
Adeeva mulai terdiam, dia tak lagi bertanya apa pun, dia hanya menatap Ririn iba.
Wanita itu teringat dengan nasib yang harus dijalaninya.
Langkah yang diambilnya akan beresiko sama dengan Ririn. Adeeva harus berjuang hidup untuk dirinya serta anak yang ada di dalam kandungannya.
"Ya Allah, akankah aku sanggup menjalani hidup tanpa Axel di sampingku? Tapi, aku sadar saat ini Axel sangat kecewa padaku, dari pada dia mengusirku lebih baik aku pergi dari kehidupannya," gumam Adeeva di dalam hati.
"Adeeva," lirih Ririn membuyarkan lamunannya.
"Mhm," gumam Adeeva tersentak.
"Kamu kenapa?" tanya Ririn penasaran melihat mata Adeeva yang berkaca-kaca.
"Eh, ti-tidak ada apa-apa," jawab Adeeva.
"Kalau ada masalah kamu juga boleh cerita kok padaku," ujar Ririn menawarkan diri.
"Tidak, tidak ada masalah apa-apa," jawab Adeeva.
Adeeva tidak mau masalahnya diketahui oleh siapa pun karena dia takut aibnya akan terbongkar dan dirinya sendiri yang akan malu dibuatnya.
"Oh." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Ririn.
Grrruggruuk
Tiba-tiba terdengar jelas suara dari perut Ririn yang sejak tadi memang sangat kelaparan.
"Kamu lapar, Rin?" tanya Adeeva melirik ke tangan Ririn yang kini memegangi perutnya.
"Mhm," gumam Ririn.
"Ya udah kit pesan makanan dulu aja, ya" ajak Adeeva pada Ririn.
Adeeva mengambil ponselnya, tapi dia tidak bisa menyalakan ponselnya saat ini, dia takut Axel atau keluarganya akan mencarinya.
"Ponselku lowbat, kamu bisa pesan dari ponselmu," ujar Adeeva.
"Tapi, a-aku tidak punya uang lagi, sejak dipecat aku belum dapat pekerjaan," tutur Ririn jujur.
"Apa? Kamu dipecat?" tanya Adeeva tak percaya.
Adeeva tak menyangka Axel akan memecat Ririn, dia memang menceritakan semua hal tentang Ririn pada Axel tapi dia tidak tahu suaminya itu akan tega memecat gadis itu.
"Siang setelah Pak Damar menyuruhku pulang, aku mendapatkan surat pemberhentian dari swalayan, apalagi aku diberhentikan tanpa diberi pesangon sama.sekali.
"Astaghfirullah, tega sekali Axel," lirih Adeeva.
"Ririn hanya melakukan kesalahan yang kecil sudah dipecat, apalagi aku yang sudah membohonginya, Axel pasti marah besar padaku, dia pasti tidak memaafkanku sama sekali," gumam Adeeva di dalam hati.
Dia membayangi wajah Axel yang penuh amarah terhadap dirinya.
"Adeeva, kamu ngomong apa?" tanya Ririn semakin penasaran dengan apa sebenarnya yang kini tengah dihadapi oleh wanita yang bersamanya saat ini.
"Eh, tidak apa-apa. Kamu pesan saja dulu makanannya, nanti aku yang bayar," ujar Adeeva.
__ADS_1
Akhirnya Ririn pun memesan makanan untuk mereka, kebetulan Adeeva juga sudah lapar.
Kondisi tubuhnya yang tengah berbadan dua membawa dirinya selalu merasa lapar.
"Kamu boleh baringan dulu, aku mau mandi, gerah," ujar Ririn pada Adeeva.
"Eh, iya." Adeeva mengangguk.
Adeeva pun mulai berpikir, jalan apa yang harus diambilnya setelah ini. Dia tidak mungkin tinggal dengan Ririn di rumah kost kecil milik temannya itu.
Seketika Adeeva teringat dengan Ainun yang saat ini telah bekerja di Bali. Adeeva mengambil ponselnya, dia menyalakan ponselnya yang sejak tadi sengaja dinonaktifkan.
Sebelum Adeeva menghubungi Ainun, Adeeva bergegas mem-blokir nomor kontak orang-orang yang dirasanya akan menghubunginya.
Adeeva menekan nomor ponsel Ainun lalu menghubungi sahabatnya itu.
"Halo," ucap seseorang di seberang sana.
"Ai, ini aku," ujar Adeeva.
"Iya, Deev." Ainun terdengar sibuk, karena ucapan Adeeva yang dijawab dengan satu kata.
"Kamu lagi sibuk, ya?" tanya Adeeva merasa segan.
"Mhm, iya, nih. Ada apa, Deev?" tanya Ainun lagi.
"Mhm, sebenarnya aku,--"
"Deev, nanti aku hubungi kami lagi, ya," lirih Ainun.
Adeeva menghela napas panjang, dia kecewa dengan sikap Ainun.
"Ada apa dengan Ainun, ya? Sejak perjalanan ke Bali waktu itu dia terlihat selalu menjauhiku," gumam Adeeva sedih.
Selama ini Ainun selalu menjadi sahabat yang baik buat Adeeva, tapi dia tak tahu entah apa salahnya hingga Ainun sekarang tak lagi seperti dulu.
Adeeva kini masih terdiam, sambil berpikir.
Tak berapa lama seseorang datang mengetuk kamar kost Ririn. Adeeva berdiri lalu membukakan pintu kamar.
Ternyata seorang driver ojek yang mengantar makanan mereka.
Adeeva mengambil makanan itu lalu membayarnya.
Ririn selesai mandi dan mereka pun makan bersama.
Setelah makan, mereka pun mulai membaringkan tubuhnya di atas sebuah kasur santai milik Ririn, lalu mereka pun tidur.
Keesokan paginya, Adeeva bersiap-siap untuk pergi dari kost Ririn.
Dia sudah memiliki rencana ke mana dia akan pergi. Adeeva sudah bertekad akan mencari kehidupan baru, di dunia baru. Dia akan melahirkan dan membesarkan anak yang ada di dalam kandungannya seorang diri.
Dia terus menguatkan dirinya agar sanggup menjalani kehidupan barunya nanti.
****
__ADS_1
Saat waktu subuh masuk, Axel yang semalam tidur di ruang kerjanya pun melangkah menuju kamar.
Beratnya pikirannya membuat dirinya tertidur di ruang kerjanya di atas sofa, sehingga dia melupakan perasaan Adeeva yang ditinggalkannya begitu saja.
Axel membuka pintu kamarnya, dia masuk ke dalam kamar itu. Axel masih santai, dia belum menyadari istrinya yang tak lagi ada di dalam kamar itu.
Axel pun duduk di pinggir tempat tidur sembari menunggu Adeeva yang dikiranya tengah berada di kamar mandi.
Hampir satu jam Axel menunggu, tapi Adeeva juga tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Akhirnya dia pun melangkah menuju kamar mandi.
Tok tok tok.
"Deev," panggil Axel.
Pria tampan itu yakin istrinya tengah berada di dalam kamar mandi itu.
"Deev," panggil Axel lagi.
Axel pun menggenggam knop pintu dan pintu pun terbuka.
"Apa? D sekolah v tidak ada di sini? Ke mana dia?" lirih Axel mulai panik.
"Deev," panggil Axel lagi.
Axel langsung berlari ke dapur, dia berpikir bahwa istrinya telah berada di dapur membantu mamanya memasak seperti yang biasa dilakukan Adeeva setelah shalat subuh.
"Deev," panggil Axel lagi.
Axel kaget melihat di dapur hanya ada mama dan bibi yang membantu sang mama memasak.
"Ada apa, Xel?" tanya Gita yang heran melihat putranya pagi-pagi sudah panik.
"Adeeva mana, Ma?" tanya Axel pada sang mama.
"Adeeva? Bukannya di kamar kamu sejak kemarin sore mama belum lihat Adeeva, mama kita dia istirahat di kamar," jawab Gita.
"Adeeva tidak ada di kamar, Ma," ujar Axel mulai panik.
"Adeeva," panggil Axel lagi berharap Adeeva akan membalas panggilannya.
Berkali-kali Axel memanggil nama istrinya, namun sang istri tak kunjung menampakkan diri.
Axel juga sudah berkeliling di rumah besar milik papanya itu, tapi hasilnya nihil, dia tidak bisa menemukan sang istri di rumah itu.
"Kamu ke mana, Deev?" lirih Axel yang kini telah duduk di pinggir tempat tidur.
Dia pun tak sengaja melihat secarik kertas di bawah vas bunga yang ada di atas nakas di samping tempat tidur.
Axel mendekati kertas itu lalu mengambilnya.
"Maaf," lirih Axel membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
Bersambung...
__ADS_1