
"Iya, anak yang kamu kandung," ujar Daffa.
"Apa maksud kamu mengatakan anak itu, anak kita?" tanya Adeeva masih belum mengerti maksud Daffa.
"Maafkan, aku." Daffa menggenggam erat tangan Adeeva.
"Apakah jangan-jangan kamulah pria yang malam itu telah menyentuhku?" tanya Adeeva.
"Maafkan aku, Deev." Hanya kata maaf yang diucapkan Daffa pada Adeeva.
Adeeva langsung mendorong tubuh Daffa tak percaya.
Adeeva pun terduduk di atas sofa, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daffa.
Daffa menghampiri Adeeva, lalu bersimpuh di kaki wanita yang sangat dicintainya itu.
"Maafkan aku, baru datang sekarang. Aku baru tahu jika wanita yang aku tiduri malam itu adalah kamu," ujar Daffa.
Daffa pun menceritakan apa yang telah terjadi. Dia juga menceritakan jebakan yang dilakukan Ainun pada Adeeva.
Adeeva menggelengkan kepalanya tak percaya Ainun akan berbuat jahat padanya, padahal selama ini, dirinyalah satu-satunya orang yang paling mengerti keadaan Ainun.
Meskipun Adeeva bukanlah orang kaya raya, tapi dia selalu membantu Ainun saat mengalami kesusahan.
Adeeva kini menatap dalam ke arah pria yang kini berlutut di kakinya.
Adeeva meminta Daffa duduk di kursi, tepat di sampingnya.
"Di mana anak kita?" Daffa kembali menanyakan tentang anak yang dikandung oleh Adeeva.
Menurut perhitungannya saat ini kandungan Adeeva masih berumur 7 bulan, dan tidak mungkin rasanya Adeeva sudah melahirkan.
Adeeva berdiri, lalu mengajak Daffa masuk ke dalam kamar tempat Baby Ghaffar yang kini masih tertidur dengan lelapnya.
Daffa memandangi baby Ghaffar, dia merasa tidak asing dengan bayi yang kini sedang terlelap, dia merasa sudah berkali-kali bertemu dengan bayi itu.
"Dia mirip sekali denganku," lirih Daffa.
Dia lupa dengan wajah bayi yang tadi siang digendongnya. Maklumlah, wajah bayi kebanyakan hampir sama dan sulit untuk diingat.
"Benarkah?" lirih Adeeva.
Adeeva teringat saat pertama kali dia menggendong bayinya, hatinya sontak mengingat wajah tampan pria yang dicintainya.
"Ya, dia sangat mirip denganku," ujar Daffa lagi memperhatikan setiap sisi wajah baby Ghaffar.
"Kenapa baru sekarang kamu mengatakan baby Ghaffar mirip denganmu, tadi siang kamu sudah menggendongnya," gumam Adeeva di dalam hati.
"Deev," lirih Daffa kini menoleh ke arah wanita yang dicintainya.
Adeeva menatap dalam pria yang sangat dicintainya itu.
__ADS_1
"Sebelum aku tahu bahwa kamu adalah wanita yang aku sentuh pada malam naas itu, aku sudah mencintaimu. Saat aku mengetahui kamu adalah wanita yang aku cari, maka aku pun tak bisa hidup tanpamu," tutur Daffa jujur pada Adeeva.
Adeeva terdiam, dia merasa terharu mendengar ucapan Daffa, dia tak menyangka cintanya selama ini pada Daffa tak bertepuk sebelah tangan.
"Deev," lirih Daffa membuyarkan lamunan Adeeva.
Dia tidak tahu apa yang menyebabkan Adeeva termenung.
"Mhm," gumam Adeeva.
"Apakah kamu mau menikah denganku? Kita besarkan anak kita bersama," tanya Daffa.
Daffa sudah tidak sabar ingin mengetahui bagaimana perasaan Adeeva terhadap dirinya.
Adeeva tak menjawab pertanyaan Daffa sama sekali, tapi dia langsung memeluk tubuh pria yang sangat dicintainya.
Dia merasa bersyukur dan bahagia setelah mengetahui bahwa pria yang telah menanamkan benih di rahimnya adalah pria yang dicintainya.
"Aku sangat merindukanmu," lirih Adeeva.
Adeeva memeluk erat tubuh Daffa, kini gantian dirinya memeluk tampan itu melepas rasa rindunya selama ini.
Dia merasa bodoh telah kabur dari Daffa selama ini, andai saja dia tidak kabur maka dia akan melahirkan anaknya di sisi pria yang dicintainya itu.
Tiba-tiba Adeeva teringat akan satu hal, sehingga dia pun melepaskan pelukannya.
Hal ini membuat Daffa merasa heran.
Adeeva melangkah menuju tempat tidur, lalu dia duduk di sana.
"Bagaimana dengan Ainun? Bukan kamu sudah menikah dengannya?"
Adeeva teringat malam itu dia melihat Ainun yang tidur satu tempat tidur dengan Daffa.
Dia juga mengingat dengan jelas pemandangan waktu itu.
Dia melihat Ainun tidak mengenakan pakaian, dia melihat tubuh Ainun hanya tertutup selimut.
Daffa tersenyum melihat wajah Adeeva yang sedih, tampak dengan jelas bahwa Adeeva sangat cemburu pada Ainun.
Daffa melangkah menghampiri Adeeva, dia juga duduk di pinggir tempat tidur.
"Deev, aku sudah menceraikan Ainun. Aku juga tidak memiliki hubungan apa-apa dengan wanita itu," ujar Daffa berusaha meyakinkan Adeeva bahwa di hatinya hanya Adeeva seorang.
"Tapi malam itu kamu sudah,--"
"Aku tidak pernah menyentuh wanita ****** itu." Daffa langsung memotong ucapan Adeeva.
Adeeva menatap dalam pada Daffa, dia ingin memastikan bahwa Daffa telah berkata jujur.
"Benarkah?" tanya Adeeva.
__ADS_1
"Ya, aku tidak pernah menyentuh wanita itu," ujar Daffa terus berusaha meyakinkan Adeeva.
"Deev, sekarang aku an menunggu kedatangan suamimu, aku akan meminta suamimu untuk menceraikanmu agar kita bisa hidup bersama dan bahagia dengan baby kita," ujar Daffa sudah tak sabar ingin menikahi Adeeva secepatnya.
Daffa tidak ingin kehilangan Adeeva untuk kedua kalinya.
Dia berjanji akan menjaga dan melindungi Adeeva.
"Suamiku tidak akan datang ke sini, kami hanya tinggal berdua di sini," tutur Adeeva jujur.
"Apa? Pria itu membiarkanmu tinggal di sini hanya berdua." Daffa tak percaya suami Adeeva tega melakukan hal itu.
"Iya, ini semua aku yang memintanya, karena aku ingin dia bahagia dnegan istri keduanya," ujar Adeeva jujur.
Daffa semakin tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adeeva.
Dia merasa sedih dan merasa bersalah pada Adeeva, seandainya waktu itu dia tidak gegabah menikahi Ainun, maka dia tidak akan membiarkan Adeeva hidup dalam keadaan sulit seperti yang dilihatnya saat ini.
"Baiklah, kalau begitu bawa aku ke rumah suamimu, aku akan bertemu dengannya dan meminta suamimu untuk menceraikan dirimu secepatnya," ujar Daffa.
Daffa mendesak Adeeva agar mau diajak bertemu dengan suaminya.
"Oek, oek." Terdengar suara baby Ghaffar yang terbangun dari tidurnya.
Adeeva pun langsung berdiri lalu mengambil baby Ghaffar dari keranjang tidurnya.
Dia ingin menyusui baby Ghaffar, tap dia ragu untuk memperlihatkan bu*h d*d*nya pada Daffa.
"Daffa, baby Ghaffar mau menyusu," ujar Adeeva memberi isyarat pada Daffa agar keluar terlebih dahulu dari kamar itu.
"Oh, aku akan keluar," ujar Daffa.
Setelah Daffa keluar dari kamar itu, Adeeva pun mulai menyusui bayinya.
Setelah shalat Maghrib, Adeeva dan Daffa berangkat menuju apartemen Axel.
Adeeva membawa Daffa bertemu dengan Axel. Dia setuju dengan apa yang diinginkan oleh pria yang sangat dicintainya itu.
Sesampai di apartemen milik suaminya, Adeeva langsung mengetuk pintu apartemen tersebut.
Axel dan Kyara saling berpandangan saat mendengar ketukan pintu.
"Siapa yang datang?" tanya Axel pada Kyara.
Kyara pun mengangkat bahunya, karena dia sendiri juga tidak tahu.
Axel berdiri dan melangkah menuju pintu apartemennya.
Dia pun membukakan pintu apartemennya, betapa kagetnya Axel saat melihat tamu yang datang mengunjunginya.
"Daffa, Adeeva," lirih Axel.
__ADS_1
Bersambung