Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 110


__ADS_3

"Axel?" Daffa juga bingung melihat sahabatnya kini berdiri di dalam apartemen itu.


Adeeva hanya diam, sejak tadi siang dia sudah melihat kedekatan Axel dan Daffa. Sehingga Adeeva tidak kaget lagi dengan kedekatan mereka.


"Siapa, Bang?" tanya Kyara yang kini sudah berdiri di ruang tamu.


Dia penasaran dengan tamu yang datang malam ini, karena tak biasanya akan ada tamu yang datang pada jam segitu.


"Kak Adeeva?" lirih Kyara heran.


"Lho, Bang Daffa yang tadi bukan?" ujar Kyara.


Dia kaget dan penasaran dengan kedatangan Daffa dan Adeeva ke apartemen Axel secara bersamaan.


"Ayo, masuk, Kak, Bang," ajak Kyara.


Kyara sengaja menyuruh mereka masuk ke dalam apartemen karena Axel hanya mematung di tempatnya.


Axel pun mengangguk tegang melihat Adeeva dan Daffa yang datang ke apartemennya.


Kini mereka semua telah duduk di ruang tamu.


Beberapa menit mereka masih diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Axel menunggu Daffa mulai bicara.


"Xel," lirih Daffa setelah beberapa menit mereka hening.


Semua mata kini tertuju pada Daffa.


"Apakah kamu masih ingat ceritaku waktu di Bali?" tanya Daffa pada Axel.


Dia sengaja mengingatkan curhatannya mengenai seorang wanita yang telah dihamilinya waktu itu.


"Mhm, ya aku ingat, lalu?" sahut Axel menautkan kedua alisnya.


Daffa terdiam sejenak, lalu dia menoleh ke arah Adeeva.


"Wanita yang aku ceritakan waktu itu adalah Adeeva, istrimu," ujar Daffa jujur pada Axel.


"A-a-pa?" Axel menggelengkan kepalanya.


Dia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.


Dia bertanya-tanya, di mana mereka bertemu, sedangkan selama ini Adeeva tinggal di Padang sedangkan Daffa tinggal di Bali.


"Ya, Adeeva adalah wanita yang aku cari selama ini," ujar Daffa lagi.


"Kenapa bisa Adeeva? BUkankah kalian tinggal di tempat yang berbeda?" tanya Axel masih belum bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh Daffa.


"Waktu itu aku dan Ainun pergi berlibur ke Bali, dan di sanalah aku masuk ke dalam jebakan sahabatku sendiri," cerita Adeeva jujur.


Daffa pun memohon pada Axel, untuk melepaskan ikatannya dengan Adeeva.

__ADS_1


Dia meminta agar Axel berlapang dada membiarkan Adeeva menikah dengan Daffa.


Axel terdiam lama, dia tak tahu harus menjawab apa.


Saat ini dia tengah berusaha menata hatinya untuk melepaskan wanita yang dicintainya itu bersatu dengan sahabatnya.


Daffa dan Adeeva hanya diam menunggu jawaban dari Axel.


Sedangkan Kyara bingung harus berbuat apa, dia merasa senang Adeeva yang baik hati itu telah menemukan ayah dari bayinya, apalagi pria itu sangat mencintai Adeeva.


****


Malam ini Ainun sudah berada di tempat dia bekerja.


Saat Ainun sedang melayani pelanggan, Sherin kembali'datang menghampirinya.


Sherin memberitahukan tugas yang harus dilakukannya malam ini.


"Rin, apa aku harus melayani 3 orang pria itu lagi?" tanya Ainun pada Sherin.


Ainun merasa terhina dengan pekerjaan yang satu itu.


"Mhm, iya, Ai. Kamu harus melayani pelanggan yang malam itu, mereka ketagihan dengan servis yang kamu berikan," jawab Sherin jujur.


"Tapi, Rin. A-aku,--" Ainun bingung mencari alasan untuk menolak pekerjaan itu.


"Kamu ingin uang atau nyawamu yang melayang?" tanya Sherin mengancam Ainun agar dia tidak bisa menolak pelanggan ini.


Ainun terdiam, dia membisu tak tahu harus bagaimana lagi.


Ketiga pria itu merupakan cowok Casanova yang kaya raya, mereka sudah terbiasa menyewa satu gadis untuk mereka nikmati secara bersama.


Bagi mereka menikmati satu wanita bersama itu membuat mereka rasakan sensasi yang berbeda dalam melampiaskan n*fs* b*r*h*nya.


Kekayaan yang mereka miliki membuat mereka tidak ingin menikah dengan seorang gadis, tapi mereka memilih bersenang-senang dengan wanita malam seperti Ainun.


Dengan terpaksa Ainun pun melakukan tugasnya, kali ini dia membiarkan ketiga pria itu mencabik-cabik kehormatannya, dan menginjak-injak harga dirinya.


Malam ini merupakan kedua kalinya Ainun melayani ketiga pria itu, setelah malam panjang itu berlalu, Ainun pun melangkah menuju kamar mandi.


Dia mengguyur tubuhnya dengan air shower.


Rasa sakit yang mendalam kini dirasakannya di bagian int*mnya.


Dia menangis di dalam kamar mandi hingga pagi datang.


Ainun keluar dari kamar mandi menjelang waktu subuh datang.


Saat dia keluar dari kamar mandi ketiga pria itu tak lagi ada di dalam kamar itu.


Dengan langkah gontai Ainun keluar dari kamar VVIP tersebut, di lantai 2 Sherin sudah menunggunya.


"Nih, bayaranmu malam ini," ujar Sherin pada Ainun.

__ADS_1


Ainun menerima uang itu, rasa lelah malam ini membuat dia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi.


Ainun tak menghitung uang itu lagi, yang dia tahu bayarannya melayani ketiga pria itu adalah 10 juta.


Kali ini Ainun memasukkan uang itu ke dalam tasnya, dan tak lupa memasang resleting bagian dalam tasnya itu.


Dia tidak mau hasil kerja kerasnya hilang lagi seperti hari sebelumnya.


"Rin," lirih Ainun sebelum meninggalkan tempat itu.


"Mhm, malam ini aku izin enggak masuk, ya," ujar Ainun meminta izin pada Sherin.


"Kenapa?" tanya Sherin.


"Aku merasa benar-benar lelah harus melayani ketiga pria ganas itu," ujar Ainun jujur.


"Oh, ya udah, biar aku yang beritahu Frans nanti," ujar Sherin.


Mau tak mau Sherin membiarkan Ainun untuk tidak bekerja nanti sore.


Ainun pun meninggalkan Sherin, dia keluar dari tempat itu. Dia melangkah menuju taksi yang telah terparkir di depan gedung tempat Ainun bekerja.


Tanpa berkata apa-apa, sang sopir langsung melajukan mobilnya setelah Ainun berada di dalam mobil itu.


Ainun pun mulai terlelap, si sopir membangunkan Ainun saat mereka telah sampai di apartemen.


Ainun melangkah menuju apartemennya dengan langkah gontai.


Sesampai di kamarnya, Ainun langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur hingga akhirnya dia terlelap.


Pada sore harinya, Ainun bangun dari tidurnya.


Perutnya kini terasa sangat lapar, dia melangkah ke dapur mencari sesuatu yang bisa dimakan di dalam kulkas.


Dia mengambil sepotong roti dan selai coklat untuk sekadar pengganjal perutnya yang lapar sebelum makanan yang dipesannya datang.


Saat Ainun duduk di meja makan, seketika Ainun teringat pada Adeeva, dia kini mulai penasaran dengan keadaan sahabatnya itu.


"Apakah Daffa sudah menemukan Adeeva?" gumamnya di dalam hati.


Ingin rasanya Ainun bertemu dengan sahabatnya itu untuk meminta maaf.


Dia yakin apa yang dijalaninya saat ini adalah hukuman dari apa yang telah diperbuatnya.


Saat Ainun asyik melamun, terdengar suara ketukan pintu apartemennya.


Ainun pun melangkah keluar untuk membukakan pintu.


Betapa kagetnya Ainun melihat siapa yang kini telah berdiri di hadapannya.


Awalnya dia mengira, tamu yang datang adalah pengantar makanan.


"Kau," lirih Ainun cemas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2