu Adeeva.
"Hehehe." Daffa pun terkekeh.
"Nyonya Adeeva," teriak seorang perawat memanggil nama Adeeva pertanda sudah waktunya Adeeva memeriksakan kandungannya.
"Ya," sahut Daffa dengan siaga.
"Kamu sudah dipanggil," ujar Daffa.
Daffa membantu Adeeva untuk berdiri, dia menggenggam erat tangan Adeeva, lalu dia pun melingkarkan tangannya yang sebelah lagi ke pinggang Adeeva.
Mereka melangkah menuju ruang pemeriksaan. Setiap langkah Adeeva memandangi wajah tampan pria yang mengiringi langkahnya itu.
"Ya Allah, apa sebenarnya yang kini tengah terjadi? Aku merasa bahagia mendapatkan perlakuan dari pemuda ini," gumam Adeeva di dalam hati.
"Nyonya Adeeva," panggil perawat yang berada di depan pintu ruang pemeriksaan.
Panggilan itu membuyarkan khayalan Adeeva yang telah sampai ke langit ke tujuh.
"Ya," sahut Daffa.
"Silakan, Nyonya, Tuan," ujar si perawat.
Perawat itu pun membukakan pintu ruang pemeriksaan.
"Selamat pagi, Nyonya Adeeva," sapa dokter yang memang sudah mengenali Adeeva yang tiap bulan datang kontrol di kliniknya.
"Pagi, Dok." Adeeva tersenyum ramah.
"Wah, akhirnya datang bersama suaminya," ujar si dokter sambil menoleh ke arah Daffa.
Sang dokter memberikan senyum ramahnya pada Daffa, dan Daffa pun membalas senyuman itu.
__ADS_1
Adeeva hanya tersenyum mendengar ucapan sang dokter, dia tidak mungkin mengatakan bahwa Daffa bukanlah suaminya.
"Bagaimana keadaan Nyonya Adeeva sekarang? Apakah ada keluhan?" tanya Dokter.
"Keluhan tidak ada, Dok. Hanya saja tidur kurang nyenyak," jawab Adeeva.
"Oh, hal itu memang wajar terjadi di masa trisemester ketiga," ujar Dokter.
"Ya sudah, ayo kita periksa terlebih dahulu," ajak dokter.
Dokter pun meminta Adeeva naik ke atas tempat tidur.
Setelah itu, seorang perawat memeriksa tekanan darah Adeeva, lalu membuka perut Adeeva yang mulai terlihat membuncit.
Daffa juga ikut berdiri di samping Adeeva, dia memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh perawat terhadap Daffa.
"Kita periksa dulu ya, Nyonya," ujar Dokter sembari menempelkan alat USG di perut Adeeva.
"Alhamdulillah perkembangan janin sehat, lihatlah ini tulang rusuknya, ini otak Kana dan otak kirinya tumbuh sama besar, janin tumbuh dan berkembang dengan baik," ujar Dokter menjelaskan keadaan janin Adeeva.
Daffa terpana melihat monitor besar yang ada di hadapan mereka, matanya terpana melihat keadaan janin yang tumbuh di rahim Adeeva.
Tanpa disadarinya, Daffa menitikkan air matanya, dia merasa terharu melihat tumbuh kembang anak yang dia tidak ketahui bahwa anak itu adalah darah dagingnya.
"Alhamdulillah, janinnya sehat," ujar Dokter menutup pemeriksaan tersebut.
Dokter pun melangkah menuju kursinya, sedangkan Adeeva pun mulai bangkit dari posisinya, Adeeva turun dari tempat tidur dibantu oleh perawat.
Adeeva hendak melangkah ke tempat duduk yang ada di depan meja dokter itu, saat itu dia menyadari Daffa yang kini masih mematung melihat monitor yang kini sudah mati.
"Daffa," panggil Adeeva sambil menarik lengan kekarnya.
"Mhm," gumam Adeeva.
"Ayo," lirih Adeeva.
"Eh, iya." Akhirnya Daffa sadar dia telah melamun.
Dia mengusap sedikit air mata yang tadi sempat jatuh membasahi pipinya.
Daffa pun kembali menuntun Adeeva melangkah menuju kursi yang ada di depan dokter.
Dokter pun memberikan selembar kertas yang berisi resep obat yang harus ditebus Adeeva agar janin di dalam rahimnya berkembang semakin sehat.
"Terima kasih, Dok," ucap Daffa sembari mengambil resep yang diberikan Dokter padanya.
"Sama-sama," sahut dokter.
Setelah itu mereka pun keluar dari ruang tersebut. Di luar ruangan pemeriksaan, Daffa mendudukkan Adeeva di bangku ruang tunggu, lalu dia pun melangkah menuju apotik untuk mengambil obat yang telah diresep oleh dokter tadi.
"Yuk," ajak Daffa setelah mendapatkan obat yang ditebusnya.
Dia kini telah berada tepat di samping Adeeva.
Adeeva mendongakkan kepalanya menatap Daffa.
"Ayo, kita pulang," ajak Daffa lagi.
__ADS_1
Perlahan Adeeva bangkit, lalu mereka pun melangkah keluar dari ruang klinik.
"Habis ini mau ke mana?" tanya Daffa pada Adeeva.
Daffa masih ingin menghabiskan waktu bersama Adeeva.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Adeeva polos.
"Mhm, enggak tahu. Tapi aku mau ngajakin kamu jalan biar kamu tidak merasa suntuk hanya di rumah saja," jawab Daffa.
"Oh, ya udah kalau gitu, aku ikut kamu aja," ujar Adeeva.
"Ya udah, yuk kita ke mall," ajak Daffa.
Adeeva mengangguk setuju.
Akhirnya Daffa pun melajukan mobilnya menuju mall terdekat dari posisi mereka saat ini.
Selama Adeeva bersama Daffa, dia belum pernah dibawa Daffa ke mall. Daffa hanya membawa Adeeva pergi makan ke resto-resto yang dimilikinya yang ada di Bali.
Daffa memarkirkan mobilnya di valet parking, setelah itu mereka turun dari mobil.
Daffa turun dari mobil terlebih dahulu, lalu dia pun membukakan pintu untuk Adeeva.
Dia membantu Adeeva turun dari mobil secara perlahan.
Setelah itu mereka pun melangkah masuk ke dalam mall.
Mereka melangkah melihat-lihat berbagai macam barang-barang yang ada di toko di dalam mall itu.
Adeeva mengikuti langkah Daffa yang terus berkeliling mall tanpa diketahuinya apa yang ingin dibeli oleh Daffa.
"Kamu mau beli apa?" tanya Adeeva yang mulai merasa lelah berjalan di dalam mall itu.
Daffa menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Adeeva.
"Kamu capek, ya?" tanya Daffa balik.
"Mhm, lumayan," jawab Adeeva jujur.
Wajar saja Adeeva merasa lelah karena saat ini perutnya mulai membesar.
"Sebenarnya apa sih yang kamu cari? Sejak tadi aku perhatikan kamu hanya berkeliling tidak jelas," ujar Adeeva.
Daffa tersenyum lalu menarik tangan Adeeva ke sebuah bangku yang ada di pinggir pagar mall.
"Kalau capek, kamu kan bisa istirahat dulu," ujar Daffa.
"Memangnya kamu tidak berencana untuk membeli sesuatu?" tanya Adeeva lagi.
"Ada," jawab Daffa singkat.
"Apa?" tanya Adeeva lagi penasaran.
"Aku ingin membeli perlengkapan bayi untuk anak kita," ujar Daffa begitu saja.
Tanpa disadarinya dia mengatakan bahwa janin di dalam kandungan Adeeva adalah anaknya.
__ADS_1
Deg.
Bersambung...