Takdir Cinta Adeeva

Takdir Cinta Adeeva
Bab 48


__ADS_3

Adeeva menoleh ke arah Daffa yang kini telah terbaring di atas tempat tidur. Daffa terus memandangi wanita itu, dia berharap Adeeva mau menghampirinya.


"Deev," lirih Daffa lagi.


Awalnya Adeeva ingin mengabaikan panggilan itu, tapi dia tidak tega melihat Daffa yang memelas menatap dirinya.


Akhirnya Adeeva pun melangkah mendekati Daffa.


Sekejap Daffa meraih tangan Adeeva, lalu menggenggam erat tangan itu.


"Maaf, maafkan aku," lirih Daffa.


Hanya kata itu yang dapat diucapkannya.


Daffa menyesali apa yang telah dilakukannya kepada Adeeva, meskipun dia tahu hal itu tak sepenuhnya kesalahan dari dirinya, tapi Daffa tetap meminta maaf karena dirinyalah yang memulainya.


Adeeva masih terdiam.


"Maafkan aku," lirih Daffa lagi.


"Sudahlah, anggap saja hal tadi tak pernah terjadi di antara kita," lirih Adeeva.


"Aku tak bermaksud,--"


"Sudah, cukup. Lupakan apa yang telah terjadi." Adeeva memotong pembicaraan Daffa.


Dia merasa malu pada pria itu, karena jika dirinya tak menerima begitu saja maka hal itu takkan pernah terjadi.


"Baiklah, tapi aku berharap kamu tidak berubah. Bersikaplah seperti biasanya," lirih Daffa memohon.


Adeeva hanya bisa mengangguk, dia berjanji akan berusaha tetap bersikap seperti biasanya, yang mana Adeeva dan Daffa berinteraksi layaknya dua sahabat yang saling membutuhkan.


Adeeva tetap memperhatikan berbagai kebutuhan Daffa seperti apa yang dilakukan oleh Adeeva terhadap Axel, suaminya.


Semakin hari mereka terlihat semakin akrab, semua pelayan di rumah Daffa pun ikut senang melihat Daffa dan Adeeva yang terlihat bagaikan pasangan yang serasi.


Sepanjang Daffa masih kurang sehat, Daffa tidur satu tempat tidur dengan Adeeva, dengan susah payah mereka berdua tetap menjaga hati dan hawa nafsu mereka agar tak lagi melakukan dosa besar itu.


Hari-hari terus mereka lewati, hingga tanpa terasa 3 bulan telah berlalu mereka bersama, kandungan Adeeva pun telah berusia 24 Minggu.


Di saat kandungannya semakin berat, Adeeva masih tetap beraktivitas seperti biasa.


Pagi ini Adeeva bangun lebih awal, dia bangun dari tempat tidur. Perutnya yang semakin membesar membuat dia kesusahan melangkah menuju kamar mandi.


"Makanya kamu harus diet," goda Daffa yang juga baru terbangun karena Adeeva yang bergerak.


Adeeva menoleh ke arah Daffa, dia menatap kesal ke arah pria yang sudah beberapa bulan ini bersamanya.

__ADS_1


"Biarin, nanti kalau istri kamu hamil kayak aku, kamu yang bakal kesusahan," umpat Adeeva kesal.


"Hahahaha, mau dibantuin, enggak?" tanya Daffa sambil tertawa.


"Enggak," sahut Adeeva ketus.


Perlahan Adeeva melangkah akhirnya dia pun sampai di kamar mandi, seperti biasa dia akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menunaikan ibadah shalat subuh.


"Kita shalat jamaah, ya," ujar Daffa pada Adeeva saat melihat Adeeva telah keluar dari kamar mandi.


Adeeva hanya diam.


Daffa kini sudah mulai rutin melaksanakan ibadah shalat 5 waktu, dengan bantuan Adeeva dan beberapa ustad yang dikenalnya, dia pun kini sudah lancar dalam melafalkan bacaan shalat.


Daffa turun dari ranjang, dia melangkah menuju kamar mandi lalu membersihkan diri dan bersiap-siap untuk shalat berjama'ah dengan Adeeva.


Meskipun mereka bukan suami istri, rutinitas ini telah sering mereka lakukan, bahkan Adeeva juga sering menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Daffa.


Adeeva melakukan itu karena rasa terima kasihnya pada Daffa yang telah membantunya dan menjamin keselamatan bayinya hingga lahir nanti.


Setelah Daffa selesai mandi,.mereka pun melaksanakan shalat subuh berjama'ah yang mana Daffa menjadi imamnya.


Usai shalat berjama'ah, keduanya pun duduk di sofa yang ada di kamar itu sembari menonton televisi.


"Hari ini kamu kontrol ke rumah sakit, kan?" tanya Daffa memastikan.


"Ya sudah, nanti aku ikut antarkan kamu ke rumah sakit, ya," ujar Daffa menawarkan diri.


"Kamu yakin? Apakah tidak akan merepotkanmu. Kamu kan sibuk," ujar Adeeva.


"Ya, hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak, aku akan menyempatkan untuk menemanimu, sesekali aku ikut menemani istriku kontrol kehamilannya," goda Daffa.


"Ish, kamu apaan sih," gerutu Adeeva sambil mencubit pinggang Daffa pelan.


"Nak, boleh kan papa ikut menemani mamamu?" lirih Daffa sembari memegangi perut Adeeva.


Entah mengapa Daffa ingin sekali menggoda Adeeva. Hatinya juga memaksa dirinya untuk menyentuh perut Adeeva yang telah membuncit.


Dia merasa ada ikatan dengan janin yang ada di dalam rahim Adeeva, tapi dia sendiri tak mengerti dengan hal itu.


Jantung Adeeva berdetak dengan kencang saat Daffa menyentuh perutnya, dia merasa ada sesuatu yang membuat janin di dalam rahimnya bergerak semakin lincah.


"Ya Allah, andaikan saja dia ayah dari anakku betapa aku sangat bahagianya," gumam Adeeva di dalam hati.


"Ke mana aku harus mencari ayah dari anakku ini," gumam Adeeva lagi di dalam hati.


"Hei, kenapa kamu melamun?" tanya Daffa heran melihat Adeeva yang terdiam.

__ADS_1


"Mhm, enggak ada apa-apa," lirih Adeeva.


"Apakah kamu teringat dengan suamimu? Ayah dari anak ini?" tanya Daffa.


"Ayah dari anak ini? Aku sendiri tidak mengenali siapa yang telah menitipkan anak ini di rahimku," gumam Adeeva di dalam hati.


"Ah, tidak," lirih Adeeva.


"Ayo kita sarapan, aku lapar," ajak Adeeva sengaja mengalihkan pembicaraan karena topik yang mereka bahas membuat hatinya kembali terluka.


Adeeva berdiri lalu melangkah keluar kamar, mau tak mau Daffa pun ikut melangkah keluar kamar.


Mereka pun menyantap menu sarapan pagi ini. Daffa sengaja tidak berangkat ke kantor karena ingin menemani Adeeva ke rumah sakit.


Usai sarapan pagi, Adeeva langsung bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit, sementara itu Daffa menunggu Adeeva di ruang keluarga.


"Yuk," ajak Adeeva yang kini telah siap.


Dia berdiri di samping Daffa, pria tampan dapat melihat dengan jelas perut Adeeva yang semakin membesar.


Ingin rasanya dia memberi perhatian pada janin yang ada di dalam rahim Adeeva, hal itu tergerak langsung dari hatinya yang paling dalam.


"Ayo," sahut Daffa.


Daffa pun berdiri. Lalu mereka melangkah keluar rumah.


Di depan rumah telah terparkir sebuah mobil sport mewah milik Daffa.


Daffa memang lebih senang membawa mobil sendiri dari pada disopiri seorang sopir.


Daffa pun melajukan mobilnya setelah mereka berada di dalam mobil.


Sepanjang perjalanan Adeeva merasa bahagia, entah mengapa ada sesuatu yang menghangat di dalam jiwanya.


Sesampai mereka di rumah sakit, mereka turun dari mobil.


"Deev," panggil Daffa.


Lagi-lagi Daffa memanggil Adeeva dengan sebutan orang-orang terdekat baginya, sehingga Adeeva pun menghentikan langkahnya saat masuk ke dalam rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Adeeva.


Daffa tak menjawab pertanyaan Adeeva, dia pun menggenggam erat tangan Adeeva.


"Kali ini aku akan berlaku sebagai suamimu," ujar Daffa.


Kata-kata Daffa membuat jantung Adeeva berdetak dengan kencang, dia merasa bahagia dan terharu mendengar ucapan Daffa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2