Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 90


__ADS_3

"Apakah itu artinya saat ini aku telah masuk ke dalam lubang buaya?" tanya Ainun merinding.


"Begitulah, dulu aku juga seperti itu, demi mendapatkan pekerjaan aku datang ke sini untuk melamar pekerjaan bersama temanku, karena terpaksa aku harus menerima pekerjaan ini, sedangkan temanku memilih menolak pekerjaan ini. Sehari setelah itu, temanku tewas dibunuh," cerita Shiren mengingat masa lalu.


"Lebih baik tetap menjalankan pekerjaan ini, dari pada mati terbunuh," ujar Shiren lagi.


Ainun hanya bisa diam mendengar ucapan Shiren, mungkin dia harus tetap menjalani pekerjaan ini demi bisa tetap bertahan hidup.


Ainun mengambil gaun yang diulurkan oleh Shiren lalu mengenakannya.


Sebenarnya pakaian minim yang diberikan Shiren tak asing bagi Ainun, yang membuatnya ragu hanyalah tidur dengan pelanggan yang berbeda tiap malamnya.


Ainun dan Shiren keluar dari ruangan itu.


Frans melihat penampilan Ainun yang sangat menawan, tubuhnya yang sedikit montok membuat Frans semakin tertarik pada wanita yang baru saja dikenalnya itu.


"Shiren, beritahu dia apa yang harus dilakukannya," perintah Frans pada Shiren.


Shiren pun mengajak Ainun keluar ruangan Frans, lalu mengarahkan Ainun untuk melayani beberapa pengunjung yang ada di diskotik.


Malam ini Ainun hanya disuruh melayani beberapa pelanggan, dia hanya menemani pelanggan minum tanpa harus masuk ke dalam kamar.


Ainun bersyukur tidak diminta untuk menemani pelanggan tidur di kamar yang telah tersedia di gedung itu.


Ainun pulang bekerja pada pukul 03.00.


Dia merasa sangat lelah semalaman tidak tidur karena bekerja, tapi penghasilannya malam ini lumayan banyak, karena banyak pelanggan yang memberikannya bonus upah menemani pelanggan minum.


"Kalau pekerjaannya hanya ini, aku bisa kaya raya," gumam Ainun senang.


Namun, seketika dia teringat apa yang dikatakan oleh Shiren.


"Apa yang harus aku lakukan supaya aku tidak diminta menemani pelanggan di tempat tidur?" gumam Ainun sembari berpikir keras.


Ainun memang tak lagi per*w*n karena dia telah menyerahkan semuanya pada Hansen, pria yang membuangnya begitu saja, tapi dia tidak mau berganti pria setiap malamnya.


Ainun melangkah gontai menuju apartemennya, sesampai di apartemen Ainun langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tak menunggu lama, dia pun terlelap karena lelah.


****


Saat pagi datang, Adeeva terbangun dari tidurnya.


Malam ini Axel tidur di sampingnya seperti yang dulu biasa mereka lakukan.


Adeeva turun dari tempat tidur dengan susah payah, perlahan dia melangkah menuju kamar mandi.


"Jika kamu butuh bantuan, aku selalu ada di sampingmu," ujar Axel yang kini sudah berada di samping Adeeva.

__ADS_1


"Aku tidak mau merepotkanmu," lirih Adeeva.


Tak hanya merepotkan saja, Adeeva tidak mau berhutang Budi pada Axel, karena dia sama sekali tidak bisa membalas cinta yang diberikan Axel padanya.


"Kenapa merepotkan, aku ini suamimu. Apa pun akan aku lakukan untukmu," ujar Axel pada Adeeva.


Dia berharap dengan perlakuannya akan membuat hati Adeeva terbuka dan menerima cintanya yang begitu besar pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Adeeva menghentikan langkahnya. Dia menatap dalam pada wajah tampan sang suami.


"Maafkan aku, Axel. Sampai kapan pun aku tidak bisa mencintaimu," lirih Adeeva di dalam hati.


Axel menautkan kedua alisnya melihat sang istri menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Axel.


Adeeva bergegas menggelengkan kepalanya, lalu dia melangkah menuju kamar mandi tanpa berkata apa-apa.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi? Sehingga hatimu sulit untuk kuraih, masih bisakah aku mendapatkan cintamu?" gumam Axel memandang punggung Adeeva yang kini telah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Setelah Adeeva keluar dari kamar mandi, Axel pun masuk ke dalam kamar mandi.


"Deev, seperti biasa, ya. Kita shalat subuh berjama'ah," ujar Axel mengingatkan Adeeva untuk menunggu dirinya.


"Iya," lirih Adeeva.


Axel masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Adeeva bersiap untuk melaksanakan shalat subuh berjama'ah dengan Axel.


Sepasang suami istri itu pun sudah siap untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim.


Sementara itu Kyara masih saja nyenyak tidur, dia baru bisa tertidur menjelang azan subuh.


Terlebih dia sama sekali tidak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, karena orang tuanya memang tak mengajari hal itu.


Yang dia tahu hanya shalat ied, itupun dikerjakannya hanya 2 kali dalam satu tahun.


Setelah shalat subuh, Adeeva melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka semua yang ada di apartemen itu.


Meskipun dia tahu Kyara adalah istri kedua dari suaminya, justru Adeeva tidak ingin memulai permusuhan dengan wanita yang sudah sah menjadi istri suaminya.


Adeeva ingin, Kyara menjadi istri yang baik untuk suaminya sehingga Axel dapat melupakan cintanya pada Adeeva, agar Adeeva tidak diselimuti rasa bersalah.


Pada pukul 07.00 semua sarapan yang disiapkan Adeeva telah terhidang di atas meja makan, dia menyiapkan sarapan sederhana sesuai dengan bahan-bahan yang ada di dalam kulkas.


Axel sudah siap untuk pergi bekerja, hari ini dia berencana mengunjungi lokasi proyek kerja samanya dengan Daffa di kawasan Pantai Air Manis.


Dia keluar dari kamar setelah penampilannya sempurna.


Axel melangkah menuju dapur.

__ADS_1


"Wah, aroma masakannya membuat aku merasa sangat lapar," puji Axel sembari menghampiri Adeeva.


Dia melingkarkan tangannya di pinggang Adeeva, lalu mengelus lembut perut Adeeva yang sudah terlihat membuncit.


Adeeva tersentak dengan apa yang dilakukan oleh sang suami sehingga menjatuhkan piring yang ada di tangannya.


Piring itu jatuh tepat di kaki Adeeva sehingga darah berserakan di lantai.


"Astaghfirullah," pekik Axel.


Dia langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Adeeva, lalu dia pun langsung membersihkan pecahan kaca yang ada di kaki istrinya.


"Maafkan aku, Dev. Aku tidak bermaksud,--"


"Tidak apa-apa," potong Adeeva.


Adeeva pun ikut membersihkan kaca yang berserakan.


"Biar aku saja yang membersihkannya," ujar Adeeva.


"Tidak, kamu duduk saja di sana, aku akan bersihkan luka kakimu," ujar Axel merasa bersalah.


Axel meminta Adeeva duduk di kursi, lalu dia pun melangkah ke ruang keluarga tempat dia biasa menyimpan kotak p3k. Dia mengambil obat untuk mengobati kaki sang istri.


Adeeva dapat merasakan cinta dan kasih yang diberikan oleh Axel terhadap dirinya.


Namun, dia yang tidak bisa memberikan kasih dan cintanya untuk sang suami baik hati itu.


"Ayo, kita sarapan," ajak Axel setelah memperban luka kaki Adeeva.


Axel membersihkan pecahan kaca terlebih dahulu, lalu dia pun mengambil piring lagi untuk mereka sarapan.


Axel mengisi piring itu dengan nasi goreng yang telah terhidang di atas meja.


Lalu Axel memberikan piring itu kepada sang istri, setelah itu dia pun mengambil piring untuk dirinya mereka pun menikmati sarapan pagi bersama.


Setelah mereka selesai sarapan, Axel langsung berpamitan kepada sang istri untuk berangkat bekerja, dia mengabaikan keberadaan istri keduanya yang masih terlelap di dalam kamarnya.


Pada pukul 10.00, Adeeva berinisiatif untuk membangunkan Kyara yang masih tidur di kamarnya.


Adeeva melangkah masuk ke dalam kamar istri kedua suaminya.


Dia mendapati madunya masih tidur dengan nyenyak.


Adeeva menghampiri Kyara, lalu membangunkannya dengan pelan.


"Kya," lirih Adeeva.


Tiba-tiba Kyara terbangun lalu mendorong Adeeva hingga terjatuh di lantai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2