
Andrew teringat pada istrinya yang meninggal dunia akibat melahirkan buah cinta mereka.
Anak dan istrinya tak dapat diselamatkan, sehingga dia kini hidup seorang diri. Dengan mengelola kafe miliknya, dia dapat menghibur suka di hatinya yang dipendamnya sejak beberapa tahun yang lalu.
Pada pukul 09.00 kafe milik Andrew pun dibuka. Kafe Andrew lumayan ramai pengunjung karena letaknya yang strategis, lokasi kafe Andre terletak di tengah-tengah beberapa perusahaan besar, serta sekolah dan kampus swasta sehingga karyawan atau mahasiswa banyak berkunjung ke sana.
Seharian dijalani Adeeva dengan semangat demi anak yang ada di dalam kandungannya.
Saat sore hari tiba, Adeeva terduduk di salah satu kursi pelanggan.
Penampilannya sudah terlihat acak-acakan. Tampak dengan jelas bahwa wanita itu kini benar-benar merasa sangat lelah.
Andrew datang menghampirinya.
"Kau tampak lelah," ujar Andrew mulai mengajak Adeeva berbicara.
Adeeva menghapus keringat yang membasahi dahinya.
"Eh, iya, Pak. Lumayan lelah, tapi namanya juga bekerja, pasti lelah lah," ujar Adeeva.
"Iya, terus semangat, ya," ujar Andrew.
"Iya, Pak." Adeeva mengangguk.
"Sekarang sudah masuk shift malam, kamu bisa pulang," ujar Andrew merasa kasihan.
"Iya, Pak. Terima kasih sudah mempekerjakan saya di sini," ujar Adeeva.
"Sama-sama, kebetulan kami memang lagi butuh tenaga tambahan," ujar Andrew.
Setelah Adeeva merasa cukup beristirahat, dia pun berpamitan pada Andrew izin pulang.
"Kamu mau pulang pakai apa?" tanya Andrew.
"Mhm, saya lihat ojek di luar dulu, Pak. Kalau tidak ada ojek, nanti saya bisa jalan kaki, Pak. Lagian tidak terlalu jauh ke kost-an saya," ujar Andrew.
Andrew merasa kasihan mendengar jawaban Adeeva.
"Ya sudah, kalau begitu biar saya antar," ujar Andrew.
Yang Andrew tahu, Adeeva yang kini mengandung tinggal seorang diri. Itu artinya, tak ada siapa pun yang akan datang menjemputnya.
"Tidak usah, Pak. Saya tidak mau merepotkan bapak," ujar Adeeva.
"Tidak, cuma mengantar tidak akan merepotkanku," ujar andrew.
"Mhm, tapi,-"
"Sudahlah, jangan pakai tapi-tapian. Ayo saya antar," ujar Andrew memaksa.
Akhirnya Adeeva pun mau diantar oleh bos barunya itu.
__ADS_1
Andrew mengantar Adeeva dengan sebuah sepeda motor, meskipun Andrew memiliki mobil, tapi dia lebih suka melakukan perjalanan dengan sepeda motor.
Adeeva menaiki sepeda motor milik Andrew, perlahan Andrew mulai melajukan sepeda motornya, hanya butuh waktu 5 menit mereka pun sampai di rumah Santi.
Adeeva turun dari sepeda motor.
"Terima kasih, Pak," ucap Adeeva.
"Sama-sama, besok kamu bisa datang pukul 8.30 karena kafe baru buka pukul 09.00," ujar Andrew.
"Baik, Pak." Adeeva menganggukkan kepalanya.
"Andrew," seru Santi saat melihat sahabatnya berada di depan rumahnya.
Andrew yang tadinya hendak kembali melajukan sepeda motornya, terpaksa mengurungkan niatnya.
"Mhm," gumam Andrew.
Dia mematikan mesin sepeda motornya, tapi dia sama sekali tidak turun dari sepeda motornya.
Melihat Adeeva yang juga berada di sana, Santi yakin bahwa Andrew datang untuk mengantar Adeeva pulang.
"Masuk dulu, yuk," ajak Santi.
"Enggak usah, San. Aku harus pulang sekarang," ujar Andrew menolak tawaran sahabatnya.
Andrew merasa tidak enak bertamu di rumah sahabatnya, sementara itu Andrew tidak melihat sepeda motor milik suami Santi ada di depan rumah.
"Kamu sombong sekali sekarang," ujar Santi mabil tersenyum.
"Ya udah deh, aku enggak mau maksa orang yang gak mau masuk di rumah jelek milikku," lirih Santi.
"Haha, jangan bilang begitu," ujar Andrew.
"Lain kali aku mampir, kita bisa ngobrol sekalian dengan Bang Bayu," ujar Andrew.
"Iya juga, sih. Terserah kamu aja, deh," ujar Santi.
Adeeva masih berdiri di sana, dia hanya bisa mendengar ocehan dua orang bersahabat itu.
"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu," ujar Andrew pamit.
Akhirnya Santi pun membiarkan Andrew pergi, mereka memandangi punggung Andrew yang menghilang di seberang jalan.
"Bagaimana kerjanya?" tanya Santi penasaran.
"Lumayan, Kak. Namanya juga kerja, pasti ada tantangannya," ujar Adeeva.
"Kamu pasti lelah," ujar Santi.
"Begitulah, Kak." Adeeva mengangkat alisnya.
__ADS_1
Dari penampilan Adeeva saja, kelihatan bahwa wanita itu benar-benar lelah berjuang dalam satu hari ini.
"Ya sudah, kamu mandi saja dulu, nanti kamu tidak usah masak, ikut makan bareng kami saja," ujar Santi menawarkan.
"Oh, baiklah, Kak," sahut Adeeva.
Setelah itu Adeeva pun melangkah menuju paviliun kontrakannya.
Sesampai di dalam ruangan itu, dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia membaringkan tubuhnya sejenak sekadar meluruskan pinggangnya.
Baru beberapa menit dia membaringkan tubuhnya, Adeeva pun terlelap karena lelah.
****
Sudah beberapa hari Axel tidak pulang ke rumah, dia lebih memilih tinggal di apartemen dari pada harus bertengkar dengan papanya yang selalu memaksa Axel untuk menikah lagi.
Malam ini Damar juga berada di apartemen milik Axel, dia memberikan rincian kontrak yang akan mereka lakukan di luar kota.
Di saat mereka baru saja menyelesaikan makan malam, 2 pria jomblo itu m
asyik membahas kontrak mereka esok hari.
3 bulan sudah Adeeva pergi, Axel masih belum bisa move on dari sosok Adeeva, dia berharap saat ini Adeeva berada dalam perlindungan Allah.
"Kamu sudah ada kabar tentang Adeeva?" tanya Axel pada asisten pribadinya sekaligus sahabatnya saat mereka telah selesai berdiskusi mengenai kontrak yang akan mereka laksanakan.
"Belum, aku rasa saat ini Adeeva tak lagi berada di kota Padang, mungkin dia berada di daerah kabupaten tempat keluarga jauhnya," jawab Damar menyampaikan pendapatnya.
"Aku tidak pernah tahu di mana keluarga Adeeva selain kota ini" lirih Axel mulai putus asa.
"Sudahlah, lupakan dia. Dia tak pernah sama sekali menghubungimu dan memberi kabar, mana tahu dia sudah hidup bahagia dan lupa denganmu," nasehat Damar.
Sebenarnya Damar juga kesal mendengar cerita dari Axel tentang Adeeva.
Mendengar Adeeva tengah hamil, sementara Axel belum pernah menyentuhnya membuat Damar merasa geram dan marah pada keluarga Adeeva.
Pernikahan yang mereka adakan secara terburu-buru hanya sekadar untuk menutupi rasa malu keluarganya. Damar juga tidak suka dengan sikap kedua orang tua Adeeva yang langsung menyalahkan Axel saat Adeeva kabur dari rumah.
"Tapi, Mar. Aku masih mencintainya," lirih Axel menyesali sikapnya yang masih belum bisa move on dari sosok Adeeva.
"Selagi kamu menutup hatimu, kamu tidak akan bisa move on dari wanita itu," ledek Damar.
Axel hanya terdiam mendengarkan cibiran dari sahabatnya itu.
Tok tok tok.
Terdengar sebuah ketukan di pintu apartemen Axel, mereka pun saling melempar pandangan, mereka heran siapa tamu yang datang saat malau mulai larut.
Axel berdiri lalu melangkah menuju pintu, dia hendak membuka pintu apartemennya.
"Tolong," ujar seseorang langsung masuk ke dalam apartemennya.
__ADS_1
Dia kaget dengan apa yang dilakukan gadis itu.
Bersambung...