Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 82


__ADS_3

"Hansen," lirih Daffa tak percaya.


Ainun bergegas menarik selimut lalu menutup semua tubuhnya yang kini tak mengenakan sehelai benang pun.


Begitu juga pria yang bernama Hansen itu, dia juga ikut menarik selimut, sehingga terjadilah aksi tarik menarik selimut antara Hansen dan Ainun.


"Ainun, kau ku ceraikan talak 3 sekaligus, mulai hari ini kau bukan lagi istriku," ujar Daffa tak bisa menahan diri.


"Alex, batalkan segala kerja sama dengan perusahaan Hansen, aku tidak mau lagi berurusan dengannya, cabut semua saham di sana," ujar Daffa penuh amarah.


Alex hanya bisa diam mendengar ucapan Daffa.


Saat ini Daffa yakin Hansen adalah dalang dibalik semua masalah yang terjadi padanya.


Daffa keluar dari kamar itu, dia benar-benar muak melihat Ainun.


Untung dia belum terlibat terlalu jauh dengan wanita yang bernama Ainun itu.


Sementara Ainun hanya bisa menatap Hansen dengan penuh penyesalan.


Angan-angannya menjadi nyonya besar di kediaman Daffa sirna begitu saja.


"Ini semua salahmu," bentak Hansen pada Ainun.


Semua rencana Hansen untuk menghancurkan Daffa serta meraih semua harta Daffa sirna begitu saja karena kecerobohan Ainun.


Hansen pun mengambil pakaiannya, lalu meninggalkan Ainun begitu saja.


Ainun hanya bisa terduduk di pinggir tempat tidur.


Saat ini semua yang telah diangan-angankannya lenyap begitu saja.


Dia juga tak menyangka Hansen akan meninggalkannya begitu saja.


****


Daffa melangkah menuju mobil yang terparkir diikuti oleh Alex yang melangkah cepat dibelakangnya.


"Tuan, apakah anda tidak tergesa-gesa dengan keputusan anda?" tanya Alex tidak sependapat dengan bos-nya.


"Apa lagi yang harus dipertimbangkan? Sudah pasti Hansen adalah dalang dibalik semua ini," ujar Daffa.


Daffa menghela napas panjang, lalu dia menunggu Alex membukakan pintu mobil untuknya.


Dia tak banyak bicara lagi setelah berada di dalam mobil.


Akhirnya Alex pun hanya bisa diam, dan kini dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan hotel tersebut.


"Kita langsung pulang ke rumah," ujar Daffa.


"Baik, Tuan," sahut Alex.

__ADS_1


Daffa tengah berada di ruang kerjanya, dia membuka sebuah album foto yang berisi kenangan masa lalu bersama sahabat kecilnya, Hansen.


Hansen adalah sahabat Daffa sejak kecil, mereka tumbuh kembang bersamaan, mulai dari SD hingga SMA mereka selalu bersama.


Tak sedikit kenangan yang mereka jalani bersama.


Daffa merasa dikhianati oleh sahabatnya itu, dia merasa sedih dengan apa yang telah dilakukan Hansen terhadap dirinya.


Persahabatan Hansen dan Daffa terjalin karena ayah mereka juga bersahabat.


Hanya saja, setelah ayah Hansen meninggal dunia. Hansen dan keluarganya memilih pindah ke luar negeri, sedangkan Daffa tetap di Indonesia.


Hansen kembali ke Bali setelah 5 tahun berada di luar negeri, dia kembali untuk melanjutkan perjuangan perusahaan yang selama ini dirintis oleh ayahnya.


Hansen kembali ke Bali, dan kedatangannya disambut Daffa dengan gembira.


Hingga akhirnya Daffa dan Hansen menjalin kerja sama agar persahabatan mereka semakin erat.


Selama ini Daffa tak pernah mengira Hansen akan berbuat jahat terhadap dirinya.


"Apa salahku, Hans? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku? Apakah kamu tak lagi menganggapku sebagai sahabat?" lirih Daffa sedih.


Bagi Daffa Hansen sudah seperti saudara, rasa kecewa yang mendalam kini menyelimuti hati Daffa.


Saat ini Daffa benar-benar merasa hidup seorang diri, tak ada satu orang pun yang bisa mengerti perasaannya.


Luka hatinya ditinggal Adeeva belum terobati, kini hadir luka yang ditorehkan oleh sahabatnya sendiri.


Semalaman itu Daffa tertidur di ruang kerjanya, dia memejamkan matanya dengan membawa perasaan sedihnya.


Dia mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu bersiap untuk untuk melaksanakan ibadah shalat subuh.


Meskipun Adeeva sudah meninggalkan dirinya, dia masih tetap menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, paling tidak dengan begitu dia bisa merasa lebih tenang.


Setelah shalat subuh, Daffa langsung menuju ruang makan untuk sarapan.


Sarapan kali ini, Daffa memilih untuk menyantap sepotong roti dan segelas susu.


Tak banyak kata-kata, dia langsung berangkat ke kantor.


Kali ini Daffa meminta Alex untuk tidak menjemputnya, dia pergi ke kantor dengan mobil sport miliknya tanpa sopir.


Pada pukul 07.00


Daffa sudah sampai di ruangannya.


Dia kini tengah sibuk memeriksa berbagai berkas yang ada di atas mejanya.


Dia menghilangkan rasa suntuk dan stres-nya dnegan cara bekerja dan bekerja.


Tak berapa lama dia berada di ruangannya, Alex masuk ke dalam ruangan bos-nya.

__ADS_1


"Pagi, Tuan," sapa Alex pada


Daffa yang masih sibuk dnegan beberapa berkas yang ada di tangannya.


"Tuan, semua saham yang ada di perusahaan Tuan Hansen sudah ditarik. Berita penarikan saham ini akan menyebar ke beberapa perusahaan lainnya, perusahaan Tuan Hansen bisa rugi besar dan bangkrut," ujar Alex menyampaikan apa yang akan terjadi pada perusahaan Hansen setelah penarikan saham Daffa lakukan.


"Aku tidak peduli," lirih Daffa.


Rasa kecewanya lebih besar dari pada rasa ibanya terhadap sahabat.


Alex hanya bisa menghela napas panjang. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti perintah dari bos-nya.


"Baiklah, Tuan. Saya hanya ingin menyampaikan hal ini," ujar Alex.


Alex bersiap hendak keluar dari ruang Daffa.


"Lex." panggil Daffa, membuat Alex terpaksa menghentikan langkahnya.


"Iya, Tuan," sahut Alex.


"Apakah kamu sudah mendapat kabar tentang keberadaan Adeeva saat ini?" tanya Daffa ingin mengetahui perkembangan pencarian sosok wanita yang kini telah menguasai hatinya.


"Mhm, maaf, Tuan. Hingga saat ini aku belum dapat kabar," jawab Alex membuat Daffa semakin kecewa.


"Pergilah," lirih Daffa.


Alex pun keluar dari ruangan Daffa, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Saat Alex keluar Daffa menghentikan pekerjaannya, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu mengusap kasar wajahnya.


"Aaaaaarrrrggg," pekik Daffa dalam hati.


Daffa pun berdiri dia melangkah menuju sofa yang tersedia di dalam ruangannya itu.


Lalu dia membaringkan tubuhnya di sofa itu.


Dia mulai mengotak-atik ponselnya, sekadar mencari hiburan di benda pipih itu.


Saat Daffa sedang asyik memainkan ponselnya, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya.


Bergegas Daffa membuka pesan tersebut. Di sana terdapat pesan dari salah satu orang suruhan Daffa yang sengaja ditugaskannya untuk mencari Adeeva.


Pesan itu berisi bahwa orang suruhan Daffa itu mendapatkan informasi tempat Adeeva bekerja.


Orang itu memberikan sebuah alamat pada Daffa.


Tanpa pikir panjang Daffa pun langsung menuju tempat yang diberitahu oleh orang suruhannya itu.


Dia pergi dari ruangannya tanpa memberitahukan sekretaris dan asisten pribadinya, dia pergi begitu saja.


Daffa kini melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata karena dia ingin sekali bertemu dengan wanita yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Kali ini Daffa berjanji di dalam hatinya tidak akan pernah melepaskan Adeeva meskipun suami Adeeva yang akan menjadi lawannya.


Bersambung...


__ADS_2