
Di ruang makan mereka pun telah duduk di tempat mereka masing-masing.
Mereka menyantap makanan yang telah terhidang, Adeeva terlihat menikmati makanan itu dengan nikmat.
"Daffa," panggil Rossa setelah mereka menyelesaikan kegiatan makan mereka.
Daffa mengangkat wajahnya lalu menatap wanita yang telah melahirkannya.
"Nanti siang mami akan berangkat ke Australia," ujar Rossa memberitahukan rencananya pada putranya.
"Apa? Kenapa mami berangkatnya mendadak begini?" tanya Daffa.
"Iya, kakakmu minta mami cepat pulang ke Australia, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi mami harus jagain keponakanmu," jawab Rossa.
"Ya udah, nanti biar aku antar mami. Pukul berapa berangkatnya, Mi?" tanya Daffa.
"Pukul 13.15," jawab Rossa.
"Ya udah, pagi ini aku harus ke kantor dulu, ada meeting yang harus aku hadiri," ujar Daffa.
"Enggak perlu repot-repot, mami bisa diantar supir, kok," ujar Rossa tidak mau merepotkan putranya yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya.
"Enggak, Mi. Maunya aku antar mami langsung ke Australia, sekaligus ngajak Adeeva jalan-jalan," ujar Daffa santai.
Adeeva kaget mendengar ucapan Daffa.
"Ya udah, kalian se.kalian ikut saja," ajak Rossa senang.
"Enggak bisa, Mi. Minggu ini Daffa banyak masalah yang harus diselesaikan, Daffa ingin perjalanan dengan Adeeva tanpa dibebani masalah apa pun," ujar Daffa.
"Ya sudah, kalau begitu, mami berangkat duluan, lalu kamu menyusul setelah semua masalahmu selesai,' ujar Rossa.
"Baik, Mi " Daffa mengangguk.
Setelah itu, Daffa pun berpamitan berangkat kerja pada maminya dan Adeeva.
"Aku berangkat dulu," ujar Daffa.
Daffa dan Adeeva berdiri lalu melangkah menuju teras rumah, Rossa juga mengikuti langkah mereka.
Dia juga ingin melepas kepergian putranya sebelum berangkat ke kantor.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang," ujar Daffa pada Adeeva.
Dia sengaja berkata mesra kepada Adeeva, karena maminya memperhatikan setiap gerak-gerik mereka.
Daffa memberi kode kepada Adeeva, agar Adeeva ikut bersandiwara.
Adeeva pun meraih tangan Daffa, dia menyalami Daffa serta menciumi punggung tangan Daffa layaknya seorang istri melepas kepergian suami bekerja.
Setelah itu Daffa pun mengecup lembut puncak kepala Adeeva, bagaimana layaknya seorang suami sebelum pergi bekerja.
Dia sengaja melakukan hal itu agar sang Mami yakin dengan pernikahan ecek-ecek mereka..
__ADS_1
Rossa tersenyum bahagia melihat tingkah Dafa dan Adeeva, dia melihat bahwa putra dan Adeeva merupakan pasangan yang sangat serasi.
Hanya saja dia tidak tahu, apa yang dilakukan putranya dan Adeeva saat ini hanyalah akting belaka.
Setelah Daffa pergi, Adeeva memegangi kepalanya yang tadi dikecup oleh Daffa, sekelabat bayangan itu kembali hadir di benaknya.
Hati Adeeva bergetar mendapat perlakuan tersebut.
"Adeeva, ayo kita masuk," ajak Rossa.
Panggilan Rossa membuyarkan lamunannya, dia mengangguk lalu mereka pun melangkah masuk menuju kamar masing-masing.
"Kamu naik tangganya hati-hati, ya," pesan Rossa sebelum Adeeva menaiki anak tangga.
"Iya, Mi," sahut Adeeva.
Pada siang harinya, Daffa telah berada di rumah sebelum keberangkatan sang mami.
"Kamu ikut kan antar mami?" tanya Daffa pada Adeeva yang kini masih berbaring di atas tempat tidur.
"Mhm, boleh," lirih Adeeva.
"Ya sudah, kalau begitu ayo siap-siap," ajak Daffa.
Adeeva pun mengangguk, lalu dia pun bergegas mengganti pakaiannya.
Daffa menunggu Adeeva, dia duduk di pinggir tempat tidur sembari membuka ponselnya.
"Aku sudah siap," seru Adeeva setelah dia mengganti pakaiannya.
Dia semakin cantik natural di mata Daffa.
Pria tampan itu terpesona dengan penampilan wanita yang bersamanya saat ini.
"Andai saja, Adeeva adalah wanita yang kutiduri malam itu, maka aku takkan membiarkan seorang pun mengambil dia dariku," gumam Daffa di dalam hati.
Diam-diam mulai tertarik dengan wanita yang telah beberapa hari ini bersamanya, Daffa merasa Adeeva wanita yang berbeda dari wanita di luar sana.
"Ayo, kita berangkat," ajak Adeeva membuyarkan khayalan Daffa.
"Eh, iya. Ayo," Daffa berdiri.
Mereka pun keluar dari kamar, mereka melangkah, saat berada di depan tangga, Daffa pun berhenti, lalu dia melingkarkan tangannya di pinggang Adeeva.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Adeeva gugup.
Seketika jantungnya berdetak kencang mendapat perlakuan itu dari Daffa.
"Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami pada istrinya, di saat sang istri tengah mengandung," bisik Daffa.
"Kita kan cuma bohongan," lirih Adeeva.
"Tapi, di depan mami kita tetap pasangan suami istri," ujar Daffa.
__ADS_1
Adeeva tak bisa membantah lagi, akhirnya dia pun membiarkan Daffa melakukan apa yang diinginkannya.
Mereka melangkah menuruni anak tangga.
"Udah siap, Mi?" tanya Daffa pada maminya saat mendapati maminya sudah duduk di ruang tamu.
"Udah," jawab Rossa.
"Barang-barang mami udah di mobil?" tanya Daffa lagi.
"Sudah, tadi mang Udin yang masukkan ke dalam mobil," jawab Rossa.
"Ya udah, kalau gitu ayo berangkat, Mi," ajak Daffa.
Rossa mengangguk, lalu dia berdiri dan mereka pun melangkah keluar rumah.
Di depan rumah sebuah mobil mewah telah terparkir, mobil itu siap untuk mengantarkan Rossa ke bandara.
Saat berada di samping mobil, Daffa membukakan pintu untuk maminya, setelah maminya masuk mobil, dia pun membukakan pintu untuk Adeeva.
Adeeva kagum melihat sikap Daffa, di sini terlihat bahwa Daffa sangat menyayangi wanita yang telah melahirkannya itu.
Daffa pun masuk ke dalam mobil setelah memastikan dia wanita yang bersamanya berada di dalam mobil.
Rossa duduk di bangku belakang sedangkan Adeeva duduk di depan di samping Daffa.
Daffa mulai melajukan mobilnya menuju bandara.
Sesampai di Bandara, Rossa berpamitan dengan putranya.
Wanita paruh baya itu memeluk erat tubuh putranya seakan tidak ingin berpisah dengan putra satu-satunya itu, begitu juga dengan Daffa, dia terlihat berat melepaskan keberangkatan sang mami.
"Jangan lupa sama janjimu, untuk bawa Adeeva ke Australia," ujar Rossa setelah melepaskan pelukannya dari tubuh sang putra.
"Iya, Mi. Daffa janji setelah semua urusan Daffa selesai, Daffa akan bawa Adeeva ke Australia," balas Daffa.
Rossa pun tersenyum, kini dia pun berpindah memeluk tubuh Adeeva.
"Kamu jaga Daffa baik-baik, ya. Mami bisa pergi dengan tenang karena ada kamu di samping Daffa," ujar Rossa pada Adeeva.
"Iya, Mi." Adeeva mengangguk, lalu tersenyum.
Mereka pun saling melambaikan tangan saat Rossa mulai masuk ke dalam bandara.
Daffa dan Adeeva pun meninggalkan bandara, mereka kembali masuk ke dalam mobil.
"Kita makan siang di luar saja, ya," ajak Daffa.
"Mhm, terserah kamu saja," ujar Adeeva setuju.
Daffa pun berencana akan membawa Adeeva ke salah satu resto miliknya.
Sepanjang perjalanan, Daffa fokus mengendarai mobilnya, saat berada di perempatan jalan sebuah mobil col* di*sel melajukan kencang ke arah mobil Daffa.
__ADS_1
Mobil itu pun menghempaskan mobil Daffa ke pinggir jalan.
Bersambung...