
Tok tok tok.
Sebuah ketukan terdengar dari luar ruangan.
Daffa dan Adeeva pun. menghentikan kegiatannya. Mereka kini sadar dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Adeeva bergegas memakai kancing kemejanya. Dia juga merapikan rambutnya yang mulai acak-acakan.
Daffa langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia berusaha menetralkan napasnya yang masih menderu.
Adeeva melangkah menuju pintu ruangan, lalu membukakan pintu itu.
Seorang dokter dan perawat telah berdiri di depan pintu ruangan.
"Selamat pagi, Nona" sapa sang dokter.
"Pagi, Dok," sapa Adeeva.
Adeeva merasa gugup, dia takut dokter dan perawat itu melihat apa yang baru saja terjadi di antara dirinya dan Daffa tadi.
"Bolehkah saya periksa pasien?" tanya Dokter pada Adeeva.
Dokter sengaja bertanya karena Adeeva masih belum memberi jalan masuk untuk sang dokter dan perawat.
"Oh iya, Dok," lirih Adeeva yang menyadari makna dari pertanyaan sang dokter.
Adeeva pun membukakan pintu lebih lebar, dan dia pun mundur ke belakang sehingga dokter dan perawat pun bisa masuk ke dalam ruangan itu.
"Bagaimana keadaannya, Tuan?" sapa Dokter setelah dia berdiri di samping Daffa.
"Saya merasa sudah mulai sembuh, Dok," jawab Daffa.
Daffa memang sudah tak sabar untuk pulang, dia ingin melakukan aktivitasnya seperti biasa.
"Baiklah, saya periksa dulu," ujar Dokter.
Sementara Daffa diperiksa oleh dokter, Adeeva memilih duduk di sofa, hatinya masih kacau.
Dia merasa malu terhadap dirinya sendiri. Dia juga merasa bersalah pada Axel, dia sendiri tidak tahu saat syetan mulai menghasut dirinya untuk menerima perlakuan pria tampan yang sudah menolongnya itu.
Adeeva mengusap wajahnya kasar, sekelabat kejadian tadi membuatnya merasa sangat malu.
"Astaghfirullah, apa yang telah aku lakukan?" gumam Adeeva.
Adeeva menyadari baru saja dia telah melakukan dosa besar di mata Allah.
"Alhamdulillah, keadaan Tuan Daffa sudah mulai membaik, hari ini tuan sudah bisa pulang," ujar Dokter.
"Benarkah, Dok?" tanya Daffa senang.
"Iya," jawab Dokter mengangguk.
"Terima kasih, Dok," ucap Daffa.
__ADS_1
Setelah itu dokter pun berpamitan dengan Daffa.
"Kami pamit dulu, Nona," ujar Dokter menyapa Adeeva yang duduk di sofa.
"Eh, iya, Dok." Adeeva pun berdiri.
Dia masih merasa gugup.
"Tuan Daffa sudah bisa pulan hari ini," ujar Dokter memberitahu Adeeva.
"Oh, iya, Dok. Terima kasih," ucap Adeeva.
"Sama-sama."
Dokter pun melangkah keluar dari ruangan itu.
Adeeva hanya mengantarkan hingga pintu ruangan itu.
Setelah dokter pergi, Adeeva kembali duduk di sofa, dia tidak berani mendekati Daffa, karena rasa malu yang menyeruak di hatinya.
Daffa menatap ke arah Adeeva, dia merasa bersalah telah melakukan hal itu pada Adeeva.
Daffa pun mengambil ponselnya yang ada di sebuah lemari tepat di samping tempat tidurnya.
Dia langsung menghubungi Alex dan mengatakan pada Alex berita yang diberikan oleh dokter tadi.
Dia meminta Alex untuk datang menjemputnya dan mengurus segala administrasi pengobatannya di rumah sakit itu.
Kini Daffa dan Adeeva sama-sama diam, Daffa berdiam diri di atas tempat tidurnya sedangkan Adeeva berdiam diri di sofa, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Semua urusan administrasi sudah selesai, Tuan." Alex memberi laporan.
"Ya sudah, kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita pulang," ajak Daffa yang sudah tidak ingin lagi berada di rumah sakit itu.
Satu Minggu di rumah sakit membuat otaknya buntu.
"Baik, Tuan." Alex mulai membereskan beberapa barang-barang Daffa yang ada di ruangan itu.
Dia menyadari keberadaan Adeeva yang kini hanya diam di sofa.
"Apa yang terjadi pada nona Adeeva?" gumam Alex di dalam hati bertanya-tanya.
Sikap Adeeva berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Alex terus melakukan apa yang harus dilakukannya.
Setelah semua barang-barang tersimpan rapi, Alex pun menghampiri Adeeva yang masih melamun.
"Nona," panggil Alex.
"Nona," panggil Alex lagi karena Adeeva masih belum merespon panggilannya.
"Nona," panggil Alex lagi dengan suara yang lebih tinggi.
__ADS_1
"Eh," lirih Adeeva.
Dia pun tersadar dari lamunannya.
"Iya, ada apa?" tanya Adeeva.
"Mhm, tuan sudah bisa pulang. Jadi, kita bisa pulang sekarang," ujar Alex.
"Oh, iya." Adeeva langsung berdiri.
Dia menoleh ke arah Daffa yang kini telah duduk di atas kursi roda.
Adeeva melangkah menghampiri Daffa, lalu dia membantu mendorong kursi roda itu. Alex membawa barang-barang mereka.
Untuk sementara waktu Adeeva pun melupakan apa yang telah terjadi, dia lebih mementingkan apa yang saat ini harus dilakukannya.
Adeeva mendorong kursi roda Daffa hingga parkiran, sesampai di parkiran, Adeeva membantu Daffa turun dari kursi roda itu lalu membantu Daffa masuk ke dalam mobil.
Setelah Daffa duduk di dalam mobil, Adeeva juga duduk di samping Daffa.
Alex pun ikut masuk ke dalam mobil, lalu pria itu mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Daffa dan Adeeva masih saja diam, hal ini membuat Alex semakin bertanya-tanya apa yang telah terjadi di antara keduanya.
Hanya butuh waktu 30 menit, mereka pun sampai di rumah megah milik Daffa.
Alex menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah, dia turun dari mobil lalu membantu Daffa turun dari mobil.
Dia memapah Daffa melangkah masuk ke dalam mobil, sedangkan Adeeva ikut turun dan mengikuti langkah mereka yang masuk ke dalam rumah.
Alex membawa Daffa menuju lift yang telah diselesaikan mang Udin seperti perintah Nyonya Rossa waktu itu.
Adeeva juga mengikuti langkah mereka, dia ikut masuk ke dalam lift itu untuk naik ke lantai dua.
Alex mengantarkan Daffa hingga kamarnya, sesampai di kamar Adeeva langsung melangkah menuju kamar mandi, dia ingin membersihkan diri, saat ini dia merasa tubuhnya sangatlah kotor karena telah melakukan dosa besar.
Wanita itu pun berdiri di bawah shower, dia membiarkan setiap guyuran air shower membasahi dirinya.
Ingatan Adeeva terus tertuju pada perlakuan Daffa barusan, dia semakin merasa bersalah.
Dia pun terduduk di lantai, untuk beberapa waktu dia membiarkan air itu terus membasahi dirinya.
Satu jam lebih Adeeva berada di dalam kamar mandi, Daffa terus menoleh ke arah kamar mandi menunggu Adeeva keluar dari kamar mandi itu.
Sementara Alex sudah pergi, karena ada urusan yang harus diselesaikannya.
Adeeva keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe panjang menutupi seluruh tubuhnya serta handuk yang melilit di kepalanya.
Seketika hati Daffa merasa lega melihat Adeeva keluar dari kamar mandi, Adeeva pun melangkah menuju lemari tempat pakaiannya disimpan.
Daffa terus memandangi Adeeva yang kini kembali melangkah ke kamar mandi setelah mengambil pakaian yang akan dikenakannya.
"Deev," lirih Daffa.
__ADS_1
Adeeva terhenti mendengar panggilan Daffa. Bayangannya kini tertuju pada Axel yang selalu memanggil nama itu pada dirinya, selama ini Daffa tidak pernah memanggilnya dengan sebutan itu.
Bersambung...